Kisah Kesetiaan Zainab Putri Rasulullah

Ma’had Aly – Cinta tak cukup untuk menyatukan dua manusia. Tatkala jalan telah berbeda, tak kan mungkin mereka saling bersama. Namun, cahaya keimanan akan mempertemukan kembali yang telah terpisahkan sekian lama.

Sayyidah Zainab ra. merupakan putri Rasulullah dengan Siti Khadijah. Beliau merupakan putri yang sangat dinantikan Rasulullah saw., saat ayahnya memasuki usia tiga puluh tahun. 

Zainab dikenal oleh masyarakat Quraisy sebagai wanita yang lembut, cantik, dan taat. Hal itu dicerminkan dengan banyak laki-laki Quraisy yang ingin menikahinya. Salah satu laki-laki itu adalah Abul ‘Ash bin ar-Rabi’ bin Abdil’ Uzza bin’ Abdisy Syams bin’ Abdi Manaf bin Qushay al-Quraisyi namanya. Dia putra Halah bintu Khuwalid, saudari putri Khadijah ra., wanita terpandang di Makkah keturunan saudagar yang kaya raya. Beliau masih memiliki tali persaudaraan dengan Istri Rasulullah saw., Sayyidah Khadijah ra, tidak salah jika dia memiliki kedudukan sosial yang masih tinggi.

Maka dari itu, permintaan dingin Abul ’Ash menikahi Zainab ra. tidak ditolak oleh Rasulullah dan istrinya. Selain faktor tali persaudaraan, hal yang mendasari diterimanya Abul-‘Ash adalah terdapat perasaan asmara yang dimiliki oleh Zainab dan Abul ‘Ash.

Setiap Abul ‘Ash mengunjungi rumah Zainab, Abul-‘Ash selalu tertarik akan Zainab yang memancarkan keramahannya, kelembutannya, penampilan cantiknya, kecerdasan pikirannya, dan tidak lupa Zainab memancarkan kemekarannya sebagai gadis yang dewasa dengan selalu cekatan membantu ibunya.

Zainab ra. merupakan sosok wanita yang sangat setia, hal itu dibuktikan dengan kisah-kisah hidupnya setelah dinikahi oleh Abul ‘Ash. Abul ‘Ash adalah pedagang yang sibuk mengurusi perniagaannya, terutama pada musim-musim tertentu saat kota Makkah dibanjiri orang yang berdatangan dari berbagai pelosok Semenanjung Arabia untuk mengikuti upacara-upacara peribadatan di sekitar Ka’bah. Selain itu, ia juga sering pergi bersama kafilah yang berangkat dari Makkah ke negeri Syam di musim panas dan dingin.

Semasa hidup ibunya, sang anak yang menawan ini dipersunting oleh seorang pemuda, tidak lain adalah Abul ‘Ash. Dialah putra Halah bintu Khuwalid yang merupakan saudari perempuan Khadijah ra. Ketika Khadijah ra menghadiahkan seuntai kalung untuk pengantin putrinya dan dari pernikahan itu lahirlah Umamah dan Ali, dua putra-putri Abul Ash. 

Tatkala cahaya Islam merebak, Allah membuka pintu hati Zainab untuk menerima Abul ‘Ash. Namun Abul ‘Ash kala itu masih berpegang teguh pada agama nenek moyangnya. Dua insan yang berada di atas dua jalan yang berbeda. Orang-orang musyrik pun mendesak Abul ‘Ash untuk menceraikan Zainab. Namun, Abul ‘Ash menolak mentah-mentah  permintaan mereka. Akan tetapi Zainab masih pula tertahan untuk bertolak pada bumi bukan

Ramadhan tahun kedua setelah hijrah, terjadilah peristiwa Badr yang menewaskan tujuh puluh orang dari pihak musyrikin dan tertawan tujuh puluh orang dari mereka. Di antara tawanan itu adalah Abu ‘Ash bin Ar-Rabi’. Penduduk Makkah pun mengirim tebusan untuk membebaskan para tawanan. Terselip di antara harta tebusan itu seuntai kalung milik Zainab untuk kebebasan suaminya. Ketika melihat itu, Rasulullah saw. terkenang pada Khadijah ra. yang telah tiada. Betapa terharunya Beliau mengingat putri yang dicintainya. Maka, Rasulullah saw. berkata kepada para sahabat, “Apakah kalian bersedia membebaskan tawanan yang ditebus oleh Zainab dan mengembalikan harta tebusan  yang dia berikan? Lakukanlah hal itu.” Para sahabat pun menjawab, “Baiklah, wahai Rasulullah!”

Kemudian mereka membebaskan Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ dan mengembalikan seuntai kalung yang menjadi harta tebusan. Ketika itu, Rasulullah saw. meminta Abul ‘Ash untuk berjanji agar membiarkan Zainab keluar dari Makkah menuju Madinah. Kemudian Rasulullah saw. mengutus Zaid bin Haritsah bersama salah satu kaum Anshar sembari berkata, “Pergilah kalian ke perkampungan Ya’juj sampai bertemu Zainab, lalu bawalah ia kemari.”

Berpisahlah Zainab bintu Rasulullah saw di atas jalan Islam. Meninggalkan suaminya yang masih berkubang dalam kesyirikan.  Tak lama kemudian datanglah utusan Rasulullah saw. menjemput Zainab. Akhirnya, dengan sedih Zainab memberikan ucapan selamat tinggal kepada suaminya, namun ia tetap berharap semoga Allah mempertemukan mereka kembali.

Berangkatlah Zainab yang sedang mengandung belum sempurna empat bulan ke Madinah dengan membawa suka dan dukacita sebab perpisahan dengan ayah janin yang sedang dikandungnya. Kedukaan belumlah terobati, Allah mentakdirkan kandungan Zainab harus gugur sebab ia dan rombongannya dihadang oleh kaum musyrikin sebelum sampai di Madinah.

Zainab pun sampai di Madinah. Dan tatkala Rasulullah saw. mendengar cerita Zainab tentang penyebab keguguran janin yang ada di kandungannya beliau pun mengutus gerilyawan dan berkata, “Jika kalian mendapati si fulan dan si fulan, dua orang laki-laki dari kaum Quraisy, maka bunuhlah.”

Enam tahun sudah perpisahan Zainab dan suaminya berlalu, hingga pada suatu saat Abul ‘Ash bersama kafilah dagang yang sedang dalam perjalanan pulang dari negeri Syam menuju Mekah melewati Madinah dihadang oleh pasukan gerilya Rasulullah saw. Akhirnya, kafilah dagang yang berjumlah kurang lebih seratus tujuh puluh orang itu bersama dengan unta-unta mereka yang mencapai seratus ekor ditawan dan digiring ke Madinah. Akan tetapi, Abul ‘Ash dapat meloloskan diri. Ke manakah ia melarikan diri?

Dalam kegelapan malam, dengan sembunyi-sembunyi Abul ‘Ash bin Rabi’ mendatangi rumah Zainab. Zainab pun terkejut menerima kedatangannya dan ia pun menyambutnya dengan baik serta memuliakannya. Ketika Abul ‘Ash bin Rabi meminta kepada Zainab agar mau memberikan perlindungan kepadanya, Zainab pun menyatakan kesediaannya.

Ketika Rasulullah saw. dan para sahabatnya melaksanakan salat Subuh, terdengarlah suara Zainab berseru, “Wahai kaum muslimin, saya Zainab binti Rasulullah saw., saya telah memberikan perlindungan kepada Abul ‘Ash, maka lindungilah ia!” Ketika Rasulullah saw. selesai salat, beliau bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?” Para sahabat menjawab, “Benar.” Beliau lalu berkata, “Demi Allah, aku tidak tahu sedikit pun tentang itu sampai aku mendengar apa yang kalian dengar, sesungguhnya semua kaum muslim (sampai yang terendah tingkatannya pun) dapat memberikan perlindungan.”

Kemudian beliau pun menemui Zainab untuk mengetahui kebenaran berita itu, Zainab berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abul ‘Ash adalah kerabat dan anak pamanku, serta anak-anakku, dan aku telah memberikan perlindungan kepadanya.” Rasulullah saw.  berkata, “Benar wahai putriku, muliakanlah tempatnya, dan jangan sampai ia berhubungan denganmu, sesungguhnya engkau tidak halal baginya.”

Kemudian para sahabat mengembalikan harta yang telah mereka rampas itu kepada Abul ‘Ash. Ketika Abul ‘Ash hendak berangkat ke Mekah, ia berkata kepada Zainab, “Mereka (yaitu para sahabat) telah menawarkan kepadaku untuk masuk Islam, tetapi aku menolak sambil kukatakan, ‘Sungguh buruk diriku memulai agama baruku dengan pengkhianatan.’” Mendengar ucapan terakhir Abul ‘Ash tersebut terasa berdebar jantung Zainab, seakan-akan ia melihat di balik apa yang ia ucapkan ada cahaya dan harapan yang semoga saja dapat menerangi hatinya yang masih gelap dengan kekufuran.

Sesampai di Mekah Abul ‘Ash memberikan harta-harta yang diamanahkan kepadanya kepada pemiliknya, kemudian ia berseru, “Wahai kaum Quraisy, apakah ada di antara kalian yang hartanya belum aku kembalikan?” Mereka menjawab, “Tidak ada, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, kami telah mendapatimu sebagai orang yang memegang amanah dan mulia.”

Lalu Abul ‘Ash berkata, “Jika aku telah mengembalikan hak-hak kalian maka sekarang aku bersaksi bahwa tiada Allah yang berhak diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah! Demi Allah, tidak ada yang menghalangiku untuk masuk Islam sewaktu bersama Rasulullah saw. di Madinah kecuali aku takut kalian mengira bahwa aku ingin memakan harta kalian, tetapi setelah aku mengembalikan harta itu kepada kalian, dan sekarang aku telah melepaskan tanggunganku, maka aku masuk Islam.”

Setelah itu ia kembali lagi ke Madinah untuk berkumpul dengan Zainab yang telah lama menantinya dengan sabar. Di Madinah, ia disambut oleh kaum muslimin dengan gembira, lalu Rasulullah Rasulullah saw. mengembalikan Zainab kepadanya, dan mereka berkumpul dan bersatu kembali dalam kebahagiaan bahkan lebih baik dari sebelumnya karena kali ini mereka dikumpulkan dalam agama tauhid. Namun kebahagiaan ini ternyata tidak lama dinikmati berdua dibanding masa sulit dan penuh kesabaran yang mereka harus jalani.

Waktu berlalu tanpa terasa, genap setahun Zainab berkumpul kembali dengan suaminya. Zainab sang Mujahidah, wanita penyabar, dan tegar itu telah kembali menghadap Sang Khalik setelah berjuang menghadapi penyakit yang dideritakan semenjak keguguran kandungannya di tengah pada sahara. Zainab meninggal dalam usia relatif muda, tiga puluh tahun, namun begitu dewasanya sikap dan ketabahannya yang patut diteladani oleh para remaja muslimah yang datang sesudahnya.

Kepergian Zainab meninggalkan Abul ‘Ash seorang diri mengenang masa-masa indah yang telah mereka lewati bersama dalam suka dan duka, hanya dua buah hati mereka Ali dan Umamah yang kini menjadi pelipur lara.

Kedukaan pun menimpa Rasulullah saw. Kepergian Zainab membuat beliau sangat berduka dan bersedih, membuat kesedihan yang lama terkenang kembali yaitu ketika melepas kepergian istrinya, Khadijah dan putri keduanya, Ruqayyah. Beliau pernah bersabda tentang Zainab, putri sulungnya ini, “Dia adalah putri terbaikku, ia dirundung musibah disebabkan olehku.”

Begitulah kehidupan seorang muslimah sejati, sebagai seorang anak, istri, dan ibu yang senantiasa patut diteladani. Seorang wanita sederhana dan bersahaja, tak pernah lena karena kedudukan ayahnya yang mulia. Wanita yang tak pernah menyerah dan berputus asa, di dalam jiwanya terdapat kebesaran dan keagungan yang mengalir dari ayahnya Rasulullah saw.

Semoga Allah meridhai dan merahmati Zainab. Amin.

Referensi Al-Isti’ab karya Al-Imam ibnu ‘Abdil Barr (4/1701-1704,1853-1854).

Ath-Thabaqatul Kubra , karya Al-Imam ibnu Sa’d (8/30-35).

Mukhtashar Sirah Ar-Rasul, karya As-Syaikh Muhammad bin Abdil’ Muhammad (hal.110-117).

Shahih As-sirah An-Nabawiyah, karya Ibrahim Al-‘Ali (hal.192).

Siyar A’lamin Nubala, karya Al-Imam Adz-Dzahabi (2/246-250).

Majalah Al-Mawaddah Edisi 10 Tahun ke-1 Jumadal Ula 1249/Mei 2008.

Kontributor: Nurul Amalia Ren’el, Semester II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *