Menguak Sisi Kehidupan Sunan Kalijaga

Ma’had Aly – Ketika mendengar salah satu nama  pulau di Indonesia, yaitu pulau Jawa tentu kita banyak berpikir akan kekayaan budaya dan tradisi yang melekat pada setiap masyarakatnya. Selain itu pulau Jawa juga terkenal akan keramahan penduduknya. Hal tersebut tentunya membuat pulau Jawa melekat pada sanubari masyarakat luas, baik itu masyarakat Jawa maupun luar Jawa. Membahas tentang  budaya dan tradisi, hal terebut mengingatkan kita akan perjuangan Walisongo yang berdakwah menyebarkan agama Islam rahmatan lil ’alamin menggunakan pendekatan budaya yang ada dan tentunya juga menggunakan berbagai metode agar masyarakat mudah menerima agama Islam. Salah satu contohnya adalah dakwah Sunan Kalijaga, sunan yang paling nyentrik dan menggunakan media wayang dalam berdakwah menyebarkan agama Islam. Sunan Kalijaga itu termasuk dalam jajaran Walisongo, menggantikan Syekh Subakir yang kembali ke Persia.

Sunan Kalijaga yang memiliki nama asli Raden Sahid (sumber lain menyebutkan Syahid), merupakan putra dari pasangan adipati Tuban (Jawa Timur), yang bernama Tumenggung Arya Walatikta dengan Dewi Nawang Rum. Beliau lahir pada tahun 1450 M. Raden Sahid memiliki beberapa nama julukan di antaranya adalah Sunan Kalijaga, Lokajaya, Syekh Malaya, Raden Abdurrahman, Pangeran Tuban. 

Pada saat Raden Sahid lahir, kerajaan Majapahit tengah mengalami kemerosotan. Beban upeti Kadipaten terhadap pemerintahan pusat semakin besar. Lebih-lebih ketika Tuban dilanda musim kemarau panjang. Rakyat yang semula hidup tenang, perlahan-lahan mengalami kegelisahan. Tetapi keadaan tersebut tidak dialami oleh Raden Sahid sebagai putra adipati, kebutuhan sehari-harinya selalu terpenuhi. Meskipun demikian, Raden Sahid sangat prihatin dengan keadaan rakyat kecil yang ada di sekelilingnya. 

Raden Sahid merasa tidak kuat melihat penderitaan yang dialami oleh rakyat Tuban. Raden Sahid kemudian mengatakan keadaan tersebut pada ayahnya, tetapi ayahnya tidak bisa berbuat banyak karena beliau di bawah pimpinan Majapahit. Akhirnya Raden Sahid memutuskan untuk menjadi maling cluring (istilah yang digunakan bagi pencuri yang hasil curiannya dibagikan kepada orang miskin). Setiap malam, Raden Sahid biasa menggunakan waktunya untuk melantunkan ayat suci Al-Qur’an, beliau gunakan untuk mengambil bahan makanan yang ada di gudang Kadipaten. Hasil curian tersebut Raden Sahid bagikan kepada masyarakat yang membutuhkannya secara diam-diam. Profesi sebagai maling cluring ia lakukan setiap malam hari, sehingga menimbulkan kecurigaan yang dirasakan oleh penjaga keamanan Kadipaten, karena bahan makanan yang ada di gudang semakin berkurang.

Penjaga keamanan Kadipaten bersepakat untuk mengintai pencuri gudang makanan Kadipaten, yang selama ini dilakukan oleh Raden Sahid hingga akhirnya Raden Sahid tertangkap basah. Raden Sahid dibawa ke hadapan Adipati Tumenggung Walatikta. Adipati merasa malu dan tercoreng nama baiknya atas tindakan yang dilakukan oleh Raden Sahid. Atas kelakuannya tersebut Raden Sahid diusir dari rumah. Pengusiran tersebut tidak membuatnya jera, beliau malah melanjutkan aksinya dan merampok orang-orang kaya yang ada di Tuban dan hasil rampokan tersebut tetap beliau bagikan kepada rakyat yang membutuhkan. Akibat perbuatannya, Raden Sahid tertangkap kembali. Dengan kejadian tersebut kedua orang tuanya merasa kecewa, karena mereka berharap bahwa kelak Raden Sahid yang akan mewarisi tahta ayahandanya.

Akhirnya Raden Sahid diusir dari Kadipaten Tuban. Beliau pergi tanpa arah dan tujuan, tetapi beliau tetap melanjutkan maling cluringnya. Pada suatu hari di hutan Jati Wangi, Raden Sahid bertemu dengan lelaki tua yang tak lain adalah Sunan Bonang. Raden Sahid menghadang dan meminta tongkat Sunan Bonang yang berkilau seperti emas, sambil mengutarakan tujuannya bahwa perbuatannya tersebut untuk menolong orang-orang yang membutuhkan, atas perbuatannya tersebut Raden Sahid dijuluki Lokajaya.

Dengan pertemuan tersebut, Raden Sahid mendapatkan pencerahan bahwa perbuatannya selama ini salah. Pada akhirnya Raden Sahid meminta Sunan Bonang agar berkenan menerima dirinya menjadi muridnya. Sunan Bonang pun menerimanya dengan satu syarat yaitu Sunan Kalijaga harus menjaga tongkat yang ditancapkan di tepi sungai tersebut sampai Sunan Bonang kembali mengambilnya. Tak disangka dengan kesetiaannya, Raden Sahid menjaga tongkat milik Sunan Bonang sampai 3 tahun lamanya. Hingga badan Raden Sahid diselimuti oleh lumut dan rumput menutupi sekujur badannya. Dari peristiwa tersebut sebagian masyarakat diyakini sebagai asal mula bergelarnya Raden Sahid sebagai Sunan Kalijaga. Ada versi lain yang mengatakan bahwa nama Kalijaga diperoleh saat beliau berada di Cerebon. Waktu di Cerebon tepatnya di desa Kalijaga Raden Sahid sering berendam di sungai. Dari kejadian tersebutlah nama Kalijaga melekat pada diri Raden Sahid.

Pada tahap selanjutnya, Raden Sahid digembleng ilmu-ilmu agama dan spiritual yang diajarkan langsung oleh Sunan Bonang. Raden Sahid pun mampu mendalami ilmu yang diajarkan Sunan Bonang dengan baik. Guru Sunan Kalijaga yang lain di antaranya Sunan Ampel dan Sunan Giri. Beliau juga berguru ke Pasai dan berdakwah di wilayah Semenanjung Malaya hingga wilayah Pasai. Dengan dakwahnya tersebut di Malaya, beliau dikenal dengan nama Syekh Malaya. 

Saat Sunan Kalijaga masih menjadi perampok, nama dan kehebatannya tersohor hingga ke beberapa daerah, bahkan hingga Tanah Madura. Kebetulan di Madura terdapat perampok yang terkenal yang bernama Cakrajaya. Dengan kehebatan yang dimiliki Sunan Kalijaga atau pada saat itu dijuluki nama Lokajaya, Cakrajaya berniatan untuk menemui Lokajaya di Tuban.

Pada saat itu Sunan Kalijaga sudah menjadi murid Sunan Bonang. Niat Cakrajaya tersebut diketahui oleh Sunan Bonang, sehingga Sunan Bonang memberi tahu kepada Sunan Kalijaga bahwa ada orang yang ingin bertemu, bernama Cakrajaya. Tetapi kedatangan Cakrajaya memiliki niat jahat di hatinya. Sunan Bonang memerintahkan kepada Sunan Kalijaga untuk membersihkan hati Cakrajaya. Pada saat Sunan Kalijaga sedang menyusuri perkampungan sambil menyanyikan syair-syair, Sunan Kalijaga bertemu dengan Cakrajaya dan langsung menebak tujuan Cakrajaya datang ke Tuban. Cakrajaya merasa heran atas semua yang diucapkan oleh Sunan Kalijaga, karena semua yang diucapakan itu benar.

Pada akhirnya Cakrajaya meminta kepada Sunan Kalijaga untuk menjadi gurunya. Atas permintaannya tersebut Sunan Kalijaga memberikan persyaratan kepada Cakrajaya untuk bermeditasi selama  44 bulan di hutan, sambil merenungi kekuasaan Tuhan dan mengingat dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Pada saat Sunan Kalijaga mengunjungi Cakrajaya, Sunan Kalijaga merasa kesusahan karena hutan dipenuhi dengan daun yang sangat lebat. Akhirnya Sunan Kalijaga membakar hutan tersebut, sehinga bertemulah Sunan Kalijaga dengan Cakrajaya dalam posisi duduk bersilah dengan pakaian terbakar. 

Setelah membangunkan Cakrajaya, Sunan Kalijaga mengajarkan ilmu agama kepadanya. Dan meminta kepada Cakrajaya untuk membangun desa di atas tanah tempat Cakrajaya bertapa.  Sunan Kalijaga mengganti nama Cakrajaya menjadi Kiai Geseng dan nama desa tersebut dikenal dengan desa Geseng, sebuah desa kuno di daerah Tuban, Jawa Timur.

Landasan Dakwah Sunan Kalijaga

Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga tidak menggunakan kekerasan tetapi menggunakan sikap ramah dan akomodatif terhadap budaya setempat. Meskipun ada beberapa  masyarakat yang dinilai menyimpang dari ajaran Islam, dengan pendekatannya tersebut Sunan Kalijaga lebih mudah diterima oleh masyarakat. Sunan Kalijaga dikenal sebagai wali yang sangat luas cakupan bidang dakwahnya dan paling besar berpengaruh di masyarakat. Dengan kecerdasan dan kekreatifannya, Sunan Kalijaga berdakwah dengan media wayang. Kesenian wayang memang sudah ada sebelum Sunan Kalijaga. 

Dahulu, wayang dibuat dari bahan kertas dan bentuknya sangat mirip dengan manusia. Dengan bakat dan kekreatifannya Sunan Kalijaga memodifikasi wayang gambar manusia dengan gambar yang lain. Bahannya pun tidak lagi terbuat dari kertas tetapi dari kulit.

Sunan Kalijaga berdakwah dengan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Dengan cara tersebut, Sunan Kalijaga lebih mudah menyebarkan ajaran Islam. Dalam pementasan wayang kulit,  Sunan Kalijaga tidak menarik dana tetapi menggantinya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat (sebagai tiket menonton pertunjukan wayang).

Mengenai akhir hayatnya, belum ada data yang membahas secara pasti, baik dari naskah-naskah historiografi ataupun data-data yang lainnya tentang kapan Sunan Kalijaga wafat. Ia dikebumikan di Kadilangu, Demak, Jawa Tengah. 

 

Referensi 

Abdullah, Rachmad. 2015. Walisongo; Gelora Dakwah dan Jihad Ditanah Jawa (1404-1482). Solo: Al-Wafi

Abidin, Zainal. 2018. Fakta Baru Walisongo. Jakarta: Pustaka Imam Bonjol

Anwar, Rusydie. 2018. Kesaktian dan Tarekat Sunan Kalijaga. Yogyakarta: Araska

AR, MB. Rahimsyah. TT. Kisah Perjuangan Walisongo. Jakarta: Sandro Jaya  

Chodjim, Achmad. 2018. Sunan Kalijaga Mistik dan Makrifat. Tangerang Selatan: BACA

Sunyoto, Agus. 2018. Atlas Walisongo. Tangerang Selatan: Pustaka IMaN

Oleh : Alfiani Mafidhotul Hasanah, Semester III

One thought on “Menguak Sisi Kehidupan Sunan Kalijaga”

  1. Membaca artikel ini seperti kita sedang menyaksikan sebuah Film Sunan Kalijaga yang dibintangi oleh Dedi Mizwar. Banyak hikmah yang dapat diambil dalam perjalanan kehidupan Kanjeng Sunan Kalijaga. Bagaimana welas asih nya terhadap rakyat kecil yang kesusahan, kepedulian sosial yang sangat tinggi sehingga mengorbankan statusnya. Bahkan ajaran Kanjeng Sunan Kalijaga sampai saat ini dapat Kita lihat pada Islam Nusantara. Kama Qola Gus Dur “Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk aku jadi ana, sampeyan jadi antum, sedulur jadi akh. Kita pertahankan milik kita, kita harus filtrasi budayanya, tapi bukan ajarannya…” Terima kasih banyak atas tulisannya. Semoga Bermanfaat. JASMERAH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *