Keunikan Dakwah Sunan Kalijaga

Keunikan Dakwah Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga termasuk salah satu tokoh wali sanga atau penyebar agama Islam di tanah Jawa melalui ceramah religinya. Bagi masyarakat,  ia sosok pendakwah yang berbeda. Ia selalu menyampaikan ceramah dengan penuh jenaka secara cuma-cuma. Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga mempunyai pola yang di anggap sama dengan gurunya, sekaligus sahabat karibnya Sunan Bonang, meskipun secara dasar menurut Widji Saksono ajaran Sunan Bonang lebih dekat dengan kelompok Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Perlu ditegaskan, bahwa Sunan Kalijaga menjadikan kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah. Bahkan menurut Prof. Hamka, termasuk kelebihan Sunan Kalijaga adalah pandai memasukkan pengaruh Islam kepada kebiasaan orang Jawa. Kecintaan orang-orang Jawa terhadap wayang membuat ia memasukkan hikayat-hikayat Islam ke dalam permainan wayang. Seperti kita ketahui, pada waktu itu, masyarakat Jawa masih memegang tradisi dan kepercayaan Hindu-Buddha. Sehingga, dakwah yang dilakukan Sunan Kalijaga mendapat tantangan sangat besar. Oleh karena itu, ia kemudian berdakwah dengan cara yang unik, halus, dan bijak. Cara dakwahnya diantaranya adalah:

1. Dakwah menggunakan wayang

Salah satu dakwah Sunan Kalijaga adalah dakwah dengan menggunakan wayang atau dalang. Ia dikenal sebagai seorang dalang yang mahir wayang. Dengan menggunakan wayang kulit, Sunan Kalijaga mampu menarik perhatian banyak orang. Sehingga tidak heran bila Sunan Kalijaga mengadakan pertunjukkan wayang. Bisa jadi, salah satu sebabnya adalah setiap pertunjukkan wayang kulit yang dimainkan, Sunan Kalijaga tidak pernah meminta bayaran. Sunan Kalijaga menggelar pementasan wayang kulit dengan tujuan berdakwah. Maka tidak sedikit dari mereka yang kemudian masuk Islam setelah menyaksikan pertunjukkan wayang kulit yang didalangi Sunan Kalijaga.

2. Dakwah Menggunakan Cara Menggubah Tembang, Pamancangah Meninem (Tukang Dongeng Keliling), Penari Topeng, Perancang Pakaian, Perancang Alat-Alat Pertanian, Penasihat Sultan Dan Guru Rohani

Di antara Wali Sanga, Sunan Kalijaga dikenal sebagai wali yang paling luas cakupan bidang dakwahnya dan paling besar dampaknya di kalangan masyarakat. Kenapa? Sebab, selain dengan cara berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain sebagai dalang, penggubah tembang, pamancangah meninem (tukang dongeng keliling), penari topeng, perancang pakaian, perancang alat-alat pertanian, penasihat sultan dan pelindung rohani kepala-kepala daerah, Sunan Kalijaga juga dikenal sebagai guru rohani yang mengajarkan tarekat syathariyah dari Sunan Bonang sekaligus tarekat akmaliyah dari Syekh Siti Jenar, yang sampai saat ini masih diamalkan oleh para pengikutnya di berbagai tempat di Nusantara.

3. Menyusupi tradisi dengan nilai-nilai Islam

Menyusupi tradisi dengan nilai-nilai Islam, Sunan Kalijaga adalah wali yang lentur dan menerima tradisi Jawa, sembari mengubahnya secara perlahan. Justru melalui tradisi-tradisi tersebut, ia menjadikannya sebagai media dakwahnya dalam menyisipkan nilai-nilai Islam di dalamnya. Suatu ketika, ia mengusulkan agar adat istiadat orang Jawa seperti selamatan, bersaji, dan sejenisnya tidak langsung di tentang, karena masyarakat Jawa akan lari jika ditentang secara keras. la mengusulkan agar adat istiadat tersebut diberi warna atau unsur-unsur Islam.

4. Berdebat dengan cara yang baik

Berdebat dengan cara yang baik, Metode ini diterapkan terhadap tokoh yang secara terang terangan menunjukkan sikap kurang simpati dan setuju dengan dakwah Islam. Sunan Kalijaga menggunakan metode ini di antaranya ketika ia mengajak Adipati Pandanaran di Semarang untuk masuk Islam. Awalnya terjadi perdebatan seru, namun perdebatan itu berakhir dengan rasa tunduk sang adipati untuk masuk Islam. Bahkan, dalam cerita rakyat, sampai-sampai adipati tersebut rela mengorbankan pangkat serta meninggalkan kemewahan dunia dan keluarganya demi memenuhi syarat syarat yang diminta oleh Sunan Kalijaga untuk dapat diterima sebagai muridnya.

5. Membentuk kader dan juru dakwah

Membentuk kader dan juru dakwah, dalam menyebarkan Islam, Sunan Kalijaga juga membentuk kader atau juru dakwah serta melakukan penyebaran juru dakwah ke berbagai daerah. Tempat yang dituju adalah daerah-daerah yang sama sekali kosong dari penghuni ataupun kosong dari penghuni Islam. Sunan Kalijaga mengkader Kiai Gede Adipati Pandanaran, yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Tembayat. Di samping itu, Sunan Kalijaga juga mendidik Ki Cakrajaya dari Purworejo dan setelah menjadi wali, ia dianjurkan untuk pindah ke Lowanu agar mengislamkan masyarakat di daerah tersebut. Metode dakwah tersebut pada waktu itu sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga, di antaranya adipati dari Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, dan Pajang.

6. Pertobatan Adipati Pandanaran atau juga dikenal Ki Ageng Pandanaran

Kisah pertobatan Adipati Pandanaran atau yang juga dikenal Ki Ageng Pandanaran dari hidupnya yang suka berfoya-foya dan mementingkan harta akhirnya menjadi seorang mubaligh tidak lain karena peran Sunan Kalijaga. Dikisahkan oleh Wamugi (2005) bahwa setelah wafatnya Sunan Ampel, anggota Wali Sanga mengalami kekurangan personel dan membutuhkan penggantinya. Menghadapi kondisi itu, Sunan Kalijaga kemudian mengemukakan pendapat yang membuat geger para anggota wali lainnya karena ia menunjuk Ki Ageng Pandanaran untuk diberi kedudukan dalam kelompok wali.

Sunan Kalijaga sangat toleran kepada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap mengikuti sambil memengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah di pahami dengan baik, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Tidak mengherankan, ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang populer adalah Lir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Ialah penggagas baju takwa, perayaan Sekatenan, Grebeg Maulud, dan pertunjukan wayang kulit dengan lakon Layang Kalimasada serta Petruk Dadi Ratu (Petruk Jadi Raja). Landscape pusat kota berupa keraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid juga diyakini berasal dari ide Sunan Kalijaga.

Metode dakwah Sunan Kalijaga diyakini oleh sebagian pihak sangat efektif dalam mengislamkan Tanah Jawa, sehingga sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui dakwah Sunan Kalijaga, seperti Adipati Pandanarang, Kartosura, Kebumen, Banyumas dan Pajang. Karena Sunan Kalijaga menganut metode dakwah kom promistis, hasilnya secara kuantitas cukup bagus, namun secara kualitas banyak melahirkan para pengikutnya menjadi tokoh abangan, yang beragama setengah-setengah, bahkan cenderung memusuhi ajaran Islam murni.

Disindir oleh Prof. Bousquet dalam sebuah tulisan yang dihasilkan dari penelitiannya yang meneliti Islam di Indonesia pada tahun 1938. Sesudah mengadakan penelitian yang mendalam, ia berceloteh “Singkatnya di bawah baju berlobang-lobang Islam, tampaklah badan animistis, sedikit kehinduan, yang bagi kebanyakkan rakyat merupakan agama mereka sejati. Islam Indonesia mempunyai corak yang sangat menyimpang dari Islam biasa”.

Referensi:

Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa.

Zulham farobi, Sejarah Wali Sanga, Yogyakarta: Mueeza, 2018

Agus sunyoto, Atlas Wali Songo, Bandung: Mizan Media Ulama, 2012

Yudi Hadinata, Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2015

Zainal Abidin bin Syamsuddin, Fakta baru Wali Sanga, Pustaka Imam Bonjol, 2018

J.W.M.Bakker S.J, Agama Asli Indonesia.

Kontributor: Rizki Farhan Wildani, Semester V

Leave a Reply