Hari Santri: Jangan Lupakan Konteks Makna Jihad

Hari Santri: Jangan Lupakan Konteks Makna Jihad

Ma’had Aly – Istilah jihad seolah menjadi momok menyeramkan bagi beberapa orang. Jika Anda sudah menonton film Joker, Mak Lampir dan wajah asli Deadpool, saya kira semua itu lebih lucu jika dibandingkan persepsi makna jihad yang beredar. Ini akibat penyalahgunaan kata, makna dan praktik jihad yang diidentikan dengan anarkis.

Serangan bom yang dilakukan teroris merupakan sesuatu hal yang “baru” dalam politik Indonesia. Pada masa kepemimpinan Soeharto, khususnya dari pertengahan 1970-an sampai menjelang jatuhnya rezim itu, serangan teroris sangat jarang terjadi. Serangan bom meningkat sejak Mei 1998, terutama pada 2001, seperti terlihat dalam data sebagai berikut: dari Januari hingga Juli, sudah terjadi 81 peristiwa, sementara di ibukota Jakarta terjadi 29 peristiwa, dan selebihnya terjadi di luar Jakarta, seperti di Depok, Bekasi, Yogyakarta, Banten, dan Sulawesi Tenggara (tidak termasuk yang terjadi Aceh, atau Papua). Dari tahun ke tahun, ledakan bom makin meningkat. Fakta tersebut seolah membenarkan teori dari Alberto Abadie yang mengatakan bahwa negara yang tengah mengalami masa transisi dari totalitarianisme menuju demokrasi ditandai dengan maraknya aksi-aksi kekerasan termasuk terorisme.

Fenomena kekerasan yang dilakukan oleh teroris di negeri ini kemungkinan akan semakin menjamur dan mengancam stabilitas sosial. Dengan demikian, menghadirkan edukasi wawasan keislaman anti kekerasan dengan segenap nilai-nilai kearifan pendidikan pesantren, mungkin bisa membangun kesadaran normatif teologis dan juga sosial, dimana kita hidup di tengah masyarakat yang plural, dari segi agama, budaya, etnis dan berbagai keragaman sosial lainnya.

Saat era penjajahan, santri dan kiai menjadikan eksistensi pesantren sebagai pusat-pusat pergerakan yang menggaungkan dan mengajarkan kebaikan, kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Kiai dan santri menjadikan nasionalisme sebagai jembatan untuk mengekspresikan ajaran esensial-subtansial pesantren itu sendiri. Tidak diragukan lagi, kiai dan santri merupakan orang-orang yang terbuka, mudah menerima modernisasi lebih cepat. Terlebih dalam sistem politik, para santri dan kiai lebih bisa menerima demokrasi apa adanya dibanding kelompok-kelompok aristokrasi, feodal, intelektual, dan lainnya.

Islam nasionalisme adalah sebuah bentuk perasaan, untuk memupuk rasa memiliki bersama dalam suatu bangsa. Indonesia bukan negara agama, bukan pula negara yang mengakui adanya salah satu agama resmi, dan tentu saja bukan negara sekuler. Indonesia adalah negara Pancasila di mana semua agama dan masing-masing pemeluknya diperlakukan sama sebagai warga negara Indonesia Tidak ada agama eksklusif yang harus lebih dominan di antara agama-agama lainnya, sekalipun di antaranya ada agama mayoritas yang dianut warganya. 

Adalah Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari yang berhasil mengkontekstualisasikan makna jihad sesuai zamannya, yaitu pada masa penjajahan kolonial Belanda. 

Sekilas tentang KH. Hasyim Asy’ari

M. Hasyim Asy’ari adalah pendiri organisasi Nahdlatul Ulama dan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Beliaulah yang merupakan pelopor tiga dimensi yang harus menjadi pedoman warga Nahdlatul Ulama dalam bidang akidah, fikih, dan tasawuf. Beliau termasuk tokoh tasawuf sunni dan menentang tasawuf yang melenceng dari sunnah Nabi berdasarkan keterangan dalam kitab-kitab kuning yang biasa dikaji di pesantren. KH M. Hasyim Asy’ari menjadi sosok ulama yang pengaruhnya sangat besar, khususnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pengaruh ini tidak lepas dari kesuksesan Kiai Hasyim dalam mengembangkan pesantren Tebuireng menjadi pesantren paling besar dan paling penting pada abad ke-20 di Jawa. 

Kiai Hasyim lahir pada tahun 1871 M. Ayahnya adalah Kiai Asy’ari, pendiri Pesantren Keras, kakeknya adalah Kiai Utsman, pemimpin Pesantren Gedang yang menarik para santri di seluruh Jawa pada akhir abad ke-19 yang juga pemimpin tarekat yang menarik ribuan murid dari berbagai daerah. Ayah kekeknya adalah Kiai Sihah pendiri pesantren Tambakberas Jombang. Pesantren Tebuireng yang didirikan Kiai Hasyim sejak januari 1978 menjadi pusat Tarekat Qadariyah Naqsabandiyah yang sangat kuat pengaruhnya di Jawa Timur dalam waktu yang cukup panjang.

Kontekstualisasi Jihad Kiai Hasyim

Salah satu bukti perjuangannya adalah pada tanggal 22 Oktober 1945, Hadratussyekh KH. M. Hasyim Asy’ari selaku Rais Akbar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengeluarkan resolusi jihad. Resolusi jihad merupakan hasil rapat besar dari wakil-wakil daerah (Konsul 2) NU seluruh Jawa-Madura pada tanggal 21- 22 Oktober 1945 di Surabaya. Isi resolusi jihad adalah: Pertama, kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan. Kedua, Republik Indonesia adalah satu-satunya pemerintahan yang sah yang wajib dibela dan diselamatkan. Ketiga, musuh Republik Indonesia, terutama Belanda yang datang membonceng tugas-tugas tentara Sekutu (Inggris) dalam masalah tawanan perang bangsa Jepang akan menggunakan kesempatan politik dan militer untuk kembali menjajah Indonesia. Keempat, kewajiban tersebut adalah jihad yang menjadi kewajiban tiap-tiap orang Islam (fardu ‘ain) yang berada pada radius 94 km (jarak yang mana umat Islam diperkenankan shalat jamak dan qasar). Adapun mereka yang berada di luar jarak itu berkewajiban membantu saudara-saudaranya yang berada dalam radius 94 km tersebut.

Di samping resolusi jihad ini, Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari secara pribadi juga mengeluarkan dua fatwa jihad yaitu: pertama, menyerukan kepada seluruh kaum muslimin untuk terus melakukan perang suci (jihad) melawan Belanda; kedua, melarang kaum muslimin untuk melakukan ibadah haji dengan menggunakan kapal laut Belanda. Pengaruh resolusi dan fatwa jihad ini dahsyat. Setelah resolusi jihad dan fatwa ini, tepatnya pada tanggal 10 November 1945, pecahlah pertempuran sengit di Surabaya. Partisipasi kaum santri dalam pertempuran ini sangat besar. Kaum santri berkobar semangat melawan penjajah setelah mendengar fatwa politik yang dikumandangkan Hadratussyekh KH. M. Hasyim Asy’ari.

Dari sini kita bisa memahami bahwa, makna jihad yang digelorakan KH. Hasyim Asy’ari secara kontekstual, mengikuti perkembangan zaman saat itu, yakni  melawan kolonial Belanda. Hal ini tidak lain berangkat dari segala kedalaman ilmu Kiai Hasyim. Berbeda dengan kelompok radikal-fundamental, mereka terlalu kaku dalam beragama sehingga amar ma’ruf nahi munkar yang mereka gencarkan bukan berorientasi pada kemaslahatan, tapi kemudaratan. Semua itu berangkat dari kedangkalan pemahaman agama, bahkan pemahaman agama yang salah.

Kontekstualiltas makna jihad yang dibawakan Kiai Hasyim berorientasi pada amar ma’ruf nahi munkar yang berpegang teguh pada tujuan-tujuan syariat (maqashid as syari’ah);  yaitu menjaga agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan. Sedangkan jihad ala kaum radikal-fundamental yang berpotensi menyebabkan disintegrasi bangsa lahir dari kedangkalan pemahaman terhadap teks-teks agama yang dipahami secara rigid dan eternal.

Sangat disayangkan, jihad menjadi istilah yang dibenci dan ditakuti karena pendistorsian makna jihad itu sendiri. Dalam literatur Barat, umumnya kata jihad diterjemahkan dengan holy war (perang suci), padahal perang hanyalah salah satu bentuk saja dari jihad. Dalam Al-Qur’an, kata jihad dengan berbagai derivasinya terdapat 41 penyebutan. Ayat jihad dalam arti perang (qital) melawan musuh sebagai salah satu maknanya baru turun pada tahun kedua Hijriah yang kemudian digumulkan dengan realitas yang konkret dalam Perang Badar (624 M).

Jika cara pandang kita terhadap teks Al-Qur’an itu secara harfiyah, kesan itu benar adanya. Namun, jika kita melihat Al-Qur’an secara subtansif dan transformatif akan lebih merasakan nikmat Islam itu sendiri, karena apa yang kita lakukan sebetulnya sudah berislam selama kita bisa menegakkan keadilan, persamaan dan hak asasi manusia. Imam Qarafi dalam kitab Al-Furuq menjelaskan “Kaku terhadap dalil naqli (normatif) adalah kesesatan dalam agama dan menunjukkan kebodohannya terhadap tujuan-tujuan umat Islam terdahulu.” Oleh sebab itu, kaidah yang popular “al ibratu bil maqashid” menjadi parameter utama dalam memahami teks agama adalah tujuannya, bukan hanya teksnya. Tujuan teks agama tidak lain adalah mendatangkan kemaslahatan dan kemanfaatan dan menjauhi kerusakan dan marabahaya. Semua hukum Allah berorientasi kepada kemaslahatan hamba di dunia dan akhirat. 

Imam Ghazali dalam kitab Al-Musthafa menjelaskan “setiap ajaran yang mengandung penjagaan terhadap lima hak dasar (al-kulliyyat al-khamsah, hak agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan) dinamakan kemaslahatan. Sedangkan semua hal yang meniadakan lima hak dasar tersebut disebut kerusakan.”

Agar ayat-ayat jihad tidak direduksi untuk melegitimasi terorisme, Bonney mengamini pandangan ulama moderat mengenai pentingnya memahami ayat-ayat jihad secara holistik dan kontekstual. Langkah ini sangat penting agar jihad tidak dipahami secara menyimpang dari makna orisinalnya. Selain itu, kontekstualisasi harus dilakukan untuk menderadikalisasi ayat-ayat jihad agar tidak ditafsirkan oleh kelompok-kelompok ekstremis secara sewenang-wenang demi tujuan subjektif yang bertentangan dengan prinsip kasih sayang universal Islam.

Dengan penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa medan jihad sangatlah luas. Dari jihad yang berarti perang, menuju jihad yang berarti menahan hawa nafsu dan mengasah akal untuk membangun peradaban ilmu. Sesungguhnya para ularna fikih dan kalam telah memulai langkah tersebut dengan menghidupkan tradisi fikih, filsafat dan ilmu pengetahuan. Jihad dimanifestasikan dalam bentuk ijtihad, baik dalam ranah ritual keagamaan maupun sosial. Hanya saja, pada saat ini aspek ilmu pengetahuan mengalami ketertinggalan, karena menguatnya politisasi agama dan hilangnya ruh pencerahan, sebagaimana diteladani oleh Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Jabar, Al-Bairuni, lbnu Rusyd, Imam Syafi’i, Imam Ghazali, Imam Abu Hartifah, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Malik dan lain-lain.

Semoga dengan hari santri tahun ini, spirit nasionalisme dan patriotisme bangsa Indonesia tertanam dalam jiwa bangsa Indonesia. Terutama kaum santri agar bisa meneladani para ulama terdahulu dalam memperjuangkan keadilan di negeri ini.

Referensi

Ahmad Syafii Maarif, Mencari Autensitas dalam Dinamika Zaman, Yogyakarta: IRCiSoD, 2019.

Irwaan Masduqi, Ketika Nonmuslim Membaca Al-Quran, Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2016.

Jamal Ma`mur Asmani, Tasawuf Sosial KH. MA. Sahal Mahfudh, Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2019.

Sukawarsini Djelantik, Terorisme: Tinjauan Psiko-Politis, Peran Media, Kemiskinan, dan Keamanan, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010.

Zuhairi Misrawi, Al-quran Kitab Toleransi, Jakarta: Grasindo, 2010.

Oleh : M. Abror, Semester III

Leave a Reply