Pengislaman Tanah Jawa

Ma’had Aly – Islam di tanah Jawa adalah awal dari penyebaran Islam di Nusantara. Lalu, benarkah Jawa diislamkan atau Islam dijawakan? Mungkin kah Islam berkembang di Pulau Jawa dan menjadi agama mayoritas, hanya sebatas usaha sembilan wali yang dikenal Walisongo? Atau justru Walisongo sebenarnya tidak pernah ada? Inilah polemik saat sosok Walisongo diperbincangkan.

Meskipun fakta sejarah tentang Walisongo masih simpang siur dan mereka tidak hidup secara bersamaan, keberadaan dan peran mereka mengislamkan Jawa bisa dirasakan dan bisa dibuktikan. Kecerobohan pendata fakta tentang Walisongo mengakibatkan banyak terdapat kerancuan dalam penulisan sejarah babad seperti Babad Tanah Djawi, Babad Demak, Babad Majapahit dan tradisi lokal lainnya. Dalam penulisan sejarah tidak akan lepas dengan adanya perbedaan data-data, oleh karena itu setiap peneliti sejarah harus meneliti dengan netral dan mencari banyak sumber-sumber untuk mendapatkan data lebih banyak, agar tidak terjadi kepemihakan dalam meneliti suatu sejarah.

Dalam hal ini Ricklefs mengatakan bahwa Islamisasi di Indonesia sama tidak jelasnya dengan sejarah politik sebelum abad ke-15 M, karena tidak adanya bukti-bukti akurat. Kejelasan tersebut di perlukan untuk mengambil hikmah dari pengalaman masa lalu untuk menatap masa depan yang lebih baik.[1] Keberhasilan mengislamkan Tanah Jawa merupakan karya besar para pendekar dakwah dan para psikolog sosial yang mampu mengambil manfaat dan kesempatan yang ada pada masyarakat. Mereka mengerahkan potensi dan kekuatan untuk membangun masyarakat Islam. Suksesnya dakwah dan perjuangan Walisongo didukung oleh kepribadian mereka dan faktor Islam sebagai agama yang menuntut umatnya bekerja keras, ulet, bersemangat, bergem bira, supel dan fleksibel serta luwes.[2]

Berbeda dengan kaum misionaris, mengapa mereka tidak mampu menarik hati masyarakat Jawa, sehingga sampai sekarang masih menjadi kelompok minoritas? Jawabannya sebagaimana penuturan Prof. Cesar Adib Majul dari Philipina dalam bukunya “Muslims in The Philippines” terbitan tahun 1973 sebagai berikut:

Para dai dari Arab dan para dai kaum Muslimin lainnya mampu menyelaraskan diri dengan rakyat pribumi, belajar bahasanya, memahami adat-istiadat mereka, menikah dengan mereka, dan menyatukan diri dengan rakyat banyak tanpa menyatakan dirinya sebagai golongan yang berstatus istimewa. Kelebihan mereka dalam intelektual dan peradaban hanya digunakan untuk mendidik dan mengarahkan alam pikiran keagamaan rakyat pribumi ke dalam saluran-saluran yang memang dikehendaki, dengan cara yang sangat pandai dan santun sekali. Mereka adalah para pedagang seperti orang orang Eropa, namun mereka tidak pernah berpikiran untuk merampok rakyat pribumi dari hasil tanah dan hasil kerajinannya dengan cara-cara yang kasar dan kejam.[3]

Portugis dan Spanyol pada tahun 1520 M, setelah menemukan pulau Maluku, mereka merebut pulau demi pulau dari penduduk pribumi, merampas rempah-rempah rakyat dan memaksa warga asli agar memeluk agama Katholik dengan cara kasar. Bahkan dalam jangka panjang, mereka ingin mengebiri kekuasaan Demak di laut sepanjang Malaka hingga Maluku, sementara bandar-bandar niaga yang strategis seperti Tuban, Gresik, Cirebon, Semarang, Sunda Kelapa dan Banten juga sedang dalam incaran mereka. Apalagi Girindrawardhana bersama Raja Pajajaran telah terbukti melakukan aksi perselingkuhan dengan Portugis untuk merampas Tanah Jawa, maka kesultanan Demak dengan cermat mematahkan ekspansi mereka.

Dengan kenyataan seperti itu, apakah mungkin dakwah yang spektakuler hanya dimonopoli oleh sembilan tokoh yang disebut Walisongo? Menurut Damani, Walisongo hanya berjasa memulai dakwah Islam. Santri dan pesantrenlah (yang bekerja secara terorganisir), membuat Islam berbinar di Jawa. Oleh karena itu, peran ulama dan santri beserta pesantren sangat relevan untuk dibicarakan, karena lebih jelas historisnya dan dapat dibuktikan secara otentik di lapangan. Dakwah para wali, tercermin di pesantren-pesantren daripada di keraton Jawa. Meskipun sangat sulit melacak secara otentik kiprah dakwah para wali, sebab data tertulis berupa naskah di pesantren dan juga naskah di keraton di Jawa hingga akhir abad ke-19 M belum ditemukan, malah data historis yang ada sangat kusut.[4]

Menurut Abdul Rahman Haji Abdullah, pendidikan Islam tradisional di Tanah Melayu diperoleh dari sekolah pondok yang berasal dari Patani seperti tradisi pesantren. Pengajaran di pondok bergantung dengan karismatik guru atau ulama, kalau di Jawa di gelari kiai. Cara kajiannya juga sama, yaitu dengan berpedoman ke pada sebuah kitab tertentu sebagai pegangan utama, yang biasanya dikarang oleh ulama mazhab Syafi’i.[5]

Ulama dan santri melaju menjalankan misi mulianya di wilayah Nusantara, hingga mampu menumbuhkan kesadaran beragama Islam, nasionalisme dan patriotisme. Mereka membela agama Islam dan berjuang menghadapi penjajah yang melancarkan gerakan pemurtadan. Pada saat itu, disebut dengan politik Kristenisasi, yang dilakukan oleh misi Katolik dan Zending Protestan yang membantu penjajahan Barat.[6]

Oleh sebab itu, pesantren merupakan lembaga pendidikan keagamaan. Kultur yang dihasilkan paralel dengan tercapainya tujuan pendidikan itu sendiri yang bertumpu pada kitab kuning, sehingga menghasilkan santri-santri yang agamais, militan, terlatih dan terbiasa hidup menurut tradisi besar pesantren, misalnya pengetahuan Islam, sikap, sifat dan tingkah laku. Setelah lulus pesantren, sebagian besar mereka terpanggil untuk menjadi juru dakwah, bah kan mendirikan pesantren serupa, sehingga merekalah yang menjadi planet-planet yang mengitari matahari pesantren.[7]

Dengan mengalirnya kitab-kitab kuning ke pesantren-pesantren di Jawa, menciptakan sistem pendidikan yang cukup, sedang kan pihak istana tidak sempat memikirkannya. Baru pada abad 16 M, dengan runtuhnya kerajaan Jawa-Hindu Majapahit dan ber dirinya kerajaan Demak yang mendapat dukungan para ulama pesantren, mulailah para priyayi Jawa mencerminkan interaksi antar tradisi budaya keraton dengan unsur-unsur Islam, yakni mulai munculnya sastra suluk, wirid, dan primbon Jawa. Dari perkembangan penyebaran Islam di Jawa inilah kemudian muncullah teori tiga varian dalam bentuk umat Islam, yaitu Santri, Abangan, dan Priayi.[8]

Selain pesantren, institusi yang membantu mempercepat pengislaman Tanah Jawa adalah masjid-masjid dan para ulamanya. Dr. Badri Yatim memastikan bahwa lembaga yang membantu mempercepatkan Islamisasi di Jawa adalah masjid dan langgar, yang tentu ulama lah yang paling bertanggung jawab terhadap lahirnya kebudayaan dan peradaban Islam.[9]

H.J De Graaf dan T.H Pigeaud, menegaskan, di manapun kota-kota bandar bila telah terbentuk masyarakat Islam, masjid niscaya segera dibangun, itu merupakan suatu keharusan. Masjid menduduki tempat penting dalam kehidupan masyarakat, merupakan pusat pertemuan orang beriman dan menjadi lambang kesatuan jemaah.[10]

Pada masa pengislaman tanah Jawa dari para kalangan ulama dan para santrinya yang menyebarkan dakwah Islam, hal ini tidak terlepas dari politik, bahkan dalam pengislaman tanah Jawa banyak para ulama dan kalangan santri yang harus membela mati-matian dalam dakwahnya. Karena itu kekuasaan memanglah sangat penting, bahkan banyak ulama-ulama yang dalam dakwahnya mentitikberatkan kepada penguasa, karena dengan kekuasaan Islam dapat menyebar dengan cepat.

Dan selanjutnya peran kekuasaan dan politik menjadi pemicu derasnya perkembangan Islam di Jawa, terutama setelah pusat-pusat perdagangan di pesisir, yakni Gresik, Demak, Cirebon dan Banten sejak akhir abad ke-15 M dan permulaan abad ke-16 M telah menunjukkan kegiatan keagamaan oleh para wali di Jawa. Kegiatan ini mulai tampak sebagai kekuatan politik di pertengahan abad ke-16 M ketika kerajaan Demak sebagai penguasa Islam pertama di Jawa berhasil melumpuhkan ibu kota Majapahit. Sejak itu perkembangan Islam di Jawa telah dapat berperan secara politik, di mana para dengan bantuan Demak, kemudian Pajang dan Mataram dapat meluaskan pengembangan Islam tidak saja ke seluruh daerah-daerah penting di Jawa, tetapi juga di luar Jawa.[11]


[1] Runtuhnja Keradjaan Hindu-Djawa dan Timbulnja Negara-Negara Islam di Nusantara, Prof. Dr. Slamet Muljono, 1968, Penerbit Bhatara, Djakarta, hal. 14

[2] Mengislamkan Tanah Jawa, Widji Saksono, hal. 230

[3] Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Prof. A. Hasyimy, hal. 117-118

[4] Gatra, Edisi Khusus, no. 5 Tahun VIII 22 Desember 2001

[5] Pemikiran Umat Islam di Nusantara, Abdul Rahman Haji Abdullah, hal. 64.

[6] Api Sejarah, Ahmad Mansur S.N, 1/9.

[7] Gatra, Edisi Khusus, no. 5 Tahun VIII 22 Desember 2001.

[8] Ruh Islam Dalam Budaya Bangsa, Forum Ilmiah Festival Istiqlal II 95, hal. 233.

[9] Ruh Islam Dalam Budaya Bangsa, Forum Ilmiah Festival Istiqlal II 95, hal. 17.

[10] Kerajaan Islam Pertama di Jawa, H.J De Graaf dan T.H Pigeaud, hal. 29.

[11] Sunan Gunung Jati, Prof. DR. Dadan Wildan, hal. 238.

Kontributor: Noveri Denta Utama, Semester IV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *