Di Balik Masa Keemasan Daulah Abbasiyah

Di Balik Masa Keemasan Daulah Abbasiyah

The Golden Age of Abbasiyah


Ma’had Aly –Dinasti Abbasiyah merupakan pemerintahan Islam yang berdiri pasca runtuhnya Dinasti Umayyah, Dinasti ini berdiri pada 132 H dan dinisbatkan pada paman Nabi yang bernama Al-Abbas. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah as-Saffah, yang akrab dipanggil Abu Abbas as-Saffah. Dalam pemerintahannya, pusat Dinasti Abbasiyah terdapat di tiga tempat yaitu Humaimah, Kufah dan Khurasan. Masa kejayaan dinasti ini terjadi pada pemerintahan Khalifah Harun ar-Rasyid (170-193 H), dan pada masa pemerintahan anaknya, Khalifah al-Ma’mun (198-218 H).

Harun ar-Rasyid memiliki nama lengkap ar-Rasyid Abu Ja’far bin al-Mahdi bin al-Manshur Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas. Ia dilahirkan di Rayy, Muharram 149 H / Februari  766 M, sebagian mengatakan pada Zulhijah 145 H / Maret 763 dan meninggal di Khurasan, 3 Jumadil Akhir 193 / 24 Maret 809. Ia lahir saat sang ayah (al-Mahdi bin Abu Ja’far al-Manshur) menjadi Gubernur di wilayah Rayy dan Khurasan. Ar-Rasyid diangkat menjadi khalifah ke-5 Dinasti Abbasiyah setelah kematian saudaranya (al-Hadi) oleh sang ayah (170 H). Ayahnya bernama al-Mahdi bin Abu Ja’far al-Manshur yang  memerintah pada tahun 159-169 H / 775-785 M. Sedangkan ibunya seorang hamba sahaya dari Yaman bernama Khaizuran yang dimerdekakan dan dinikahi oleh al-Mahdi pada tahun 159 H / 775 M. Sebelumnya, ar-Rasyid dikenal dengan Abu Musa lalu kemudian Abu Ja’far. Ar-Rasyid adalah seseorang yang putih, tampan, tinggi, murah senyum, gemuk, perkataannya fasih, berwawasan luas dan cerdas. Ia mendapat didikan baik di dalam istana, gurunya yaitu seorang menteri bernama Yahya bin Khalid ( w. 805 ).

Semasa pemerintahan sang ayah, ar-Rasyid sudah dipercayai untuk memimpin ekspedisi militer dalam menyerang Bizantium (779-780 dan 781-782 M) sampai ke Pantai Bosporus. Ia dua kali menjabat sebagai Gubernur, di as-Saifah (163 H / 779 M) dan di Maghrib (166 H / 782 M). Ar-Rasyid adalah seorang pemimpin yang sangat mencintai dan menghargai ilmu, sehingga untuk mengungkapkannya ia mendirikan sebuah perpustakaan yang dinamakan Baitul Hikmah. Selain itu ar-Rasyid memberi gaji yang tinggi kepada para ulama dan ilmuwan, Khalifah ar-Rasyid memberi kedudukan tinggi dalam status sosial mereka. Ia adalah orang yang rajin dalam beribadah, hingga akhir hayatnya pun ia selalu melakukan shalat sebanyak 100 rakaat setiap hari terkecuali ketika sakit. Pada masa pemerintahan Harun ar-Rasyid, dinasti ini mengalami perkembangan yang begitu pesat, kemakmuran yang tinggi, kekayaan yang melimpah, terjaminnya keamanan, meluasnya wilayah kekuasan dari Afrika Utara hingga India. Salah satunya dari keberhasilannya yaitu dengan berdirinya perpustakaan yang bernama Baitul Hikmah. Dan pada masanya pula banyak lahir orang-orang hebat, seperti para filsuf, pujangga, ahli al-Qur’an serta para ulama.

Ar-Rasyid merupakan khalifah yang setiap tahunnya melakukan ibadah haji beserta keluarga, pejabat, dan ulama. Ia juga merupakan pemimpin yang gemar menyedekahkan hartanya kepada fakir miskin, dan orang-orang yang menasihatinya. Pada masanya, terdapat empat madzhab fikih yang tumbuh dan beberapa ilmu pengetahuan berkembang, diantaranya: al-Qur’an, qira’at, hadits, fikih, ilmu kalam, bahasa dan sastra, filsafat, logika, mekanika, astronomi, musik, kedokteran serta kimia. Pada saat itulah ia menjadi satu-satunya pemimpin terkuat di dunia. Dalam menghadapi Dinasti Umayyah di Andalusia, ar-Rasyid bekerja sama dengan Karel Agung yang ada di Eropa. Sementara Karel menjalin kerjasama itu untuk menghadapi Bizantium. Saat itu ibukota berada di kota Baghdad dan sebagai ibukota, Baghdad menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan melalui Baitul Hikmah. Selain berkembangnya ilmu pengetahuan, di masa ini Dinasti Abbasiyah mengalami perkembangan dalam segi bangunan, baik bangunan sarana peribadatan, pendidikan, kesehatan, dan perdagangan. Seperti megahnya istana yang luasnya mencapai sepertiga kota Baghdad, dilengkapi dengan beberapa bangunan bersayap, ruang audiensi yang dipenuhi perlengkapan yang indah.

Harun ar-Rasyid adalah sosok pemimpin yang adil, berwibawa, bijak, luas akan keilmuan, rendah hati, dermawan. Pada masa kecilnya, ia pernah berperang melawan Romawi. Dinasti Abbasiyah mengalami masa keemasan pada masa kepemimpinannya dan anaknya, al-Makmun  yang kemudian masyhur disebut “The Golden Age of Islam”. Pusat pemerintahannya berada di Baghdad, dimana pada tahun 800-an ia adalah kota metropolitan dan kota utama bagi Islam, yaitu sebagai pusat pendidikan, peradaban, perdagangan, ekonomi, serta politik.  Jasanya yang masih bisa dinikmati hingga kini ialah buku-buku dalam berbagai ilmu, karya para ulama dan sarjana yang dikembangkan dan dihasilkan atas dorongan dan biaya dari ar-Rasyid. 

Dalam suatu riwayat dari Abu Mu’awiyah, dikatakan bahwa ar-Rasyid pernah menuangkan air ke gelas yang ada di tangan Abu Mu’awiyah ketika makan bersama, hal itu terjadi karena kerendahan hatinya. Selain itu ia juga sangat dermawan, ia selalu menyedekahkan 1000 dirham dalam tiap harinya. 

Dikisahkan oleh as-Sammak ketika menemui ar-Rasyid yang sedang mengangkat segelas air untuk diminum, as-Samak berkata, “Wahai Amirul Mukminin, seandainya orang-orang mencegahmu untuk minum, berapa banyak yang berani kau bayarkan untuk membelinya?”. Jawabnya “Akan kubeli dengan separuh kerajaanku” dan beberapa pertanyaan lainnya. Dikatakan oleh Nafthawaih bahwa perilakunya mengikuti sang kakek (al-Manshur) terkecuali kekikirannya. Ada yang mengatakan bahwa pemerintahan ar-Rasyid semuanya baik, hingga diumpamakan dengan seorang mempelai wanita. Adz-Dzahabi berkata, “Kisah-kisah mengenai ar-Rasyid amat panjang karena banyak hal baik yang ada pada masa pemerintahannya. Ada suatu riwayat dari as-Shuli dari Sa’id bin Saim  menuturkan, bahwa Harun Rasyid memiliki pemahaman seperti halnya ulama. Al-Ummani membandingkan ia dengan sifat seekor kuda :

“Seakan-akan kedua telinganya terangkat. Laksana pasukan atau bak pena pedang sedang bergerak-gerak”

Ia juga seorang pemimpin yang tegas, tatkala ada orang zindik yang memalsukan hadis atas nama Rasulullah, ia memerintahkan agar orang tersebut dipenggal kepalanya. Selain menjadi seorang pemimpin yang sangat mencintai dan menghormati ilmu, layaknya pemimpin pada umumnya ia pun menyukai olahraga. Dikatakan oleh Muhammad bin Ali al-Khurasani bahwa Khalifah Harun ar-Rasyid adalah khalifah pertama yang bermain hoki, bola, memanah dengan membidikkan panah ke lilin yang ditaruh di punggung kuda, serta catur.

Khalifah Harun ar-Rasyid tutup usia di Khurasan (3 Jumadil Akhir 193 H) dalam usia 45 tahun dan mewariskan uang sebanyak 1 juta dinar. Selain itu, ia juga meninggalkan perabot rumah, mutiara, uang kertas, serta binatang piaraan, yang seluruhnya berjumlah sekitar 1.025.000 dinar. Sepeninggal ar-Rasyid, maka dilantiklah anaknya yang bernama al-Amin. Adapun peninggalan-peninggalan bersejarah masa Khalifah Harun ar-Rasyid yaitu:

* al-Khiraj/ Kharaj (Pajak Bumi)

*Harta rampasan perang

*Pendistribusian seperlima harta rampasan perang untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, sebagaimana dalam firman Allah QS. Al-Anfal : 41.

‘’Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.’’

 

Referensi 

Ali Muhammad Ash-Shallabi, 2016, Ashr ad-Daulah; al Umawiyah wa al-Abbasiyah wa Zhuhur Khawarij, Terj. Imam Fauji, Sejarah Daulah Umawiyah & Abbasiyah, Jakarta: Ummul Qura

Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedi Islam, Cet. 4, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hove, 1997

Drs. Samsul Munir Amin, MA,2009, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah

Imam As-Suyuti,2017, Tarikh Khulafa’, Terj. Muhammad Ali Nurdin, Tarikh Khulafa: Sejarah Para Khalifah, Jakarta: Qisthi Press

Syaikh Muhammad Al-Khudari, 2018, Ad-Daulah Al-Abbasiyah, Terj. Masturi Irham, Lc, & M. Abidun Zuhri, Lc, Bangkit dan Runtuhnya Daulah Abbasiyah, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar

Oleh : Nazilatuz Zaeniyah, Semester III

Leave a Reply