Menulis untuk Pemalas

Menulis untuk Pemalas

Resume Webinar Ngaji Literasi Nasional

Mahad Aly Saidussidiqiyah Jakarta Barat

Oleh Alwi Jamalulel Ubab

Materi webinar: Menulis untuk Pemalas

Narasumber: Gus Ach. Dhafir Zuhry

Moderator: Muhammad Abror

Waktu: Sabtu, 13 Februari 2021

Menulis itu life skill, keterampilan. Tidak perlu bakat, hanya perlu kebiasaan. Dan merupakan life style, gaya hidup. Itulah yang disampaikan oleh Pemateri acara di awal pembukaan Webinar Nasional yang diselenggarakan oleh Mahad Aly Saidussidiqiyah, Jakarta Barat (13 Februari 2021). Ia mengatakan, seorang penulis harus menjadikan kepenulisan sebagai  keterampilan yang dibiasakan dan gaya hidup bagi dirinya. Di antara caranya ialah menuangkannya waktu dalam sehari untuk menulis.

Menulis tidak hanya bertujuan untuk diterbitkan, jika memang tidak sampai bisa diterbitkan setidaknya bisa menjadi catatan pribadi. Jadi, tidak ada salahnya untuk menulis. Tulisan masih kurang baik tidak masalah, asal terus mencoba dan mau untuk belajar serta menerima kritik dan saran, seorang penulis akan berkembang dengan sendirinya.

Menurut pemateri, Gus Dhafir, menumbuhkan jiwa menulis dapat dilakukan dengan habbits, kebiasaan. Kebiasaan merupakan watak yang kedua,  jadi untuk bisa mahir dalam melakukan suatu pekerjaan, seseorang harus memaksa dirinya sendiri untuk memulai. Sehingga keterpaksaan yang dilakukannya berubah menjadi habbits, kebiasaan dan lama-lama menjadi keterikatan jiwa. Dan menjadi komitmen intelektual (intellectual commitment) dan komitmen jiwa (soul commitment).

Ada pepatah mengatakan “seseorang bisa karena terbiasa”.  Menurut satu riset yang dikatakan beliau, dikatakan bahwa untuk mencapai tingkat “kepakaran”, expert pekerjaan apapun itu membutuhkan setidaknya  5000-10000 jam terbang untuk melatih diri. Termasuk untuk pakar dalam menulis.

Gus Dhafir juga mengatakan seorang penulis hendaknya menjadikan kegiatan menulis sebagai ibadah. Sehingga seorang penulis muslim hendaknya memulai menulis dengan membaca bismillah dan shalawat. Dengan harapan tulisannya dapat bermanfaat baik bagi diri sendiridan orang lain.

Tips menulis untuk Pemalas.

Gus Dhafir menyampaikan dalam materinya bahwa ada beberapa kiat untuk menjadi penulis yang expert, terutama bagi kalangan rebahaners.

Pertama, seorang penulis pemula hendaknya berpikir seperti bayi. Bayi tumbuh dan berkembang ketika dirawat. Menulis ibarat bayi butuh untuk dirawat.

Di awal perjalanan menjadi “orang tua” baik ayah ataupun ibu tidak akan mengetahui apa yang dimaksud tangisan bayi, ketika bayi menangis atau tingkah polah bayi lainnya. Tapi lama kelamaan karena terbiasa setiap hari melihat perilaku si bayi, orang tua akan mengerti maksud dari tingkah pola anaknya.

Seperti halnya mengurus bayi, menulis perlu “dirawat” dan dikembangkan. Mungkin di awal akan terasa sulit dan tidak mengerti apa yang harus ditulis, bagaimana ketentuan penulisannya dan lainnya. Namun, ketika sudah terbiasa maka dengan sendirinya akan mengerti kiat kepenulisan miliknya sendiri, gaya miliknya.

Kedua, menulis seperti halnya seni bela diri. Seni bela diri membutuhkan keistiqamahan untuk sampai pada tingkat  mahir, sama seperti halnya seni bela diri menulis membutuhkan keistiqamahan untuk kemajuan dan kemahiran.

Ketiga, menempuh proses dengan segala lika-liku terjalnya. Boleh jadi yang ini yang menjadi kendala dan musuh terbesar bagi para penulis pemula. Banyak yang menyerah ketika menuai hasil mengecewakan atau merasa jumawa ketika mendapatkan hasil memuaskan.

  • Tahapan Menulis:

 Ada tiga tahapan menulis yang disampaikan oleh Gus Dhafir dalam webinar kali ini.

  • Pramenulis

Melakukan riset sehingga tidak menulis tanpa data. Penelitian sangat menentukan bobot dan isi dari sebuah tulisan. Sehingga akurasi nilai dari sebuah karya tulis ditentukan dari bobot isi di dalamnya.

Termasuk di dalamnya ialah riset terkait pembaca. Sangat diperlukan untuk melakukan riset pembaca, dengan tujuan untuk mengetahui sasaran dari tulisan.

  • Menentukan Topik

Penentuan  yang sekiranya sangat dibutuhkan oleh pembaca tentunya. Sekal ilagi, untuk bacaan yang dapat dinikmati oleh banyak kalangan diperlukan untuk menentukan topic terkait apa yang akan ditulis. Aktualisasi dan faktualisasi tulisan sangat memengaruhi nilai dari sebuah karya tulis.

  • Membatasi Ruang Lingkup dan Menentukan Tujuan Penulisan

Kemudian diperlukan untuk membatasi ruang lingkup dari apa yang ditulis sehingga tidak terlalu melebar dari tujuan penulisan.

Memulai menulis. Memulai dengan menentukan judul tulisan yang akan dibahas. Judul buku/tulisan  memiliki lebih dari satu makna, ikonik, dan gampang diingat. Contoh: Kerjakan doamu, doakan kerjamu.

Awali tulisan dengan tanda tanya. Dengan membuat teras tulisan berupa pertanyaan-pertanyaan yang dapat menarik minat para pembaca.

Setelah menulis, ajaklah orang lain untuk membaca dan menilai tulisan, sehingga dapat menjadi kritik dan gagasan pada si penulis.

Kendala menulis. Menulis memerlukan pembaharuan, aktualitas, atau paling tidak faktual. Cara yang paling mudah dilakukan oleh penulis pemula ialah melakukan copy the master, ATM (Amati Tiru Modifikasi).  Perbanyaklah membaca,  menulis dan bertanya kepada guru/penulis hebat (copy the master).

Menentukan pola. Tulisan adalah pikiran yang bergerak.  Berpikir kreatif dengan keluar dari pola lama menuju pola baru. Menghubungkan yang tak terhubung. Menghubungkan imajinasi dengan realitas. Salah satu caranya yaitu dengan melatih peta pikiran (mind map). Sering menggambar pikiran (visualisasi diri) dan kemudian menuangkannya dalam bentuk tulisan, sehingga dapat menghasilkan peta pikiran dalam diri.

Pahami karakter penerbit dan media. Jangan egois dengan meminum obat batuk sedang penyakitmu itu pilek, begitu kiranya yang diungkapkan oleh Gus Dhafir. Seorang penulis pemula biasanya terlalu angkuh jika karyanya dikritik. Merasa sudah benar dan menyalahkan penerbit yang tidak mau menerbitkan karyanya. Padahal, sejatinya yang lebih paham terkait layak atau tidaknya suatu karya diterbitkan ialah penerbit itu sendiri.

Tulisan harus selesai. Jangan berpikir karya akan menjadi magnum opus. Selesaikan saja, setidaknya jika tidak diterbitkan dapat menjadi catatan pribadi.

Musuh para penulis. Musuh terbesar hari esok adalah keberhasilan hari ini, teman terbaik untuk hari esok adalah kegagalan hari ini. Pribadi visioner tidak akan tergantung pada keberhasilan dan kegagalan. Dia akan cepat move on dari apa yang akan ada dirinya. Penulis pun sama,  jika masih gagal mungkin belum saatnya berhasil, terus harus mencoba. Dan ketika sudah berhasil tidak boleh jemawa dan berhenti untuk berkarya.

Leave a Reply