Uncategorized

Makna Kemenangan Fathul Makkah Bagi Orang yang Bersabar

MAHADALYJAKARTA.COM – Pada bulan Dzulqadah tahun ke enam Hijriah adalah awal akan terjadinya fase baru dalam dakwah Islam. Hal ini diawali oleh perjalanan Rasulullah saw. bersama kurang lebih 1.500 sahabat menuju Makkah dengan niat melaksanakan ibadah Umrah sebagaimana beliau lihat dalam mimpi. Perjalanan ini berangkat tanpa membawa senjata, hanya berbekal senjata ringan. Sebab, senjata ini hanya dipergunakan untuk menyembelih hewan qurban.

Meskipun dengan segala kesulitan yang merintangi, akhirnya rombongan muslim sampai di Hdaybiyah. Namun, Quraisy memberikan ancaman dan tidak memperbolehkan rambongan Rasulullah saw. memasuki Makkah. Setelah menempuh jalan diplomasi di antara keduanya, maka terciptalah perjanjian damai selama 10 tahun yang kita kenal dengan Perjanjian Hudaibiyah.

BACA JUGA: 5 Konfrontasi Besar dalam Sejarah Islam

Meskipun sulitnya isi perjanjian dan banyaknya intimidasi terhadap pihak muslim, Rasulullah saw. tetap memegang teguh perjanjian tanpa ada satu pun butiran perjanjian yang beliau langgar. Namun, sayangnya hal ini tidak berlaku bagi penduduk Makkah, meskipun Perjanjian Hudaibiyah belum genap dua tahun, sekelompok orang Quraisy melanggar perjanjian tersebut. Yakni dengan membunuh 23 orang dari suku Khuza’ah yang berada di bawah keamanan Rasulullah saw.

Mendengar penghianatan tersebut, Rasulullah saw. memilih jalan negosiasi dengan mengutus sahabat Dhamrah untuk menawarkan tiga poin alternatif sebagai solusi atas perbuatan kriminal mereka, yaitu:

1# Membayar denda atas korban pembunuhan dari suku Khuza’ah

2# Membatalkan perjanjian mereka dengan suku Nafatsah/Bakr

3# Menerima resiko pertempuran akibat pelanggaran batalnya Perjanjian Hudaibiyah

Sayangnya, Quraisy yang kala itu tengah mencari solusi jalan keluar dari permasalahan ini, bukannya menerima tawaran dari Rasulullah saw. justru mereka malah kembali menunjukkan sifat sombong dengan menolak mentah-mentah tawaran tersebut. Akibatnya, mereka harus menanggung poin ketiga yang ditawarkan oleh Rasulullah saw.

Penduduk Makkah pun mulai menyadari bahwa akan ada hukuman bagi mereka atas pelanggaran besar yang telah diperbuat. Namun, mereka tidak tahu sama sekali bagaimana dan kapan hukuman itu akan terjadi. Terlebih lagi, semua bentuk komunikasi dengan orang-orang Madinah terputus total. Di sisi lain, Rasulullah saw. berangkat dari kota Madinah menuju kota Makkah al-Mukarramah bersama 10.000 pasukan untuk merealisasikan Fathul Makkah yang beliau lihat sebelumnya dalam mimpi kenabian.

Kekhawatiran penduduk Makkah semakin menjadi-jadi. Akhirnya, mereka mengambil keputusan untuk mengirim Abu Sufyan dan Hakim bin Hizam ke Madinah. Misi mereka tidak lain untuk mencari informasi lebih sehingga mereka dapat mengetahui perkembangan yang sedang terjadi di Madinah. Di tengah perjalanan, Badil bin Warqa ikut bergabung. Sampai mereka di Marr az-Zahran pada malam hari, di tempat itulah mereka menyaksikan sebuah pemandangan menakjubkan sebagai indikasi lahirnya sebuah era baru yang cemerlang bagi penduduk Makkah. Hal itu dikarenakan Marr az-Zahran sedang diselimuti oleh 10.000 api unggun yang berasal dari pasukan umat Islam.

“Ya, Rasulullah, habis sudah kekuatan Quraisy. Tak ada lagi kemuliaan Quraisy setelah ini.” Demikian ucapan yang keluar dari Pimpinan Quraisy, yakni Abu Sufyan. ketika dihadapan Rasulullah saw. dan melihat ribuan pasukan kaum muslim hendak memasuki kota Makkah. Ungkapan ini tak lain adalah sebuah kekhawatiran Abu Sufyan, sebab kala itu ia dipercaya oleh penduduk Makkah untuk memperbaiki perjanjian damai yang pernah disepakati dengan Rasulullah saw. Selain itu, masih banyak kekhawatiran lain yang membuat Abu Sufyan tak berdaya. Bagiamana tidak, hampir 21 tahun orang Quraisy menghabiskan waktu, tenaga, harta, hingga pikirannya untuk meredupkan misi dakwah Rasulullah saw. tetapi, kini mereka diujung tanduk kegagalan dan cahaya kebenaran yang akhirnya berkibar hingga akhir zaman.

BACA JUGA: Perang dan Penaklukkan Makkah

Jika flashback 21 tahun sebelum peristiwa Fathul Makkah terjadi, tentu masih melekat dalam setiap ingatan orang yang memahami sirah, tentang kejadian-kejadian yang dilakukan oleh orang Quraisy saat pertama kali Rasulullah saw. mendakwahkan kebenaran. Lalu mundur lagi,  lebih jauh di mana Rasulullah saw. pada usia dini yang penuh kasih sayang dari kaumnya bahkan untuk mengekspresikan atas kelahiran beliau, Abu Lahab yang berstatus Paman Rasulullah saw. ia membebaskan budak dan membagikan makan kepada orang-orang Makkah. Hingga Rasulullah saw. menginjak usia remaja, orang-orang Quraisy kagum akan sifat jujur yang melekat pada diri Rasulullah saw.

Sebagaimana yang kita pahami kehidupan ini berputar silih berganti. Saat Rasulullah saw. memasuki usia 40 tahun, beliau mendapat wahyu kebenaran untuk disampaikan kepada kaumnya. Melihat apa yang disampaikan Rasulullah saw., orang-orang Quraisy yang semula kagum akan keperibadian sang Pembawa Cahaya Kebenaran, kini 180 derajat rasa itu berubah menjadi sebuah kebencian yang mendalam hingga melahirkan berbagai macam tindakan di luar nalar untuk memuaskan rasa kebencian tersebut.

Bagi orang yang memiliki akal sehat, tentu dengan penuh rasa gembira menyambut kabar kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Namun, yang di dalam hatinya ada rasa angkuh, merasa paling benar, congkak, dan berbagai macam penyakit hati yang membuat hati hitam pekat nan keras bak batu, tentu akan menganggap kabar kebenaran dari Rasulullah saw. bagai petir yang menyambar, seakan bila mereka menerima kabar baik itu semua yang mereka miliki akan musnah.

Demikianlah orang-orang yang memiliki penyakit dalam hatinya, mereka tidak melihat kebenaran yang disampaikan meskipun sang Pembawa Kebenaran adalah manusia paling jujur. Tetapi, mereka melihat apa yang ada dalam dirinya adalah yang paling benar dan yang tidak sesuai dengan dirinya adalah sebuah kesalahan. Hal ini terjadi kepada Abu Lahab, orang yang bahagia atas kelahiran Rasulullah saw., tetapi ia pula yang paling getol memusuhi dakwah Rasulullah saw.

Kebencian dan kedengkian Abu Lahab nampak saat Rasulullah saw. mengajak seluruh penduduk Makkah untuk masuk Islam secara terang-terangan di tahun ketiga setelah kenabian hingga puncaknya ia harus mati dalam kebencian pada Perang Badar. Setelah Abu Lahab tumbang, estafet kebecian itu terus bergulir di hati orang-orang yang taklid buta terhadap leluhurnya. Tak lain dan tak kalah getol-nya dalam memusuhi dakwah Rasulullah saw. setelah Abu Lahab ialah Abu Sufyan. Kebencian Abu Sufyan membuatnya rela mengeluarkan biaya seberapa pun untuk menghentikan dakwah Rasulullah saw. Akan tetapi, Rasulullah saw. dalam menghadapi semua ancaman, intimidasi, serta kekerasan yang ditunjukkan orang-orang Makkah terhadap beliau dan para sahabatnya, dihadapi dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, bahkan beliau tak pernah terbesit untuk balas dendam. Justru beliau selalu mendoakan mereka-mereka yang memusuhinya.

Bukti dari perlakuan baik Rasulullah saw. terhadap musuhnya adalah saat Fathul Makkah terjadi. Saat Abu Sufyan tak berdaya melihat pasukan muslim dan sebagai pimpinan orang Makkah ia tak tahu apalagi yang harus dilakukan. Ia benar-benar di ujung jurang kegelisahan. Melihat hal tersebut, Rasulullah saw. mengatakan kepada Abu Sufyan, “Siapa yang masuk rumah Abu Sufyan maka selamat, siapa yang masuk masjid maka selamat, dan siapa yang menutup pintu-pintu rumahnya ia selamat”. Seketika itu, Abu Sufyan merasa tenang.

BACA JUGA: Perang Badar: Para Malaikat Ikut Berperang Bersama Ahli Surga

Jika bukan hati kenabian, mungkin sulit memaafkan musuh yang berpuluh-puluh tahun menampakkan kebencianya. Mencoba membayangkan bagaimana sakitnya selama tiga belas tahun di caci maki, terintimidasi, bahkan tidak diterima dari tempat kelahirannya sendiri. Fathul Makkah adalah simbol kemenangan dari berakhirnya kesengsaraan dalam memperjuangkan cita-cita perdamaian.

Kesimpulan penulis, setiap orang memiliki Fathul Makkah tersendiri. Memiliki tantangan dan cobaan masing-masing, cita-cita yang kita bangun adalah cikal bakal dari Fathul Makkah versi kita. Tinggal bagaimana kita merealisasikan suksesnya kemenangan tersebut. Rasa kepedihan, kesengsaraan, bahkan mungkin rasa keputusasaan yang menyelimuti perjuangan kita, siapkah kita membalut semua itu dengan kesabaran dan ketekunan? Sebagaimana yang diaplikasikan oleh Rasulullah saw. selama 21 tahun. Sebab, hanya orang-orang sabar dan tekun yang mampu menaklukkan cita-citanya dan merealisasikan Fathul Makkah versinya. (//)

Kontributor: Muhammad Nahrowi, Semester VII

Penyunting Bahasa: Isa Saburai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *