Sang Surya dari Timur

Sang Surya dari Timur

Siapa yang tidak kenal dengan ulama karismatik yang satu ini. Ia adalah seorang ulama yang berasal dari belahan nusantara sebelah Timur, tepatnya di Lombok-NTB, yaitu Tuan Guru Haji (TGH) Muhammad Zainuddin Abdul Majid atau biasa disebut Tuan Guru Pancor. Mayoritas penduduk Lombok ini menganut agama Islam beraliran Aswaja, yang bermadzhab Imam Syafi’i. Mereka menuntut ilmu dengan cara mendatangi rumah-rumah Tuan Guru dan berkumpul bersama membentuk halaqah. Sehingga mereka belajar tanpa mengenal batas waktu.

Tuan Guru Pancor Lahir pada 05 Agustus 1908 di tengah-tengah keluarga yang kental akan keagamaannya, ayahnya bernama TGH Abdul Majid dan ibunya bernama Hj. Halimah as-Sya’diyah. Menurut M. Syubhan dkk, dalam bukunya Intelektualisme Pesantren (2006) menyatakan panggilan Tuan Guru Pancor ini dikarenakan TGH Muhammad Zainuddin Abdul Majid lahir di Bermi, Pancor Lombok-NTB. Istilah Tuan Guru merupakan gelar bagi para pemimpin agama yang bertugas untuk membina, membimbing dan mengayomi umat Islam dalam hal-hal keagamaan dan sosial kemasyarakatan di daerah NTB. Namun, di Jawa lebih identik dengan istilah Kiai.

Menurut Tim Pengusul Pemberian Gelar Pahlawan Nasional TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (2017) menyatakan bahwa dari pernikahannya, TGH M. Zainuddin Abdul Majid hanya memiliki dua orang putri. Yang pertama bernama Siti Rauhan dari pernikahannya dengan Siti Jauhariyah, dan putri kedua yaitu Siti Raihanun dari pernikahannya dengan Hj. Siti Rahmatullah. Dari kedua putrinya ini lahir banyak cucu. Dari Siti Rauhun ada enam cucu yaitu: Siti Rohmi Djalillah, Muhammad Syamsul Lutfi, Muhammad Zainul Madji, Muhammad Jamaluddin, Siti Suraya, Siti Hidayati. Adapun cucu dari Siti Raihanun ada tujuh orang putra dan putri, yaitu: Lalu Gede Muhammad Ali Wirasakti Amir Murni, Lale Laksmining Puji Jagat, Lalu Gede Syamsul Mujahidin, Lale Yaqutunnafis, Lale Syifa’un Nufus, Lalu Gede Muhammad Zainuddin Tsani, Lalu Gede Muhammad Fatihin. Keturunannya ini yang akan melanjutkan perjuangan orangtuanya mensyiarkan agama Islam.

Sejak kecil, TGH Muhammad Zainuddin Abdul Majid diakui kecerdasannya dan jujur. Tak heran jika ayahnya, yaitu TGH Abdul Majid menaruh perhatian khusus dan berharap dapat menggantikan posisi kepemimpinannya kelak sebagai tokoh masyarakat dan tokoh agama di Lombok. Pada usia 6 tahun, Tuan Guru Pancor sudah fasih membaca al-Quran di bawah bimbingan ayahnya langsung. Pada masa inilah, ia juga memperdalam ilmu agamanya dari beberapa ulama Lombok, yaitu TGH Syarafullah di Pancor dan TGH Abdullah bin Amak Dujali Kelayu Lombok Timur. Dibawah ketiga ulama Lombok inilah TGH Muhammad Zainuddin Abdul Majid atau TGH Pancor dibekali ilmu pengetahuan agama secara memadai guna melanjutkan perjuangan mereka di Lombok.

Di usia 17 tahun, Tuan Guru Pancor dikirim oleh ayahnya ke Mekah untuk lebih memperdalam ilmu agamanya kepada ulama-ulama Mekah selama 12 tahun. Kemudian ia melanjutkan studinya di madrasah As-Shaulatiyah yang dipimpin oleh Syaikh Salim Rahmatullah putra dari Syaikh Rahmatullah, seorang pendiri Madrasah Ash-Shaulatiyah. Madrasah ini adalah madrasah pertama di tanah suci, yang menghasilkan banyak ulama-ulama besar. Di madrasah inilah ia belajar berbagai macam ilmu pengetahuan agama dengan rajin dibawah bimbingan ulama-ulama terkemuka di kota suci Mekah.

Setelah menimba ilmu di Mekah, TGH Zainuddin Abdul Majid kembali ke kampung halamannya di Pancor, Lombok Timur guna mengamalkan ilmu yang ia punya. Sehingga ia bisa mewujudkan harapan orang tuanya menjadi tokoh masyarakat dan pemimpin di daerah tersebut. Kemudian tahun 1934, ia mendirikan madrasah yaitu madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) khusus bagi santri putra.

Pada 21 April 1943, TGH M. Zainuddin Abdul Majid mendirikan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) yang dikhususkaan bagi santri perempuan. Kedua madrasah ini, yaitu NWDI dan NBDI merupakan madrasah pertama di Lombok dan keduanya diabadikan menjadi nama pondok pesantren Darun Nahdlatain Nahdlatul Wathan.

Pendidikan dan pengajaran yang diajarkan tidak hanya ilmu pengetahuan, tapi juga penanaman moral, melatih dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Pendidikan yang ia praktikan adalah pengembangan pendidikan Islam melalui pesantren. Tuan Guru Pancor tidak hanya seorang ulama, namun ia juga adalah seorang pengarang dan penulis yang bakatnya timbul sejak masih di madrasah As-Shaulatiyah di Mekah. Beberapa karya yang dihasilkan diantaranya dalam bentuk kitab, kumpulan do’a, dll. Adapun karya-karya Tuan Guru Pancor diantaranya yaitu

  1. Risalah at-Tauhid
  2. Sullam al-Hija’
  3. Syarah Safinah an-Najah
  4. Nahdlah az-Zainiyah
  5. Al-Tuhfah al-Ampananiyah, dll

Banyak karya yang ia terbitkan itu menandakan ketinggian ilmunya, sehingga para gurunya memuji dan memberikan kepercayaan yang besar. Salah satunya ia pernah diberi kesempatan untuk memberikan kata pengantar dari gurunya Maulana Syaikh Hasan Muhammad al-Mahsyat dalam kitab Baqi’ah al-Mustarsyidin.

Semoga di era milenial ini masih banyak orang-orang yang akan meneruskan perjuangan para ulama Nusantara, sehingga bermunculan Zainudin-Zainudin yang banyak mempunyai karya dan pemikiran-pemikiran dan menghasilkan generasi-generasi yang bermartabat, bermanfaat bagi negeri ini.

Oleh : Milasari, Semester IV

Leave a Reply