Mengenali Wahabi dan Kesesatannya

Mengenali Wahabi dan Kesesatannya

Wahabi merupakan suatu gerakan radikal yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab. Gerakan ini berkedok memurnikan tauhid dan menjauhkan manusia dari kemusyrikan dengan cara melawan kemapanan umat Islam dalam akidah dan syariat. Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya menganggap bahwa selama 600 tahun umat manusia berada dalam kemusyrikan dan dia datang sebagai mujaddid (pembaharu) yang memperbaharui agama mereka.

Sedangkan dalam Ensiklopedi Islam, kata wahabi diartikan sebagai istilah atau julukan yang sebenarnya diberikan oleh para musuh gerakan pemurnian agama yang dilakukan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Akan tetapi, sebagian pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab tidak menyetujui jika gerakannya dikenal dengan istilah wahabi, mereka lebih condong  menamakan gerakannya dengan istilah al-muwahhidun serta tarekatnya disebut dengan istilah al-muhammadiyah. Di mana dalam firqah (kelompok)nya mereka berpegang kepada madzhab Hambali yang disesuaikan dengan tafsir Ibnu Taimiyah. Salah satu alasannya, penamaan dakwah yang diemban Muhammad bin Abdul Wahab dengan nama wahhabiyah yang dinisbatkan kepadanya adalah penisbatan yang keliru dari sisi bahasa, karena ayahnya tidak menyebarkan dakwah ini. Bahkan ayahnya sendiri dan kakaknya termasuk ulama-ulama ahlussunah wal jama’ah yang ahli dalam ilmu fikih dan seorang qadi di negeri yang bermazhab Hambali. Selain itu, datuknya yang bernama Sulaiman Ali adalah ulama terkemuka di Najed dan menjadi narasumber bagi ulama-ulama di daerah Najed dalam berbagai kesulitan yang mereka hadapi.

Gerakan Wahabi muncul di gurun Arab sebagai reaksi terhadap pengkultusan dalam mencari keberkatan dari orang-orang tertentu serta mendekatkan diri kepada Allah melalui ziarah ke makam mereka. Wahabi datang guna  melawan semua penyimpangan ini dan menghidupkan kembali mazhab Ibnu Taimiyah yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab yang lahir di Huraimilah, Najd tahun 1111 H / 1700 M. Gerakan wahabi ini mulai digagas ketika Muhammad bin Abdul Wahab terpengaruh oleh tulisan ulama besar bermazhab Hambali yang bernama Ibnu Taimiyah. Selain itu, ia juga melakukan pengembaraan di Mekkah, Madinah, Baghdad, Basrah, Damaskus, Iran dan Afganistan guna menimba ilmu.

Ketika kembali ke kampung halamannya, ia mulai menulis buku yang berjudul kitabut tauhid. Kemudian ia pindah ke daerah Uyainah. Dalam khutbah-khutbah di Uyainah ia terang-terangan mengkafirkan semua kaum muslimin yang dianggapnya melakukan bid’ah dan mengajak kaum muslimin agar kembali kejalannya yang sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Di kota ini ia mulai menggagas dan meletakkan teologi puritannya. Ia mengutuk berbagai tradisi dan kaidah kaum muslimin, menolak berbagai interprestasi al-Qur’an yang dianggapnya mengandung bid’ah.

Dengan dukungan Hijaz bagian Timur yaitu raja Muhammad bin Saud raja ad Dir’iyah, pada tahun 1217 H Muhammad bin Abdul Wahhab bersama pengikutnya menguasai kota Thaif setelah sebelumnya mereka berhasil membunuh penduduknya. Mereka keluarkan semua penghuni  rumah-rumah yang ada di Thaif, merampas semua harta dan kekayaan penduduk Thaif, membantai orang-orang yang sedang melaksanakan shalat di Masjid, bahkan mereka juga musnahkan semua kitab yang ada hingga berserakan di jalanan.

Dari Thaif kemudian mereka memperluas kekuasaannya ke beberapa kota seperti Mekkah, Madinah, Jeddah dan kota-kota lainnya. Hingga akhirnya pada tahun 1226 H Sultan Mahmud Khan II turun tangan memerintahkan raja Mesir Muhammad Ali Basya untuk membendung gerakan Wahabi ini. Dengan kekuatan pasukannya dan kegigihan Raja Muhammad Ali Basya akhirnya mereka dapat mengambil alih kota Thaif, Mekkah, Madinah, dan Jeddah dari kekuasaan golongan Wahabi.

Salah satu ajaran yang diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab adalah mengkufurkan orang muslimin yang mempraktikkan tawassul, ziarah kubur, maulid Nab, istighatsah, shalawat dan sebagainya. Berbagai dalil akurat tentang tawassul, ziarah kubur, maulid Nabi, istighatsah dan shalawat yang dijadikan ahlussunah wal jamaah sebagai hujjah di tolak mentah-mentah dengan menggunakan alasan yang tidak argumentatif. Bahkan mereka juga mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.

Wahabi telah menekankan pada aspek teologi (tauhid) sebagai wujud pemurnian. Wahabi berasumsi bahwa anti-tauhid adalah musyrik. Dan syirik dibagi menjadi dua, yaitu syirik besar dan kecil. Syirik besar yang bersifat jahr (jelas) adalah sikap yang berlebihan terhadap selain kepada Tuhan, dimana sikap itu sejatinya hanya layak dipersembahkan kepada Allah.

Ziarah, istighatsah dan tawassul terhadap makam Nabi, para sahabat dan orang-orang shalih dianggap paham Wahabi sebagai perbuatan yang berlebihan. Hal tersebut dianggap syirik dan diklaim sebagai orang kafir bagi gerakan Wahabi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat muslim awam mudah menerima dakwah wahabi, di antaranya sebagai berikut :

  • Slogan yang Menawan

“Kembali kepada Qur’an dan Sunnah”, “Tegar di atas Sunnah”, “Meniti Manhaj Salaf”, adalah sebagian slogan yang digaungkan oleh Wahabi, baik oleh para dai mereka maupun oleh media-medianya. Dengan slogan seperti itu, tidak sulit untuk mengubah kesan bahwa merekalah yang mewakili Islam sebenarnya.

  • Kaidah yang Mudah Dipahami

Paham wahabi menggunakan kaidah-kaidah tertentu guna untuk merekrut banyak anggota, diantaranya dengan mengeluarkan kaidah bahwa: “Semua ibadah harus ada dalilnya, haram dilakukan jika tidak ada perintah.” Sederhana dan mudah dipahami. Ungkapan di atas memang salah satu kaidah dalam peribadatan, namun bukan satu-satunya kaidah yang digunakan untuk menimbang boleh / tidaknya suatu aktivitas yang diniatkan sebagai ibadah. Hukum segala hal tidak serta merta diketahui dari derajat sebuah hadits, jika shohih atau mutawatir menjadi sebuah kewajiban atau sunnah, jika dho’if otomatis harus ditinggalkan. Semua ada kajiannya dan itu berada di tangan para ulama.

  • Dukungan Media yang Masif

Sudah mafhum bahwa media yang dimiliki oleh orang-orang Wahabi bertebaran di dunia maya. Kita akan mudah menemukan berbagai macam sumber berita mereka baik yang secara kasat mata menunjukkan identitasnya maupun yang menyamar jadi kanal berita politik.

  • Metodologi Mengajar yang Baik

Bagi yang tidak puas dengan “Dawuh Kyai” atau “kata Ulama”, kajian-kajian dai Wahabi menjadi solusinya. Tema-tema disajikan dengan menyertakan dalil-dalil yang berasal dari Qur’an maupun hadits. Dengan begitu, setiap orang yang mengikutinya akan merasa aman karena menganggap semuanya memiliki landasan yang kokoh.

  • Kebiasaan Golongan di Luar Mereka yang Dianggap Mengingkari atau Menyepelekan Sunnah

Bagaimana sekiranya jika kita menemui fenomena di suatu tempat, saat shalat berjamaah banyak shaf yang renggang atau tidak beraturan? Atau jika kita masuk ke pondok-pondok, melihat para pengajarnya merokok? Atau lihat anak-anak muda yang rajin pergi ke majelis tapi jarang terlihat saat shalat berjamaah?

Hal-hal semacam itu akan menimbulkan stigma negatif terhadap cara berislam orang atau jamaah tersebut, meskipun tidak selalu ditandai dengan pelanggaran syariat berupa melakukan aktivitas yang diharamkan. Dengan kata lain, mereka dianggap telah mengabaikan sunnah dengan perbuatan-perbuatannya itu.

  • Arab Sentris

Hal yang jamak kita dengar adalah ungkapan yang menyatakan bahwa Islam itu diturunkan dan berkembang pertama kali di tanah Arab, kitab sucinya berbahasa Arab pula, nabinya pun berkebangsaan Arab sehingga ajaran yang datangnya dari sana pastilah yang paling murni, apalagi dibawakan oleh dai-dai lulusan Arab Saudi.

Oleh : Bayhaqi, Semster VI

Leave a Reply