Pijak Kaki Ibnu Battutah Sang Pengembara Muslim Part 2 (Baghdad-Konstantinopel)

Pijak Kaki Ibnu Battutah Sang Pengembara Muslim Part 2 (Baghdad-Konstantinopel)

Ma’had Aly – Baghdad sebelum dihancurkan oleh bangsa Mongol merupakan sebuah kota yang merupakan pusat pemerintahan Islam kekhalifahan Dinasti Abbasiyah dan kediaman para khalifah. Selain itu, Baghdad telah dikenal oleh dunia pada zamannya sebagai pusat peradaban, ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam pada saat itu.

Ketika Ibnu Battutah tiba di kota Baghdad, ia telah mengetahui bahwa Kerajaan Ilkhan tengah berada di kediamannya. Raja Abu Sa’id, yang merupakan raja terakhir orang Mongol di wilayah Persia diketahui sedang membuat persiapan untuk kembali ke Sultaniya, kota yang dibangun oleh ayahnya Oljeitu. Apabila akan bepergian, mereka selalu membawa iringan (mahalla/camp) yang besar. Disini Ibnu Battutah ingin mengambil kesempatan untuk berpartisipasi bersama iringan kerajaan tersebut. Ia juga berharap dapat memperoleh jaminan pengayoman dari ‘Ala al Din Muhammad, yang merupakan salah seorang dari beberapa jenderal Kerajaan Ilkhan yang terkenal.

Ketika iringan itu berangkat pada akhir Juni, Ibnu Battutah tidak menyadari kemana tujuan yang sebenarnya dari iringan tersebut. Dalam cerita perjalanannya, ia tidak menyebutkan nama-nama tempat pemberhentian manapun, tetapi ia hanya mengatakan pergi bersama iringan tersebut selama 10 hari. Raja Abu Sa’id hampir pasti menuju Sultaniya, karena melalui jalan lintas Persia jalur jalan raya Khurasan dengan melalui Kermanshah, Zargos tengah dan Hamadan. Ketika sampai di Hamadan, Jenderal ‘Ala al Din Muhammad diperintahkan untuk meninggalkan iringan dan melanjutkan ke arah utara menuju Tabriz.  Sementara itu, iringan Raja Abu Sa’id meneruskan ke Sultaniya. Disini, Ibnu Battutah merasa ragu karena ia tidak membawa bekal apapun. Terpaksa akhirnya ia mengikuti iringan tersebut.

Waktu pagi-pagi sekali, rombongan iringan tersebut telah tiba di Tabriz. Akan tetapi, ia lebih banyak berdiam didalam rumah. Ia merasa tak berguna jika harus terus menerus mengharap jaminan dari Jenderal ‘Ala al Din. Keesokan harinya, ia berangkat kembali menuju Baghdad dengan harapan ia dapat berjumpa dengan karavan haji. Di luar prasangkanya, ia malah menerima imbalan berupa sebuah jubah dan seekor kuda dari Raja Abu Sa’id. Selain itu, Raja Abu Sa’id juga menitipkan surat kepada Gubernur Baghdad dengan perintah untuk memberinya unta dan perbekalan makanan untuk perjalanan menuju Hijaz.

Dalam karangannya yang berjudul Rihla, ia tidak menginformasikan tentang jadwal perjalanannya ataupun kawan perjalanannya menuju Baghdad. Dikatakan waktu keseluruhan perjalanan pulang-pergi memakan waktu selama 35 hari, dan kemungkinan rombongan itu tiba di Baghdad pada pertengahan bulan Juli. Perjalanan ini termasuk cepat karena rombongan iringan tersebut adalah utusan kerajaan yang dituntut untuk bergerak cepat.

Sesampainya di Baghdad, Ibnu Battutah masih mempunyai waktu selama dua bulan untuk menunggu karavan haji. Maka dari itu, ia berencana melakukan perjalanan menuju Mesopotamia dengan menyusuri Sungai Tigris, kemudian Mosul dan menuju Cizre (Jazirah Ibnu Umar) di sekitar Turki dekat perbatasan Irak. Rute perjalanan ini pernah dilakukan oleh Ibnu Jubayr pada tahun 1184 M, dan Marco Polo ketika menjelajah dari Levant ke China pada tahun 1272 M. Setelah itu, ia kembali ke Baghdad dan menemui gubernur seperti yang diperintahkan oleh Raja Abu Sa’id. Kemudian, Ibnu Battutah kembali ke Mekkah bersama karavan yang dipimpin oleh amir al hajj yang sama, yaitu Pehlewan Muhammad al Hawih. Dalam perjalanan ini, ia begitu lemah dan akhirnya sakit diare ketika berada di Kufa. Akhirnya, pada tanggal 10 Dzulhijjah ia merasa sehat kembali.

Setelah kisah perjalanan itu, ia tergoda untuk menghentikan penjelajahannya tersebut. Ketika di Mekkah, ia memulai untuk menuliskan Rihla, yang berisi tentang kisah perjalanannya antara tahun 1325-1327 M. Ibnu Battutah kemudian bermukim di Mekkah dengan menginap di Madrasah Muzaffariya selama 1 tahun, dari September 1327 M sampai musim gugur tahun 1328 M.

Saat setelah ibadah haji tahun 1328 M, ia meninggalkan kota Mekkah menuju ke Jeddah untuk pergi ke Yaman. Ketika sedang berlayar, ia malah mendarat di Afrika, tepatnya di pantai Ras Abu Shagara. Hal ini disebabkan oleh faktor cuaca yang menjadikan kapal salah berlabuh. Ia berjalan menuju pantai Suakin untuk berlayar kembali ke Arabia menuju Yaman. Setelah 6 hari berlayar ia tiba di Haly dan kembali berlayar menyusuri Sarjah, al Haadits, al Abwab, dan kemudian memasuki wilayah Yaman. Ia singgah di Zabid dan melanjutkan ke Taiz dengan ditemani dua utusan Syaikh Abu Hasan az Zailai. Setelah beberapa hari singgah di kediaman Sultan Yaman, ia melanjutkan perjalanannya menuju San’a dan Aden. Kemudian ia berlayar selama 4 hari dan tiba di kota Zaila’ yang dihuni oleh suku Barbar. Ia kemudian kembali berlayar selama 15 malam dan tiba di kota Mogadishu. Setelah singgah selama 5 hari, ia berlayar menuju Mombasa dan menyusuri pulau-pulau Pemba dan Zanzibar dan berlabuh di Kilwa, Tanzania.

Setelah singgah beberapa hari di kota Kilwa, ia melanjutkan perjalanan menuju kota Zhafar al Hamud, yang berada di tepi pantai Arabia Selatan. Ketika tiba di Zhafar, ia menemui rumah seorang khatib yang bernama Isa bin Ali. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan menuju al Ahqaf dan berlayar menuju kota Oman. Mereka kemudian singgah di beberapa tempat, seperti pelabuhan Hasik, Lum’an, Jazirah Thair, al Hallaniyah, Pulau Anjang Mashira dan Tanjung Ras al Hadd. Keesokan harinya. mereka tiba di pelabuhan Qalhat dan kemudian meneruskan perjalanan bersama temannya, Khidir menuju kota Qalhat. Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan menyusuri Nazwah, Hormuz, Jaroun, Laar, Fars, Khunjubal, Qais (Shiraf) dan Bahrain (al Qatif), al Hasa (al Hufuf), al Dahma, dan al Yamama. Disini ia meninggalkan Oman dan bergabung dengan rombongan suku Arab Banu Hanifa untuk pergi menuju Mekkah. Ibnu Battutah meninggalkan Oman sekitar bulan November dan tiba di Mekkah pada musim dingin tahun 1330 M.

Akhir tahun 1330 M, Ibnu Battutah berlayar ke arah barat menuju Laut Tengah, menuju pantai selatan Anatolia. Hal ini ia lakukan demi impian perjalanannya menuju India nanti, karena ia membutuhkan seorang rafiq yang bisa berbahasa Parsi. Karena faktor cuaca, mereka kemudian terdampar di pantai Ra’su Dawair. Setelah berjalan selama 9 hari, mereka tiba di kota Aydhab. Ia berziarah di makam Abu al Hasan asy Syadzili untuk kedua kalinya. Mereka kemudian meninggalkan Sungai Nil dan berjalan melalui kota Isna, Armant, Usqur, Qaus, Akhmim, Manfaluth dan menuju Mesir. Mereka pergi menuju Syam bersama Abdullah bin Abu Bakar bin al Farhan an Nauzari, yang nantinya menjadi rafiq baginya hingga ke India dengan melalui Gazaa, Hebron al Khalil, Ramlah, Akka, Tripoli, Jabalah, lalu berlayar menuju dataran Turki, singgah dan menetap di kota Alaya, barulah mereka tiba di Anatolia. Disana ia bertemu dengan Khidir Bek bin Yunus Bek, penguasa Anatolia.

Setelah itu, ia berjalan menuju kota Burdur, Sabarna, Akridur, Ladziq, Larandah, Aqashra, Qaisariyah, Arzanjan, lalu memasuki Turki ketika masuk Birki, Maghnisiyah, Balikasri, Bursha, Yaznik, Karadibuli dan Qastamuniyah. Akhirnya ia singgah di kota Shanub (Sinope) selama 40 hari karena gangguan cuaca. Setelah cuaca reda, mereka berencana berlayar menuju Pegunungan Crimea dengan menyusuri sisi pantai, khawatir akan terkena amukan badai. Ketika hampir sampai Kerch, mereka membatalkan niat itu dan turun di Sudak (Soldaia) dan meneruskan perjalanan menuju Kaffa lalu Qiram, dan singgah di Azak (Tana/Azov) selama 3 hari dan kemudian bergabung dengan satuan militer melintasi dataran rendah Kuban-Azov.

Pada awal Ramadhan tahun 1332 M, ia tiba di Bish Dagh dan bertemu dengan Sultan Muhammad Uzbek Khan. Setelah itu, ia hanya berkeliling untuk mengunjungi 4 khatun atau selir raja. Setelah perayaan Idul Fitri, rombongan itu berangkat menuju kota Astrakhan. Ketika hampir sampai disana, Putri Bayalun (istri Uzbek yang ketiga) kembali ke Konstantinopel untuk melahirkan anaknya. Setelah mendapat izin dari Sultan Uzbek untuk mengikuti rombongan itu, akhirnya mereka berangkat pada tanggal 10 Syawal melintasi Sungai Don, Sungai Dneiper, dan Sungai Danube, Benteng Mahtuli, di perbatasan Byzantium dan kerajaan Bulgaria. Setelah 3 minggu, akhirnya mereka mencapai dinding-dinding Konstantinopel dan ia tinggal disana selama lebih dari sebulan. Selama itu, ia mengunjungi Hagia Shopia dan melintasi Golden Horn, Bosphorus.

Akhirnya ia meninggalkan Konstantinopel untuk menuju ke arah utara ke Thrace dan menjemput kereta-keretanya di perbatasan Yunani. Mereka kemudian berjalan ke Astrakhan untuk bertemu dengan Sultan Uzbek, tetapi Sultan Uzbek telah kembali ke Saraa Birkah. Mereka lalu memutar balik arah dan mencapai kota itu pada akhir November.

Referensi:

  1. Muhammad bin Abdullah Bathutah. Rihlah Ibnu Bathuthah. Terj. Muhammad Muchson Anasy dan Khalifurrahman Fath. Sunt. Muhammad Yasir dan Artawijaya. Jakarta: Pustaka Al Kautsar. 2018.
  2. Dunn, Ross Edward. Petualangan Ibnu Battuta. Amir Sutaarga. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. 2018.
  3. J. Suyuthi Pulungan.  Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah. 2018.

Oleh : Ma’mun Fuadi, Semester IV

Leave a Reply