Peranan Santri VS Abangan dalam Kehidupan Sosial

Peranan Santri VS Abangan dalam Kehidupan Sosial

Dinamika sosial, kriminalitas, kecemburuan sosial, dan berbagai gejala sosial lainnya merupakan suatu yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, respon personal mengenai hal ini memiliki varian yang terkadang bertolak belakang. Ada dari mereka yang memikirkan kemaslahatan umat, adapula yang memikirkan kemaslakhatan diri sendiri. Bahkan ada yang memiliki sikap acuh tak acuh terhadap gejala sosial yang tidak menentu

Negara Indonesia dapat dikatakan negara Islam karena mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Islam. Ragam organisasi dan lembaga turut mewarnai negara kita ini diantaranya lembaga dakwah, lembaga pendidikan agama, pondok pesantren, organisasi IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’), organisasi IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama’), organisasi ansor, organisasi fatayat, dan lain sebagainya. Semua lembaga maupun organisasi tersebut beranggotakan seseorang yang biasa disebut dengan santri. Sebagaimana telah kita ketahui bahwasannya santri adalah sosok yang mendalami bidang agama serta mengamalkan ajaran tersebut.

Sayangnya pada zaman milenial ini menjadi santri itu sulit, bak menelan buah simalakama. Jika tampil kalem, tenang, dianggap fatalis, pasif dan lain sebagainya. Jika tampil modis, perlente, serta-merta dianggap agresif, liar dan lain sebagainya. Seakan-akan menjadi santri itu bebas dari urusan duniawi yang memikirkan hal maretial dan ekonomi.

Zaman sekarang yang dibutuhkan adalah santri anginan bukan santri beneran, agar bisa survivel di atas pentas sejarah. Tipe santri yang pertama adalah santri yang tulus, istiqomah di mana pun dia berada dan tak mudah terlena akan lingkungan tetapi kebanyakan dari mereka miskin. Mereka diibaratkan sebagai ikan yang hidup di laut namun tak akan terasa asin. Anehnya, tokoh semacam ini sudah langka dan jarang ditemui di sekitar kita. Tipe kedua adalah santri yang kualitatif, kreatif, produktif dan taktif. Sehingga tidak heran jika mereka kaya raya. Sayangnya mereka selalu ikut arus, jika arus ke kiri ikut ke kiri, jika ke kanan ikut ke kanan. Yang tadinya berwarna putih pun bisa berubah menjadi kuning, merah, hijau. Mereka berpedoman yang penting selamat.

Kedua tipe di atas bukanlah sebuah gaya hidup yang harus dipilih. Sebagai makhluk sosial yang bijak hendaknya kita dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, agar tidak terlalu condong ke dalam suatu golongan. Alangkah baiknya kita dapat mengambil jalan tengah untuk memecahkan masalah dan berfikir dua kali dalam memberikan solusi sebagaiman telah diterangkan dalam al-Qur’an. Kemiskinan tidak boleh dicari karena itu sebuah kebodohan dan kaya tidak boleh dipungkiri karena itu sebuah kedzaliman.

Tujuan hidup manusia adalah mencapai cita-cita yang diharapkan serta untuk mencari ridha Allah baik di dunia maupun di akhirat. Dan tentunya setiap tujuan yang kita harapkan harus menunjang tujuan akhir, itulah tujuan primer. Adapun tujuan sekunder adalah hal-hal yang berkaitan erat dengan hajat maupun penopang kehidupan manusia. Kehidupan bernegara misalnya, sebagai warga negara, kita butuh kemerdekaan, kebebasan berpendapat, pemberian hak asasi dan lainnya. Semua itu tidak lain adalah untuk mencapai tujuan akhir yang lebih baik.

Tujuan yang benar harus melalui metode-metode yang benar pula. Harta misalnya, untuk memberi nafkah sebuah keluarga tidak lepas dari harta. Agar tercipta keluarga yang aman, damai, dan tentram maka harus dinafkahi menggunakan harta yang halal yang mana cara memperolehnya melalui step-step yang dibenarkan menurut syari’at. Inilah perspektif sekaligus gaya hidup seorang santri dalam kehidupan sosial, selalu memperhatikan serta memahami hidup dengan cara (sebab) dan tujuan (akibat) yang baik. Maka tidak heran jika kualitas hidup santri lebih mapan dan berbobot. Alhasil, banyak dari kalangan santri memiliki pekerjaan yang mengutamakan kerja cerdas seperti dokter, guru, arsitektur, pencipta wirausaha,dll.

Lain dengan kalangan santri, kalangan abangan lebih condong pada sikap apatis dan acuh tak acuh terhadap gejala sosial bunglon (tidak menentu). Mereka adalah seorang yang menganut agama Islam namun tidak begitu memperhatikan syariat dan kewajibannya. Hal ini disebabkan karena pemikiran yang masih terkontaminasi dengan ajaran dan budaya nenek moyang yang mereka yakini selama ini.

Beberapa kegiatan yang tidak memerlukan daya kreativitas dan ketrampilan menjadi profesi tetap mereka. Seperti sopir angkutan, penggarap sawah, tukang bangunan, tukang penyapu jalanan dan lain sebagainya. Profesi demikian berkaitan erat dengan pendidikan mereka yang mayoritasnya tidak mengenyam bangku sekolah, kalau pun iya, pendidikan mereka tidak lebih dari program pemerintah “wajar (wajib belajar) sembilan tahun.” Sedikit di antara mereka yang melanjutkan pendidikan SMP (Sekolah Menengah Pertama) atau SMA (Sekolah Menengah Atas).

Menariknya, setelah diamati melalui data observasi ternyata peranan santri dan abangan tidak jauh berbeda dalam kehidupan sosial. Sebagaimana yang telah kita lihat, bahwasannya dalam pembangunan sebuah lembaga maupun fasilitas umum membutuhkan berbagai sumbangan baik yang bersifat materi seperti sumbangan uang maupun non materi seperti sumbangan pemikiran. Mereka, kalangan santri dan kalangan abangan turut membantu dan saling gotong-royong demi kepentingan bersama. Kebanyakan dari kalangan abangan menyumbangkan sumbangan berupa materi karena latar belakang mereka.

Lain dengan kehidupan sosial yang umum, peranan kalangan abangan dalam bidang agama sangat langka bahkan bisa dikatakan tidak ada sama sekali. Karena sesungguhnya kata abangan sendiri diambil dari bahasa serapan Arab “aba’an” yang kemudian masuk ke Jawa menjadi “abangan” yang memiliki arti setengah-setengah. Maksudnya, mereka menganut sebuah agama namun tidak mendalami ajarannya. Seperti ajaran shalat, mereka mengerjakan hanya untuk formalitas bahwa ia beragama Islam, seperti hanya mengerjakan shalat Jum’at dan shalat Idul Fitri saja, padahal ia memilki kewajiban untuk melaksanakan shalat lima waktu setiap harinya. Itu sebabnya kalangan abangan tidak berperan dalam bidang agama. Hal ini pula dikuatkan dengan penjustifikasian diri bahwa kalangan abangan tidak akan mampu melakukan hal-hal yang dilakukan oleh kalangan santri.

Maka bisa ditarik kesimpulan bahwasannya peranan santri dalam kehidupan sosial lebih berpengaruh dari pada peranan abangan. Karenanya, diharapkan bagi kalangan santri lebih giat dalam mendalami ilmu-ilmu yang telah diajarkan entah itu ilmu agama, ilmu sosial dan lain sebagainya. Hal ini memiliki tujuan agar peranan santri lebih maksimal dan sempurna.

REFERENSI

  1. 2007. Peran Sosial Santri & Abangan. Jakarta: Penamadani.
  2. Nurudin. 2015. Ensiklopedi Religi. Jakarta: Republika.

Oleh : Baqiyatus Sholikhah, Semester III

Leave a Reply