Upaya Milenialisme dalam Metode Dakwah

Upaya Milenialisme dalam Metode Dakwah

Di kalangan santri, istilah dakwah sudah sangat populer sehingga ketika terdengar kata ini maka dapat dipahami langsung konteks yang dimaksud. Lain halnya jika kata tersebut didengar oleh orang yang awam (minim pengetahuan agama), terlebih oleh masyarakat yang jauh dari ajaran Islam. Maka dari itu akan lebih baik jika dijelaskan terlebih dahulu maksud dari dakwah ini.

Dakwah adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab yang bermakna mengajak. Selain itu, arti dakwah juga dapat berupa memanggil dan menyeru. Bahkan pengertian dakwah ini dapat diperluas lagi, yakni dakwah adalah seruan untuk mengajak manusia menuju kebaikan serta menyadari segala tindakannya.

Adapun tujuan dakwah tidak lain adalah agar orang menerima ajaran Islam dengan penuh kesadaran demi dirinya, bukan untuk kepentingan pendakwah. Sebagaimana yang Rasululah lakukan pada kaumnya, bahwa dakwah bertujuan memberikan pemahaman tentang kebenaran ajaran Islam. Dakwah yang dilakukannya itu semata-mata hanyalah untuk mengarahkan umatnya menuju jalan yang diridhai oleh Allah swt.

Sebelum diutusnya Nabi Muhammad sebagai seorang rasul, perilaku dan tabiat orang-orang saat itu tidak sesuai dengan ajaran nabi-nabi terdahulu mereka, sehingga diperlukan pelurusan akidah sekaligus penyempurnaan akhlak. Namun demikian, dalam menyampaikan dakwah, jelas banyak tantangan dan kendala yang dihadapi Rasulullah saw. Mulai dari pembangkangan, penentangan, bahkan praktik percobaan pembunuhan terhadapnya, serta berbagai hal lainnya. Akan tetapi rintangan apa pun yang menghalangi, beliau tetap menghadapinya. Motivasi yang menjadikan Rasulullah saw. tetap mempertahankan dakwahnya tidak lain ialah memberikan arahan yang baik kepada umatnya.

Media Dakwah

Banyak hal yang dapat dilakukan oleh pendakwah dalam menyerukan kebaikan. Tidak terkecuali tempat yang menjadi sarana untuk berdakwah. Oleh karena itu, dakwah dapat dilakukan di manapun.

Melihat zaman yang sudah terlampau modern, dakwah dapat diadakan di mana saja dan kapan saja. Misalnya, berdakwah dengan media sosial atau media cetak. Dalam hal ini, pendakwah tidak hanya kiai, ustadz, atau tokoh-tokoh agama selainnya, akan tetapi setiap orang dapat menjadi pendakwah selama dakwah yang disampaikan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Pada era yang sudah modern ini banyak yang dapat dilakukan untuk mengajak manusia menuju kebaikan tanpa ada batasan tempat dalam hal ini. Maka, memanfaatkan media yang ada merupakan langkah maju untuk mengarahkan masyarakat.

  1. Melalui Mimbar

Seorang pendakwah dapat memanfaatkan mimbar sebagai tempat untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan, gagasan, atau peringatan tentang keagamaan. Dengan mimbar sebagai media penyampai, pendakwah dapat secara langsung berinteraksi dengan masyarakatnya. Ditambah, mimbar merupakan media yang sangat efektif dalam kegiatan dakwah. Sebab, dengan mimbar itu pendakwah bertatap langsung dengan masyarakat sehingga mengetahui kondisi masyarakat yang dihadapi.

Adapun keuntungan dari interaksi langsung dengan masyarakat ialah pendakwah menjadi lebih leluasa dalam berimprovisasi. Pendakwah bisa mengusahakan penambahan materi yang sekiranya menarik bagi masyarakat. Misalnya, ketika masyarakat terlihat tidak tertarik dengan materi dakwah yang tengah disampaikan, ia bisa langsung mengubahnya dengan pembahasan yang lebih menarik bagi masyarakat tersebut. Lebih utama lagi, isi dakwah yang disampaikan dapat menarik simpati masyarakat. Hal tersebut dapat diciptakan dengan menambahi sedikit canda yang dapat menjadikan suasana lebih nyaman dan lebih hidup. Sebab, jika pendakwah tidak memperhatikan suasana dan keadaan masyarakat maka tentu dakwah akan menjadi kurang efektif.

  1. Melalui Media Sosial

Perkembangan teknologi dapat dijadikan pula sebagai media dakwah. Seperti Instagram, Facebook, Twitter, atau Youtube dapat dimanfaatkan sebagai ruang untuk berdakwah. Media yang kerap dijadikan tempat pelarian untuk berkeluh kesah ini dapat dijadikan lahan dalam menyampaikan pesan dakwah.

Seperti halnya para kiai dan ustadz yang tengah naik daun akhir-akhir ini, sebut saja Ustadz Abdul Shomad. Ia menyampaikan ajaran-ajaran Islam melalui Instagram hingga Youtube, sehingga dapat dijangkau anak-anak muda zaman sekarang. Kesempatan untuk berdakwah dengan metode ini sangat terbuka, namun ada hal-hal yang perlu diperhatikan sang da’i yakni; materi yang diberikan di media sosial tidak ditulis terlalu panjang serta memerhatikan efektifitas waktu berdakwah. Misalnya saat berdakwah via Youtube, durasi dakwah yang diunggah disarankan tidak terlalu panjang sampai berjam-jam dan membagikan postingan di media sosial dengan tulisan yang singkat, padat, jelas, dan menggunakan bahasa yang menarik agar pengguna media sosial tidak merasa bosan.

  1. Melalui Media Cetak

Selain dengan memanfaatkan dua media di atas, ada media cetak yang juga tak kalah penting dalam menyampaikan dakwah. Memanfaatkan media cetak dalam berdakwah merupakan salah satu cara yang baik dalam mengajak masyarakat untuk mendekat kepada Allah swt. Adakalanya masyarakat merasa bosan atau kurang tertarik menghadiri acara-acara majlis ilmu dan juga jenuh untuk membuka media sosial. Saat itulah, kesempatan bagi pendakwah untuk menulis di media cetak seperti koran, buku dan lain sebagainya.

Meskipun perkembangan teknologi begitu maju, masyarakat tetap tidak meniadakan eksistensi media cetak tersebut. Masyarakat masih tetap melestarikan budaya membaca melalui media cetak. Misalnya untuk sekadar mengetahui kabar mengenai berbagai hal, banyak orang yang senantiasa menyempatkan waktu untuk membaca koran. Melihat kecenderungan tersebut, pendakwah dapat melakukan dakwah melalui media cetak.

Dalam media cetak, pendakwah tetap disarankan supaya materi yang ditulis langsung menuju pada inti pembahasan. Tanpa bertele-tele. Pendakwah juga disarankan menggunakan bahasa yang lugas, jelas, serta gamblang agar para pembaca dapat secara cepat menangkap isi kandungan yang ditulis tersebut. Dakwah melalui media tulisan ini juga sangat penting, sebab dapat menjangkau elemen masyarakat luas, serta dapat pula dibaca di mana saja dan kapan saja. Kesimpulannya, dakwah ialah menyeru dan mengajak kepada saudara-saudara kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah swt.

Manfaat Dakwah

Kegiatan dakwah memiliki manfaat yang cukup penting bagi kehidupan bermasyarakat. Manfaat yang didapatkan berguna membangkitkan kesadaran masyarakat dalam menempuh kehidupan yang sejalan dengan ridha Allah Swt. Selain itu, dakwah dapat pula menyatukan umat serta menjaga agama Islam tetap utuh.

Manfaat dakwah juga dapat dirasakan oleh siapapun yang terlibat dalam kegiatan dakwah, termasuk juga bagi pendakwah sendiri. Pengalaman yang didapat pendakwah pun semakin bertambah karena bertemu orang-orang dengan bermacam-macam latar belakang dan profesi. Semakin banyak pengalaman, pendakwah tentu akan dengan mudah membantu masyarakat terutama dalam memecahkan masalah yang tengah mereka hadapi. Oleh karena itu, pendakwah diharuskan untuk memiliki wawasan yang luas atas segala bidang.

Manfaat lain bagi pendakwah itu sendiri adalah seperti dari aspek spiritualitas. Spiritualitasnya akan terus terasah karena saat mengingatkan masyarakat, ia sendiri pun menjadi sadar dan perlu untuk senantiasa memberikan contoh yang baik bagi masyarakatnya. Maka dari itu, pendakwah tidak hanya dituntut pintar dalam memberikan contoh dalam menyampaikan pesan, tetapi juga secara spiritual dan sosial. Contoh yang paling konkret ialah menyelaraskan antara nasihat-nasihat yang telah disampaikan dengan tindakannya setiap hari.

 

Oleh : Ahmad Khoerul Fatihin, Semester VI

Leave a Reply