Peran dan Peninggalan Sultan Agung Mataram Baru

Ma’had Aly – Kerajaan Mataram telah mencapai masa keemasannya saat dipimpin oleh Sultan Agung, raja ketiga Mataram yang telah berhasil menggerakkan dakwah ke pulau Jawa dan ia adalah penakluk terbesar di Indonesia sejak zaman Majapahit. Dalam penyampaian dakwahnya Sultan Agung semakin memperkokoh dirinya sebagai seorang pemimpin dan tokoh agama yang memiliki tanggung jawab penuh kepada masyarakat. Strategi politik dakwahnya yang mencolok adalah dengan perubahan serta penambahan gelar mulai dari Panembahan, Susuhunan dan Sultan. Strategi ini merupakan suatu hal yang menjadi pembeda dari raja-raja sebelumnya. Pengaruh Sultan Agung tidak hanya terbatas di Jawa dan Madura saja, pada tahun 1622 Ia telah menaklukan Sukadana sampai sekitar tahun 1636.

Nama kecil Sultan Agung adalah Pangeran Jatmiko yang biasa dipanggil dengan Raden Mas Rangsang. Beliau adalah putra dari Panembahan Sedo Ing Krapyak yang berkuasa di Mataram pada tahun 1601-1613 M, dan cucu dari Raden Sutawijaya Panembahan Senopati yang berkuasa pada tahun 1582-1601 M (pendiri kerajaan Mataram). Gelar sultan yang disandang beliau menunjukan bahwa ia memiliki kelebihan dari Panembahan Senopati dan Panembahan Sedo Ing Krapyak, raja sebelumnya. Ia dinobatkan sebagai raja pada tahun 1613, di usia yang masih belia yakni sekitar 20 tahun ketika masih menggunakan gelar Panembahan. Pada tahun 1624, ia mengubah gelarnya menjadi Susuhunan, kemudian tahun 1641 ia mendapatkan pengakuan dari Makkah sebagai seorang Sultan, dan mengambil gelar selengkapnya yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo Senopati Ing Alogo Abdurrohman Sayyidin Panatagama Khalifatullah (raja yang agung, pangeran yang sakti, panglima perang, junjungan panata agama, wakil Tuhan di muka bumi).

Strategi politik dakwah Sultan Agung yang mencolok dan berbeda dari raja-raja Mataram adalah penggunaan gelar. Gelar yang dipakai oleh beliau adalah Susuhunan dan Sultan. Pada awal pemerintahan Sultan Agung bergelar Panembahan yang berarti “sembah” atau “yang disembah” atau “yang menerima sembah”. Gelar panembahan ini telah dipakai oleh raja-raja mataram sebelumnya, sehingga dapat kita pahami bahwa gelar panembahan yang dimiliki oleh Sultan Agung adalah warisan dari para leluhurnya. Gelar ini dipakai oleh Sultan Agung hingga tahun 1624 M yang kemudian diubah menjadi Susuhunan atau Sunan Agung. Susuhunan berasal dari kata “suhun” atau “suwun” dalam bahasa Yogya, yang berarti “dipuji”.  Sehingga dapat dipahami bahwa gelar Panembahan dan Sunan ini memiliki persamaan makna yakni mengandung kehormatan yang tinggi.

Selanjutnya gelar sultan, gelar ini adalah gelar yang pertama kali digunakan di Indonesia oleh Sultan Malik Al-Shalih, raja Samudera Pasai (w. 696 H/ 1297 M). Pada saat kerajaan Mataram menyelenggarakan sidang raya kerajaan untuk membicarakan tentang gelar Sultan Agung yang baru, pada saat bersamaan Sunan Agung juga  mendapat kabar bahwa raja Banten menerima gelar Sultan oleh ulama besar Mekkah, sehingga Sunan Agung menginginkan gelar tersebut. Pada Tahun 1641, Sunan Agung berhasil mendapatkan gelar yang bernuansa Arab dari pemimpin Ka’bah di Mekkah yakni Sultan Abdullah Muhammad Maulana Mataram, sehingga Sultan Agung disebut sebagai Sultan Mataram. Sultan menggambarkan ketaatan seseorang terhadap agama, sehingga dapat kita pahami bahwa penggunaan gelar tersebut sebagai usaha raja untuk menyakinkan rakyat bahwa dirinya juga seorang yang religius.

Demi kemegahan kerajaan Mataram, pada tahun 1614 Sultan Agung membangun istana di Desa Karta atau Kerta yang kini dalam bentuk luasnya menjadi Yogyakarta. Karta, Kerta atau Charta adalah nama sebuah dusun di wilayah Kelurahan Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul Yogyakarta. Kemudian Sultan Agung memindahkan pemerintahannya dari istana lama di Kotagede ke istana baru tersebut, dengan jarak kurang lebih 4 km arah Selatan dari Kotagede. Akan tetapi bekas istana Kerta yang dibangun Sultan Agung di Pleret, sampai saat ini belum ada upaya dari berbagai pihak untuk merekonstruksi kembali, terlebih untuk melakukan perawatan sebagai situs purbakala yang dilindungi. Ia juga membangun istana peristirahatan di Kartasura. Untuk semaraknya keraton dan melestarikan budaya Jawa, istana baru tersebut dilengkapi dengan pembuatan gamelan dan wayang kulit. Selanjutnya membangun tempat pemakaman keluarga di Imogiri (12 km di Selatan Yogyakarta) pada tahun 1622 M.

Peninggalan-peninggalan Kraton Kerta kini sangat minim, sehingga tidak bisa membantu untuk memperkirakan  bentuk Kraton Kerta pada zamannya. Benda peninggalan yang dapat ditemukan di sana hanya berupa dua buah umpak/ alas tiang yang terbuat dari batu andesit, sisa batuan berbentuk persegi yang diduga merupakan salah satu komponen batur. Jumlah aslinya ada 4 umpak, satu buah dibawa ke Taman Sari Yogyakarta dan digunakan sebagai alas tiang Masjid Saka Tunggal yang berada di Kompleks Taman Sari Yogyakarta, sedangkan umpak yang satu berada di Desa Trayeman Bantul. Umpak tersebut berbentuk prisma terpancung, pada sisi selatan umpak tersebut terdapat struktur batu putih yang membujur ke arah Timur-Barat (sekarang sudah tidak terlihat), peninggalan lainnya yaitu berupa kompleks makam lama dan sisa-sisa Masjid Agung Kerta. Peninggalan bangunan asli di komplek ini adalah:

  1. Masjid.
  2. Gapura (terdapat 4 pintu gerbang, yaitu Kori Supit Urang, Regol Sri Menganti I, Regol Sri Menganti II, dan Gapura Papak).
  3. Kelir (terdapat 4 buah).
  4. Padhasan (terdapat 6 buah). 
  5. Nisan di 8 kelompok makam:
  • Kedaton Sultan Agungan
  • Kedaton Pakubuwanan
  • Kedaton Bagusan/ Kasuwargan (Surakarta)
  • Kedaton Antana Luhur
  • Kedaton Giri Mulya
  • Kedaton Besiyaran
  • Kedaton Saptorengga
  • Kedaton Kasuwargan

Sebagai kerajaan yang menonjolkan sinkretisme agama, Sultan Agung mengangkat dirinya dengan gelar Senopati Ing Alogo Abdurrohman Sayyidin Panatagama Khalifatullah. Sultan Agung beranggapan bahwa gelar sinkretis ini merupakan upaya untuk mengakhiri atau memadamkan masalah-masalah keagamaan seperti perkembangan dari wilayah-wilayah pesisir terhadap Mataram. Raja Sultan Agung merupakan pemegang kekuasaan tertinggi, ia sangat dihormati oleh raja-raja lain karena kebesarannya, kekayaan yang melimpah juga istana yang megah dan indah. Penerapan-penerapan konsep yang lengkap dan tepat oleh beliau menghasilkan “negeri ingkang apanjang-apunjung, pasir wukir jinawi, gemah ripah, karta tur raharja” (negara yang tersohor karena kewibawaanya yang besar, luas wilayahnya ditandai dengan pengunungan sebagai latar belakangnya, sedangkan di depannya terdapat sawah yang sangat luas, sungai yang selalu mengalir, dan pantainya terdapat pelabuhan yang sangat besar).

Referensi 

Daliman. 2012. Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Dhanu Priyo Prabowo dkk. 2003. Pengaruh Islam dalam Karya-Karya R.Ng. Ranggawarsito. Yogyakarta: Narasi.

De. Graaf. 1986. Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung. Jakarta: PT. Pustaka Grafiti Press.

  1. Moedjanto. 1987. Konsep Kekuasaan dan Penerapan oleh Raja-Raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius.

Sutiyono. 2013. Poros Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Graham Ilmu.

Oleh: Siti Afifatur Rohmah, Semester IV

  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *