Ajengan Tarom, Panutan Masyarakat Citapen Tasikmalaya

Ajengan Tarom, Panutan Masyarakat Citapen Tasikmalaya

Ma’had Aly –  Ahmad Muhtarom atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ajengan Tarom, merupakan salah satu tokoh agama yang sangat dihormati dan disegani oleh masyarakat Citapen, Sarimanggu, Karangnunggal, Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia lahir tanggal 2 Jumadil Awal 1376 H atau lebih tepatnya tanggal 1 Januari 1537 M. Ia lahir dari pasangan H. Sukarya dan Hj. Humsih. Ia merupakan anak terakhir, yakni anak terakhir dari tujuh bersaudara.  

Ia tidak memaksakan amalan fiqih kepada murid-muridnya. Ia hanya memberikan dasar-dasar agama yang membuat murid-muridnya agar tetap berpegang terhadap ahlussunah waljama’ah. Dan memang ternyata banyak di antara para muridnya setelah pergi ke kota mereka berbeda pandangan dalam hal fiqih dengannya. Beberapa dari mereka ikut dalam organisasi Muhamadiyah dan Persis, tapi oleh Ajengan Tarom itu merupakan hal yang biasa dan tidak untuk diperdebatkan, selama mereka masih satu aqidah dan ibadah hanya kepada Allah swt. 

Pendidikan 

Karena ia anak terakhir dan banyak kakak-kakaknya yang sudah tinggal di pondok, ia pun dikirim ke pondok di usia baru 10 tahun. Di usia yang baru 10 tahun itu, ia sudah berani tidak tinggal bersama orang tuanya dan ikut merantau mencari ilmu bersama kakak pertamanya yaitu H. Sahna. Pondok pertama yang ia tempati adalah pondok Tahfidz. Menurut kakak-kakaknya bahwa pondok tahfidz itu cocok untuk pemula yang baru mondok, karena tidak teralu diberatkan menghafal nadzham-nadzham yang banyak. Selain itu menurut para kakaknya agar adik bungsunya itu mendapat pendidikan yang cocok dengan kebiasaannya menghafal sejak kecil dibawah bimbingan ayahnya. Sebelum masuk ke pondok memang Ajengan Tarom ini sudah memiliki hafalan sebanyak 3 Juz. 

Pondok pertamanya itu adalah Pondok Pesantren Al-Hilal, Cikukulu, Tasikmalaya. Ia belajar 4 tahun di pondok tersebut. Di pondok itu lebih terfokus pada pendidikan Al-Qur’an dan hafalan. Kemudian setelah selesai mengenyam pendidikan di sana, ia melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Sukahening, Cikalong, Tasikmalaya. Ia belajar hanya 1 tahun saja di pondok tahfidz tersebut.  Karena, ia merasa pendidikan nahwu shorof dan ilmu lainnya juga penting. Akhirnya untuk pertama kalinya ia mencari pondok yang takhasusnya pada alat atau nahwu . Awalnya ia ikut dengan kakaknya yang kedua yakni Ajengan Ahmad ke Pondok Pesantren Bantar Gedang, Tasikmalaya. Ia mondok di Bantar Gedang hanya 1 tahun, karena ia ingin lepas dari asuhan kakaknya ia memutuskan untuk tinggal di pondok yang tidak ada kakak-kakaknya, ia ingin mandiri dalam mencari ilmu. Akhirnya ia memutuskan pindah ke Pondok Pesantren Situ Anyar, Cikalong. Yang saat itu dipimpin oleh Kiai Sufyan. Di Pondok Pesantren ini jugalah, ia mulai belajar aqidah dan alat secara mendalam. Kitab-kitab yang dipelajari saat itu dalam hal aqidah di antaranya adalah Kitab Jouhar Tauhid, Kitab Sanusi, dan Kitab Tijan. Adapun beberapa kitab yang dipelajari nahwu nya ialah Kitab Jurumiyah, Kitab ‘Imriti, Kitab Yaqulu (nadzham maqshud), Kitab Alfiyah. 

Setelah selesai belajar di Pondok Pesantren Bantar Gedang, ia kembali melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Nurul Huda, Cibeunying. Saat itu Pondok Pesantren Nurul Huda dipimpin oleh Kiai Dadang, tapi masyarakat dan para santrinya memanggilnya dengan sebutan Ajengan Adang. Ia hanya mondok selama kurang lebih satu tahun. Kemudian ia melanjutkan dengan ikut mondok pasaran selama tiga bulan, yakni bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan. Adapun kitab yang dipelajarinya saat itu adalah Kitab Fathul Mu’in, Kitab ‘Ianah, Kitab Bajuri dan Kitab Rohwiyah. 

Tidak sampai di situ, setelah pasaran selesai, kemudian melanjutkan kembali ke Pondok Pesantren Miftahul Huda, Cibadak. Ia mengambil pendidikan yang takhosus aqidah. Adapun kitab yang dipelajarinya selama di Pondok Cibadak, langsung belajar di bawah asuhan KH. Mukhtar Gazali (pendiri Ponpes Miftahul Huda) ialah Kitab Hikam, dan Ummul Barohin selama 2 tahun. 

Sebelum pulang ia memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Al-Huda, untuk lebih memantapkan ilmu alatnya, di bawah bimbingan Kiai Aceng Ulum yang lebih dikenal masyarakat Kang Aceng.  

Jadi kalau dihitung-hitung pendidikan pesantren Ajengan Tarom ini 14 tahun, 3 bulan. 

Pernikahan 

Setelah selesai mengenyam pendidikan di beberapa pondok pesantren, ia dijodohkan dengan anaknya Mbah Salim, yaitu Maemunah. Dan ibunya bernama Nyai Tarsih. Ayahnya Maemunah ini merupakan tokoh di daerah Citapen Kulon. 

Ia menikah di usia 25 tahun, sedangkan istrinya saat itu berusia 21 tahun. 

Keluarga 

Setelah menikah, ia dikaruniai dua orang anak. Satu putra dan satu putri. Anak pertamanya adalah perempuan yang diberi nama Rohimah. Nyai Rohimah ini biasa dipanggil oleh masyarakat dan murid-muridnya dengan sebutan Teh ‘Ia. Ia sudah menikah dan memiliki dua orang putra. 

Sedangkan anak yang kedua bernama Muhammad Ridwan. Masyarakat dan murid-muridnya memanggilnya dengan sebutan Kang Farid. Dan ia pun sudah menikah dan memiliki satu orang putra. 

Kiprahnya 

Setelah ia selesai dengan pendidikannya, ayah dan kakak-kakaknya telah menyiapkan tempat untuk ia menjadi tokoh agama dan memegang kendali Pondok Pesantren Miftahul Huda yang didirikan ayahnya dan saat itu sedang dipimpin oleh kakaknya yang pertama. Pondok Pesantren Miftahul Huda didirikan oleh Kiai Sukarya, pada tahun 1982 H. Kemudian tanggung jawab pondok diberikan kepada anak pertamanya Kiai Sahna, atau di panggil Ajengan Sahna. Karena Kiai Sahna diminta untuk menghidupkan kampung Kebon Hiji oleh ayahnya, akhirnya Pondok Pesantren Miftahul Huda diserahkan kepada Kiai Tarom. Bukan berarti kakak-kakak yang lain tidak ada tugas, tapi mereka semua sudah berpencar ke berbagai daerah untuk mendirikan mesjid agar Islam di daerah tersebut hidup kembali.  

Di usianya yang baru 25 tahun banyak perubahan yang terjadi pada pondok tersebut. Seperti pengajian ibu-ibu menjadi ramai, karena pembahasan yang di bawakan olehnya menarik dan bermanfaat. Selain itu administrasi juga baru dibentuk, dan juga luas bangunan bertambah banyak karena adanya relasi dengan banyak orang yang berpengaruh. 

Ia sudah mengajar di Pondok Pesantren Miftahul Huda ini tanpa digaji selama 37 tahun. Keuletan dan kegigihannya dalam mengembangkan pembangunan pondok sangat besar

Dalam prinsipnya mengajar ia menerapkan kepada santri-santrinya bahwa “Sekolah boleh libur, tapi ngaji harus tetap berjalan.” Walaupun hujan lebat para santrinya diwajibkan untuk tetap belajar mengaji bersamanya. 

Adapun amalan-amalan yang sering ia dawamkan tidak pernah ia bicarakan kepada para santrinya, karena dikhawatirkan para santrinya akan memaksakan mengikutinya sedangkan yang dipelajari belum sampai sana. 

Oleh : Erna, Semester VI

Leave a Reply