Syekh Yusuf: Pahlawan dari Timur, Lentera Islam di Afrika Selatan
Sejak diperkenalkan oleh Nabi Muhammad SAW, Islam telah menyebar luas hingga ke berbagai daerah dan negara melalui perjuangan dan kerja keras yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dan para pengikutnya. Salah satu wilayah yang turut menerima ajaran Islam adalah Benua Afrika, yang dikenal sebagai tempat penyebaran Islam oleh para sahabat Nabi, seperti Ja’far bin Abu Thalib. Dalam sejarah tercatat bahwa agama Islam banyak disebarkan oleh para Khalifah, tentara, serta para pedagang Arab.
Masuknya agama Islam ke Benua Afrika dimulai dari wilayah Afrika Timur, yang dipercaya tersebar melalui para pengungsi Muslim di Ethiopia. Dari sana, Islam kemudian meluas ke berbagai wilayah Afrika lainnya, termasuk Afrika Selatan.
Penyebaran Islam di Afrika Selatan tidak lepas dari peran penting seorang ulama, sufi, dan intelektual asal Indonesia, yaitu Syekh Yusuf Al-Makassari. Beliau membawa ajaran Islam ke Afrika Selatan setelah diasingkan ke sana oleh Pemerintah Kolonial Belanda akibat konflik yang terjadi selama masa penjajahan di Indonesia.
Di Afrika Selatan saat ini, mayoritas umat Muslim tinggal di wilayah Western Cape, Natal, dan Transvaal. Komunitas Muslim di sana terdiri dari berbagai latar belakang etnis, seperti keturunan Melayu, Indonesia, India, serta penduduk asli Afrika Selatan.
Biografi dan Latar Belakang Pemikiran Syekh Yusuf
Yusuf (nama kecil Syekh Yusuf) lahir di Makassar pada tahun 1626 M. Lontarak Syekh Yusuf menceritakan bahwa Yusuf lahir di istana Tallo pada 3 Juli 1626 M/ 8 Syawal 1036 H, dari puteri Gallarang Moncongloe di bawah pengawasan Raja Gowa. Menurut Da Costa dan Davis, orang tua Syekh Yusuf termasuk kaum bangsawan. Ibunya memiliki hubungan darah dengan Raja-raja Gowa, sedangkan ayahnya masih kerabat Sultan Alauddin, salah satu penguasa di Sulawesi Selatan pada saat itu. Gelar “syekh” diperoleh dari seorang mursyid tarekat yang membimbingnya, sesuai dengan tradisi ahli tasawuf.
Syekh Yusuf adalah tokoh tasawuf dari Makassar yang berpengaruh dan berperan dalam pengembangan dakwah Islam, sehingga namanya disebut juga Syekh Yusuf Taj al-Khalwaty al-Makassary. Syekh Yusuf Al-Makassari banyak belajar tentang ilmu agama Islam sejak berada di Cikoang. Ia memperdalam ilmunya dengan belajar di berbagai tempat, termasuk ke Timur Tengah. Pada usia 18 tahun, beliau sudah menunaikan ibadah haji.
Selama hidupnya, Syekh Yusuf melakukan banyak perjalanan, termasuk ke berbagai daerah di Nusantara. Rute perjalanannya mengikuti jalur pelayaran pada masa itu. Salah satu tempat yang ia singgahi adalah Banten, ia bersahabat dengan Putra Mahkota yang kemudian menjadi Sultan Ageng Tirtayasa. Selain di Banten, Syekh Yusuf juga berdakwah hingga ke Aceh, Gujarat, dan India.
Di Aceh, Syekh Yusuf belajar langsung dari Syekh Nuruddin Ar-Raniri, seorang ulama besar yang juga menjadi penasihat Sultanah Safiyatuddin. Beliau juga berguru hingga ke Turki, Yaman, dan Damaskus.
Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam, jilid IV, halaman 219, diangkat dari naskah ini mengenai dasar-dasar ajaran Syekh Yusuf serta silsilah penerimaan tarekat Khalwatiyah, Naqsabandiyah, Qadariyah, Syattariyah, dan Bailawiyah, selain menggunakan sumber-sumber Pustaka Belanda. Hamka menyinggung sedikit ajaran Yusuf dalam bukunya Dari Perbendaharaan Lama, halaman 37-57, dikatakannya bahwa pelajaran yang beliau berikan pada pokoknya ialah Ilmu Tasawuf.
Hawas Abdullah, pengarang buku Perkembangan Ilmu Tasawuf dan tokoh-tokohnya di Nusantara, yang terbit pada tahun 1980, ia menunjukan risalah-risalah yang ditulis oleh Syekh Yusuf. Dalam bukunya tersebut, tercatat silsilah penerimaan tarekat Naqsyabandiyah dan Syattariyah, dan mengulas beberapa konsep zikir dan risalah Yusuf Zubdatu al-Asraar. Disebutkan pula, konsep Yusuf tentang fana tidak sama seperti apa yang dianut oleh ajaran Ittihad dan Hulul. Konsep fana bagi Syekh Yusuf dikatakan sangat mendalam dalam risalahnya yang berjudul Asrarus Shalah.
Syekh Yusuf wafat pada 23 Mei 1699, dimakamkan di dua tempat yaitu Faure, Cape Town (Afrika Selatan) dan Lakiung, Sulawesi Selatan. Hal ini karena Kerajaan Gowa meminta agar jenazah beliau dikembalikan ke kampung halamannya. Permintaan tersebut dikabulkan oleh pihak Belanda, dan pada 5 April 1705, jenazah Syekh Yusuf dikembalikan.
Masuknya Islam ke Afrika Selatan
Terjadinya kontak antara Islam dan benua Afrika sudah terjadi sejak awal perkembangan Islam. Salah satu peristiwa penting adalah ketika Ja’far bin Abu Thalib membawa ajaran Islam kepada Raja Habasyah (sekarang Ethiopia), bersama para pengungsi Muslim. Raja tersebut menerima dakwah dengan baik, bahkan langsung menyatakan masuk Islam. Selanjutnya, penyebaran Islam meluas ke wilayah Afrika Utara, yang dikenal dengan penduduknya yang disebut bangsa Barbar.
Masuknya Islam ke Afrika Selatan tidak bisa dilepaskan dari peran penting seorang ulama asal Indonesia, yaitu Syekh Yusuf Al-Makassari. Saat itu, Syekh Yusuf diasingkan oleh Belanda ke Afrika Selatan karena dianggap sebagai ancaman akibat konflik politik dan perlawanan yang ia lakukan. Namun, pembuangan itu justru menjadi titik awal masuknya ajaran Islam ke wilayah tersebut. Syekh Yusuf bahkan disebut sebagai orang pertama yang membawa dan menyebarkan Islam di Afrika Selatan.
Di tanah pengasingannya, Syekh Yusuf tetap aktif menyebarkan ajaran Islam. Ia mengajarkan agama kepada para pengikutnya, sesama orang buangan, dan juga para budak. Ia berdakwah secara sembunyi-sembunyi, termasuk dengan mengadakan pengajian malam hari untuk memperdalam ajaran Islam tanpa terpengaruh agama lain. Dari dakwah inilah terbentuk komunitas-komunitas Muslim yang terus berkembang.
Syekh Yusuf juga memperkenalkan tarekat Khalwatiyah kepada komunitas Muslim di sana. Meskipun sebelumnya sudah ada aliran tasawuf lain seperti tarekat Qadiriyah. Tarekat yang diajarkan Syekh Yusuf berhasil menyatukan umat Muslim tanpa membedakan ras, warna kulit, atau keturunan. Ia menanamkan keyakinan bahwa semua manusia sama di hadapan Allah, dan yang membedakan hanyalah tingkat ketakwaannya.
Penghargaan dan Karya-karya Syekh Yusuf
Syekh Yusuf tidak mengenal lelah dalam menuntut ilmu, sehingga ia menjadi mufti kerajaan sekaligus tokoh pejuang melawan penjajahan kolonial. Ketokohan dan kepribadian Syaikh Yusuf dapat dikategorikan ke dalam empat hal, yaitu : Seorang sufi atau ulama, seorang intelektual atau teknokrat, seorang patriot, dan seorang muballigh. Di tempat pengasingan, Syekh Yusuf terus melakukan aktivitas keagamaan seperti zikir dan pengajian malam secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh penjajah Belanda.
Sebagai bentuk penghormatan, pada tanggal 2 April 1994, dalam peringatan 300 tahun kedatangan Syekh Yusuf ke Afrika Selatan, Presiden Nelson Mandela menyampaikan pidato di Gedung De Good Hope, Cape Town. Dalam pidatonya, Mandela menyebut Syekh Yusuf sebagai “Bapak komunitas-komunitas di Afrika Selatan yang menolak rasisme dan penindasan.”
Atas jasa-jasanya, Syekh Yusuf dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Afrika Selatan pada tahun 1925 M. Di Indonesia, beliau juga dianugerahi gelar Pahlawan Nasional serta penghargaan Mahaputera Adipradana.
Adapun naskah atau karya-karya Syekh Yusuf adalah sebagai berikut :
- Al-Barakat al-Sailaniyyah Minal Futuhat al-Rabbaniyyah: Naskah ini berisi ajaran-ajaran etika dalam berdzikir kepada Allah, tujuan dan makna zikir, macam-macam zikir, cara-cara berdzikir.
- Bidayatul Mubtadi: Naskah ini menekankan pentingnya kepercayaan atau keimanan bagi seorang muslim sebelum mendalami ajaran-ajaran islam.
- Kifiyat al-Munji wal itsbat bi al-Hadits al-Qudsi: Menerangkan tentang dzikir dan etika dalam berdzikir, penjelasan tentang manfaat-manfaat dan sebab-sebab pentingnya berdzikir kepada Allah.
- Matalib Salikin: Membicarakan tiga hal penting, yaitu tauhid, makrifat, dan ibadah.
Kontribusi Syekh Yusuf Terhadap Penyebaran Islam
Perselisihan dengan penjajah Belanda membawa Syekh Yusuf Al-Makassari pada babak baru dalam hidupnya. Pada tanggal 12 September 1684, beliau dijatuhi hukuman pengasingan ke Ceylon (sekarang Sri Lanka). Namun perjalanan belum berhenti di sana. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada April 1694, Syekh Yusuf kembali diasingkan ke Afrika Selatan.
Pengasingan ini menjadi titik balik yang membawa dampak besar bagi dunia, khususnya bagi Afrika Selatan. Syekh Yusuf menjadikan masa pembuangan sebagai ladang dakwah. Ia menyebarkan ajaran Islam secara sembunyi-sembunyi, membina para pengikutnya tanpa memandang latar belakang, ras, atau status sosial. Dakwahnya menumbuhkan semangat persaudaraan dan perjuangan melawan ketidakadilan.
Syekh Yusuf dikenal sebagai pelopor penyebaran Islam di Afrika Selatan. Lewat pendekatan spiritual dan sosial, ia membentuk komunitas-komunitas Muslim yang kuat dan penuh solidaritas. Pengaruhnya begitu besar hingga namanya diabadikan sebagai tokoh yang berjasa dalam perjuangan melawan rasisme dan penjajahan.
Penghargaan terhadap perjuangannya tidak hanya datang dari Indonesia, tetapi juga dari dunia internasional. Di Indonesia, Syekh Yusuf dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan penghargaan Mahaputra Adipradana. Sementara di Afrika Selatan, ia juga dikenang sebagai tokoh penting dalam sejarah negara tersebut.
Dari pengasingan yang menyakitkan, Syekh Yusuf menjelma menjadi simbol perjuangan, persatuan, dan kemanusiaan. Kisahnya adalah bukti bahwa kebaikan dan ketulusan akan selalu menemukan jalannya untuk dikenang sepanjang masa.
Referensi :
Amin, Kasma F. 2017. Para Tawanan Perang “Kisah Syekh Yusuf al-Makassari dan Arung Palakka” Makassar: Celebes Media Perkasa.
Hamid, Abu. 1994. Syekh Yusuf Makassar : seorang ulama, sufi, dan pejuang. Indonesia: Yayasan Obor Indonesia.
Mustafa, Mustari. 2011. Agama dan Bayang-Bayang Etis Syekh Yusuf al-Makassari . Yogyakarta: LKis Yogyakarta.Bandung: Mizan.
Rosyadi, I. 2020. Syekh Muhammad Yusuf Al-Makassari: Sosok Seorang Ulama, Mursyid.
Ulum, Amirul. 2017. Syaikh Yusuf al-Maqassari : Mutiara Nusantara di Afrika Selatan. CV. Global Press.
Lubis, Nabilah. 1996. Syekh Yusuf Al-Taj Al-Makasari Menyingkap Intisari Segala Rahasia. Tarekat, Dan Pejuang Nusantara Yang Fenomenal. Al Qalam, 8(2).
Kurniawan, R., Tarisa, H., & Lukitoyo, P. S. 2023. Syekh Yusuf Al-Makassari: Berawal dari Pengasingan Hingga Menjadi Tokoh Penyebar Agama Islam di Afrika Selatan. Jurnal Ilmiah Dikdaya, 13(1), 133–138.
Zakia, M. 2022. Etika Religius Ulama Nusantara Syekh Yusuf Al-Makassari yang Dikenal sebagai Bapak Islam di Afrika Selatan. Tasamuh: Media Pengembangan Ilmu-Ilmu Keislaman, Filsafat, Dan Sosial, 6(1).
Sainuddin, I. H., Arsyam, M., Wekke, I. S., Rajjako, A., & Raya, H. M. I. C. G. (n.d.). Syekh Yusuf Al-Makassari; Pengembangan Masyarakat Isla
Kontributor: Lula Chaerunnisa
Editor: Shffa