Sejarah Singkat Museum di Kota Tua

Sejarah Singkat Museum di Kota Tua

Di sekitar museum Fatahillah banyak terdapat museum bersejarah lainnya. Tiap museum menyimpan berbagai macam bukti sejarah pada zaman itu. Berbagai pajangan hasil peninggalan yang bersejarah yang perlu diketahui menarik untuk digali. Museum Fatahillah dibangun untuk mengenang seseorang yang berjasa besar, seorang panglima perang hebat dari utusan Sultan Demak. Pada saat itu Demak dikuasai oleh Sultan Trenggana. Dengan strategi perang yang cemerlang akhirnya Sultan Fatahillah utusan dari sultan Demak berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa. Fatahillah sangat cerdik dalam menyusun taktik perang, hingga pasukan lawan melakukan perlawanan namun tak berhasil. Sebelumnya dari kesultanan Demak sudah mengirimkan beberapa kali pasukan untuk melawan Portugis, namun berulang kali mengalami kekalahan. Dan akhirnya diangkatlah Fatahillah menjadi pemimpin perang saat itu. Akhirnya Portugis kalah pada tanggal 22 Juni 1527 M, berkat usaha Fatahillah dan rombongannya.

Sebelum diresmikan menjadi Jakarta, kota ini mengalami beberapa perubahan nama, pertama yaitu Sunda Kelapa, kemudian diubah oleh panglima perang Fatahillah menjadi Jayakarta. Tak hanya itu perubahan tersebut terus berlanjut sampai beberapa tahun lamanya. Nama Jayakarta berubah menjadi Batavia, kemudian berubah menjadi Jakarta.

Salah satu museum yang memiliki banyak sejarah ialah Museum Fatahillah. Museum ini antara lain Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik, dan juga Museum Wayang. Dalam Museum Sejarah Jakarta dapat diketahui didirikannya museum tersebut, di dalamnya banyak miniatur yang menyimpan banyak sejarah, atribut perang yang dipakai prajurit, pameran beberapa lukisan yang memiliki sejarah unik, dan sejarah yang perlu diteladani.

Di Museum Seni Rupa dan Keramik, memamerkan berbagai macam bentuk keramik, lukisan yang unik dan menggambarkan maksud tertentu. Di sana juga ditampilkan perkembangan lukisan dari zaman ke zaman.

Ada juga Museum Wayang yang tentunya terdapat berbagai macam bentuk wayang dan beberapa kesenian indah lainnya. Mulai dari kisah wayang Rama Shinta hingga kisah Maha Barata, dan masih banyak tokoh wayang lainnya yang menyimpan banyak sejarah.

Museum Seni Rupa dan Keramik.

Sebelum diresmikan menjadi gedung Museum Seni Rupa dan Keramik, dulu bangunan ini digunakan sebagai kantor sipil perdata. Sekitar tahun 1942 M saat Jepang menjajah Indonesia, gedung Museum Seni Rupa dan Keramik masih menjadi kantor sipil. Selain berfungsi sebagai kantor sipil, juga digunakan sebagai kantor surat-menyurat dan kepengurusan surat tanah.

Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik tahun 1970 M pernah dijadikan asrama militer, lalu beralih fungsi menjadi gedung penyimpanan senjata perang Belanda tahun 1973 M. Di sana banyak terdapat keramik dan karya seni lainnya. Tujuan didirikan gedung tersebut antara lain untuk menjaga dan melestarikan karya seni Indonesia, dan menginformasikan keberagaman keramik tersebut sebagai salah satu kekayaan Nusantara.

Bangunan tersebut diresmikan menjadi sebuah museum bersejarah oleh Soeharto pada tahun 1975 M. Saat diresmikan, bangunan tersebut hanya berfungsi sebagai balai seni rupa saja, belum seperti sekarang yang sudah dilengkapi dengan ketentuan jenis dan macam keramik.

Setelah mengalami perubahan fungsi, akhirnya diresmikanlah bangunan itu oleh bapak Ali Sadikin menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik pada tahun sekitar 1990-an. Di sana terdapat banyak peninggalan sejarah seperti, 572 buah lukisan, ribuan jenis dan bentuk keramik dari zaman dahulu hingga saat ini serta kapal karam yang bersejarah dilestarikan di museum tersebut.

Di Museum Seni Rupa dan Keramik terdapat sebuah ukiran dalam pohon yang unik, menggambarkan wajah dan anggota-anggota tubuh lainnya. Zaman dahulu pohon ukiran tersebut diletakkan di depan rumah. Masyarakat percaya bahwa jika diluar rumah tersebut terdapat pohon yang berukiran, maka pohon tersebut mampu menahan atau mengikat roh-roh jahat.

Museum Wayang

Museum Wayang dahulunya adalah sebuah gereja atau katedral Batavia yang didirikan sekitar tahun 1640 M. Setelah katedral Batavia berdiri kokoh sebagai tempat beribadah orang katholik, katedral tersebut mendapat goncangan besar akibat letusan Gunung Krakatau. Akibatnya, bangunan kokoh katedral Batavia itu roboh. Dibangunlah kembali katedral tersebut sekitar pada tahun 1732 M dan memakan waktu kurang lebih tiga tahun dan pada 1736 M  gereja Batavia berdiri kokoh seperti semula, namun dialihfungsikan menjadi sebuah Museum Batavia. Tahun 1939 M, museum tersebut berubah menjadi Museum Jakarta dan diserahkan kepada pemerintah DKI Jakarta tanggal 23 Juni 1968 M. Perubahan nama dan kepemilikan dari Museum Jakarta menjadi Museum Wayang diresmikan pada tanggal 13 Agustus 1975 M oleh Gubernur DKI Jakarta, Bapak H. Ali Sadikin.

Wayang sudah diresmikan menjadi warisan budaya dari Indonesia oleh badan PBB, UNESCO pada tanggal 07 September 2003 di Paris. Di Museum Wayang tersebut dapat dilihat bentuk dan jenis wayang yang terbuat dari berbagai macam bahan tradisional hingga modern. Di sana terdapat jenis wayang hingga mencapai 6373 wayang, Wayang tersebut berasal dari mancanegara hingga seluruh Nusantara. Salah satu contoh jenis wayang adalah wayang Rama dan Shinta dan Maha Barata.

Museum Jakarta

Museum Jakarta dahulunya adalah bangunan tempat eksekusi, penjara perempuan dimana mereka yang dinyatakan bersalah dimasukkan penjara tersebut sebelum dieksekusi. Ada juga penjara bawah tanah untuk laki-laki yang sampai saat ini bisa ditemukan. Zaman dahulu, eksekusi bisa diberitahukan kepada masyarakat dengan bunyi bel. Apabila bel tersebut berbunyi, maka masyarakat tahu bahwa akan ada eksekusi hukuman pidana.

Sebelum menjadi sebuah museum, bangunan tersebut dibangun oleh Joan van Hoorn yang saat itu ia menjabat sebagai Gubernur. Mulai dibangun sekitar 25 Januari 1707 M. Peletakan batu pertama dilakukan oleh putri dari Joan van Hoorn yang masih berusia delapan tahun. Pembangunan gedung selesai hingga masa pemerintahan Jenderal Abraham Van Riebeeck pada tanggal 10 Juli 1710 M. Untuk mengenang jasa keduanya, dipajanglah dua lukisan jenderal tersebut dalam museum.

Selain itu, terdapat pula prasasti Padroa yaitu sebuah simbol untuk perjanjian kalangan Sunda Kelapa dengan Kalangan Portugis. Hasilnya yaitu orang-orang Portugis akan membangun sebuah markas di tanah kekuasaan Sunda Kelapa, kelompok Sunda Kelapa mengizinkan hal tersebut dengan syarat masyarakat Sunda Kelapa dilindungi dari musuh kerajaan-kerajaan lain yang mengincar rempah-rempah masyarakat Sunda Kelapa. Karena Nusantara terkenal akan kaya rempah-rempah, jadi orang-orang dari kerajaan lain mengincar akan harta kekayaan tersebut. Akhirnya kedua belah pihak menyetujui persyaratan tersebut, dan dibuatlah prasasti padroa bertuliskan tahun 1522 M. Setelah perjanjian berakhir masyarakat Sunda Kelapa memberi imbalan kepada sekelompok Portugis dengan seribu wadah yang berisi rempah lada. Ada juga miniatur kubah bekas runtuhnya katedral akibat letusan Gunung Krakatau yang bertujuan mengingatkan adanya sebuah gereja di gedung tersebut. Miniatur gereja tersebut memiliki makna filosofi tersendiri, jika dilihat dari bentuk miniatur tersebut mirip kubah masjid. Ini menandakan bahwa toleransi beragama dari dulu sudah terjaga.

 

Narasumber    : Anisytasya Citra. P.

                         Aji Choiruddin

                         Bapak Ruslan

                         Anita 

Oleh : Siti Wahidatun Naimah, Semester V

Leave a Reply