Islam VS Sains: Antara Nabi Adam dan Manusia Purba, Mana yang Lebih Dahulu Diciptakan?

Islam VS Sains: Antara Nabi Adam dan Manusia Purba, Mana yang Lebih Dahulu Diciptakan?

Nabi Adam AS merupakan manusia yang pertama kali Allah SWT ciptakan di alam semesta ini, sebagaimana yang telah tertulis dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 30.


وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ


Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Dan diperjelas lagi dalam kitab Qashashul Anbiya’ bahwa Allah SWT menjadikan Nabi Adam sesuai dengan bentuknya.


قال الحافظ أبو يعلى حدثنا عقبة بن مكرم، حدثنا عمرو بن محمد عن اسماعيل بن رافع، عن المقبري، عن أبى هريرة، أن رسول اللهصلى الله عليه و سلم قال: إن الله خلق ٱدم من تراب، ثم جعله طينا ثم تركه، حتى إذا كان حمأ مسنونا خلقه الله و صوره ثم تركه حتى إذا كان صلصال كالفخار


Artinya: Al-Hafidz Abu Ya’la telah berkata: Uqbah bin Mukrim telah menceritakan kepada kami, Umar bin Muhammad telah menceritakan kepada kami dan Ismail bin Rafi’ dari Maqbari dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari debu, kemudian Dia menjadikannya tanah dan membiarkannya, hingga akhirnya menjadi tanah liat kering kemudian Allah menciptakannya dan memberi bentuk, kemudian membiarkannya hingga menjadi kering seperti tembikar. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa Allah SWT memberi bentuk kepada Nabi Adam AS, bukan perubahan yang diikuti masa atau waktu.


Dalam kitab lain dijelaskan pula, bahwasanya Allah SWT memberi bentuk kepada Nabi Adam AS dengan bentuk manusia yang sempurna tanpa adanya tahapan perubahan. Sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Difa’ ‘an al-Sunnah, karangan Dr. Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah halaman 130:


طعنه فى حديث الصححين: ان الله خلق ٱدم على صورته – الى ان قال – والجواب : أن الحديث مروي فى الصحيحين و غير هما من كتب السنة المعتمدة إلى ان قال فالحديث صحيح من جهة سنده و من جهة متنه و معناه سواء أكان الضمير راجعا لله عز و جل كما فى الرواية الأخرى خلق الله ٱدم على صورت الرحمن فان كان الضمير لٱدم و هو الراجح الذى ينبغى أن يصار اليه على مقتضى القواعد العربية فالأمر ظاهر يكون المعنى ان الله أوجد على هذه الهيئة التى خلقه عليها لم ينتقل في النشأة أحوالا ولا تردد في الأرحام أطوارا كذريته بل خلقه رجلا كاملا سويا من اول نفخ فيه الروح


Artinya: Ia membantah dalam hadist shahihain: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam sesuai bentuknya sampai ia berkata, Dan adapun jawabannya adalah: bahwa hadist itu diriwayatkan dalam hadist shohihain dan selainnya dari kitab-kitab sunnah yang muktamad sampai ia berkata maka hadist itu shahih dari arah sanad, matan, dan maknanya sama saja. Sebagaimana yang ada dalam riwayat lain, Allah SWT menciptakan Adam AS sesuai bentuk rahman (Allah), sedangkan dhomir itu kembali kepada Adam AS dan inilah yang paling kuat dan sepatutnya dijadikan sesuai dengan tuntutan kaidah-kaidah Arabiyah. Maka, adapun perkara itu jelas kepada makna bahwasanya Allah SWT menciptakan bentuk ini yang Allah SWT ciptakan itu tidak berpindah kepada beberapa keadaan pada awal hidup dan tidak berulang-ulang dalam peranakannya kepada beberapa seperti perkembangan keturunannya, akan tetapi Allah SWT menciptakannya sebagai manusia yang sempurna ysng utuh dari awal peniupan ruh.


Bahkan kalau kita telusuri dari seluruh agama samawi, selain Islam juga mengatakan bahwa manusia (Adam) yang Allah ciptakan itu sudah diberi bentuk. Sebagaimana dalam Al-kitab menerangkan bahwa manusia (Adam) diciptakan menurut rupa dan gambar Allah. (Kejadian 1:26)
Dari sini dapat kita simpulkan bahwa Adam AS itu sudah diciptakan dalam bentuk yang sempurna, karena menurut kepercayaan mereka, Adam AS itu diciptakan menurut rupa dan gambar Allah, sangatlah mustahil, jika masih terjadi perubahan karena mustahil rupa dan gambar Allah itu juga berubah-ubah.
Manusia purba atau manusia prasejarah adalah manusia yang hidup pada zaman yang belum mengenal tulisan atau manusia yang hidup sebelum ditemukan tulisan. Para ahli sejarah sering menyebutnya sebagai Prehistoric People atau manusia prasejarah.


Charles Darwin, seorang ilmuan inggris (1809-1882) berpendapat setelah melakukan ekspedisi pada saat pelayaran menjelajahi lautan Amerika Selatan bahwa segala makhluk hidup (manusia) adalah anak cucu leluhur bersama kera yang lolos seleksi alam. Teori evolusi Darwin merupakan penyempurna dari teori evolusi sebelum-sebelumnya. Teori evolusi sudah muncul dari zaman Yunani kuno. Pertama kali teori tersebut dipopulerkan oleh Thales (600 SM), yang menyatakan air adalah induk asal usul serta sumber adanya sesuatu.
Namun seiring dengan perjalanan waktu, teori evolusi mengalami penyempurnaan atau modifikasi hingga sampai saat ini. Seperti halnya teori evolusi Darwin menjadi teori evolusi sintesis modern. Ini menimbulkan pertanyaan, sebenarnya siapa yang pertama berada di bumi ini, Nabi Adam AS atau manusia purba?


Sebagaimana yang telah kita baca, bahwasanya firman Allah SWT di atas menceritakan tentang kejadian manusia sebagai khalifah saja. Bahkan di dalam ayat tersebut diceritakan bahwa sebelum kejadian manusia (Nabi Adam), sudah ada makhluk-makhluk lain, akan tetapi ayat itu tidak menerangkan apa makhluk-makhluk lain itu. no, di sini akan dipaparkan keterangan yang mungkin bisa dijadikan acuan bahwa manusia purba itu memang ada, yaitu:

1. Sebelum Adam diciptakan, bumi telah dihuni oleh makhluk seperti manusia (manusia purba), yang belum tergolong homo sapiens, yang besar otaknya sudah sama dengan makhluk modern sekarang ini, Bani Adam. Otak manusia purba relatif lebih kecil dibandingkan otak Bani Adam dan cara berjalannya pun belum setegak homo sapiens. Makhluk seperti manusia ini umumnya belum tergolong ke dalam jenis homo (manusia), namun sudah menghuni bumi sebelum datangnya Adam. Malaikat dapat mengetahui bahwa dari riwayatnya, manusia purba ini sering berperang satu sama lainnya dan membuat kerusakan di bumi.

2. Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman:


وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ ۗاِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَسْتَخْلِفْ مِنْۢ بَعْدِكُمْ مَّا يَشَاۤءُ كَمَآ اَنْشَاَكُمْ مِّنْ ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ اٰخَرِيْنَ


Artinya: “Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain”. (Al-An’am: 133)


Para penerjemah dan penafsir mengartikan frase (kelompok kata, syibhul jumlah) min dzurriyati qoumin akhirin itu dengan: Berasal dari keturunan kaum yang lain”. Masalah timbul ketika mereka menganggap kaum lain itu kaum manusia (keturunan Adam), yaitu kaum Nuh, kaum Luth, kaum ‘Ad, dan kaum-kaum lain yang dimusnahkan Tuhan karena dosa-dosa mereka, padahal, konteks internal ayat itu mengharuskan arti bahwa keturunan itulah yang dimusnahkan, sebab bagaimana mungkin memusnahkan keturunan kaum yang dimusnahkan? Bukankah “dimusnahkan (yudzhabu) itu berarti tidak punya keturunan lagi, alias putus dan habis sudah garis keturunannya.
Maka, arti yang tepat adalah: Tuhan telah memusnahkan keturunan sebuah kaum yang lain (kaum yang bukan manusia), yaitu dzurriyat (spesies) yang nenek moyangnya tidak berupa sepasang suami-istri individual, tapi berupa masyarakat kolektif (qoumin) hasil evolusi kolektif (anagesis) dari “Kaum binatang sebelumnya.”

3. Dalam menafsiri ayat ke 30 dalam surah al-Baqarah di atas, sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud Adam AS sebagai khalifah, ialah khalifah Adam-adam yang telah berlalu itu yang sampai mengatakan seribu atau sejuta Adam. Dan dongeng Iran yang diambil dan dimasukkan ke dalam beberapa tafsir itu pun menunjukkan bahwa dalam kalangan Islam, sudah lama ada yang berpendapat bahwa manusia sebelum kita sudah ada mahkluk dengan Adam sendiri terlebih dahulu. Sekarang tidaklah berhenti orang menyelidiki hal itu, sehingga datanglah pendapat secara Ilmiah, di antaranya teori Darwin, dilanjutkan lagi oleh berpuluh penyelidikan tentang ilmu manusia pada fosil-fosil yang telah membantu menunjukkan bahwa 400.000 tahun yang lalu telah ada manusia peking atau manusia Mojokerto.

4. Dalam tafsir al-Munir juga dikatakan bahwa ada pendapat yang mengatakan dulu ada suatu jenis makhluk yang bertempat tinggal di bumi sebelum Adam. Makhluk ini merusak dan saling menumpahkan darah. Kemudian khalifah ini menggantikan tempatnya. Firman Allah SWT:


ثم جعلنكم خلئف فى الأرض من بعدهم


Artinya: “Kemudian kami jadikan kamu pengganti-pengganti di muka bumi sesudah mereka.” (Yunus:14).

Berikut ibarahnya:


و يقال: كان هناك نوع من الخلق فى الأرض قبل ٱدم أفسد و سفك الدماء و سيحل هذا الخليفة محله بدليل قوله تعالى: ثم جعلنكم خلئف فى الأرض من بعدهم.

Artinya: “Dan dikatakan ada satu macam dari mahkluk-mahkluk di bumi sebelum Adam, Makhluk itu merusak dan menumpahkan darah, kemudian khalifah ini menggantikan tempatnya dengan dalil firman Allah: “Kemudian kami jadikan kami kamu-pengganti pengganti di muka bumi sesudah mereka.”

Kesimpulan yang bisa kita ambil adalah bahwasanya mungkin saja Allah SWT menciptakan manusia purba terlebih dahulu kemudian Allah menciptakan Nabi Adam AS sebagai khalifah di muka bumi ini, kita tidak boleh menolak teori Darwin tersebut secara mentah-mentah, karena ia juga mempunyai bukti yang cukup akurat, bahkan, ada juga beberapa ulama yang meyakini teori tersebut.

Referensi:
Imam Abi Al-Fida’ Ismail bin Katsir, Qashashul Anbiya, Darul Hadits, Kairo, Mesir
Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, Kisah para Nabi/Rasul pra Ibrahim
Bambang Tri, Adam 31 M, Pustaka Pesantren, Bantu, Yogyakarta
Buya Hamka, Tafsir Al-Azhar, Pustaka Nasional PTE LTD, Singapura Juz 1
Syekh Wahbah Al-Zuhaily, Tafsir Al-Munir, Darul Fikr, Bairut, Lebanon

Kontributor : Muhammad Nasir Siregar, Semester V

Leave a Reply