KH. Imam Zarkasyi, Bapak Pendidikan Islam Indonesia
Ma’had Aly – “Andai kata muridku tinggal satu, akan tetap kuajar, yang satu ini sama dengan seribu, kalaupun yang satu ini tidak ada, aku akan mengajar dunia dengan pena.” Ungkapan salah satu tokoh terkemuka di Pondok Pesantren Darussalam Gontor, ia adalah KH. Imam Zarkasy. Seorang tokoh muslim yang paling berpengaruh di Indonesia pada Abad ke-20, terutama dalam konteks sejarah perkembangan pondok pesantren yang aktif dalam kegiatan nasional. Ia juga merupakan pendiri Pondok Gontor lama dan tokoh babad desa Gontor.
Imam Zarkasyi lahir pada tanggal 21 Maret 1910 M di desa Gontor dan wafat pada 30 April 1985 di Komplek Pondok Gontor lama. KH. Imam Zarkasyi meupakan keturunan kesepuhan Cirebon dari Kanjeng Pangeran Hadirojo (Adipati Anom Cirebon). Kanjeng Pangeran Hadirojo memiliki putra yaitu Kanjeng Penghulu Adirojo (Cirebon) dan Kanjeng Penghulu Adirojo memiliki putra Raden Mas Hadikusumo Sulaiman Jamal, dinikahkan dengan putri Kiai Khalifah (Tegalsari Ponorogo). Dari perkawinan tersebut maka lahirlah Raden Archam Anom Besari yang kemudian dinikahkan dengan Mbah Den, cucu Bupati Polorejo (Panarogo lama) atau Putri Penghulu Nur Ngali Polorejo. Dari perkawinan ini lahirlah Raden Anom Besari, yang kemudian dinikahkan dengan Rr. Soedarmi. Dari pasangan inilah lahir tujuh bersaudara, yang termasuk tiga didalamnya dikenal dengan istilah “Trimurti” yakni KH. Ahmad Sahal., KH. Zainudin Fananie, dan KH. Imam Zarkasyi. Dari tiga bersaudara inilah yang membidangi berdirinya pesantren Gontor.
Imam Zarkasyi menempuh pendidikan dasar di sekolah Ongko Loro Jetis, Ponorogo, sambil nyantri di pondok Josari dan Joresan Ponorogo. Lulus dari sekolah Ongko Loro pada tahun 1925, kemudian ia memperadalam ilmu agama di Pesantren Jamsaren Solo, pada waktu yang sama ia juga bealajar di Sekolah Mamba’ul Ulum. Kemudian masih di kota yang sama ia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Arabiyah Adabiyah yang dipimpin oleh KH. MO. Al-Hasyimi, di situlah ia memperdalam kemampuan bahasa Arabnya sampai tahun 1930. Setelah menyelesaikan studinya di Solo, ia meneruskan studinya ke Kweekschool di Padang Pajang, Sumatra Barat. Seitar tahun 1935 ia menyelesaikan studinya di Padang Pajang. Lalu ia di percaya untuk menjadi guru dan direktur di perguruan tersebut selama satu tahun oleh gurunya, Muhammad Yunus. ia kemudian pulang ke Ponorogo dan pada 19 Desember 1936 ia mendirikan Kuliyyatul Mualimin al-Islamiyah (KMI), yang berarti “Persemaian Guru-guru Islam.”
KMI merupakan sekolah tingkat menengah dengan masa belajar enam tahun. Di situ ia bertindak sebagai direkturnya. Ia menyusun sebuah konsep pembelajaran modern dengan sistem pesantren. Salah satu yang ia tekankan pada metode tersebut ialah soal penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris.
Sistem pendidikan yang diterapkan oleh KH. Imam Zarkasyi ialah sistem pendidikan klasikal dan sistem pendidikan berasrama (broading institution). Kitab-kitab kuning dikemas sedemikian rupa ke dalam buku-buku teks pelajaran yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan para santrinya. Sistem pendidikan klasikal dikembangkan secara terpimpin dan terorganisir dalam bentuk penjenjangan kelas dalam jangka waktu yang ditetapkan. Sistem klasikal ini merupakan bentuk pembaharuan karena berbeda dengan sistem pesantren model lama. Pengajaran dengan sistem ini menjadi lebih tepat, karena dengan biaya dan waktu yang relatif sedikit dengan menghasilkan produk yang besar dan bermutu.
Perbaikan terhadap sistem pengajaran menghendaki sejumlah perubahan sistem pengajaran yang dianut oleh pesantren tradisional. Metode lebih penting dibaning materi, tetapi pribadi guru jauh lebih penting dari metode itu sendiri. Beberapa metode dan kaidah pengajaran dalam proses belajar mengajar di kelas antara lain pelajaran harus dimulai dari yang mudah dan sederhana, tidak tergesa-gesa pindah ke pelajaran yang lain sebelum siswa memahami betul pelajaran yang telah diberikan, proses pengajaran harus teratur dan sistematik, latihan-latihan diperbanyak setelah pelajaran selesai, dan lain-lain yang kesemua kaidah tersebut bisa praktikan oleh setiap guru dengan persyaratan guru harus memiliki dan menguasai metode dalam mengajar.
Pembaharuan yang dilakukan KH. Imam Zarkasyi hanya menyangkut metodologi pengajaran di kelas-kelas, sedangkan esensi pelajaran agama yang menjadi inti kitab kuning pada pesantren tradisional tetap ada dan dikemas sedemikian rupa dalam buku buku yang lebih praktis dan sistematis serta disesuaikan dengan jenjang pendidikan para santri. Santri tetap diberi kesempatan untuk membongkar dan memahami kumpulan kitab-kitab kuning dalam jumlah besar dari berbagai disiplin ilmu agama. Dengan bekal bahasa Arab yang dimiliki, santri diharapkan sudah dapat membaca dan memahami kitab-kitab tebal tersebut dengan sendirinya, tanpa harus dibantu dan diterjemahkan oleh kyai sebagaimana yang dilakukan pada metode sorogan atau wetonan yang dilakukan pesantren tradisional.
Kurikulum yang di lakukan KH. Imam Zarkasyi adalah 100% umum dan 100% agama. Kurikulum pada pesantren tradisional lebih memfokuskan pada materi agama yang tertera dalam kitab-kitab klasik (kuning). Akan tetapi KH. Imam Zarkasyi tetap mempertahankan materi-materi agama tersebut, selain itu juga menambahkan materi pengetahuan umum ke dalam kurikulum lembaga pendidikan yang diasuhnya.
Di pondok modern Darussalam Gontor ia menjabat sebagai Direktur KMI. Ia juga menunjukan kiprahnya dalam bidang pendidikan di berbagai institusi. Setelah menjadi kepala kantor agama Karesidenan Madiun pada 1943, ia diangkat menjadi seksi Pendidikan Kementrian Agama pada 1946. Ia juga pernah menjadi anggota Komite Penelitian Pendidikan dan pada tahun 1959. Tahun 1962, ia diangkat presien Sukarno menjadi anggota Dalam Kancah Internasional ia juga pernah menjadi Anggota Delegasi Indonesia dalam peninjauan ke negara-negara Uni Soviet dan menjadi Mu’tamar Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah (Mukhtamar Akademi Islam sedunia) ke VII di Kairo Mesir tahun 1972. Di samping itu juga ia pernah menjadi Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.
Buku-buku yang ditulisnya sendiri antara lain ialah:
- دروس اللغة العربية (Durus al-Lugah al-‘Arabiyyah I dan II) merupakan buku pelajaran bahasa Arab dasar dengan sistem Gontor
- قاموس دروس اللغة العربية) Kamus Durus al-Lugah al-Arabiyyah I dan II
- التمرنت (Al-Tamrinat I, II, III), merupakan buku latihan dan pendalaman qawa’id (kaidah-kaidah tata bahasa), uslub (gaya bahasa), kalimat, dan mufradat (kosa kata)
- دليل الترنات (Dalil al-Tamrinat I, II dan III)
- الامثلة الجمل (Amtsilah al-Jumal I dan II), merupakan buku yang berisi contoh-contoh i’rab dari kalimat lengkap yang benar.
Buku-buku yang ditulis oleh KH. Imam Zarkasyi merupakan bentuk baktinya terhadap pendidikan, menurutnya jika ia sudah tidak bisa mengajar lagi dengan lisan maka ia akan mengajar dengan pena. Semoga di era milenial ini banyak bermunculan orang-orang seperti KH. Imam Zarkasyi yang mempunyai peran terhadap pendidikan pesantren dan karyanya yang segudang.
Referensi
ICT Team, “KH. Imam Zarkasyi”, https://www.gontor.ac.id. diakses pada 15 Mei 2019 pukul 21.03 WIB.
Muhammad Ghufron Misbach, dkk., H Imam Zarkasyi dari Gontor Merintis Pesantren Modern, Cet. 1, Ponorogo: Gontor Press, 1996.
Mujib, Subhan M, Musthofa Basyir, Intelektualisme Pesantren Jilid 3, Jakarta: Diva Pustaka Jakarta, 2006.
Zainul Milal Bizawe, Masterpiece Islam Nusantara, Tanggerang Selatan: Pustaka Compas, 2016.
Oleh : Desi Romadeni, Semester V