Hudzaifah bin Yaman,  Sang Penjaga Rahasia Rasulullah SAW

Hudzaifah bin Yaman, Sang Penjaga Rahasia Rasulullah SAW

Ma’had Aly – Hudzaifah bin Yaman ra. adalah sahabat yang menjadi pemegang rahasia Rasulullah saw. Ia mempunyai peran yang besar dan menjadi seorang petualang yang pemberani. 

Saat para sahabat bersama Rasulullah saw. dalam perang Khandaq, Rasulullah saw. sudah mengerjakan shalat di tengah malam, kemudian beliau menoleh ke arah para sahabat dan berkata, “Siapa yang mau menyusup ke dalam kamp pasukan musuh (Quraisy dan Ghathafan), mengecek keadaan mereka, kemudian kembali ke sini?” Tak seorang pun yang berdiri, karena udaranya yang sangat dingin, sangat lapar, dan diliputi rasa takut. 

Karena tidak ada seorang pun yang berdiri, akhirnya Rasulullah saw. memanggil Hudzaifah bin Yaman, sehingga mau tidak mau Hudzaifah harus berdiri ketika Rasulullah saw memanggilnya. Beliau berkata, “Hai Hudzaifah! Pergilah dan menyusuplah ke tengah-tengah pasukan musuh. Perhatikanlah apa yang mereka lakukan, dan janganlah kau lakukan apapun sampai kau kembali ke kami.”

Rasulullah saw. memerintahkan Hudzaifah agar tidak melakukan apapun yang mengundang perhatian musuh sehingga misinya terbongkar, dan beliau mensyaratkan padanya harus kembali. Semua tugas ini super sulit, ditambah dengan situasi yang sangat sulit.

Hudzaifah pergi, lalu menyusup di tengah-tengah barisan musuh. Saat itu angin berhembus dengan kencang dan tentara-tentara Allah swt. (para malaikat) mengobrak-abrik mereka, hingga tak ada tungku, perapian, ataupun tenda yang bisa berdiri tegak.

Abu Sufyan berdiri lalu berkata, “Hai kaum Quraisy! Masing-masing harus memperhatikan siapa yang ada di dekatnya.” Lantas, Hudzaifah meraih tangan seseorang yang ada di dekatnya, lalu Hudzaifah berkata kepadanya, “Kamu siapa?” Ia menjawab, “Saya Fulan bin Fulan.”

Abu Sufyan kembali mengatakan, “Wahai kaum Quraisy! Demi Allah swt., kalian tidak bisa terus bertahan di sini. Kuda dan unta kita telah binasa, bani Quraizhah telah mengkhianati kita, apa yang tidak kita inginkan dari mereka akhirnya kita hadapi, kita telah diterpa oleh angin kencang seperti yang kalian lihat, hingga tidak ada tungku yang bisa berdiri tegak, perapian pun tidak bisa dinyalakan, dan tenda-tenda tidak bisa berdiri tegak. Maka pulanglah, karena aku akan pulang.”

Setelah itu, Abu Sufyan menghampiri unta miliknya yang terikat, kemudian ia membangunkan untanya dan menungganginya. Tali pengikatnya ia lepaskan saat ia berdiri dan bergerak cepat untuk pergi dikarenakan rasa takut. Saat hendak pergi, Shafwan bin Umayyah berkata kepadanya, “Kau adalah pemimpin kaum. Jangan kau tinggalkan mereka dan pergi begitu saja!” 

Namun, Abu Sufyan tidak menggubris kata-katanya dan memberitahukan kepadanya untuk pergi. Ia menempatkan Khalid bin Walid bersama sekelompok pasukan untuk melindungi bagian belakang pasukan Quraisy yang pergi agar mereka tidak diserang dari belakang. Kaum Ghathafan pun bergegas pulang ke kampung halaman mereka.

Andai saja Rasulullah saw. tidak memerintahkan pada Hudzaifah, “Jangan melakukan apa pun hingga kau menemuiku,” tentu Hudzaifah sudah membunuhnya. Setelah itu Hudzaifah kembali kepada Rasulullah saw. saat beliau tengah mengerjakan shalat. Setelah beliau selesai shalat, Hudzaifah memberitahukan informasi yang ia dapat kepada beliau.

Hudzaifah menuturkan, bahwa Rasulullah saw. shalat mengenakan pakaian panjang milik salah seorang istri beliau karena udara pada malam itu sangat dingin, dan beliau menyelimuti Hudzaifah dengan pakaian tersebut karena seluruh tubuhnya menggigil kedinginan, hingga ia merasa hangat kemudian beliau mendengarkan penuturannya.

Saat memasuki waktu Subuh, Rasulullah saw. pulang meninggalkan Khandaq menuju kota Madinah bersama kaum Muslimin, dan mereka meletakkan senjatanya. Ini bukan satu-satunya tugas yang dijalankan Hudzaifah bin Yaman ra.

Masyarakat Mekkah terbagi menjadi dua kubu saat Islam muncul. Kubu yang diberi petunjuk oleh Allah swt. menuju kebenaran dan jalan yang lurus, dan kubu yang tetap loyal pada berhala, serta tetap memegang kekafiran dan kemusyrikan.

Sementara di tengah masyarakat Madinah setelah peristiwa hijrah, muncul kubu ketiga, yaitu kubu orang-orang munafik yang ketika berkumpul dengan kaum muslimin, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kalian.” Mereka ini dipimpin oleh Abdullah bin Ubai bin Salul. Namun, ketika mereka kembali kepada para pemimpin mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami hanya mengolok-olok.” Kaum munafik ini menyembunyikan kekafirannya dan menampakkan keislamannya.

Kubu ini yang paling berbahaya bagi Islam dan umat Islam. Rasulullah saw. dan para sahabat menghadapi beban berat dari kubu ini. Untuk itu, kubu ini harus diawasi secara diam-diam. Segala konspirasi, rencana, dan makar yang mereka galang harus diketahui. Dan Hudzaifah bin Yaman ra. adalah orang yang terbaik untuk menjalankan tugas ini. Ia adalah mata yang selalu terbuka dan waspada untuk mengamati segala tindak-tanduk kubu ini dengan sangat rahasia, kemudian menginformasikannya kepada Rasulullah saw. agar beliau mengetahui persoalan mereka dengan jelas tanpa diketahui oleh siapapun.

Saat perang Tabuk, Rasulullah saw. berangkat menuju perbatasan Syam bersama 30.000 sahabat, lokasi di mana beliau mendengar informasi pasukan Romawi berkumpul di sana untuk menyerang Hijaz. Saat itu, sebagian kaum munafik turut berangkat bersama beliau, bukan karena ingin berperang dan berjihad, tapi untuk merencanakan sesuatu yang sangat berbahaya, karena mereka merencanakan untuk membunuh Rasulullah saw.

Dalam perjalanan pulang, kelompok munafik ini tersingkap wajah kelam dan tujuan hina mereka untuk membunuh Rasulullah saw. Namun, Hudzaifah mengikuti mereka dan berhasil menggagalkan rencana tersebut. Hudzaifah menyampaikan nama-nama mereka ini kepada Rasulullah saw., mereka berjumlah 14 orang. Tak seorang sahabat pun mengetahui hal ini, karena hanya diketahui Rasulullah saw. dan Hudzaifah bin Yaman.

 

Referensi

Ali, Muhammad. 2016. Abthalul fathil Islamy. Terj. Umar Mujtahid. Sunt. Firman Afianto dan Arif Mahmudi. Jakarta: Ummul Qura

Al-Mubarakfuri, Shafiyyurrahman. 2013. Ar-Rahiiq al-Makhtum. Riyadh: Muntada al-Tsaqafy

Al-Usairy, Ahmad. 2016. Sejarah Islam. Terj. Samson Rahman. Sunt. Harlis Kurniawan. Jakarta: Akbar Media

Ibnu Hisyam, Abdul Malik. 2008. As-Siirotun Nabawiyyah. Kairo: Al-Maktab al-Tsaqafy

Ibnu Katsir, Al-Hafidz. 2010. Sirah Nabi Muhammad. Terj. Abu Ihsan Al-Atsari. Sunt. Ahmad Khatib, Imanudin, dan Handi Wibowo. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i

Supriyadi, Dedi. 2008.  Sejarah Peradaban Islam. Bandung: CV Pustaka Setia

Yatim, Badri. 2016. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

 

Oleh : Iman Suhaemi, Semester III

This Post Has One Comment

  1. Reksi arzoni pratama

    Masyallah kang iman , sejarah Islam nya keren Dan anak dibaca

Leave a Reply