Prakarsa Pendidikan Pesantren

Prakarsa Pendidikan Pesantren

Ma’had Aly – Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang identik dengan keislamannya atau lebih dikenal dengan pendidikan Islam tradisional. Pesantren merupakan lembaga tertua di Indonesia. Ada beberapa pendapat mengenai asal usul pesantren, namun yang lebih aktual adalah pendapat berikut, sebagaimana akan dijelaskan penulis dalam artikel ini. Penamaan pesantren sebenarnya bukan seratus persen ide murni para sesepuh Islam. pasalnya, tidak ditemukannya lembaga pesantren di negara- negara Islam maupun negara Arab Pesantren dalam agama Hindu merupakan sarana yang digunakan untuk pembelajaran agama sekaligus membina kader-kader secara komperhensif. Jika dilihat dari sistem penerapannya, pesantren berasal dari India. 

Ulama Nusantara atau dikenal dengan Walisongo pada masa itu mengadopsi nama sekaligus sistem pembelajaran agama Hindu Budha dalam menyebarkan agama Islam. Hanya saja ulama Nusantara menggantinnya dengan ajaran Islam tanpa menghilangkan tradisi yang ada. Bagi Nasrullah Jasam, ini merupakan bukti kecerdasan ulama Nusantara dalam dakwahnya, mereka lebih mengedepankan substansi daripada kulitnya. Tidak dapat diprediksi secara pasti mengenai pendidiri pesantren Islam pertama kali di Indonesia karena tidak adanya data yang mendukung. Ada pendapat yang mengatakan Syekh Maulana Malik Ibrahim karena ia berasal dari Gujarat, India. Namun ada juga yang berpendapat bahwa Raden Rahmat (Sunan Ampel) adalah pionir berdirinya pesantren Islam, hal ini dibuktikan dengan berdirinya pesantren di Ampel Denta, Surabaya. 

Tidak jauh beda dengan negara, pesantren memiliki unsur-unsur pembangun di antaranya adalah adanya gedung, kiai, pengurus, santri dan metode pengajaran. Istilah pembelajaran atau metode pengajaran sebenarnya tidak asing ditelinga para santri. Mereka menyebutnya sebagai ngaji. Kata ngaji diambil dari kata aji yang memiliki arti hormat, menghormati, mulia, memuliakan. Hal ini sejurus dengan tujuan santri belajar di Pesantren yaitu untuk menimba ilmu dari orang yang lebih mulia, baik dari segi umur, keilmuan, kedudukan dengan harapan adanya timbal balik. 

Penghormatan terhadap kiai maupun guru-guru ternyata dapat membawa dampak besar. Penanaman akhlak atau etika sudah tercermin sejak memasuki area pesantren, karena  hakikatnya pendidikan etika tidak cukup dengan teori saja melainkan harus ada pengamalan dalam kesehariannya. Dengan adanya pengamalan, etika akan terus terlestarikan sehingga dapat memperindah moralitas bangsa. 

Kualitas pesantren patut menyandang predikat A. Hal ini dibuktikan dengan lahirnya para tokoh bangsa dan ulama ulung dan produktif dari rahim pesantren. Kiai Bisri Mustofa misalnya, ia merupakan jebolan dari pesantren Kasingan, saat itu berada di bawah kepemimpinan KH. Cholil Kasingan. Ia mengarang beberapa kitab sebagai bentuk kontribusi santri terhadap negara di antaranya adalah kitab al-Ibriz, syair Ngudi Susilo, Mitero Sejati dan lain sebagainya. pesantren dalam mendidik kader- kadernya tidak luput dengan metode pembelajaran yang efektif. Ada beberapa metode yang mashur di pesantren diantaranya adalah wetonan, sorogan, musyawarah, dan muhadlarah

Metode wetonan disebut juga dengan bandongan. Istilah ini diambil dari bahasa Jawa “wektu” yang berarti waktu. Sebab metode ini diterapkan dalam waktu tertentu seperti sebelum atau sesudah salat fardu. Dalam prekteknya, seorang kiai membacakan kitab yang sedang dikaji sedangkan santri hanya mendengarkan dan mencatat hal-hal yang dinilai penting. Di samping, itu santri juga melakukan kegiatan memaknai atau sering diistilahkan dengan ngabsahi atau meng-cross check apakah sesuai dengan kaidah kepenulisan bahasa Arab dan gramatika Arab. 

Adapun metode sorogan yang mengasah seorang santri dalam berbagai hal. Pasalnya, sistem ini membutuhkan kesabaran, keuletan, keberanian, kedisiplinan, penguasaan materi. Dilihat dari asal katanya, sorogan memiliki arti menyodorkan (sorog: Jawa), maka dapat kita  pahami bahwa sistem ini dilakukan dengan cara santri menyodorkan kitab di hadapan kiai kemudian santri membacanya sebagaimana kiai membaca kitab ketika bandongan. Tugas kiai di sini hanya sebagai pendengar, pengoreksi, dan memberi pertanyaan mengenai berbagai macam tinjauan keilmuan meliputi ilmu alat (nahwu, sharaf, dan i’lal), fikih, bahkan santri diminta untuk mempraktikkan secara langsung di hadapan kiai. 

Di samping dididik untuk menjadi orang yang ahli di bidang keilmuan, pesantren juga menerapkan metode musyawarah dan muhadlarah. Di dalam  musyawarah santri dapat menguji emosional dan keberaniannya melalui penyampaian ide-ide dalam memecahkan suatu masalah dengan menggunakan dalil kitab-kitab yang telah mereka kaji. Musyawarah juga sering disebut dengan bahtsul masail. Sedangkan dalam muhadlarah santri dapat mengembangkan kemampuan yang mereka miliki serta melatih public speaking (kemampuan diri dalam berbicara). 

Dari paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan pesantren lembaga pendidikan yang berbasis masyarakat yang tidak ada strata sosial di dalamnya. Kiai telah mempersiapkan calon tokoh-tokoh besar dan ulama-ulama muda yang dididik melalui metode-metode tersebut di atas. Tidak terlepas dari itu, etika, sopan santun, solidaritas, dan toleransi yang diterapkan dalam pesantren membuat santri tidak mudah tersinggung, tidak kolot, selalu berpaham moderat. Maka tercipta solidaritas dan rasa damai dalam menjalani kehidupan serta mampu menghidupkan peradaban Islam.

Referensi

  1. A. Azizy Qodri. 2003. Pendidkian (Agama) untuk Membangun Etika Sosial. Semarang: CV Aneka Ilmu.

Farid Okbah Achmad. 1993. Solidaritas Islam, Jakarta Timur: Darul Haq.

Khamami Zada, dkk. 2008.  Pra Karsa Perdamaian. Jakarta: PP Lakpesdam NU.

Rohadi Fatah Abdul, dkk. 2005. Rekontruksi Pesantren Masa Depan Jakarta Utara: PT Listafariska Putra.

Ufi Ulfiah. 2013. Prakarsa dari Pesantren: Sistem Pendidikan Lama yang Banyak Direproduksi, Taswirul Afkar Jakarta Selatan: Lembaga kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (LAKPESDAM) Nahdlatul Ulama.

Oleh : Baqiyatus Solikhah, Semester V

Leave a Reply