Al-Fatih, Sebaik-Baiknya Pemimpin dan Sebaik-Baiknya Pasukan

Al-Fatih, Sebaik-Baiknya Pemimpin dan Sebaik-Baiknya Pasukan

Kita pastinya tidak asing lagi mendengar sebutan Daulah Turki Utsmani. Daulah ini merupakan kekhalifahan yang cukup besar dalam Islam, daulah ini memerintah hampir tujuh abad lamanya. Salah satu masa kegemilangan Daulah Turki Utsmani ini adalah saat daulah ini dapat menaklukkan pusat peradaban dan pusat agama Nasrani di Bizantium, yaitu Konstantinopel. Konstantinopel adalah ibukota Bizantium dan merupakan pusat agama Nasrani. Ibukota Bizantium ini dapat ditaklukkan pada masa pemerintahan Sultan Muhammad II. Dia adalah Sultan Daulah Utsmaniyah yang ketujuh dalam rangkaian keluarga Utsman. Dia bergelar al-Fatih, yang berarti sang penakluk.

Sejak masa Dinasti Umayyah, berulangkali pasukan muslim berusaha menaklukan Konstantinopel, namun selalu gagal karena kokohnya benteng-benteng di kota itu. Bahkan Rasulullah saw. pernah memberi kabar gembira tentang penaklukkan Konstantinopel. Oleh karena itu, banyak para khalifah dan panglima-panglima perang berlomba-lomba untuk menaklukkan Konstantinopel. Rasulullah bersabda:, “Sungguh, Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan di tangan seorang laki-laki. Maka, sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan itu”. Usaha penaklukkan tersebut terus berlanjut hingga masa awal-awal pemerintahan Bani Abbasiyah, namun serangan itu tidak sampai ke kota Konstantinopel. Usaha-usaha penaklukkan kembali terurai pada masa Daulah Utsmaniyah, upaya penaklukkan dilakukan oleh Sultan Bayazid, dia dan pasukannya mampu mengepung Konstantinopel dengan kekuatan penuh pada tahun 786 H (1393 M). Pada saat yang bersamaan, datanglah pasukan Mongolia yang dipimpin oleh Timur Lenk. Maka, Sultan Bayazid terpaksa melepaskan pengepungan untuk menghadapi pasukan Mongolia. Pada pertempuran itu, Sultan Bayazid ditawan dan meninggal pada tahun 1402 M. Akibatnya, Daulah Utsmaniyah terpecah-pecah sampai beberapa waktu.

Ketika pemerintahan Daulah Utsmaniyah kembali stabil, pada masa pemerintahan Sultan Murad II terjadi beberapa penaklukkan Konstantinopel. Namun belum berhasil, berbeda kisah ketika penaklukkan ini dilanjutkan oleh sang putra beliau, yaitu Sultan Muhammad Al-Fatih. Sultan Al-Fatih ini sudah terbiasa melakukan pekerjaan-pekerjaan kesultanan pada masa ayahnya masih hidup. Beliau belajar dari kegagalan-kegagalan yang terjadi di masa sebelumnya. Sultan al-Fatih memegang kekuasaan pada tahun 855 H/ 1451 M, sejak kekalahan yang ayahnya dapatkan, Sultan al-Fatih bercita-cita untuk menaklukkan Konstantinopel dan berfikir keras bagaimana cara untuk menaklukkannya.

Sultan Muhammad al-Fatih memiliki pendidikan yang baik semenjak kecil. Para ulama telah membantunya untuk tumbuh dan berkembang dalam kecintaannya pada Islam. Dan menumbuhkan tekad kuat terhadap syariat Islam. Salah satu guru beliau adalah Syekh al-Kaurani, yang nama lengkapnya adalah Ahmad bin Ismail al-Kaurani.

Sultan Muhammad al-Fatih mengerahkan segenap kemampuannya dalam membuat perencanaan dan strategi untuk menaklukkan kota Konstantinopel. Dia berusaha keras memperkuat kekuatan militer Utsmani dari segi personel. Dia juga memerhatikan pelatihan pasukannya dengan berbagai macam seni perang dan berbagai persenjataan.Selain memerhatikan aspek lahiriyah pasukannya, Sultan al-Fatih juga menyiapkan mereka secara maknawi, menanamkan roh jihad pada diri mereka, serta mengingatkan mereka tentang pujian Rasulullah saw. terhadap pasukan yang menaklukkan Konstantinopel, dan bisa jadi merekalah pasukan yang dimaksud dalam hadits Rasulullah.

Sultan Muhammad al-Fatih sangat memerhatikan pengumpulan senjata yang dibutuhkan. Dan salah satu persenjataan yang paling penting adalah meriam. Hingga sultan pun mendatangkan seorang insinyur dari Hongaria yang bernama Orban. Dia sangat mahir dalam membuat meriam. Insinyur ini mampu mendesain dan membuat meriam yang sangat besar. Bahkan salah satu meriam buatannya yang paling penting adalah meriam sultan yang terkenal. Bobot meriam itu mencapai ratusan ton, dan dibutuhkan ratusan sapi untuk menariknya. Di sisi lain, Sultan al-Fatih juga memperkuat armada lautnya, serta memperbanyak jumlahnya dengan cara mendatangkan kapal-kapal dengan berbagai macam. Konstantinopel adalah sebuah kota maritim, yang tidak mungkin bisa dikepung tanpa adanya angkatan laut yang kuat, dan kapal yang dipergunakan untuk mengepung Konstantinopel berkisar empat ratus kapal.

Ketika Kaisar Bizantium melihat kerasnya tekat sultan, maka dia meminta bala bantuan ke negara-negara dan kota-kota di Eropa. Kaisar meminta bantuan kepada Paus di Roma dan raja-raja Kristen di Eropa. Padahal, gereja-gereja di Bizantium pada waktu itu mengikuti aliran Kristen Ortodoks. Sedangkan antara kedua belah pihak ini terdapat permusuhan yang hebat. Bahkan, para pengikut gereja Ortodoks tidak menghendaki hal itu. Paus mengirimkan utusannya ke Konstantinopel, utusan itu berpidato di gereja Aya Sophia dan mendoakan Paus Katolik, serta mendeklarasikan penyatuan dua aliran Kristen, yaitu Katolik dan Ortodoks. Sehingga hal ini membuat marah sebagian para pengikut gereja Ortodoks.

Konstantinopel dikelilingi oleh laut dari tiga sisi, yaitu Selat Bhosporus, Laut Marmara, dan Tanduk Emas yang dibentengi dengan rantai besar yang mampu menghalangi masuknya kapal-kapal dari luar. Di samping ada dua baris tembok yang mengelilinginya dari sisi daratan. Antara dua tembok itu ada ruang terbuka yang lebarnya mencapai 60 meter dan tembok bagian dalam tingginya mencapai 40 kaki. Di atas pagar itu terdapat menara-menara yang tingginya mencapai 60 kaki. Dan tembok bagian luar, tingginya mencapai 25 kaki. Lima belas kali usaha pasukan Islam untuk menaklukkan kota ini, namun selalu mengalami kesulitan. Karena betapa kokohnya tembok-tembok dan benteng pertahanan kota ini.

Sultan membangun jalan antara Edirne dan Konstantinopel untuk memudahkan mengangkut meriam Sultan ke Konstantinopel. Meriam itu dipindahkan dalam waktu kurun 2 bulan. Hingga pasukan Turki Utsmani dipimpin langsung oleh Sultan Muhammad al-Fatih sampai di dekat Konstantinopel pada hari kamis, 6 April 1453 M (26 Rabi’ul Awwal 857 H).

Sultan Muhammad al-Fatih mengumpulkan pasukannya, dan jumlah dari mereka semua mencapai 250.000 tentara. Sultan berkhotbah di hadapan mereka dengan khotbah yang menggelora, yang menganjurkan mereka untuk melakukan jihad dan meminta kemenangan atau mati syahid.

Pada hari berikutnya, Sultan al-Fatih membagi-bagi pasukan darat di depan tembok-tembok luar Konstantinopel. Pasukan itu dibagi menjadi 3 bagian utama, Sultan al-Fatih juga mempersiapkan pasukan cadangan di belakang pasukan utama itu. Sultan al-Fatih menempatkan meriam-meriam di depan tembok-tembok Konstantinopel, dan meriam Sultan yang dipasang di depan pintu Topkapi Palace.

Sejak hari pertama pengepungan, pertempuran kecil selalu terjadi. Pintu-pintu syahid terbuka lebar, banyak dari pasukan Turki mendapat kesyahidan, khususnya orang-orang yang diberi tugas untuk mendekati pintu-pintu benteng. Bala bantuan dari Eropa untuk pasukan Konstantinopel terus berdatangan. Seperti Kerajaan Genoa mengirimkan bala bantuannya. Dengan berupa 4 kapal perang dan 700 prajurit sukarela dari negara-negara Eropa. Sesampainya di sana, panglimanya yang bernama Gustinian ditetapkan menjadi panglima yang mempertahankann kota.

Pada tanggal 18 April, meriam Turki Utsmani mampu menembus tembok Bizantium di sisi barat kota. Tentara-tentara Utsmani menerobos masuk dengan penuh semangat dan keberanian. Mereka melewati tembok-tembok pembatas dengan menggunakan tangga-tangga yang dipasang di dinding benteng. Terjadilah perang hebat di antara kedua belah pihak.

Muncul sebuah pemikiran yang cerdas dari Sultan Muhammad al-Fatih, yaitu memindahkan kapal-kapal perang dari pangkalannya di Besiktas ke Tanduk Emas. Sultan al-Fatih memerintahkan untuk meratakan tanah yang akan dijadikan jalur pemindahan kapal-kapal. Kemudian didatangkan papan-papan kayu dengan dilumuri minyak dan diletakkan di atas jalan yang telah dibangun untuk dengan mudah menyeret kapal-kapal itu di atasnya. Lalu berjalanlah kapal-kapal itu dari Selat Bhosporus ke daratan. Hal ini menunjukkan kecerdasan orang-orang Turki Utsmani dan keterampilan mereka yang tinggi. Pemindahan kapal itu berlangsung selama satu malam. Pada pagi hari tanggal 22 April, penduduk Konstantinopel dikejutkan oleh suara takbir pasukan Turki Utsmani. Dan dikejutkan oleh kapal-kapal Utsmani yang sudah menguasai perairan Tanduk Emas.

Pada fase awal pengepungan, pasukan Turki Utsmani menggunakan cara yang menakjubkan, yaitu melakukan penggalian terowongan di bawah tanah dari tempat yang berbeda-beda ke dalam kota. Namun hal itu diketahui oleh pasukan Bizantium, hingga dapat digagalkan. Masih banyak lagi upaya yang pasukan Turki lakukan.

Pengepungan semakin bertambah kuat, hingga membuat ladang keputusasaan bagi orang-orang Bizantium. Pada 24 Mei, para pembesar Konstantinopel mengadakan pertemuan. Yang isi dari pertemuan itu adalah menyarankan agar Kaisar Konstantin melarikan diri sebelum Konstantinopel jatuh ke tangan Pasukan Turki Utsman, namun kaisar menolak.

Pada 25 Mei (16 Jumadil Ula), penduduk Konstantinopel mengarak patung Bunda Maria mengelilingi kota, mereka berdo’a dan meminta pertolongan. Namun di tengah jalan, patung Bunda Maria tiba-tiba jatuh dan hancur berkeping-keping. Mereka menandai itu dengan pertanda buruk. Pada hari selanjutnya, terjadi hujan lebat yang diiringi petir, dan petir itu menyambar gereja Aya Sophia.

Perundingan terakhir dilakukan Sultan Muhammad al-Fatih dengan mengirimkan surat kepada Kaisar Konstantin. Isi dari surat tersebut ialah bahwa sultan menawarkan jaminan keamanan untuk Kaisar Konstantine beserta keluarga, dan semua penduduknya yang setuju atas jaminan tersebut. Namun kaisar menolak, dan lebih memilih untuk tetap berperang.

Sultan Muhammad al-Fatih mengadakan pertemuan dengan Majelis Syura, yang di dalamnya terdiri dari anggota permusyawaratan, para panglimanya, juga para ulama. Sultan meminta pendapat jujur mereka masing-masing. Menteri Khalil Pasha mengusulkan untuk menarik mundur pasukan dan membatalkan penaklukkan, dengan alasan agar tidak ada pertumpahan darah. Oleh sebab itulah, Khalil Pasha dicurigai bersekongkol dengan Orang Bizantium. Sebagian yang hadir mendorong sultan untuk tetap menyerang, seperti yang diusulkan oleh Panglima Zughanus Pasha. Para ulama juga mendukung pendapat Zughanus, bahkan Sultan al-Fatih pun sangat bergembira saat mengungkapkan pendapatnya dan keinginannya untuk melanjutkan penyerangan.

Pada hari Ahad 27 Mei (18 Jumadil Ula), Sultan Muhammad al-Fatih memerintahkan kepada para tentaranya untuk menundukkan diri kepada Allah, membersihkan jiwa, serta mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan ibadah-ibadah seperti shalat. Pada hari berikutnya, persiapan-persiapan pasukan Turki Utsmani mencapai puncaknya, dan tembakan-tembakan meriam pasukan Utsmani terus menggempar benteng kota. Setiap melewati sekelompok pasukan, Sultan selalu berorasi dan membangkitkan semangat mereka. Para ulama kaum muslimin berkeliling di antara pasukan sambil membacakan mereka ayat-ayat jihad dan perang, serta surah al-Anfal.

Sultan al-Fatih berkhotbah sebagai berikut:“Apabila penaklukkan kota Konstantinopel berhasil kita taklukkan, maka hadits Rasulullah saw. telah menjadi kenyataan dan terbuktilah salah satu mukjizat beliau kepada kita. Dan kita akan mendapatkan kebaikan dari apa yang telah disebutkan hadits ini, yang berupa kemuliaan dan kehormatan. Oleh karena itu, sampaikanlah kepada para tentara satu persatu, bahwa kemenangan besar yang akan kita wujudkan itu akan menambah keluhuran dan kemuliaan Islam. Untuk itu, wajib bagi para tentara agar menjadikan ajaran-ajaran syariat kita yang bersih itu di depan matanya dan tidak boleh ada perbuatan yang dilakukan oleh salah seorang tentara yang menyelisihi ajaran-ajaran ini. Hendaklah mereka menjauhi gereja-gereja dan tempat-tempat ibadah, serta jangan mengusiknya. Dan hendaklah mereka membiarkan para pendeta, orang-orang yang lemah, dan orang-orang yang tidak mampu yang tidak turut serta berperang…”

Pada waktu yang sama, Kaisar Konstantin mengumpulkan manusia di dalam kota untuk melakukan do’a bersama. Pidatonya sangat menarik sehingga dapat membuat sedih orang-orang yang mendengarnya. Kaisar melakukan shalat terakhir di Gereja Aya Sophia. Lalu kaisar mengunjungi istananya, untuk yang terakhir kali. Dia mengucapkan selamat tinggal dan berjabat tangan dengan mereka. Kemudian, kaisar menghadap gambar yang diklaimnya sebagai Isa al-Masih.

Pada jam satu pagi, hari selasa 29 Mei 1453 M (20 Jumadil Ula 857 H), serangan besar-besar dilancarkan ke Konstantinopel. Mereka menuju tembok-tembok kota sambil mengumandangkan takbir. Penduduk Konstantinopel sangat ketakutan, bahkan tidak sedikit dari mereka berlindung di dalam gereja. Serangan dibagi menjadi beberapa titik yang berbeda-beda. Pada gelombang pertama pasukan Turki Utsmani, mereka menghujani tembok-tembok dengan meriam dan anak panah. Saat gelombang pasukan pertama mulai kepayahan, dikirimlah pasukan yang lainnya dengan menarik pasukan yang pertama. Gelombang pasukan kedua ini mampu mencapai tembok-tembok kota, dan mereka mendirikan tangga-tangga untuk bisa masuk ke kota. Setelah dua jam melakukan usaha itu, Sultan al-Fatih mengeluarkan komando untuk memerintahkan mereka beristirahat. Pada waktu yang bersamaan pula, sultan memerintahkan pasukan ketiga untuk melakukan serangan ke tembok-tembok.

Seiring munculnya fajar, pasukan Turki Utsmani mampu menemukan letak-letak musuh secara jelas. Setelah meriam-meriam berhenti, datanglah pasukan Janissaries yang dipimpin oleh Sultan Muhammad al-Fatih. Tiga puluh di antara mereka mampu memanjat tembok-tembok kota hingga mengejutkan pihak musuh. Mereka berhasil membuka jalan untuk memasuki kota melalui gerbang Topkapi dan mampu menancapkan panji-panji Utsmani di atas tembok kota.Panglima perang Gustinian terluka parah, yang menyebabkan dia lari dari perang. Akhirnya, Kaisar Konstantin menggantikan memimpin pasukan. Disaat yang sama, serangan yang dilakukan Sultan al-Fatih sedang gencar-gencarnya. Dan pada akhirnya, pasukan Turki Utsmani berhasil menembus Kota Konstantinopel melalui pintu gerbang Edirne dan mereka mengibarkan bendera Daulah Utsmaniyah di menara-menara benteng. Setelah kaisar melihat bendera-bendera yang berkibar, maka dia putus asa danmelepaskan pakaiannya sehingga ia tidak dikenali. Dia turun dari atas kudanya dan berperang sampai dia terbunuh di medan perang

Tersebarnya berita kematian Kaisar berpengaruh besar terhadap meningkatnya semangat pasukan Utsmani dan jatuhnya semangat orang-orang  Kristen yang mempertahankan diri. pasukan Utsmani berhasil memasuki kota dari berbagai arah, sedangkan pasukan Bizantium lari berhamburan. Sultan Muhammad al-Fatih membagi rasa bahagianya dengan para tentara, serta bersuka cita dengan kemenangan yang mereka raih. Tidak sampai waktu dzuhur pada hari selasa, 29 Mei 1453 M (20 Jumadil Ula 857 H), Sultan al-Fatih di tengah-tengah kota dengan dikelilingi para tentara dan panglimanya. Mereka berulang kali mengucap, “Masya Allah”.

Sultan mengucapkan kepada mereka atas kemenangan ini, dan sultan melarang mereka melakukan pembunuhan. Sultan al-Fatih menuju gereja Aya Sophia, di dalamnya terdapat para penduduk Konstantinopel beserta para pendeta. Para penduduk sangat ketakutan, namun Sultan Al-Fatih meminta para pendeta untuk menenangkan mereka dan menyuruh mereka pulang ke rumah masing-masing. Sultan Muhammad al-Fatih memerintahkan agar gereja Aya Sophia diubah menjadi masjid, agar pada hari Jum’atnya bisa digunakan untuk shalat Jum’at pertama kalinya. Sultan juga mengganti nama Konstantinopel menjadi Istambul, dan menjadikannya sebagai ibukota. Sultan Al-Fatih memberi kebebasan kepada orang-orang Kristen untuk melaksanakan acara-acara ritua agama mereka. Sultan memberi kebebasan kepada para pembesar gereja. Namun, sultan mengharuskan semuanya membayar Jizyah.

Sultan Muhammad al-Fatih memperlakukan penduduk Konstantinopel dengan kasih sayang. Bahkan memerintahkan para tentaranya untuk memperlakukan para tahanan dengan baik. Sultan berkumpul dengan para uskup dan menenangkan mereka dari ketakutan. Sultan Muhammad al-Fatih adalah sultan yang memiliki wawasan yang luas, yang memiliki suatu misi, akidah keagamaan yang kuat, kemanusiaan yang tinggi, dan keperwiraan yang sempurna. Aliran-aliran Kristen di bawah pemeriintahan Daulah Utsmaniyah telah mendapatkan seluruh hak-hak keagamaannya. Sultan al-Fatih menampakkan toleransi yang tinggi terhadap orang-orang Kristen, melainkan karena adanya dorongan untuk konsisten terhadap ajaran Islam yang agung dan mencontoh perilaku Rasulullah saw. dan para sahabat.

Oleh : Qurotul ‘Aini, Semester IV

Leave a Reply