Kepribadian Ummar bin Khattab

Kepribadian Ummar bin Khattab

Sebelum kita membahas bagaimana sifat kepribadian yang dimiliki oleh Umar bin Khattab, terlebih dahulu mari kita kenali sekilas bagaimana kehidupan dan keadaan beliau sebelum masuk Islam dan setelah memeluk agama Islam.

Imam an-Nawawi berkata: Umar lahir pada tahun ke-13 setelah peristiwa tahun Gajah. Umar termasuk orang yang paling mulia di kalangan Quraisy. Masalah-masalah yang menyangkut diplomasi pada zaman jahiliyah diserahkan kepada Umar, jika terjadi peperangan antar kabilah maka Umar akan diutus sebagai penengah.

Sebelum memeluk agama Islam, Umar bin Khattab merupakan sosok yang sangat disegani dari kaum Quraisy selain Abu Jahal, kedua orang inilah yang sangat di sanjung-sanjung oleh kaum Quraisy .

Di saat terjadi perpecahan Umar selalu diutus sebagai penengah diantara mereka karena ia merupakan orang yang pandai berdiplomasi dan pintar dalam segi membaca. Semua sifat yang dimiliki Umar saat sebelum masuk Islam, beliau membawanya ketika memeluk agama Islam, dan semua kecerdasan itu digunakannya untuk membela agama Allah swt.

Sayyidina Umar masuk Islam saat beliau berumur 27 tahun, disaat itu juga banyak sahabat nabi yang senang dengan kabar masuknya Sayyidina Umar dalam agama Islam. Ini semua merupakan nafas baru yang dimiliki oleh Sayyidina Umar sebelum memeluk agama Islam, beliaulah penghalang yang sangat berpengaruh dalam penyebaran agama Islam.

Masuknya Sayyidina Umar ini tidak luput dari doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah saw. kepada Allah swt., yang artinya. “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah seorang dari Amr bin Hisyam atau Umar bin Khattab”. Sayyidina Umar merupakan orang yang sangat pemberani dan tegas sehingga Rasulullah saw. berdoa agar ia masuk Islam, dan Allah swt. mengabulkan doa Rasul dengan masuknya Sayyidina Umar dalam agama Islam.

Mendengar kabar bahagia tersebut membuat kaum kafir Quraisy menjadi semakin resah dan gelisah akan menyebarnya agama Islam yang semakin cepat dengan masuknya orang-orang yang berpengaruh dari kaum kafir Quraisy. Masuk Islamnya Umar membuat Islam semakin kuat dan penyebaran Islam mulai dengan tegas dan terang-terangan.

Ketika Sayyidina Umar sudah memeluk agama Islam, beliau mengumpulkan semua orang di depan Ka’bah (Hijr) dan memproklamirkan bahwa dirinya telah berpindah agama. Semua yang dilakukan Sayyidina Umar saat di depan orang di Ka’bah ketika menyatakan keislamannya, hal itu juga yang dikatakan kepada para pemimpin Quraisy termasuk Abu Lahab dan Abu Jahal.

Bukan hanya itu, beliau menampakkan keberaniannya dan ketegasannya di mana ketika umat Islam melakukan hijrah secara diam-diam dikarenakan siksaan yang semakin menjadi, yang dilakukan kaum Quraisy kepada Umat Islam Makkah. Hanya Sayyidina Umar lah yang berani menyampaikan kepada semua penduduk Makkah bahwa beliau ingin melakukan saat hijrah saat itu dengan menghunus pedang dari sarungnya. Beliau berjalan sambil berkata: “Saya ingin hijrah, siapa yang ingin istrinya jadi janda, suaminya jadi duda dan anaknya menjadi yatim maka hentikanlah saya saat ini”.

Sifat inilah yang selalu ditampakkan oleh Sayyidina Umar dalam membela agama Islam. Namun semua itu tidak menjadikan beliau seorang yang tidak penyayang dan tidak lemah lembut. Beliau juga penyayang, lemah lembut, sedangkan ketegasannya hanya jika ada kedzaliman yang terjadi. Sifat ini juga ia terapkan ketika beliau menjabat sebagai khalifah, ketika ada orang yang meminta keadilan kepadanya, selalu dipenuhi permintaan itu. Walaupun orang yang meminta keadilan itu bukan dari golongan muslim.

Di balik ketegasan yang dimiliki Sayyidina Umar mengenai zakat, dilakukan guna mengetahui siapa yang lebih membutuhkan zakat, maka Sayyiidina Umar melakukan kegiatan mengelilingi rumah rakyatnya pada malam hari. Sampai Sayyidina Umar menemukan seorang ibu yang menyalakan api, namun Sayyidina Umar heran dengan yang dimasak ibu tersebut adalah batu.

Melihat semua itu Sayyidina Umar lari ke Baitul Mal untuk mengambil dari sebagian simpanan makanan untuk diberikan kepada ibu tersebut, di saat Umar sedang memanggul gandum, datang ajudannya untuk menggantikan Sayyidina Umar membawa bahan makanan itu. Namun Sayyidina Umar menolak semua bantuan itu dan membawanya sendiri.

Ini menunjukkan bagaimana sikap kepribadian yang tegas dan adil yang selalu ditunjukkan oleh Sayyidina Umar dalam kehidupan sehari-harinya. Umar lebih mementingkan rakyatnya daripada istri dan keluarganya.

Pada saat itu terjadi kelaparan yang parah pada Jazirah Arab, dan masa itu terjadi pada masa Umar bin Khattab, masa itu banyak umat Islam yang kelaparan, kekeringan melanda dimana-mana. Masa itu dikenal dengan sebutan tahun ar-Ramadah atau tahun abu.

Beliau selalu mengelilingi kampung untuk memberikan bantuan kepada rakyatnya. Sehingga beliau membagikan semua harta di Baitul Mal untuk masyarakat yang membutuhkan. Umar bersama istri dan keluarganya memakan cuka dan minyak, sehingga tampak hitam wajahnya yang dulu putih, badannya pun mulai kurus kering.

Namun semua yang dialaminya itu tidak membuatnya lebih mengutamakan dirinya dan keluarganya daripada rakyatnya. Inilah sifat yang dilakukan Umar ketika menjabat sebagai khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Selama beliau menjabat sebagai khalifah, beliau hanya menggunakan satu buah baju saja, di mana baju itu memiliki 12 tambalan. Pernah beliau ditawari untuk membeli baju namun Umar menolak dan lebih memilih memakai baju yang banyak tambalan.

Begitu juga ketika beliau menjabat sebagai khalifah, beliau tidak pernah mengambil gajinya. Akan tetapi semua uang yang beliau terima ketika memimpin diserahkan kepada Baitul Mal untuk membantu umat Islam yang membutuhkan.

Inilah yang selalu menjadi panutan umat Islam saat itu, sehingga umat Islam segan akan Umar dan taat atas kepemimpinannya. Inilah yang seharusnya selalu terus dicontoh dan diterapkan oleh para pemimpin saat ini.

 

Oleh : A. Hanan, Semester VI

Leave a Reply