Belajar Bersahabat; Petunjuk Nabi Agar Menjadi Pribadi Menarik dan Menyenangkan

Belajar Bersahabat; Petunjuk Nabi Agar Menjadi Pribadi Menarik dan Menyenangkan

 Agar kawan-kawan dicintai oleh sesama, mulailah dengan memperbaiki diri sendiri dan memberikan kesan baik kepada orang lain. Dalam berteman, mulailah sesuatu dengan mengucapkan salam. Di dalam bersahabat dan bersaudara kita harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  • Membantu kebutuhannya
  • Memaafkan kekhilafan
  • Kesetiaan dan keikhlasan
  • Meringankan beban, tidak membebani atau terbebankan

Di dalam pergaulan umum, etika yang harus kita lakukan adalah :

  • Menepati janji
  • Bersikap santun
  • Rendah hati
  • Bermusyawarah
  • Bertetangga dengan baik
  • Membantu sesama

Beberapa sikap yang membuat kita tidak disenangi ada beberapa hal :

  • Menggunjing dan mengadu domba
  • Berbohong
  • Suka marah
  • Dengki
  • Sombong

Khalifah Ali ibn Abi Thalib berpesan kepada putranya, Al-Husain, “Anakku, bertakwalah kepada Allah, saat kau sendiri maupun saat kau ada di keramaian. Bertutur baiklah di saat tenang maupun emosi. Berhematlah ketika kaya maupun miskin. Adil di saat semangat maupun malas. Ridha atas karunia Allah di saat suka maupun duka.

Anakku, keburukan akan berubah jika diakhiri surga. Kebaikan tak lagi baik jika diakhiri neraka. Semua kenikmatan diluar surga adalah kehinaan, dan semua kesengsaraan diluar neraka adalah kebaikan.

Anakku, ada orang yang punya aib tapi sibuk dengan aib orang lain. Barang siapa rela dengan karunia Allah, ia tak akan terluka jika tak berhasil memperoleh sesuatu. Orang yang menghunus pedang secara dzalim akan terbunuh oleh pedangnya. Barang siapa menggali sumur untuk mencelakai saudaranya, ia sendiri yang akan terperosok. Barang siapa membuka rahasia orang lain maka rahasianya akan tersingkap. Barang siapa lupa pada kesalahan dirinya, ia akan mambesar-besarkan kesalahan orang lain. Barang siapa memperumit masalah, ia akan pusing sendiri. Barang siapa terlampau berani mengarungi lautan, ia akan tenggelam. Barang siapa mengagumi pendapatnya sendiri, ia akan sesat. Orang yang terlalu mencintai akalnya akan sengsara.

Siapa yang sombong terhadap orang lain, ia akan sengsara. Siapa yang bergaul dengan bajingan, ia akan terhina. Siapa yang bergaul dengan ulama, ia akan mulia. Siapa yang terlalu banyak bercanda, ia akan diremehkan. Siapa yang membodohi orang lain, ia akan dicaci maki. Siapa yang menapaki kejahatan, ia akan menjadi tertuduh. Siapa yang berlebihan dalam satu hal, ia akan dikenal dengan hal itu.

Orang yang banyak bicara, banyak pula kesalahannya. Orang yang banyak salah sedikit malunya. Orang yang sedikit rasa malu, menjadi tidak peka. Orang yang tidak peka, berarti hatinya mati. Orang yang hatinya mati, akan masuk neraka.

Barang siapa mengetahui aib orang lain namun membiarkan dirinya sama dengan orang itu, sungguh ia sangat bodoh. Orang cerdas akan punya wibawa, orang yang punya wibawa akan dihormati oleh masyarakat, orang yang dihormati oleh masyarakat akan selamat. Barang siapa meninggalkan dengki, ia akan disukai oleh banyak orang.

Kemuliaan seorang mukmin terletak pada ketidaktergantungan kepada orang lain. Sifat rela hati adalah harta yang tiada bandingannya. Barang siapa sering mengingat akhirat, maka ia akan puas dengan sedikit karunia yang dia dapatkan di dunia. Barang siapa sadar bahwa ucapannya adalah perbuatan, maka ia tidak banyak bicara kecuali yang bermanfaat.

Anehnya, ada orang yang takut terhadap siksa namun ia tidak menghentikan kelakuannya, dan berharap pahala namun tidak beramal. Zikir adalah cahaya dan lalai adalah kegelapan. Orang yang bahagia orang yang dapat menasehati orang lain. Sopan-santun adalah warisan terbaik, dan orang terbaik adalah teman yang baik.

Anakku, jika kau memutuskan silaturrahmi maka kau tidak akan maju. Andai kau tidak sopan, kau tidak akan memperoleh kekayaan. Anakku, kesehatan itu ada sepuluh bagian: Sembilan di antaranya ada pada sikap diam, kecuali ketika dzikir kepada Allah swt. Dan satu bagian yang tersisa adalah menjauhi pergaulan dengan orang-orang bodoh.

Barang siapa menghias diri dengan maksiat, Allah akan memberinya kehinaan. Barang siapa menuntut ilmu, maka ia akan mendapat pengetahuan. Puncak kepandaian seseorang tercermin pada kebaikan perilaku, dan tanda orang tak berilmu tercermin pada sikapnya yang tidak dewasa. Di antara harta karun keimanan adalah kesabaran atas petaka. Menahan nafsu adalah hiasan kemiskinan dan syukur adalah hiasan kekayaan.

Anakku, terlalu sering berkunjung akan menimbulkan kebosanan. Ketenangan dan pengalaman akan menanggulangi rasa khawatir. Kekaguman terhadap diri sendiri adalah bukti kepicikan. Betapa banyak pandangan mata berujung pada penyesalan dan betapa banyak ucapan merampas kenikmatan. Tiada kemuliaan melebihi Islam. Tiada penghormatan melebihi kemuliaan takwa. Tak ada yang lebih masuk akal selain menjauhi dosa. Tiada perantara syafa’at yang paling ampuh selain tobat. Tidak ada pakaian lebih indah selain kesehatan. Tak ada harta yang ampuh untuk mengusir kemelaratan selain ridha.

Barang siapa pandai mengelola rizki maka ia akan bisa istirahat dengan tenang. Kebaikan adalah kunci ketentraman. Kebajikan awalnya melelahkan, tapi ia bisa membawa pada kemuliaan dan penebus dosa. Melatih diri, jangan sampai memiliki sesuatu yang dibenci dari orang lain. Terhadap sesama mukmin harus melindungi, sebagaimana melindungi diri sendiri.

Barang siapa terlibat dalam urusan yang belum ia pahami, maka bersiap-siaplah menerima kenyataan pahit. Membuat perencanaan sebelum bekerja akan menyelamatkan diri dari penyesalan. Barang siapa menghargai pendapat orang lain, ia akan semakin tahu di mana letak kesalahan. Kesabaran adalah tempat berlindung dari kemiskinan, sedangkan kikir adalah pembawa kemiskinan, sebagaimana sifat rakus akan membawa pada kemiskinan. Datang dengan tangan kosong lebih baik daripada datang dengan tangan penuh, tapi bersikap kurang ajar. Segala sesuatu ada makanannya, dan anak Adam adalah makanan bagi kematian.

Jangan buat seorang pendosa berputus asa. Betapa banyak pecandu dosa telah mengakhirinya dengan kebaikan, dan betapa banyak pekerja baik yang mengakhiri pekerjaan dengan kebobrokan. Barang siapa mempermudah segala urusannya, maka semua masalahnya akan dirasa ringan. Dalam perlawanan terhadap hawa nafsu terdapat kedewasaan.

Bergembiralah orang yang ikhlas dalam berbagi ilmu dan amalnya. Cinta dan amarahnya, bicara dan diamnya. Bergembiralah orang alim yang mendapat cukup ilmu, dan ketika bekerja ia bersungguh-sungguh. Jika ia merasa khawatir terhadap bencana maka ia mempersiapkan diri. Bila ditanya ia akan menjawab dengan jelas. Bila ditinggalkan ia akan diam. Setiap ucapannya adalah kebenaran.

Celakalah orang yang tertimpa kekurangan, ketertinggalan, ketidaktaatan, menganggap baik apa yang dilihat oleh orang lain buruk, serta memaksa orang lain melakukan apa yang ia lakukan.

Barang siapa bertutur kata lembut maka berhak mendapat cinta. Barang siapa tak punya kemurahan hati dan rasa malu, maka dia lebih baik mati. Kepribadian seseorang tak akan sempurna sebelum ia tidak mempedulikan pakaian yang ia kenakan dan makanan yang ia konsumsi.

  • Hadapilah orang mukmin dengan hatimu, dan hadapilah orang kafir dengan akhlakmu (Ali ibn Abi Thalib)
  • Seberapa besar cintamu kepada Allah, sebesar itu pula cinta orang lain kepadamu. Sebesar ketakutanmu akan murka Allah, sebesar itu pula keseganan orang lain terhadapmu. Sebesar kesibukanmu karena Allah, sebesar itu pula orang lain akan sibuk untukmu. (Al-Mughirah ibn Syu’bah)
  • Barang siapa menasehati saudaranya secara tertutup, ia telah berhasil menasehati dan meluruskannya. Barang siapa menasehati saudaranya secara terbuka, ia telah mempermalukan dan merendahkannya. (Imam Syafi’i)
  • Pandangan penuh cinta dan kasih sayang seseorang kepada saudaranya adalah ibadah. (Al-Fadhil)
  • Ilmu diperoleh dengan belajar, sedangkan kasih sayang didapat dengan kesantunan. (Sabda Rasulullah Saw.)
  • Kebutuhan yang tak terpenuhi lebih baik daripada memintanya kepada orang yang salah. (Ali ibn Abi Thalib)
  • Seorang bijak ditanya, “Adakah yang lebih baik dari emas dan perak?” ia menjawab, “Ada, orang yang memberikannya.”

 Wallahu a’lam semoga bermanfaat.

Judul Buku                              : Belajar Bersahabat  (Petunjuk Nabi Agar Menjadi Pribadi Menarik dan Menyenangkan)

Penulis                                     : Ahmad Mahmud Faraj

Penerbit                                   : Zaman

Jumlah Halaman               : 208

Diresume oleh Rahmat Santoso

 

Leave a Reply