Perjalanan 63 Cinta

Perjalanan 63 Cinta

Yudhistira ANM Massardi, sastrawan, wartawan, lahir di Subang (Jawa Barat) pada 28 Februari 1954. Karya novelnya, antara lain, trilogi Arjuna Mencari Cinta (1977-1982) terpilih sebagai Bacaan Remaja Terbaik 1977 oleh Yayasan  Buku Utama Kemndikbud. Buku kumpulan puisinya: Rudi Jalak Gugat (1982), Sajak Sikat Gigi (terbit sebagai buku,1983) terpilih sebagai kumpulan puisi terbaik 1977 oleh Dewan Kesenian Jakarta. Dan 99 Sajak (2015) memenangkan penghargaan sebagai buku kumpulan puisi terbaik2015 dari Yayasan Hari Puisi Indonesia, dan juga terpilih sebagai Buku Kumpulan Puisi terbaik  oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud pada 2016.

Pada tahun 1972-1974 Yogyakarta sedang kuyup oleh kata-kata.

Ahli Filsafat Pater Dick Hartoko menatap fenomena tersebut dengan takjub. Ia mengatakan:

“Jangan-jangan hujan kata-kata adalah gejala dari kelahiran era renaissance.” Era renaissance akan selalu ditandai berbagai perubahan, yang ujungnya akan termonumenkan temuan-temuan. Pada perkembangan lanjut, khusus yang terjadi di Yogyakarta,  redaktur majalah kebudayaaan “Basis” itu menduga, perubahan pemikiran akan terjadi dalam bidang kebudayaan, yang mengerucut kepada sastra (dan seni rupa).

Lalu terlihatlah kenyataan itu. Beberapa sudut kota Yogyakarta dijadikan tempat berkumpul para budayawan dan peminat kebudayaan, serta seniman dan calon seniman. Di Bulakasumur para mahasiswa sastra dan filsafat pada malam-malam berkumpul di kedai-kedai, membuka masalah yang tak jelas lubuk rimbanya dalam arena colloquium atau diskusi. Meski akhirnya mengerucut pada pergunjingan eksistensi manusia dalam konteks budaya, dengan landasan kepercayaan cogito ergo sum.

Di jantung Malioboro para penyair, calon penyair, dan penyuka syair berkutat pikiran bersama biangnya, Umbu Landu Paranggi. Seniman asal Sumba itu menstimulus anak-anak muda untuk menciptakan puisi dengan spirit pasang badan dan spirit pasang hati berani, dengan mencontoh keberhasilan Kuntowijoyo, Suwarno Pragolapati, Korie Layun Rampan, Linus Suryadi AG, dan Emha Ainun Najib.

Di kawasan jalan Wates, di warung kopi gula batu Pak Wongso, menjelang tengah malam sampai subuh, selalu berkumpul para pelaku seni rupa. Berbagai wacana terobosan ditawarkan, untuk kemudian dikoreksi, atau malah dilawan. Seni rupa bukan karya tangan dan mata saja, tetapi juga hasil olahan hati dan kepala. Begitu banyak perupa bicara. Itu sebabnya, di warung Pak Wongso bergabung seniman berbagai bidang. Novelis Ashadi Siregar, dramator Adi Kurdi dari bengkel Teater WS Rendra; Landung R. Simantupang tak jarang ada di sini.

Persis di sebelah kanan Gedung Agung-Istana Presiden Yogyakarta-terdapat Galeri Seni Sono (sekarang sudah tidak ada lagi). Di depan halaman galeri itu menjulur pagar panjang melengkung hampir seprempat Lingkaran.  Di situlah setiap malam puluhan budayawan, seniman, termasuk pendalam ilmu filsafat (dari gardu Bulaksumur, Malioboro, Pak Wongso) duduk-duduk. Mereka bergunjing, bertukar pikiran, bersilang pengetahuan, untuk menjauhi purus putus. Atau profesional yang cupet, begitu asyiknya mereka berkumpul, sehingga patung Monumen Sebelas Maret yang bergelora di hadapanya, lupa disimak oleh tatapan mata.

Yogykarta kuyup dengan kata-kata. Pada situasi itulah Yudhistira ANM Massardi atau Yudhis memulai karier sastranya. Pada suasana pra renaissance Yogyakarta itulah Yudhis menghidupkan api kepenyairannya.

Yudhis pada waktu itu belum berusia 20 tahun. Ia masih tercatat sebagai pelajar SMA. Di Yogyakarta. Sekali waktu Ia datang ke kelompok-kelompok ngobrol di Bulaksumur, Malioboro, Pak Wongso, dan trotoar Senisono. Di situlah remaja ini menguping, sambil bertanya dengan suaranya yang Khas: wungkul dan dalam.  Katanya dalam bahasa jawa yang rada kaku, lantaran ia kelahiran subang, Jawa Barat. Pertanyaan-pertanyaannya yang mengganggu dan sikapnya yang gaul menyebabkan ia memiliki banyak teman.

Syahda pada jam-jam pulang sekolah, atau hari libur, Yudhis sering membawa kertas yang tergulung di tangan. Kemana ia pergi, gulungan itu di genggam ringan. Sebagian orang tahu bahwa yang dibawa itu adalah kertas kosong yang siap diketik di mesin ketik pinjaman.

Sejumlah karib bersaksi, Yudhis termasuk penulis yang punya mata banyak. Pasalnya, meripat kesastraannya mampu melihat segala hal untuk dijadikan objek tulisannya,dalam cerpen,esai, atau puisi.

Ini yang terpenting, Yudhis tahu saja di mana dan kapan ada mesin ketik sedang menganggur, untuk ia pinjam sedilit (sebentar). Dan yang ajaib, apa yang ia ketik selalu tersulap menjadi naskah final, dengan kriteria “siap muat“.

Semangat berkarya Yudhis sejalan dengan semangat generasi tahun1970-an yang menggebu-gebu membuat sesuatu yang baru. Apabila dalam seni rupa muncul wacana menolak atau mengejek gaya seni lama yang mengacu pada realism atau naturalism, seraya melahirkan seni abstrak atau pun seni rupa multi-media, begitu pula dalam seni puisi. Karena itu puisi cinta asmara yang pada waktu itu banyak berkibar di rubrik remaja Koran setara di majalah  pop, yang banyak di kecam penyair mazhab Yogyakarta

Itu puisi picisan. Itu puisi latihan. Itu sastra kurang pikiran. Tidak punya bobot sosial dan filsafat. Tidak mengandung renungan kehidupan.

Sastra era pra-rennaissance yang riuh dan gemuruh di Yogyakarta memang tidak memberi kesempatan pada kecengengan. Meskipun mereka percaya dengan ungkapan bahwa “Siapapun yang sedang jatuh cinta akan menjadi seorang penyair.”

Sementara puisi yang dianggap baik pada massa ini adalah yang bersifat filosofis dan rada-rada obscure. Sedangkan yang dianggap segar dan bernilai kesezamanan adalah puisi M. Beling Remy Sylado, seperti Sundanologi 1973 di bawah ini.

Orang Jawa Timur

adalah Orang Jawa

Orang Jawa Tengah

adalah Orang Jawa

Orang Jawa Barat

tak mau disebut Jawa

Palaina naon atuh neng?

Yudhis yang lahir di tengah mazhab Yogyakarta 1970-an juga berpendapat seperti  itu. Karena puisinya, yang pada kemudian hari ditunjukan dalam Biarin (1974) dan sajak Sikat Gigi (1975), terasa ugal-ugalan sehingga hadir sebagai ikon era perubahan.

Namun dalam sejumlah pembicaraan, dan (mungkin) dalam sejumlah manuskrip yang ia simpan, romantisme pemuda yang baru bangun dari remaja, tetap dan tetap bersinar dalam benaknya. Kehalusan rasa, deru-dendam gairah muda, sentimentalitas dan kesenduan, keharuan dan air mata , hadir dalam banyak puisinya, dengan berbagai metafora yang menyimpan kelembutan.

Gelontoran wacana ala Yogyakarta memang menyuruh dia mengernyit dahi bak filosof. Mengepalkan tangan bak pendemo jalanan, mendalami metafisika untuk menemukan seribu rahasia. Atau mengawasi gerak-gerik kehidupan, sehingga menyadari keseimbangan. Diskursus Yogyakarta ini semakin menjadi jadi ketika ia pindah ke Jakarta, tempat ia menjadi sejarah. Di kota itu ia bergabung dengan komunitas-komunitas kebudayaan dan kesenian metropolitan yang begitu progressif, tetapi tidak menngeserkan jiwa syahdu Yudhis.

Sampai berpuluh tahun kemudian di era itu, ia tetap mampu berjalan tenang dan pelan seraya berburu bulan, mencuri cahaya, mencegat matahari, memandang pohon-pohon menghormati oksigen, dan menyusuri jalan sungai bening ke muara.

Di tebaran kata rampok,  dosa, mencang-mencong, badut politik, penyakit, haram, brengsek, muncul kata-kata rembulan, hujan, poci, camar, matahari, mawar, burung,embun. Kemunculan itu disertai tindak-tinduknya yang tak surut menatapi wanita yang ditetapkan sebagai kekasih hatinya.

Maka, hadirlah kata-kata “sayangku & cintaku” dalam banyak karya-karyanya. Jenis kata yang entah mengapa dianggap oleh khzanah sastra Indonesia dianggap cengeng dan murah, sehingga disingkirkan dan dikategorikan sebagai bagian tertabu dari puisi bermutu.

Namun ia berpendapat bahwa pilihan kata tidak bisa dipengaruhi wacana, seperti musik dangdut, puisi adalah seni yang murni dipakai sebagai alat ekspresi. kata-kata adalah instrumen yang menghasilkan bunyi-bunyian, makna, dan keindahan. Dan perhatikan lah petikan puisi nya dan kata “cintaku”

Kumau, cintaku

Menyematkan bintang pada bibirmu

Agar lidahku tak kehilangan cahaya

Saat menyusuri sungai madu dalam rekahmu

                    Kumau, cintaku

                    Matahari terbit di celah dadamu

                    Agar kegelapan birahiku meleleh di situ

                    Saaat seluruh kota tercekam oleh gemuruh hujan

            ……….

(“Kumau, Cintaku”)

Kata-kata sayangku, cintaku, kekasihku, belahan hatiku bukanlah kata-kata yang menyimpan dosa. Tetapi justru merupakan bagian dari ekspresi estetik yang menyembur dari perasaan paling alamiah. Yang penting adalah perkaranya: di mana dam kapan kata-kata itu di beri kesempatan menari di panggung puisi.

“Perjalanan 63 Cinta”  ini merupakan kumpulan puisi cinta pilihan yang di tulis sejak 2002 hingga 2016. Karya ini bersifat biografis karena sekaligus merupakan catatan perjalanan hidup dan perjalanan cinta penyairnya. Angka 63 tentulah istimewa karena angka 63 menunjukan usianya, tepat ulang tahunnya, 28 Februari 2017.

Pilihan Yudhis atas angka 63 pastilah didasari perhitungan pribadi. Menyimak dari isi puisi yang sebagian besar “mengkultus” sang istri yang cantik dan mulia, Apriska Hendriyany atau Siska. Angka ini mengindikasikan rasa bahagia Yudhis yang berkepanjangan, rasa syukur yang tak kenal waktu.

Membaca puisi-puisi Yudhis dalam buku ini kita dikondisikan seperti sedang mencuri-baca buku harian orang lain. Asyik, buru-buru, dan deg-degan. Subjektif tautanya, namun universal isinya. Bagi Yudhis yang sampai aki-aki masih memahami centang perentang dunia pop-puisi adalah cara untuk bicara. Bukan gumpalan bahasa yang sok menyimpan rahasia.

Dan di dalam karya nya ini di  sisipi gambar-gambar yng menjadi ilustrasi di dalamnya Yudhis mengatakan bahwa dirinya berani melukis karena adanya keinginan untuk menambah wilayah kreatif baru, sebagai alternative dari wilayah sastra dan jurnalistik yang selama ini ia geluti. Penjelajahan kreatif kedunia bidang garis-warna ini menurutnya adalah sebuah eksperimen untuk mencoba berekspresi secara lain.

“Semoga gambar-gambar saya menyenangkan orang termasuk Mas Bro!” katanya, dan memang itu lah tujuan kesenianya.

Judul Buku                 : Perjalanan 63 Cinta

Penulis                        : Yudhistira ANM Massardi

Penerbi                       : Kepustakaan Umum Gramedia

Jumlah Halaman        : 135

Diresume oleh Muhammad Ainun Nafia

Leave a Reply