Peradaban Islam pada Masa Mongol
Ma’had Aly – Asal-usul Bangsa Mongol
Bangsa Mongol berasal dari daerah pegunungan Mongolia yang membentang dari Asia Tengah sampai Siberia Utara, Tibet Selatan, dan Manchuria Barat, serta Turkistan Timur. Dalam kehidupan bangsa Mongol ini sangat sederhana. Mereka mendirikan kemah-kemah dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, mengembala dan hidup dari hasil dari hewan buruan. Orang Mongol berwatak kasar, suka berperang, dan berani menghadapi maut untuk mencapai keinginannya. Positifnya, mereka sangat patuh kepada pimpinannya.[1]
Dan agama bangsa Mongol adalah Syamanisme, mereka menyembah kepada arwah, terutama roh jahat yang dapat mendatangkan bencana, mereka jinakkan dengan sajian-sajian, di samping itu mereka sangat memuliakan arwah nenek moyang yang dianggap masih berkuasa mengatur hidup keturunannya[2].
Serangan Bangsa Mongol yang Terkenal
Genghis pimpinan bangsa Mongol yang pertama sekali yang diketahui adalah ayah Genghis Khan yang nama aslinya Temujin, seorang pandai besi yang mencuat namanya karena perselisihan yang dimenangkannya melawan Ong Khan atau Togril, seorang kepala suku Kereyt. Genghis Khan sebenarnya adalah gelar bagi Temujin yang diberikan kepadanya oleh sidang kepala-kepala suku Mongol yang mengangkatnya sebagai pimpinan tertinggi bangsa itu pada tahun 1206 M, atau juga disebut Genghis Khan, ketika berumur 44 tahun.
Dan bangsa yang dipimpinnya meluaskan wilayah mereka ke Tibet dan Cina, pada tahun 1213 M, serta dapat menaklukkan Beijing pada tahun 1215 M. Dan dia menundukkan Turkistan tahun 1218 M yang berbatasan dengan wilayah Islam, yakni Khawarizm Syah. Invasi Mongol ke wilayah Islam ini terjadi karena ada peristiwa Utrar tahun 1218 M, yaitu ketika Gubernur Khawarizm membunuh para utusan Genghis yang disertai juga oleh para saudagar muslim. Karena peristiwa itu Mongol menyerbu wilayah Islam, dan dapat menaklukan Transoxania yang merupakan wilayah Khawarizm, pada tahun 1219-1220 M, padahal mereka hidup berdampingan secara damai satu sama lain.
Kemudian mereka masuk Bukhara, Samarkand, Khurasan, Quzwain, Hamadzan, dan sampai ke perbatasan Irak. Di Bukhara, ibukota Khawarizm, mereka kembali mendapatkan perlawanan dari Sultan Alauddin, tetapi mereka mudah dapat mengalahkan pasukan Khawarizm dan Sultan Alaudin tewas dalam pertempuran di Mazindaran. Ia digantikan putranya, Jalaludin yang kemudian melarikan diri ke India karena terdesak dalam pertempuran di dekat Attock pada tahun 1224 M. Dari sana pasukan Mongol melaju ke Azerbaijan. Di setiap daerah yang dilaluinya, pembunuhan besar-besaran terjadi. Bangunan dihancurkan sehingga tidak berbentuk lagi, demikian juga isi bangunan bernilai sejarah dihabisi, sekolah, masjid dan gedung lainnya pun dibakar.
Kota Bukhara di Samarkand yang di dalamnya terdapat makam Imam Bukhari, salah seorang perawi hadist yang termasyhur juga dihancurkan. Balkh dan kota-kota lainnya yang mempunyai peradaban Islam yang tinggi di Asia Tengah juga tak luput dari kehancuran. Jalaludin, penguasa Khawarizm yang berusaha meminta bantuan kepada Khalifah Abbasiyah di Baghdad, menghindarkan diri dari serbuan Mongol, ia diburu lawannya sampai ke India tahun 1221 M. Dan akhirnya ia lari ke barat. Toluy, salah seorang anak Genghis yang diutus ke Khurasan, sementara anak yang lain, yakni Juchi dan Chatai bergerak untuk merebut wilayah sungai Sir Darya bawah dan Khawariz.[3]
Saat kondisi fisiknya mulai lemah, Genghis Khan membagi wilayah kekuasaannya menjadi empat bagian kepada empat orang putranya, yaitu Juchi, Chagatai, Ogotai, dan Toluy.[4]
Wilayah kekuasaan Genghis Khan yang luas itu dibagi untuk empat orang putranya sebelum dia wafat tahun 624 H/1227 M. Pertama, Juchi, anak yang sulung mendapatkan wilayah Sibrina bagian Barat dan Stepa Qipchaq yang membentang hingga ke Rusia Selata, didalamnya terdapat Khawarizm. Namun, ia meninggal sebelum wafat ayahnya, Genghis, dan wilayah warisannya diberikan kepada anak Juchi yang bernama Batu dan Orda. Batu mendirikan Horde (kelompok) biru di Rusia Selatan sebagai pilar dasar berkembangnya Horde keemasan (golden horde). Sedangkan Orda mendirikan Horde putih di Siberia Barat. Dan kelompok itu bergabung pada abad 14 M kemudian muncul sebagai Kekhanan (kepemimpinan) yang berbagai macam ragamnya di Rusia, Siberia, dan Turkistan, termasuk di Crimea, Astrakahan, Qazan, Kosimov, Tiumen, Bukhara dan Khiva. Syaibaniyah atau Ozbeg, salah satu cabang keturunan Juchi berkuasa di Khawarizm dan Transoxania pada abad 15 dan 16 M.
Kedua, Chagatay mendapat wilayah yang membentang ke timur, sejak dari Transoxiania hingga Turkistan Timur atau Turkistan Cina. Cabang Barat dari keturunan Chagatay yang bermukim di Transoxania segera masuk ke dalam pengaruh lingkungan Islam, namun akhirnya dikalahkan oleh kekuasaan Timur Lenk. Sedangkan cabang timur dari keturunan Chagatay berkembang di Semirechye, IIIi, T’ien Syan di Tarim. Mereka lebih tahan terhadap pengaruh Islam, namun akhirnya mereka membantu menyebarkan Islam di wilayah Turkistan Cina dan bertahan disana hingga abad 17 M.
Ketiga, Ogotay, adalah putra Genghis Khan yang terpilih oleh dewan pimpinan Mongol untuk menggantikan ayahnya sebagai Khan[5].
Keempat, Toluy si bungsu mendapat bagian wilayah Mongolia sendiri. Ia masih menganut agama Buddha yang berpusat di Beijing, dan mereka melawan saudaranya dari Khan-Khan Mongol yang beragama Islam di Asia Barat dan Rusia, menyerang wilayah-wilayah Islam sampai ke Baghdad.
Faktor Penyebab Penyerangan Bangsa Mongol
Faktor-faktor penyebab penyerangan bangsa Mongol terhadap negeri-negeri Islam ialah sebagai berikut.
- Karena munculnya tindakan tidak simpatik kaum muslim terhadap delegasi bangsa Mongol ketika membawa banyak harta ke Khawarizm untuk membeli baju produk negara Khawarizm. Wazir dinasti Khawarizm melihat bahwa harta yang dibawa delegasi para pengusaha tersebut sangat banyak sehingga ia mengirim surat kepada sultan yang diduga berisi rayuan untuk merampas harta tersebut. Tampaknya, Sultan Alauddin terbujuk, sehingga memerintahkan untuk membunuh seluruh delegasi pengusaha tersebut dan merampas hartanya. Tindakan ini menjadi dasar legal bagi Genghis Khan untuk penyerbuan.
- Ketika Genghis Khan mendengar berita pembunuhan delegasi pengusahanya, ia langsung mengirim utusan dengan membawa surat untuk menanyakan apakah pembunuhan tersebut atas perintahnya atau tanpa sepengetahuannya. Seharusnya sultan Alauddin membalas surat Genghis Khan tersebut dengan surat yang lebih baik dan meminta maaf atas tindakan wakilnya atau memeriksa kasus tersebut dan menghukum pelaku tindakan yang tidak dibenarkan adat dan undang-undang. Akan tetapi, ternyata sultan Alauddin bertindak lebih konyol. Ia memerintahkan untuk memenggal utusan Jenghiz Ini merupakan kesalahan kedua yang mendorong penyerbuan tentara Mongol.
- Dan penyerbuan bangsa Mongol terhadap wilayah-wilayah tidak hanya cukup dipicu itu oleh hal itu, tetapi ditambah tindakan konyol ketiga sultan Khawarizm yang menyiapkan pasukan kemudian menyerang kedaulatan negara Mongol yang pada saat itu sedang sibuk berperang melawan negara tetangganya, dengan merampas kekayaan negaranya dan menahan wanita dan anak-anak.
Kasus pembunuhan delegasi pengusaha Genghis Khan telah memicu perang antara Genghis Khan dan Khawarizm. Pembunuhan duta negara telah menambah api dendam dalam dada bangsa Mongol. Melihat dari gelagat itu, dalam pandangan Genghis Khan, satu-satunya jalan yang harus dilakukan adalah menyiapkan pasukan untuk memerangi kaum muslimin dan penguasanya.
Kehidupan Sosial Bangsa Mongol
Bangsa Mongol sangat sederhana, dilihat dari pakaian yang dikenakan masyarakat Mongol sangat sederhana, sesuai dengan kehidupan mereka yang konservatif. Mereka membuat pakaian dari wol kambing dan onta, terkadang pula dari kulit binatang. Pakaian wanita hampir tak ada bedanya dengan pakaian pria. Selain itu, mereka sudah terbiasa tidak ganti pakaian, kecuali satu bulan sekali. Bahkan, di musim dingin mereka sama sekali tidak melakukan itu. Konon, jika mereka melintas di suatu daerah, bau mereka melekat dalam waktu yang lama. Terlebih rumah-rumah mereka, tak seorang pun sanggup bertahan di dalamnya selain kaumnya sendiri.[6]
Referensi
[1] Hasan Ibrihim Hasan, Tarikh Islami, juz 4, (Kairo: Maktabah An-Nahdhah Al-Mishriya), h. 132
[2] Thomas W. Arnold, Sejarah Dakwah Islam, terjemah Nawawi Rambe, (Jakarta: Wijaya, 1981), h. 193.
[3] Samsul Munir Amin. Sejarah Peradaban Islam hlm. 213-214.
[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Depok: PT Raja Grafindo Persada, 1994), h. 113.
[5] Bosworth, Dinasti-Dinasti Islam, (Jakarta: Mizan, 1993), h. 167-170.
[6] Muhammad Abdul Azhim Abu an-Nashr. Islam di Asia Tengah, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2017), h. 170
Oleh : Dindin Samsudin, Semester VI