Abu Abbas Ibnu Firnas: Ilmuwan Muslim Pertama yang Menaklukan Udara
Tidak banyak yang mengetahui bahwa jauh sebelum Wright bersaudara berhasil membuat pesawat terbang ternyata ada seorang ilmuwan muslim yang telah mempelopori upaya tersebut. Ya, pada tahun 875 M. Abbas Ibnu Firnas atau yang lazim dikenal dengan nama Ibn Firnas sudah merancang model pesawat dengan menempatkan bulu pada sebuah bidang kayu. Prototipe dari rancangan Ibnu Firnas ini adalah dokumentasi mengenai pesawat terbang layangan yang pertama di dunia.
Ibnu Firnas adalah salah seorang ilmuwan muslimin yang pernah merasakan kegelimangan islam ditanah Eropa, atau lebih tepatnya di kawasan Andalusia yang kini menjadi kawasan Spayol pada peradaban kala itu Islam mencapai pucak kejayaan disegala bidang, termasuk dalam segi pengetahuan. Sosok cendikiawan bernama lengkap Abbas Qasim Ibnu Firnas ini dilahirkan pada 810 M, di Izn-Rand Onda, Al-Andalus. Menjelang dewasa Ibnu Firnas pindah ke wilayah Cordova. Selain dikenal sebagai seorang penemu, Ibnu Firas juga berprofesi sebagai Insinyur, penerbang, dokter, penyair, dan musisi. Oleh para ilmuwan barat, Ibnu Firnas lebih familiar dengan panggilan Armen Firman.
Kehebatan Ibnu Firnas ini banyak berkontribusi terhadapa ilmuwan-ilmuwan setelahnya. Pasalnya ia diakui oleh para ilmuwan di zamanya sebagai pakar dari para pakar. Ia lebih unggul dari para koleganya dalam ilmu eksak, kedokteran, kimia, teknik, industri dan para pakar sastra. Ia adalah seorang pionir yang menghantarkan sebuah teori menjadi riset dan praktik. Dengan begitu ia sangat berhak mendapatkan gelar sebagai mestro Andalusia.
Ibnu Firnas adalah dokter sekaligus apoteker. Ia mampu menyinergikan ilmu kedokteran dan farmasi sehingga saling memanfaatkan satu samalain. Ia berpegang teguh pada prinsif klasik kesehatan yaitu mencegah lebih baik daripada mengobati. Ia mengatakan satu ons kesehatan lebih baik dari pada satu kwintal pengobatan. Ia mempelajari benda-benda padat dan tumbuh-tumbuhan untuk pengobatan dan ia juga diangkat sebagai dokter di istana kerajaan.
Banyak kontribusi Ibnu Firnas dalam pegembangan ilmu pengetahuan. Di antaranya yaitu :
1. Penemuannya terhadap alat untuk mengetahui waktu atau semacam jam yang disebut al-Miqat.
2. Berhasil membuat alat hitung atau kalkulator
3. Membuat dzatul halqi, sejenis astrolabe sebuah alat komputer astronomi yang sangat kuno, yang berfungsi untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan waktu, posisi, matahari, dan bintang-bintang.
4. Al-qubah As-Samawiyah (planetarium). Planetarium adalah sebuah teater yan dibangun untuk menyajikan pertunjukan edukatif sekaligus hiburan tentang astronomi dan langit malam atau untuk pelatihan navigasi langit.
5. Ibnu Firnas berhasil menciptakan kaca dari batu dan pasir. Menurut sejarawan ia adalah orang pertama kali di Andalusia yang mencetuskan ide industri pembuatan kaca. Sebagaimana tercatat dalam sejarah. Andalusia merupakan wilayah paling maju di Eropa saat itu.
Penemuan yang fenomenal lainnya adalah penemuan terhadap penerbangan, penemuan nya ini terinspirasi dari pertunjukan akrobatik bernama Armen Firman yang selamat setelah meloncat dari salah satu puncak menara dekat masjid Agung sembari mengenakan jubah sutra yang sangat longgar yang dikaitkan ke rangka kayu. Adapun yang mengatakan bahwa pemain akrobat itu adalah Ibnu Firnas sendiri dan Arman Firman hanyalah bentuk latin dari namanya. Entah ia orang yang selamat atau hanya penonton, penulis sendiri dengan beberpa litelatur yang dibaca meyakini bahwa itu adalah Ibnu Firnas, dan itu menjadi uji coba pertamanya. Ibnu Firnas memutuskan bahwa dia bisa melakukannya dengan lebih baik lagi. Untuk usaha berikutnya ia membuat sayap besar seperti gantole modern dari sutra bulu elang di atas kerangka kayu ringan. setelah pertama kali percobaan dan membuahkan hasil yang lumayan meskipun mendapatkan cedera kemudian Ibnu Firnas menampilkan penemuan nya di depan khalayak ramai.
Ia melakukan uji coba yang kedua kalinya, diusia yang sangat cukup renta yaitu 70 tahun, ia dengan keberaniannya yang tiada tanding di atas tebing dan ditonton oleh banyak orang. ia dengan temuannya meloncat dari atas tebing dan orang-orang pada saat itu terkejut karena Ibnu Firnas tidak langsung jatuh tetapi melayang terbang di udara, berputar beberapa kali selama sekitar sepulu menit, kemudaian akhirnya mendarat ke tanah, sayangnya pendaratanya tidaklah mulus sama seperti percobaan awalnya, ia tidak menyadari kecepatan yang harus diambil untuk memperlambat laju terbangnya, sehingga ia menghantam tanah, sayapnya patah dan menyebabkan punggungnya terluka parah. Kemudian ia menyadari bahwa burung menggunakan ekornya untuk memperlambat laju pendaratan dan dia mendarat dengan keras dan tidak memilki ekor itu. Namun ia tidak melanjutkan uji cobanya karena usianya yang sudah tua.
Kisah ini tidak dikemukakan oleh imuwan sendiri melainkan setelah kematian Firnas, sejarawan maroko Ahmed Muhammed al-Maqari menulis deskripsi Firnas yang meliputi: eksperimen terbang dengan bulu yang terpasang beberapa sayap pada tubuhnya dan mendapatkan keunggulan yang membawanya terbang seperti burung, beberapa karya Firnas tidak terdapat kutipan sumber-sumber eksperimen, namun terdapat puisi yang ditulis oleh Mu’min Ibnu Sa’id , seorang penyair Cordova tahun 886, biasnya kritik Ibnu Firnas. yang bersangkutan dengan berjalan “Dia terbang lebih cepat dari Phoenix dalam penerbangan ketika ia berpakaian tubuhnya di bulu burung pemakan bangkai” James Meigs editor jurnal popular of mechanics, menyatakan bahwan Ibnu Firnas adalah sosok yang pemberani yang mampu mengukur kepastian dirinya untuk terbang dengan perangkat paralayang tanpa memperdulikan risiko keselamatanya hanya dengan berbekal keberanian untuk mewujudkan eksperimennya. Hazarfen Ahmad Syalabi murid Firnas melanjutkan Eksperimen dari Firnas, pengembangannya mengarah pada bola terbang. Ia juga seorang ilmuwan yang berhasil meneruskan jejak gurunya ia berhasil terbang laying sejauh 2 Mil dari Istanbul bagian Eropa ke Asia dan itu adalah penerbangan antar dua Benua pertama yang pernah ada.
Cedera punggung yang parah itu memaksa Ibnu Firnas terpaksa memusatkan diri dilaboratoriumnya untuk melakukan serangkaian penelitian lainya, termasuk meneliti gejala alam. Ia tertarik dengan proses terjadinya halilintar dan kilat. Kekhususan Ibnu Firnas diruang laboratoriumnya membuahkan banyak hasil. Abas Qasim Firnas wafat pada tahun 887M, masih dalam keadaan sakit akibat cedera punggungnya tersebut. Kenangan tentang sosok Abbas Qosim Ibnu Firnas, kini menjelma pada sosok patung sayap di Bagdad, dan diabadikan menjadi nama salah satu kawah dipermukaan bulan.
Referensi:
Agus Pramono, Pengembangan Ilmu Pengetahuan & Teknologi Dalam Perspektif Islam. Yogyakarta: Deepublish 2021
Abdul Syukron al-Azizi, Untold Islamic History, Yogyakarta: Laksana
Ehsan Masood, Ilmuwan-Ilmuwan Muslim, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2013
Iswara N. Raditya, 200 Tokoh Super Jenius Penemu dan Perintis Dunia, Jakarta: Mediapresindo, 2012.
Saefullah Wiradipradja, Pengantar Hukum Udara Ruang Angkasa, Bandung: Penerbit Alumni, 2021
Kontributor: Iren Dwi Pebriani, Semester V