Pahlawan Nasional Republik Indonesia: Ki Bagus Burham “Ronggowarsito” Seorang Sastrawan dan Pujangga Keraton

Pahlawan Nasional Republik Indonesia: Ki Bagus Burham “Ronggowarsito” Seorang Sastrawan dan Pujangga Keraton

Sastrawan, pujangga Jawa dan sekaligus seorang sufi yakni Raden Ronggowarsito yang begitu identik dengan sebuah zaman yang dikatakan edan atau gemblung, sebuah zaman yang disinggungnya dalam karya seratnya yang terkemuka yakni Serat Kalatidha. Sebagai pujangga yang cukup produktif dan banyak melahirkan karya-karya kebatinan begitu mendalam, tentunya Ronggowarsito bukanlah orang sembarangan sampai-sampai dikatakan R. Ronggowarsito adalah sosok yang mampu melihat masa depan “weruh sak durunge winara”. Kematiannya pun menjadi misteri besar, mengingat R. Ronggowarsito ibarat berpamitan dan menuliskan sendiri waktu wafatnya secara tepat dalam Serat Sabdajati.

Ronggowarsito memiliki nama lengkap Raden Ngabehi Ronggowarsito atau sering disingkat R. Ng. Ronggowarsito, beliau adalah pujangga pamungkas kesusastraan Jawa klasik zaman Surakarta yang senantiasa melekat di hati masyarakat  Jawa. Dia terlahir dengan nama Bagus Burham lahir di Surakarta, di Distrik Pasar Kliwon, pada 18 Maret 1802 M. Bertepatan pada hari Senin Legi, 10 Dzulkaidah 1728 tahun Jawa. Kampung kelahirannya ini kemudian disebut dengan kampung Yosodipuro, lantaran menjadi tempat kediaman Yosodipuro I dan Yosodipuro II.

R. Ng. Ronggowarsito terlahir dengan nama kecil Bagus Burham yakni  putra dari RM.Ng. Pajangsworo yang merupakan keturunan Kesultanan Pajang yakni keturunan ke-10 dari Sultan Hadiwijoyo dan Nyai Ajeng Ronggowarsito keturunan Kesultanan Demak yakni keturunan ke-13 dari Sultan Trenggono. Bagus Burham berasal dari keluarga bangsawan keraton Surakarta, yang masih memiliki keturunan Majapahit. Ketika usia 4 tahun, Bagus Burham diserahkan ke Ki Tanujaya yang merupakan kepercayaan ayahnya. Ki Tanujaya dikenal dengan sosok jujur, luwes dan berilmu. Bagus Burham belajar di tempat Ki Tanujaya hingga berusia 12 tahun.

Pada usia belasan tahun, Bagus Burham dikenal sebagai anak yang malas belajar Ilmu Agama bahkan punya kebiasaan berjudi. Atas alasan itu Bagus Burham dimasukkan ke pesantren Tegalsari, di Padepokan Gerbang Tinatar Ponorogo. Di sana dia berguru dengan seorang Kiai yang  juga ahli kebatinan yang berdarah Priayi, yakni Kiai Hasan Besari. Beliau dikenal sebagai seorang ulama yang luas keilmuannya dan mencetak kiai-kiai besar dari silsilahnya, Salah satunya adalah pendiri Pesantren Darussalam Gontor. Selain Ronggowarsito murid beliau yang terkenal adalah H.S.O. Tjokroaminoto.

Diceritakan dalam serat Babad, bahwasanya semasa Ronggowarsito menjadi santri diwarnai kenakalan karena Ronggowarsito lebih suka keluar dan berkumpul dengan kaum abangan, suka berjam-jam nonton wayang dan pertunjukan, bahkan kiai Hasan sendiri yang sering mencari santrinya yang bandel itu di rumah-rumah penduduk.

Bagus Burham belum bisa meninggalkan kebiasaan buruknya. Hal itu sangat berpengaruh pada perilaku santri lainnya. Pada akhirnya Kiai membentaknya, akhirnya Ronggowarsito kabur menuju Madiun, dalam pelariannya dia kelaparan karena tidak punya bekal makanan, bahkan sampai berhutang agar bisa makan. Kemudian kiai Hasan Besari mimpi bahwa Madiun dan Ponorogo akan dilanda kelaparan jika muridnya tidak diselamatkan. Setelah itu dicarilah Ronggowarsito sampai ketemu. Namun akhirnya dia sadar, dan merasa tersiksa semenjak pelariannya itu, kemudian kembali lagi dan mulai berniat untuk menuntut ilmu.

Dikisahkan dalam Babad Ronggowarsito, Ronggowarsito melakukan tirakat di Kedung Watu, sebuah sumber air letaknya tidak jauh dari pesantren. Dia terjaga di atas pohon bambu yang ia pasang di atas air. Sehingga ketika dia mengantuk akan tercebur kedalam air. Hal itu dilakukan selama 40 hari. Dan selama itu pula ia hanya makan satu buah pisang setiap harinya pada malam terakhir.

Hingga hasilnya mendapat wahyu kapujanggan (semacam ilmu laduni). Diceritakan, tekanan batin ini membuatnya sadar untuk meninggalkan tradisi kehidupan lamanya yang penuh kenakalan, ia juga mulai rajin mempelajari ilmu-ilmu yang ia ajarkan oleh Kiai Hasan Besari. Dengan kecerdasan rata-rata, tidak heran jika beberapa waktu kemudian ia diangkat sebagai tangan kanan Kiai Hasan Baseri, dan dipercaya sebagai badal dakwah di luar pesantren.

Ketika Tanujaya menanak nasi yang ia sediakan untuk berbuka Bagus Burham. Tiba-tiba Tanujaya terkejut ketika melihat ada sinar yang masuk dalam priuk. Sesudah nasinya masak, ternyata di dalamnya terdapat ikan wader yang sudah dimasak. Ikan itu dimakan Ronggowarsito. Sedangkan kepala dan ekornya disisakan untuk Tanujaya. Diyakini, sinar yang berubah wujud menjadi wader tersebut adalah sebuah anugerah dari Tuhan kepada Ronggowarsito. Yang pertanda, suatu saat Ronggowarsito akan menjadi orang besar. 

Setelah menimba ilmu di pesantren Tegalsari, Bagus Burham sangat dikenal di masyarakat, karena khutbah atau ceramah bersuara lantang dan penjelasannya gampang diterima oleh masyarakat dalam. Sesudah belajarnya di Kiai Hasan Besari, Ronggowarsito sempat mengembara sampai ke Bali, selain memperluas dan memperdalam ilmunya, dan ia juga mendiskusikan pengetahuannya di berbagai tempat dengan para tokoh yang ia temui. Sebelum itu pulang ke Kesultanan Surakarta. 

Beberapa tahun di Bali akhirnya Bagus Burham pulang ke Surakarta. Di Surakarta Bagus Burham diasuh dan belajar pada R.T. Sastraningrat yang merupakan kakeknya. Dari pengamatan R.T. Sastraningrat, Burham diramalkan menjadi tokoh besar. Bahkan R.T. Jayaningrat memprediksi Burham sebagai Pujangga Jawa terakhir

Bahkan salah satu gurunya adalah Panembahan Buminoto, adik Pakubuwono  IV. Oleh Buminoto, Ronggowarsito diajarkan kesaktian, kekebalan dan kesentosaan jiwa raganya (jaya kawijayaan, kagunan, kanuragan). Melalui Buminoto, Ronggowarsito menemukan jalur untuk menjadi abdi dalem istana Surakarta atas restu Pakubuwono IV.

Secara singkat jenjang yang pernah dilalui Bagus Burham adalah:

  1. menjadi carik (juri tulis) Kadipaten Anom, dengan gelar Mas Rangga Pajanganom (1819).

2. lalu dinaikan menjadi menteri carik dengan gelar Mas Ngebehi Sarataka (1882).

3. Kemudian menggantikan jabatan ayahnya (Ronggowarsito II) sebagai Kliwon carik dengan gelar Raden Ngadehi Ronggowarsito III pada tahun (1830).

4. Sepeninggalan kakeknya, Yosodipuro II, Ronggowarsito III dinobatkan sebagai pujangga istana (1845).

Namun jenjang kepangkatannya tetap kliwon-carik, yakni suatu jabatan istana setingkat di  bawah pangkat tumenggung.

Dalam hal ini Ronggowarsito memiliki murid yang terdiri dari orang asing seperti:

  1. C.F. musim dingin
  2. Jonies portier
  3. CH Dowing
  4. Jansen dan lainnya.

Ranggawarsito  terbilang penulis produktif, tak kurang 60 karya yang telah ditulisnya dalam rentang 1826-1837. Karya-karyanya telah terbit, dan beberapa kali dicetak ulang lagi, dan ada pula yang masih bertebaran di berbagai tempat.

Beberapa buku yang terkenal dari karya Ronggowarsito adalah

  1. Suluk Saloka Jiwa
  2. Serat Paramayog
  3. Serat Wirid Hidayat Jati
  4. Suluk Sukma Lelana
  5. Serat Sabdatama
  6. Serat Kalatidha
  7. Serat Jayabaya

Salah satu yang diteliti adalah serat Wirid Hidayat Jati oleh Simuh dan Harun Hadiwijono. Menurut Simuh (1988: 270), ada empat versi Wirid Hidayat Jati yang ditulis dalam kurun waktu yang berbeda. Dalam kurun waktu yang pertama pada 1988 oleh Albert &Co. Di Surokarta; kurun waktu kedua serat itu dipublikasikan pada tahun 1941 oleh Honggopradoto.

Ronggowarsito wafat pada tanggal 24 Desember 1873 dan dimakamkan di desa Palar, kecamatan Trucuk, kabupaten Klaten. Yaitu berjajaran dengan makam dari keluarga ibunya. Makam itu kini menjadi tempat ziarah orang-orang yang mengeramatkannya. Ketenaran nama Ronggowarsito dalam masyarakat Jawa Di sekitarnya cukup besar. Di samping itu, penghargaan masyarakat dan pemerintah atas hasil karyanya memang wajar sesuai dengan jasa beliau dalam mengembangkan kebudayaan dan sastra Jawa. Oleh karena itu, di muka Museum Radya Rustaka Sriwedari (Solo) beliau diabadikan dengan patung setengah badan. Bahkan makam beliau dipalar dan telah dipagur oleh presiden Soekarno.

Ronggowarsito, beliau dikenal sebagai pujangga terakhir karena pasca Ronggowarsito sudah tidak lahir pujangga selanjutnya. Karena kebanyakan Ulama Sufi memberikan arti lebih pada membujang, atau yang lebih dikenal dengan istilah azub, yaitu hidup legan. Bahkan ulama sufi yang masyhur, Syekh Sulaiman ad-Daroni, dalam pernyataannya menyatakan “man tazawwaja faqad rakkana ila ad-dunya: seseorang yang menikah termasuk orang-orang yang condong pada dunia.

Berkat kegigihan dan perjuangan Ronggowarsito, beliau melahirkan berbagai karya-karya yang berupa dongeng, cerita, sastra, kebatinan, falsafah, sampai ramalan dan masih banyak lagi. Pasca Ronggowarsito ini, tidak ada lagi pujangga Jawa yang patut diketengahkan. Kalaupun ada hanyalah seorang pengarang dan bukan pujangga. Maka tidak aneh bila beliau bergelar “pujangga penutup”.

Referensi:

A. Mujib,dkk, Intelektualisme pesantren, Jakarta: Diva Pustaka, 2013.

Simuh, Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ronggowarsito, jakarta: UI-Press, 1988.

Lilik Sofyan Achmad, mengenal Ronggowarsito sebagai Filsuf, Jakarta: Bidik-Phronesis Publishing, 2012.

Murtadho Hadi, Jejak Spiritual kiai Jampes, Yogyakarta: Pustaka pesantren, 2008.

Abdillah afabih, Ronggowarsito: Majalah Tebuireng, Jombang: November-Desember 2018.Suhardi, Menekung di Puncak Gunung, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada pers, 2018.

Kontributor: Devi Rahmawati, Semester V

Leave a Reply