Menyelami Lautan Cinta Rasulullah Saw Bersama Sayyidah Khadijah

Menyelami Lautan Cinta Rasulullah Saw Bersama Sayyidah Khadijah

Kata cinta bukanlah hal yang asing bagi kita, setiap insan pasti sedang, akan dan telah merasakan yang namanya cinta. Namun, dalam hal ini terdapat ikhtilaf dikalangan ulama salaf dalam mendefinisikan sebuah cinta salah satunya adalah Iman al-Ashfahani menuturkan cinta dengan kata المحبة, yang mana beliau membagi cinta dalam tiga jenis, yaitu cinta terhadap kenikmatan atau yang disukai (المحبة للذات), cinta terhadap pemanfaatan (المحبة للنفع), cinta terhadap kelebihan (المحبة للفضل). Sedangkan Imam Husein bin Muhammad ad-Dari Ghaniy menjelaskan dalam kitabnya al-Ishlah al-wujuh wa an-Nazhair fi al-Quran bahwa cinta itu menggunakan kata al-hubb yang memiliki makna lain selain arti cinta yang kita pahami selama ini, yaitu al-hubb adalah al-litsar (perbuatan yang mendahulukan bahkan mengutamakan orang lain dalam perkara-perkara yang dicintai), al-hubb adalah al- mawaddah (bentuk cinta yang besar dan agung, yaitu seperti cinta Allah Swt kepada hambanya yang bertaqwa). Al-hubb seringkali ditafsir kan dengan keinginan (الارادة). Namun menurut Imam al- Ashfahani pendapat ini kurang tepat, karena bagi beliau cinta dan keinginan itu berbeda. Sebab dalam cinta pasti ada keinginan sedangkan dalam keinginan belum tentu ada cinta. 

Secara umum cinta merupakan kecondongan hati dan pikiran seseorang terhadap orang yang dicinta. Dalam al-Quran banyak terdapat ayat yang menjelaskan tentang cinta. Begitupun dengan hadits Rasulullah Saw. Bahkan keimanan paling sempurna adalah iman yang dilandasi cinta, tanpa cinta iman hanya sebatas nama yang tidak bermakna, sebagaimana firman Allah Swt: 

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ

Artinya:” Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah Swt.” (Al-Baqarah:165). Adapun pembahasan ini adalah untuk menelusuri, meneliti serta mengkaji lebih dalam bagaimana kisah cinta sang Baginda Rasulullah Saw bersama Sayyidah Khadijah, jika kita telusuri lebih dalam lagi perihal kisah cinta Rasulullah bersama Khadijah kita akan menemukan makna dan kemurnian cinta yang sebenarnya. Dibuktikan dengan kisah cinta yang dimulai oleh Sayyidah Khadijah.

Pada hakikatnya, Nabi Muhammad Saw. hanyalah manusia biasa dan bukanlah dari keluarga kaya, akan tetapi terlahir dari keluarga yang bermartabat tinggi di kalangan Quraisy. Jadi, apa sih yang membuat Khadijah tertarik dan mau mengungkapkan rasanya terlebih dahulu kepada Rasulullah Saw? Indahnya akhlak, tingginya kejujuran dalam diri Nabi dan kesederhanaan serta besarnya rasa tanggung jawab, itulah yang membuat Sayyidah Khadijah tertarik sehingga mau menyatakan cintanya kepada sang Baginda.  Begitupun sebaliknya Rasulullah Saw yang amat mencintai Khadijah karena kesucian, keterjagaan dirinya. Dari itu muncul lagi sebuah pertanyaan, apa sih yang membuat Nabi Muhammad Saw. sangat mencintai Khadijah sekalipun ketika itu istri tercinta telah wafat? Seperti yang sudah dijelaskan oleh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri dalam kitabnya Ar-Rahiq al-Makhtum bahwa:” Rumah tangga Rasulullah Saw bersama Khadijah adalah rumah tangga yang penuh dengan perjuangan dan pengorbanan. Dinamika dakwah benar-benar hidup di dalamnya. Maka wajarlah, ketika Sayyidah Khadijah wafat pada bulan Ramadhan tahun 10 kenabian, beliau mengalami hal yang begitu menusuk jiwa dan raga yang sangat mendalam sampai-sampai tahun kepergian istri tercintanya beliau dikenal dengan istilah tahun duka cita.” 

Rasulullah Saw. benar-benar kehilangan sosok yang selalu menemani beliau ketika suka dan duka hingga akhir hayatnya. Kenangan bersama Sayyidah Khadijah tak luput dari hati dan pikiran beliau hingga Rasulullah Saw pun sudah menikah lagi, namun beliau seringkali menyebut-nyebut nama Khadijah. Kurang lebih 25 tahun lamanya Rasulullah Saw. Menjalani rumah tangga yang harmonis, selama 25 tahun monogami bersama istri tercinta Khadijah. Suka dan duka dilewati bersama, ketika semua orang mendustakan Nabi, Khadijah selalu ada membenarkan. Ketika semua orang mengkufurinya, Khadijah ada untuk mempercayainya, dan ketika semua orang mengharamkan harta mereka untuk beliau, Khadijah ada untuk memberikan seluruh harta kekayaannya kepada Rasulullah Saw. Nah, adapun keistimewaan Khadijah ataupun posisi Sayyidah Khadijah sangatlah besar disisi Nabi, beberapa diantaranya adalah perjuangan Khadijah untuk Nabi itu bersifat totalitas, bukan hanya diri dan hartanya saja namun, Khadijah juga merupakan satu-satunya istri Nabi yang memberi keturunan kepada Nabi kecuali Ibrahim. Selain itu, Khadijah juga merupakan wanita yang pertama kali masuk Islam, Khadijah juga merupakan  wanita yang pernah mendapat salam dari Allah Swt. melalui malaikat Jibril saat beliau memberi makan Nabi, tatkala Nabi Muhammad bertahannust. Jadi, atas dasar itulah di berbagai kesempatan, Rasulullah Saw sering menyebut-nyebut nama Khadijah sekalipun dia sudah wafat. 

Kepergian Khadijah r.a adalah hal yang paling membuat Baginda Nabi berada dalam keterpurukan, luka yang amat dalam sebab pada saat yang bersamaan pula pamannya meninggalkannya juga. Jiwa dan raga beliau sungguh terkoyak kala itu karena tidak ada lagi sosok istri yang menjadi penentram hati dan pikiran beliau dikala duka. Seketika itu rumah yang dulunya dipenuhi dengan kegirangan, kebahagiaan, namun kini sunyi sepi luluh lantah. Tidak ada lagi sosok yang menentramkan hati beliau, selain pertolongan Allah Swt dan para sahabat yang setia kepada beliau walaupun saat itu masih sedikit pengikutnya. Namun, beliau melihat kecintaan dan pengorbanan mereka demi Islam. Khadijah r.a layaknya bagai cahaya yang hadir di gelap gulita, hadir dan bersemayam di lubuk hati Rasulullah Saw. yang paling dalam, sekalipun Khadijah sudah wafat, namun dia masih terus hidup di hati sang Baginda walaupun saat beliau sudah menikah lagi. Hal inilah yang membuat istri beliau yang paling muda dan masih gadis tak lain dialah Aisyah r.a selalu cemburu dan iri terhadap Khadijah. Walaupun dia belum pernah bertemu dengan istri tercinta Nabi tersebut, akan tetapi rasa iri terhadapnya tak dapat dipungkiri sebab Rasulullah Saw yang seringkali menyebut-nyebut nama Khadijah. Suatu ketika Aisyah r.a berkata:” Nenek dari Quraisy yang berpipi kempot dan jompo yang engkau sebut itu, Allah Swt sudah memberi penggantinya kepada engkau yang lebih baik.” (Shahih Muslim). Mendengar itu wajah Rasulullah Saw tampak merah padam dan dengan gusar menjawab:” Allah Swt tidak memberi kepadaku pengganti istri yang lebih baik dari dia (Khadijah r.a) dia beriman kepadaku dikala semua orang menyingkapi kenabian ku. Dia membenarkan kenabian ku dikala semua orang mendustakan diriku. Dia menyantuni diriku dengan hartanya dikala semua orang tidak mau menolongku. Melalui dia Allah Swt menganugerahi anak kepadaku tidak dari istri yang lain!” Aisyah yang pada awalnya tidak dapat mengendalikan kata-katanya mengenai Khadijah r.a karena rasa cemburu, akan tetapi sejak saat itu ia berjanji kepada diri sendiri tidak lagi menyebut-nyebut nama Khadijah r.a demi menjaga perasaan Rasulullah Saw. 

Suatu hari Rasulullah Saw. menyembelih seekor kambing beliau menyuruh salah seorang sahabat untuk mengantarkan daging kambing itu ke rumah teman-temannya Khadijah r.a yang masih hidup. Ketika Aisyah r.a bertanya, beliau menjawab singkat:” Aku sungguh mencintai teman-teman Khadijah, (aku telah dikaruniai kecintaannya). Aisyah r.a pernah mengungkapkan isi hatinya kepada salah satu sahabatnya:” Aku tidak pernah iri hati kepada perempuan lain, kecuali kepada Khadijah r.a. Kenapa tidak, Rasulullah Saw baru menikah denganku setelah ia meninggal dunia”! Aisyah iri kepada Khadijah karena hati Rasulullah Saw sudah dikuasai penuh oleh cinta dan kasih sayangnya Khadijah r.a. Walaupun secara Zahir sudah ada yang menempati posisinya Khadijah, namun secara batin tidak ada satupun istri Nabi yang bisa menggantikan posisi Sayyidah Khadijah di hati Rasulullah Saw. “Rasulullah Saw. tidak pernah tidak menyebut nama Khadijah dikala ia sudah wafat”! Sahut Aisyah. 

Seperti yang sudah disebutkan di atas bagaimana posisi Khadijah r.a dalam hidup nabi, sama sekali tak tergantikan oleh siapapun, sekalipun itu Aisyah (satu-satunya istri Nabi yang masih gadis, cerdas, cantik jelita) ia pun tak dapat menandingi betapa besarnya hati Rasulullah Saw yang sudah dikuasai oleh Khadijah r.a., sebab hanya Khadijah satu-satunya wanita yang berjuang bersama beliau sejak sebelum Nabi dan Rasul hingga Rasulullah Saw mendapatkan Wahyu dari Allah Swt. Tatkala Nabi Muhammad Saw. pertama kali mendapat wahyu, Khadijahlah satu-satunya yang menenangkan hati beliau, menghilangkan rasa takut dan gentar dalam diri Rasulullah Saw. Ketika masa Fatrah (فترة) waktu dimana Rasulullah Saw merasa sendiri  tidak diperhatikan oleh Allah Swt,  sebab tidak ada lagi wahyu yang turun kepada beliau, Khadijahlah satu-satunya orang yang menentramkan hati beliau, mengisi kekosongan dalam hati Rasulullah Saw., selain sering ‘uzlahnya beliau. Masa-masa itulah yang tidak dapat dilupakan oleh Rasulullah Saw, mengenai istri tercinta Khadijah r.a. 25 tahun bukanlah waktu yang singkat, apalagi menjalani rumah tangga dibawah kejaman, suka dan duka, berjuang bersama demi Islam dilalui bersama oleh Nabi Saw. bersama istri tercinta, Sayyidah Khadijah r.a. Jadi dapat disimpulkan bahwa, masa monogami Rasulullah Saw. itu lebih lama daripada masa poligaminya beliau. Disinilah kita dapat menemukan keautentikan cinta, makna cinta, dan hakikat cinta yang sebenarnya. Dengan menggali kisah cinta Rasulullah Saw. bersama Khadijah r.a kita bisa tahu bahwa cinta tidak bisa adil. Karena Rasulullah Saw sendiri pernah berkata:” Aku bisa adil dalam hal apapun, namun aku tidak bisa adil dalam hal cinta.” Namun, dibalik itu Rasulullah Saw. selalu berusaha untuk tidak membuat cemburu istri-istrinya, akan kekalnya cinta Khadijah di hati beliau. Itulah keistimewaan-keistimewaan Sayyidah Khadijah yang membuat Rasulullah Saw tidak dapat melupakannya, sekalipun Khadijah sudah wafat. Bukan istimewa karena kekayaan, bukan istimewa karena harkat dan martabat, akan tetapi istimewa sebab posisi Khadijah secara totalitas. 

Referensi:

H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini. Rumah tangga Nabi Muhammad Saw. Bandung: Pustaka Hidayah, 2007 

Hsy Mawahib Al-Laduniyah. Karya: Al-Imam Az-Zarqani

Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri. Ar-Rahiq al-Makhtum. Sukoharjo: Insan Kamil, 2017

Syekh Sa’id Ramadhan Al- Buthi. Fiqh Sirah An-Nabawiyah. Dar al-Fikr al-Mu’ashir Beirut: Lebanon, 1991

Abdus Salam Muhammad Harun. Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam. Darul Kitab al-ilmiyah, Beirut: Lebanon, 2018

Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari. Tarikh ar- Rasul wal Muluk. Darul Mu’arif, Kairo: Mesir 

Ar-Raghib al-Ashfahani. Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran. Al-Maktabah at-Taufiqiyyah:Mesir, 2003 

Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Asy-Syafi’i Ad-Dimasyqi. Syarah Shahih Muslim. Jakarta, Darus Sunnah: 2012

Kontributor: Mutiatun Marwiyah, Semester III

Leave a Reply