Menilik Keistimewaan Ali Bin Abi Thalib Sebagai Menantu Nabi

Menilik Keistimewaan Ali Bin Abi Thalib Sebagai Menantu Nabi

Ali bin Abi Thalib merupakan manusia yang memiliki kedudukan istimewa. Selain sebagai menantu Nabi, Ali juga dalam riwayat lain hampir menjadi kandidat pengganti khalifah setelah Nabi. Dalam hal ini penulis akan memberi pemahaman kepada para pembaca. Paling tidak tulisan ini bisa menepis kekeliruan orang yang mengatakan, “Siapa yang melebih-lebihkan Sayyiduna Ali, maka ia Syiah“. Wal iyaadzu Billah.  

Seakan-akan slogan ini tidak memperbolehkan kita sebagai Sunni untuk membahas keistimewaan Ali. Padahal keistimewaan Ali sangat banyak sekali riwayatnya. Slogan ini juga membuat orang tidak berani menuliskan tentang keistimewaannya, karena mereka takut diklaim Syiah.

Ketika Nabi Muhammad Saw kembali dari Haji Wada’ pada 18 Dzulhijjah tahun 10 H, Nabi Saw mengenalkan Ali bin Abi Thalib pada penduduk Ghadir Khum (daerah yang terletak di tengah-tengah antara Makkah dan Madinah) sebagai pengganti dan khalifahnya. Banyak dari kalangan sahabat menyaksikannya. Di antara mereka terdapat para pembesar sahabat, yang memberikan baiat kepada Ali bin Abi Thalib.

Oleh karena peristiwa ini hadits Ghadir Khum yang dinisbatkan pada nama daerah tersebut menjadi terkenal. Hadits ini memiliki banyak sekali riwayat dari kitab-kitab besar seperti Musnad Imam Ahmad, Sunan Tirmidzi dan lain-lainnya.

Dalam sunan Tirmidzi no.3646 Nabi Muhammad Saw bersabda :

حدثنا محمد بن بشار حدثنا محمد بن جعفر حدثنا شعبة عن سلمة بن كهيل قال سمعت أبا الطفيل تحدث عن أبي سريحة أو زيد بن أرقم شك شعبة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال من كنت مولاة فعلى مولاه قال أبو عيسى هذا حديث حسن غريب وقد روي شعبة هذا الحديث عن ميمون عبد الله عن زيد بن أرقم عن النبي صلى الله عليه وسلم نحوة وأبو سريحة هو حذيفة بن أسيد الغفاري صاحب النبي صلى الله عليه وسل

Menceritakan kepadaku Muhammad bin Basyar, menceritakan kepadaku Muhammad bin Ja’far, menceritakan kepadaku Syu’bah dari Salamah bin Kuhail berkata: aku mendengar Abi Thufail berkisah dari Abi Suraihah atau Zaid bin Arqam dari Nabi Saw berkata: “Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai walinya, maka Ali adalah walinya”. Abi Isya berkata: hadits ini merupakan hadits hasan yang gharib. Syu’bah juga meriwayatkan hadits ini dari Maimun Abdullah dari Zaid bin Arqam dari Nabi Saw.

Dalam tradisi Syiah hadits tersebut menjadi klaim bukti bahwa Ali bin Abi Thalib adalah khalifah setelah Rasulullah Saw. Berbeda halnya dengan ulama Sunni yang tidak hanya mengambil dari riwayat ini (Ghadir Khum) sebagai tendensi. 

Bahkan pesan yang terdapat di peristiwa Ghadīr Khum menurut Imam Muslim sendiri ialah Nabi memerintahkan pada para sahabat untuk berpegang pada dua hal yang berat (Tsaqalain). Al-Qur’an yang berisi petunjuk dan cahaya kebenaran dan yang kedua adalah ahlul bait (keluarga) Nabi. 

Dalam riwayat lain, saking pentingnya berpegang pada ahli bait sampai-sampai diulangi Nabi sebanyak tiga kali. Karena Ali bin Abi Thalib sendiri merupakan “kutub ahlul bait”, yang mana dari beliaulah keturunan Nabi Muhammad Saw masih ada hingga saat ini.

Tidak bisa dipungkiri terlepas dari banyak riwayat dan perdebatan ulama terkait hal ini. Tanpa melihat siapa yang akan menggantikan posisi Nabi sebagai khalifah waktu itu, Ali bin Abi Thalib sendiri tetap memiliki posisi istimewa di sisi Nabi. Keistimewaan Ali banyak dihimpun dalam kitab-kitab besar seperti al-Bidayah wa an-Nihayah, al-Muntadzom, Tarikh at-Thabari, dan yang lainnya. 

Di antaranya dalam suatu riwayat Rasulullah Saw pernah berdoa ketika membicarakan penduduk surga yang saat itu beliau sedang berkumpul dengan para sahabat: “Ya Allah, jika Engkau menghendaki, aku akan menjadikannya (Ali) ahli surga”. Maka Ali datang kepada Nabi, kemudian kaum Anshor menyembelih seekor domba untuk Rasulullah dan mereka pun makan bersama.

Dalam riwayat lain dari Abu Ya’la Nabi bersabda “Siapa pun yang menghina Ali, maka ia telah menghina ku”. Juga riwayat Jabir dan Abu Said bahwa Rasulullah Saw bersabda kepada Ali: “Dia yang menyatakan bahwa dia mencintaiku dan membencimu adalah kebohongan”. Kemudian dalam riwayat lain “Tidak akan ada orang mukmin yang akan membencimu, juga tidak akan ada seorang munafik yang mencintaimu”. Nabi juga bersabda: “Berbahagialah orang yang mencintaimu dan beriman kepadamu, dan celakalah orang-orang yang membencimu dan berdusta tentangmu”.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw, memandang Ali dan berkata: “Kamu adalah Sayyid di dunia dan di akhirat. Siapa pun yang mencintaimu telah mencintaiku, dan kekasihmu adalah kekasih Allah Swt, dan barang siapa membenci mu, ia telah membenci aku dan membenci kamu atas murka Allah Swt”. Riwayat lain juga mengatakan “Ali berasal dariku dan aku darinya”.

Bahkan sahabat seperti Abu Bakar dan Umar saja ketika hendak melakukan perang mereka meminta arahan kepada Ali. Mereka berdua terus meminta kepada beliau, karena semua sahabat tidak memiliki pengetahuan melebihi beliau. Umar pun berkata: “Aku berlindung kepada Allah Swt dari sesuatu yang membingungkan yang tidak dimiliki Abu Al-Hasan (Ali)”. 

Saat Ali berumur 20 tahun, Rasulullah Saw memberikan panji putih kepada beliau saat perang badar berlangsung. Abdul Hakim al-Ka’bi mengutip dari Shahih Bukhari ketika Perang Khaibar, Ali tertinggal barisan Rasulullah Saw yang sudah berangkat terlebih dahulu, karena dia menderita radang di matanya hingga tidak melihat keberangkatan Rasulullah Saw. Setelah tersadar bahwa dia tertinggal, dia berkata, “Bagaimana mungkin aku dapat tertinggal barisan Rasulullah Saw?”. Ali pun berangkat dan menyusul Nabi Saw. 

Pada sore hari sebelum besok paginya kaum muslim mendapatkan kemenangan, Rasulullah Saw bersabda menyatakan esok aku akan memberikan panji ini kepada seorang laki-laki (Ali) yang mencintai Allah Swt dan rasul-Nya dan Allah Swt dan rasul-Nya juga mencintai.

Beliau juga orang yang paling tahu tentang hukum. Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Umar bin Khathab pernah berkata, “Orang yang paling tahu tentang isi Al Qur’an adalah Ubay, dan orang yang paling tahu tentang hukum adalah Ali”.

Di antara kelebihan atau keistimewaan Ali yang sangat populer dan menonjol juga terdapat pada hadits:

عن عبدالله بن عباس : أَنا مدينةُ العلمِ وعليٌّ بابُها

Dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “saya ini gudangnya ilmu dan Ali itu pintunya”.

Dari hadits ini bisa kita simpulkan siapapun yang ingin mendapatkan ilmu Nabi ia harus melalui Ali. Sudah terbukti hampir seluruh keilmuan yang sudah ada datanya secara konkrit seperti ilmu nahwu itu lahir atau sumber utamanya dari Ali. Meski kemudian dipopulerkan oleh Abul Aswad Ad-du’ali. Begitu juga ilmu fisika yang dalam satu riwayat penemunya ialah Imam Ja’far Shodiq, yang merupakan keturunan Ali. Juga banyak ilmu-ilmu lain yang bersumber dari Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah.

Referensi :

Imam al-Hafidz al-Muarrikh Abu al-Fida Ismail Bin Katsir, Al-bidayah Wa An-Nihayah, Darul fikr, Damaskus 1924.

Imam Abu al-Faraj Abdurrahman Bin Ali Bin Muhammad Bin al-Jauzi, Al-Muntadzom Fi Tarikh al-Muluk Wa al-Umam, Darul Minhaj, Beirut 1936.

Abdul Hakim al-Ka’bi, Mausuah at-Tarikh al-Islami, Dar Usamah Li an-Nasyr wa at-Tauzi’, Oman 2009.

Imam Abu Ja’far Bin Jarirat-Tirmidzi. Shahih Tarikh at-Thabari, Darul fikr, Damaskus 1926.

Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah at-Tirmidzi, Al-Ilal al-Kabir, Darul Minhaj, Beirut, 1965.

Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Al-Jami’ as-Shahih, Dar Ibnu Jauzi, Mesir 1943.

Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah at-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, Darul Minhaj, Beirut 1930.

Abu Bakr Ahmad bin Ali bin Tsabit bin Ahmad bin Mahdi al-Shafi`i, Tarikh Baghdad, Darul Atsar, Mesir 1954.

Kontributor: Sayyid Husnul Hikam, Semester V

Leave a Reply