Menjaga Warisan Abah Noer Dengan Cara Mempererat Ikatan Alumni

Menjaga Warisan Abah Noer Dengan Cara Mempererat Ikatan Alumni

Pondok Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan di Indonesia tentu memberikan dampak yang besar untuk mencetak kader-kader emas masa mendatang. Lulusan Pondok Pesantren terbukti telah menggauli berbagai bidang seperti politik, bisnis, pendidik, kesenian dan lain-lain. Kualitas suatu lembaga pendidikan bisa dilihat dari para alumninya. Jika kualitas alumninya baik, berarti pendidikan di lembaga itu termanajemen dengan baik. Oleh karenanya para alumni harus saling mendukung antar satu sama lain, agar terbentuk kaderisasi yang mumpuni.

Para alumni berperan penting dalam membentuk, memberi masukan,  demi kemajuan pendidikan maupun perekonomian. Karenanya hubungan dari setiap alumni harus dijaga dengan erat. Adanya jaringan para alumni akan mempermudah antar sesama, baik hubungan dengan sesama alumni atau dengan para santri.

“Kita pasti berada di pinggiran jika tidak memperkuat jaringan alumni.” Ungkap Dr. Ujang Komaruddin dalam seminar Nasional yang bertemakan “Pentingnya Peran Ikhlas dalam Merawat Warisan Abah Kiai Noer”, di Pondok Pesantren As-Shiddiqiyyah Jakarta, Sabtu 19/11/2022.

KH Anas Thahir menjelaskan ada dua yang diwariskan oleh Abah Noer yaitu; warisan pesantren, dan warisan tradisi kepesantrenan.

Pertama, warisan Pesantren. Cara menjaga warisan ini dengan mengabdi, menjalin silaturahmi dan terus berkarya. Kedua, menjaga warisan tradisi kepesantrenan. Salah satu caranya bahwa tidak semua santri harus menjadi kiai. Santri bisa menekuni bidang politik, peternakan, pertanian, bisnis dan lain-lain. Hal ini selalu ditekankan oleh Abah Noer kepada santri-santrinya. Sehingga santri harus mampu dan bangkit menjawab persoalan zaman yang dinamis yaitu dengan semakin produktif dan kreatif. Misalnya saja dalam mengolah pariwisata Islam.

Apa pun profesi yang digeluti oleh para santri di era modernisasi ini harus tetap menjaga tradisi kepesantrenan yang ada. Misalnya puasa daud dan shalat tahajud. Spirit yang tinggi akan melahirkan kita ke dalam bidang tersebut, jika kita konsisten di jalan Allah SWT maka kita akan dipermudah.

“Orang yang hebat bukanlah orang yang cerdas dan kuat, melainkan orang yang mampu beradaptasi.” Imbuh TB Ardi Januar selaku Sekjen PP. IKLAS. Mampu menyesuaikan diri terhadap perkembangan dan perubahan yang ada. Karena perubahan adalah keniscayaan. Santri tidak hanya mampu sebatas dalam bidang agama saja. Melainkan harus mampu juga dalam bidang umum. Dakwah Islam tidak hanya tersampaikan dengan menjadi kiai atau ustadz. Profesi dan bidang apa pun bisa menjadi ladang dakwah. Termasuk menjadi seorang pengamat politik atau bisnis, karena segala sesuatu kembali kepada niatnya.

KH Achmad Sudrajat, komisioner BAZNAS menjelaskan pentingnya menguatkan dan merekrut alumni-alumni yang ada. Misalnya saja ketika kita berada di Australia. Saat kita memiliki relasi yang baik antar sesama alumni yang ada di sana, maka mereka akan memudahkan kita. Mereka akan membantu, melayani, dan merekrut kita khususnya ketika kita butuh pekerjaan.

Kiai asal Banyuwangi itu selalu mengajarkan kepada para santri agar senantiasa ikhlas, sabar, istiqamah, selalu berjuang dan menanamkan prinsip tidak ingin sukses sendiri. Abah selalu merekrut teman-temannya agar bisa saling dan sukses bersama. Begitu juga yang diharapkan kepada para santri dan alumni agar bisa saling bergandengan dan mempererat hubungan untuk mencapai kemajuan.

Seminar ini diadakan dengan tujuan untuk mempererat ikatan para alumni dalam menjaga warisan KH Noer Muhammad, SQ sebagai wadah bagi para alumni untuk bersilaturahmi dan memberikan pengajaran dan motivasi bagi para santri.

Acara ini dihadiri secara online dan offline dan dihadiri oleh para alumni As-Shiddiqiyyah Jakarta, santri dan mahasantri. Alumni yang hadir di antaranya: KH Anas Thahir, KH Achmad Sudrajat, Lc, MA, Ismail Fahmi, Alamsyah M Djafar, DR Ujang Komaruddin SH.I, M.SI, dan TB Ardi Januar.

Pewarta: Robiah, semester III

Leave a Reply