Mengenal Sosok Ulama Turki Badiuzzaman Said Nursi: Sang Keunggulan Zaman

Mengenal Sosok Ulama Turki Badiuzzaman Said Nursi: Sang Keunggulan Zaman

“Bismillah” 

Pangkal segala kebaikan, 

Permulaan segala urusan penting, 

Dan dengannya juga 

Kita memulai segala urusan 

_Badiuzzaman Kata Nursi_ 

Şükran Vahide mengatakan dalam karyanya Biografi Ustaz Badiuzzaman Said Nursi, Nursi adalah salah satu pemikir Islam paling cemerlang di zaman modern, seseorang yang konsisten memperjuangkan gagasan-gagasannya dengan tetap menjadikan Islam sebagai agama yang dinamis di dunia modern.  

Said Nursi, atau Said bin Mirza (anak dari Mirza), atau Badiuzzaman Said Nursi, Molla Said (Mulla Said) Said Masyhur dan Said Kurdi adalah gelar yang tersemat selama masa kehidupannya yang pada dasarnya merujuk pada tanah kelahiran, kejeniusan, dan garis keturunannya. Said Nursi dilahirkan menjelang fajar musim semi pada tahun 1924 /1877 M di desa kecil Nurs. Desa yang terletak di daerah Khizan di provinsi Bitlis wilayah Turki Timur.

Said Nursi merupakan pemuda yang terlahir dari orang tua yang taat dan dari keluarga petani yang sederhana. Sufi Mirza merupakan ayah Said Nursi, yang menjaga diri dari barang yang haram dan selalu berzikir kepada Allah SWT. Bahkan sapi milik Sufi Mirza tidak diizinkan memakan rumput yang tidak jelas halal haramnya. Mirza berasal dari kawasan Sungai Tigris dan meninggal dunia dalam tahun 1920-an dan dikebumikan di Nurs. Sedangkan ibunya bernama Nuriye (Nuriyyah) seorang perempuan yang hafal Al-qur’an, selalu menjaga dirinya dalam keadaan berwudhu, dan selalu melaksanakan shalat malam kecuali saat haid. Nuriyyah berasal dari semenanjung Balkan dan meninggal dunia pada semasa tercetusnya Perang Dunia I, kemudian dikebumikan di Nurs. 

Said Nursi merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara, yaitu Durriyah, Khanim, Abdullah, Said (Said Nursi), Muhammad, Abd al-Majid, dan Mariam. Said Nursi memiliki garis keturunan ulama bangsa Kurdi yang sampai ke jalur Ali bin Abi Thalib dan Nabi Muhammad SAW. Said Nursi lahir pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II, pada masa akhir dari pemerintahan Daulat Turki Utsman. Pada masa ini masuk secara intensif mencabik-cabik bangsa dan negara Turki, selama tiga puluh tahun Sultan Abdul Hamid II berkuasa dan memerintah Turki. Berbagai upaya yang dikerahkan pun tidak membuahkan hasil yang maksimal, karena telah diketahuinya titik-titik lemah dalam tubuh negara. 

Masa Studinya Said  

Masa kecil Said dikenal sebagai anak yang suka berkelahi dengan teman sebayanya ataupun yang lebih tua darinya. Hal ini tidak lain adalah caranya untuk mengekspresikan diri dan karena ketidakcocokan yang sering dirasakan baik dengan teman-temannya sampai dengan guru-gurunya. 

Pemicu Said Muda memulai belajar yaitu dari teladan kakaknya, Molla Abdullah. Rasa percayanya dari Abdullah inilah melahirkan dorongan kuat dalam diri Said. Ketika itu, usia Said sekitar sembilan tahun. Bulatnya niat dan tekadlah, beliau berangkat dengan kakaknya ke Madrasah Molla Mehmet Emin di Desa Tag, dekat Isparit, sekitar dua jam perjalanan kaki. Saat itu, Said tidak bertahan lama di sana. Ia sempat berkelahi dengan murid lain, karena ia tidak sudi mendengar perkataan memerintah sekecil apa pun atau dijajah dengan cara apa pun. Oleh karena itu, ia meminta ayahnya untuk sampai cukup dewasa ke madrasah. Tetapi, Said pun akhirnya belajar satu hari dalam seminggu, kerap kali kakaknya (Abdullah) pulang. 

Setelah satu tahun berlalu, Said melanjutkan studinya, tetapi tidak terpenuhi oleh guru dan madrasah manapun. Ia melanjutkan perjalan ke desa Pirmis, ia tidak tahan lama dan berkelahi lagi dengan empat murid lainnya. Ia mengadukan kepada gurunya, Seyyid Nur Muhammad, sampai Said dikenal sebagai “Murid Sang Syekh”, karena keberanian bocah usia sepuluh tahun yang sangat memuaskan syekh.

Lalu Said melanjutkan pergi bersama kakaknya, Abdullah ke desa Nursin. Di sana, ia sempat berkelahi dengan kakaknya sendiri karena Said tidak mengakui otoritas sang guru. Kemudian dari sana ia menuju ke sebuah desa bernama Kugak.  

Meskipun Said dikenal sebagai anak yang nakal, tak menutup kemungkinan dari sisi kecerdasannya, seperti pada masa studinya di madrasah Beyazid di bawah bimbingan Syekh Muhammad Celali. Di sana banyak yang Said baca, hafalkan, dan dalam jangka yang pendek itu, ia menunjukkan kekuatan ingatan yang mengagumkan serta memiliki pemahaman yang luar biasa jauh melebihi rata-rata anak seusianya. 

Adapun buku yang dipelajarinya, Said memahaminya tanpa bantuan seorang pun. Ia mampu menguasai buku-buku yang paling sulit yang tebalnya 200 halaman seperti Jam’ul al-Jawami, Syarh al-Muwaqif, dan Ibn Hajar dalam waktu 24 jam. Tepat tiga bulan, Said memeroleh diplomanya dari Syekh Celali, kemudian ia dikenal sebagai Molla Said.

Gelar sebagai Badiuzzaman 

Dengan keberanian dan ketahanan Said yang tidak bisa diremehkan, pada usianya yang masih lima belas tahun itu ia melanjutkan perjalanan ke Bitlis, jarak yang ditempuh sekitar 200 mil atau sekitar tiga bulan ditambah dengan kerasnya kawasan yang bergunung-gunung dan saat itu masih hutan lebat. Sampai tiba di Bitlis, ia menghadiri ceramah Syekh Mehmet Emin Efendi. Syekh menawarkan agar ia mengenakan pakaian para ulama. Di Anatolia Timur, saat itu turban dan jubah ulama tidak dipakai para murid, tetapi hanya diberikan ketika mereka sudah meraih ijazah. Pakaian ulama hanyalah hak para guru. Tetapi, Molla Said tidak menerima tawaran sang syekh dengan alasan ia belum cukup dewasa dan tidak cocok mengenakan pakaian guru yang terhormat.  

Said Nursi menjelajahi secara terus menerus kemungkinan menguras habis keilmuwan ulama, syekh atau guru yang handal seperti Syekh Fethullah, hingga beliau mendapatkan ilmu baru yang semakin memantapkan dirinya untuk berdebat, berdiskusi, dan mengajar kepada masyarakat. Karena kemampuan inilah, Said Nursi digelari gurunya Badiuzzaman  (keunggulan zaman). Sebagai bentuk pengakuan para ulama dan ilmuwan terhadap kecerdasannya yang tajam, pengetahuannya yang melimpah, serta wawasannya yang luas. Karena keyakinannya yang kuat, sesuai dengan salah satu perkataannya, yaitu: 

“Kita akan membuktikan kepada dunia bahwa Al-qur’an merupakan mentari hakikat yang cahayanya tidak akan pernah padam serta sinarnya tidak pernah mungkin bisa dilenyapkan.” 

Risalah Nur 

Said muda yang mengumpulkan pencerahan dalam kemajuan-kemajuan pendidikan, memperbarui kurikulum serta disiplin-disiplin ilmu yang diajar, juga ia sangat memerhatikan perbaikan moral. Ia menulis beberapa karya asli dan aktif terlibat dalam pergerakan konstitusional sebagai cara menyelamatkan keutuhan dan kemajuan kerajaan Utsmani dan dunia Islam.  

Setelah kemenangan Turki dalam kemerdekaan, ketika dirasa tidak cocok dengan para pemimpin rezim di Ankara. Hal ini lahir karakter Said Baru dari Said Lama pada tahun-tahun pahit kejatuhan Utsmani dan pendudukan asing. Ketika memasuki era baru terjadi perdebatan sengit antara peradaban Islam dan Barat. Meskipun Nursi dan murid-muridnya mengalami siksaan, mereka tidak pernah surut, malah memperkuat keteguhan hatinya dan memperluas pergerakan yang dibangkitkan oleh tulisan-tulisan Nursi, yakni pergerakan Nur atau Risalah Nur. 

Said Nursi menulis risalah sampai 1950 M sehingga jumlahnya lebih dari 130 risalah. Semua dikumpulkan dengan judul Kuliyyat Rasa il ‘an-Nur (Koleksi Risalah Nur) yang berisi empat seri utama: al-Kalimat, al-Maktubat, al-Lama’at, dan as-Syu’a’at. Selain itu, terdapat seri atau koleksi yang tidak mudah untuk dicetak kecuali setelah 1954 M. Dari sisi gaya tutur Risalah Nur yang unik, berbeda dengan yang lain dalam penyampaian sejumlah pemahaman Islam dan menguatkan pilar-pilar iman.

Wafat 

Said Nursi meninggal pada 23 Maret 1960 M, bertepatan dengan tanggal 25 Ramadhan 1379 H, kira-kira pukul 03.00 pagi. Awal sakit pada 18 Maret 1960 M, yakni demam panas. Walau kondisi sakit beliau tidak parah, sebelum wafat seusai melaksanakan shalat subuh beliau memanggil murid-muridnya sambil menangis mengatakan, “Selamat berpisah, aku akan pergi.” Ketika itu berat badan beliau sekitar empat puluh kilogram dan beliau meninggalkan seutas jam tangan, jubah, dan dua puluh lira uang. Beliau dikuburkan di Urfah.

Said Nursi merupakan seorang dengan hati sekuat baja berjuang untuk merevitalisasi dan memperkuat kepercayaan agama yang sepenuhnya di arahkan kepada Sang Pencipta. Keimanannya yang tinggi telah membuatnya ikhlas dalam berjuang dan tidak menuruti hawa nafsu serta egonya. Dia sangat welas asih kepada sahabat-sahabatnya dan tegas kepada musuh-musuhnya, yaitu mereka yang memusuhi Alquran dan Islam. 

Referensi

Vahide, Sukran. 2001. Biografi Intelektual Badiuzzaman Said Nursi. Jakarta: Anatolia (Divisi dari Prenadamedia Group.

Shirazi, Habiburrahman El. 2015. Api Tauhid: Cahaya Keagungan Cinta Sang Mujaddid. Jakarta: Republika.

Afriantoni. 2015. Prinsip-Prinsip Pendidikan Akhlak Generasi Muda: Percikan Pemikiran Ulama Sufi Turki Badiuzzaman Said Nursi. Yogyakarta: Deepublish.

Nursi, Kata Badiuzzaman. 2014. Tuntunan Generasi Muda. Bahreisy, Fauzi. Jakarta: Risalah Nur Press.

Nursi, Kata Badiuzzaman. Risalah Kebangkitan: Pengumpulan Makhkuk di Padang Mahsyar . Bahreisy, Fauzi. Jakarta: Risalah Nur Press.

Nursi, Kata Badiuzzaman. 2014. Risalah Mi’raj: Urgensi, Hakikat, Hikmah, dan Buahnya (Pendakian). Bahreisy, Fauzi. Jakarta: Risalah Nur Press.

Kontributor: Siti Yayu Magtufah, Semester IV 

Leave a Reply