Mengenal Sejarah Ulama Cianjur
Ma’had Aly – Mengenal kota Cianjur, citranya sebagai daerah agamis sudah terintis sejak kota itu lahir, yaitu sekitar tahun 1677. Cianjur didirikan oleh para ulama dan santri yang tempo dulu gencar mengembangkan syiar islam. Itulah mengapa Cianjur identik dengan julukan gudang santri dan kyai atau Kota Santri.
Tercipta pula lagunya yang kurang lebih berbunyi:
Suasana di kota santri
Asyik senangkan hati
Suasana di kota santri
Asyik senangkan hati
Tiap pagi dan sore hari
Muda mudi berbusana rapi
Menyandang kitab suci
Hilir mudik silih berganti
Pulang pergi mengaji
Duhai ayah ibu berikanlah izin daku
Untuk menuntut ilmu pergi ke rumah guru
Mondok di kota santri banyak ulama kyai
Tumpuan orang mengaji, mengkaji ilmu agama
Bermanfaat di dunia menuju hidup bahagia
Sampai di akhir masa
(lirik lagu Kota Santri)
Cianjur termasuk salah satu kota favorit, salah satu ulama yang terkenal di Cianjur ialah Mama Ajengan Aang Nuh atau KH. Abdullah Nuh. Ia merupakan salah satu putera ulama tersohor di Gentur, Cianjur bernama Syekh Ahmad Syantibi atau dikenal dengan sebutan Mama Gentur. Kedua tokoh ini sudah begitu masyhur di kota santri Cianjur karena luasnya ilmu dan keberkahan hidupnya, yang mana keilmuannya didapatkan dari ulama Cianjur yaitu Syekh Soheh Bunikasih.
Mama Gentur tidak diketahui waktu kelahirannya, namun beliau wafat pada tahun 1946 M, setahun setelah Indonesia merdeka.
Kiprah para ulama Indonesia dalam kemerdekaan tidak bisa dianggap remeh karena sebagian besar perjuangan dan pembentukan pemerintahan di negara kita bersumber dari ulama. Bahkan Presiden Soekarno selalu menginjakkan kaki di Cianjur untuk meminta do’a dan dukungan dari ulama Cianjur.
Beliau menikah dan dikaruniai putra-putri yaitu, Aang Nuh dan Aang Baden yang namanya terkenal di tanah Pasundan. Saat haul tiba, puluhan hingga ratusan ribu manusia berkumpul silih berganti untuk mendoakan beliau di komplek makam Mama Gentur, tempat dimakamkannya Aang Nuh, Mama Gentur, Aang Baden dan sejumlah tokoh lainnya serta jajaran makam ulama terdahulu.
Mengenai cerita karamahnya, seperti menaiki puncak tugu Monas, ditembak tentara Jepang yang tiba-tiba ada di rumahnya, pedagang yang ditempeleng kemudian menjadi orang kaya, bisa melihat dunia lewat pecinya, dan segudang karamah lainnya. Mengenai amalan apa yang biasa dilakukan olehnya, tentu harus diperhatikan dengan seksama, intinya apapun dalam kehidupan ini tak lupa untuk tetap bertakwa dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Ada sebagian ulama menyebut bahwa ulama ini selalu memperbanyak shalawat kepada nabi disamping menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Aang Nuh, Syekh Abdul Jalil Dukuh dan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan
Beberapa sumber lainnya menyebutkan bahwa Aang Nuh merupakan keturunan ulama besar bernama Syekh Abdul Muhyi Pamijahan Tasikmalaya. Syekh Abdul Muhyi adalah putera dari al Alim al Alamah Syekh Abdul Jalil yang berada di Kampung Adat Dukuh. Kedua tokoh ini juga menjadi sentral para peziarah di tatar Sunda.
Kata Mutiara Aang Nuh
Sebagai ulama yang masyhur, ada salah satu kata mutiara sejatinya sebagai pengingat bagi kita semua.
“Ceramah tèh euy, ulah ngan sakadar bisa tarik sora nepika ngahiung kana puhu ceuli. Tapi kudu bisa tarik rasa nepika ngahiang kana yahu tajali.”
Artinya :Ceramah itu jangan hanya bisa teriak sampai berdengung di telinga orang yang mendengarnya, tetapi harus bisa sampai tembus ke dalam hati, mengajak orang untuk mengenal Allah swt.
Oleh Dindin S., Semester VI
Lanjutkan kak… ???
I located your website from Google and I have to claim it was
a terrific discover. Many thanks!