Kiai Modern Pahlawan Kemerdekaan, KH. A. Wahid Hasyim (1914-1953 M)

Kiai Modern Pahlawan Kemerdekaan, KH. A. Wahid Hasyim (1914-1953 M)

Ma’had Aly – Menurut Ali Yahya dalam bukunya “Sama Tapi Berbeda: Potret Keluarga KH. A Wahid Hasyim”, ia lahir pada hari Jum’at Legi Rabi’ul Awwal 1333 H. Bertepatan dengan 01 Juni 1914 M di Jombang Jawa Timur, merupakan salah satu hari yang paling peting bagi perjalanan rumah tangga KH. Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqah binti Kiai Uyas. Di mana pada hari itu lahir putra kelimanya yang diberi nama Abdul Wahid. KH. Hasyim Asy’ari sangat gembira dan bersyukur karena telah lahirnya Abdul Wahid sebagai anak laki-laki pertama sebagai pelengkap keluarga mereka, akan tetapi mereka juga tidak memandang rendah anak-anak perempuan yang telah lahir sebelumnya. Sebagai pendiri dan pengasuh pondok pesantren besar dan terkemuka, KH. Hasyim tentu sangat mendambakan munculnya seseorang yang dapat melanjutkan jejak langkah perjuangannya, yaitu untuk membesarkan dan mengembangkan pondoknya.

Dalam buku “Intelektualisme Pesantren”, seri ke-3 yang dituliskan oleh A. Mujib dkk, menyebutkan bahwa silsilah dari jalur ayahnya, yaitu KH. Hasyim Asy’ari ini bersambung hingga sampai ke Joko Tingkirtokoh yang kemudian dikenal dengan Sultan Sutawijaya yang berasal dari kerajaan Islam Demak. Sedangkan jika dari ibunya, yaitu Nyai Nafiqah ini silsilahnya bersambung hingga Ki Ageng Tarub. Bila diruntut lebih jauh, kedua silsilah tersebut bertemu pada satu titik, yaitu Sultan Brawijaya V yang menjadi salah satu raja di kerajaan Mataram. Sultan Brawijaya V ini juga dikenal dengan Lembu Peteng.

Aziz Masyhuri menyebutkan bahwa ketika mengandung putra kelimanya ini, kondisi kesehatan Nyai Nafiqah agak memburuk, badanya lemah dan sering sakit-sakitan. Karena itu, suatu hari Nyai Nafiqah bernazar, “Jika nanti bayi yang aku kandung ini lahir dengan selamat, ia akan aku bawa ke guru ayahnya (Kiai Khalil) di Madura”.

Kemudian setelah kelahirannya Abdul Wahid dengan selamat nazarnya benar-benar ia penuhi. Ketika itu Abdul Wahid berusia tiga bulan, ibunya membawanya ke Bangkalan Madura untuk dipertemukan dengan Kiai Khalil, yang saat itu Nyai Nafiqah ditemani oleh Mbah Abu.

Setibanya di kediaman Kiai Khalil, terjadi suatu pengalaman spiritual untuk kali pertama yang dialami bayi Abdul Wahid. Ketika itu hari merangkak malam, cuaca semakin buruk, hujan turun disertai sambaran petir. Anehnya, dalam suasana seperti itu Nyai Nafiqah beserta bayinya tidak diperkenankan masuk rumah oleh tuan rumah, malahan mereka diminta untuk tetap berada dihalaman dan berhujan-huajanan.

Kasihan karena melihat bayinya menggigil diterpa air hujan, Nyai Nafiqah mencoba menempatkan bayinya di emperan, Nyai Nafiqah tak henti-henti mengucapkan “ Lailaha illa anta, ya hayyu ya qayyum”  (tidak ada Tuhan melainkan engkau, wahai Tuhan yang menjaga dan menghidupkan).

Tau akan hal itu, Mbah Khalil marah dan meminta agar bayi itu dibawa ke tengah halaman. Nyai Nafiqah menurut saja perintah itu dan akhirnya, Mbah Khalil minta kepada Nyai Nafiqah agar segera meninggalkan tempat itu. Tidak ada pilihan lain, Nyai Nafiqah pun pulang ke Jombang dengan seribu tanda tanya yang tidak terjawab ketika itu. Kenapa Mbah Khalil berbuat seperti itu. Rupanya kejadian di luar kebiasaan itu menjadi salah satu tanda bahwa Abdul Wahid kelak akan menjadi orang yang tergolong luar biasa dan ternyata hal itu terbukti dikemudian hari.

Ketika menginjak usia 7 tahun, Wahid belajar agama di bawah asuhan orang tuanya, Hasyim Asy’ari. Abdul Wahid mempunyai otak sangat cerdas. Pada usia kanak-kanak ia sudah pandai membaca al-Qur’an bahkan pada usia tujuh tahunya ia sudah menghatamkan al-Qur’an. Setelah berusia 10 tahun, Wahid mulai berkelana dari satu pesantren ke pesantren yang lain di sekitar Tebuireng, termasuk pesantren yang dipimpin ayahnya, pesantren Tebuireng.

Selain mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, Abdul Wahid juga belajar dibangku Madrasah Salafiyah di Pesantren Tebuireng. Pada usia 12 tahun, setamat dari Madrasah ia sudah membantu ayahnya mengajar adik-adik dan anak-anak seusianya. Sebagai anak tokoh terkemuka, Abdul Wahid tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah Pemerintah Hindia Belanda. Ia lebih banyak belajar secara otodidak.

Pada tahun 1932 ketika menginjak usia 18 tahun, Abdul Wahid Hasyim dikirim ke Makkah, selain untuk menunaikan rukun Islam ke-5 juga untuk memperdalam berbagai ilmu agama. Kepergiannya ke Makkah ia ditemani oleh sodara sepupunya Muhammad Ilyas, yang kelak menjadi menteri agama dan dialah yang mengajari Abdul Wahid bahasa Arab, di tanah suci ia belajar selama 2 tahun dengan pengalaman pendidikan tersebut, ia tampak sebagai sosok yang memiliki bakat intelektual yang matang. Ia juga menguasai 3 bahasa asing yaitu Bahasa Arab, Inggris dan Belanda. Dengan kemampuan 3 bahasa tersebut, Abdul Wahid Hasyim dapat mempelajari berbagai buku dari 3 bahasa tersebut. Sebagai autodidak, Wahid Hasyim memberikan pengaruh bagi praktik dan kiprahnya dalam dunia pendidikan, khususnya di pondok pesantren maupun pengaruhnya di dunia politik.

Setelah kembali dari Mekkah, Wahid Hasyim merasa perlu mengamalkan ilmunya dengan melakukan pembaharuan baik di bidang sosial, keagamaan, pendidikan dan politik. Pada usia 24 tahun (1938), ia mulai terjun ke dunia politik bersama kawan-kawannya. Ia gencar dalam pendidikan politik pembaharuan pemikiran dan pengarahan tentang perlunya melawan penjajah. Baginya, pembaharuan hanya mungkin efektif apabila bangsa Indonesia terbebas dari penjajah. Karir politiknya semakin menanjak ketika pada tahun 1940 ia dipercaya menjadi Ketua Majelis Islam A’la Indonesia ( MIAI).

Setelah merdeka pada tahun 1945, Wahid Hasyim bersama dengan para ulama baik dari kalangan modernis maupun tradisionalis menyelenggarakan Muktamar Umat Islam Indonesia di Yogyakarta. Kongres ini pada akhirnya menyepakati berdirinya Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia), satu-satunya partai politik umat Islam Indonesia.

Selain terpilih sebagai ketua Masyumi, Wahid Hasyim juga terpilih sebagai Menteri Agama dalam tiga kabinet (Hatta, Natsir, dan Sukiman). Sumbangsihnya selama menjabat Menteri Agama yakni menjaga hubungan baik antara pemeluk agama yang berbeda di tanah air, dan gagasan Wahid Hasyim untuk mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), yang kemudian diubah menjadi IAIN.

Ketika NU di bawah kepemimpinannya memutuskan keluar dari Masyumi dan mendeklarasikan berdirinya NU sebagai partai politik pada tahun 1952, yakni karena kekecewaan orang NU terhadap Masyumi. Jabatan Menteri Agama yang biasanya diberikan pada kader NU yang waktu itu menginginkan Wahid Hasyim sebagai Menteri Agama, pada waktu itu tidak diberikan.

Endang Saifuddi Anshari dalam bukunya, Piagam Jakarta 22 Juni 1945 menyebutkan, sebagai seorang tradisionalis Wahid Hasyim membawa ide-ide yang maju terhadap perkembangan dunia pesantren, sekaligus sebagai mediator dialog antara kaum tradisionalis dengan modernis di satu sisi, dan dengan kaum nasionalis di sisi yang lain. Berkat sumbangsih yang ia berikan pada nusa dan bangsa dari masa penjajahan sampai masa kemerdekaan, Wahid Hasyim mendapatkan anugerah sebagai Pahlawan Nasional yang ditetapkan oleh keputusan Presiden RI No. 206, tertanggal 24 Agustus 1964.

Dalam buku “99 Kiai Kharismatik Indonesia” yang dituliskan oleh A. Aziz Masyhuri, menyebutkan bahwa Kiai Abdul Wahid Hasyim merupakan seseorang yang sangat senang dalam hal menulis. Tulisannya tersebar dalam bentuk pidato-pidato resmi, ceramah-ceramah keagamaan dan artikel-artikel diberbagai media massa. Adapun karya-karya tulisnya:

  1. Nabi Muhammad dan Persaudaraa Manusia
  2. Berimanlah dengan Sungguh dan Ingatlah Kebesaran Tuhan
  3. Kebangkitan Dunia Islam
  4. Apakah Meninggalnya Stalin Berpengaruh pada Islam?
  5. Umat Islam Indonesia dalam Menghadapi Pertimbangan Kekuatan Politik dari Partai-Partai dan Golongan-Golongan
  6. Kedudukan Ulama dalam Masyarakat Islam di Indonesia
  7. dan Islam antara Materialisme dan Mistik

Secara umum, ia menekankan bahwa Islam adalah agama perdamaian. Di manapun Islam memenangkan sebuah pertempuran, nabi tidak pernah memenjarakan musuhnya, tetapi menjamin kemerdekaan mereka. Ia juga menekankan bahwa manusia pada hakekatnya bersaudara, oleh karena itu rasa persaudaraan harus senantiasa dijaga.

Pada tanggal 19 April 1953 merupakan hari berkabung. Waktu itu hari Sabtu tanggal 18 April, kiai Abdul Wahid Hasyim bermaksud pergi ke Sumedang untuk menghadiri rapat NU. Dengan mengendarai mobil Chevrolet miliknya, dan ditemani sopir dari harian Pemandangan, Argo Sutjipto, tata usaha majalah Gema Musimin, dan putra sulungnya, Abdurrahman ad-Dakhil. Kiai Abdul Wahid Hasyim yang saat itu duduk di jok belakang bersama Argo Sutjipto.

Ketika sampai pada daerah sekitar Cimahi dan Bandung pada waktu itu diguyur hujan dan jalan menjadi licin. Pada saat itu lalu lintas di jalan Cimindi sebuah daerah antara Cimindi-Bandung cukup ramai. Sekitar pukul 13:00, ketika memasuki Cimindi, mobil yang ditumpangi Kiai Abdul Wahid Hasyim selip dan sopirnya tidak menguasai kendaraan. Di belakang mobil Chevrolet nahas itu banyak iring-iringan mobil. Sedangkan dari arah depan ada sebuah truk yang melaju kencang terpaksa berhenti begitu melihat ada mobil zig-zag karena selip arah berlawanan. Karena mobil Chevrolet itu melaju cukup kencang, bagian belakangnya membentur badan truk dengan kerasnya. Ketika terjadi benturan, Kiai Abdul Wahid Hasyim dan Argo Sutjipto terlempar kebawah truk yang sudah berhenti itu. Keduanya luka parah, Kiai Abdul Wahid Hasyim terluka bagian kening dan mata, serta pipi dan bagian lehernya, sedangkan sopir dan Abdurrahman tidak cidera sedikitpun. Mobilnya hanya rusak bagian belakang dan masih bisa berjalan seperti semula. Sejak mengalami kecelakaan, keduanya tidak sadarkan diri. Pada pukul 10.30 hari ahad, 19 April 1953, Kiai Abdul Hasyim dipanggil kehadirat Allah swt. dalam usia 39 tahun. Beberapa jam kemudin, tepatnya pukul 18.00 Argo Sutjipto menyusul menghadap sang Khalik.

 

Referensi

Ali Yahya, Sama Tapi Berbeda: Potret Keluarga Besar KH. A. Wahid Hasyim, Jombang: Yayasan KH. A. Wahid Hasyim, 2007.

A Mujib, dkk, Intelektualisme Pesantren, Seri 3, Jakarta: Diva Pustaka, 2003.

Aziz Masyhuri, 99 Kiai Kharismatik Indonesia, Depok: Keira Publising, 2017.

Mohammad Rifai, Wahid Hasyim Biografi Singkat 1914-1953, Yogyakarta: Garasi, 2009.

Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945, Jakarta: CV. Rajawali, 1981.

Oleh : Fahris Faizin, Semester V

Leave a Reply