Khutbah Jumat

Khutbah Jumat: Bagaimana Agar Hatimu Penuh Dengan Rasa Cinta Kepada Allah Swt.

Khutbah I 

الحمد لله ثم الحمد لله الحمد حمدا يوافي نعمه ويكافئ مزيده، يا ربنا لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك ولعظيم سلطانك، سبحانك اللهم لا أحصي  ثناءا عليك أنت كما أثنيت على نفسك، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمد عبده ورسوله وصفيه وخليله خير نبي أرسله، أرسله الله إلى العالم كله بشيرا ونذيرا اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد صلاة وسلاما دائمين متلازمين إلى يوم الدين، وأوصيكم أيها المسلمون ونفسي المذنبة بتقوى الله تعالى.

أما بعد، فيا عباد الله

Hadirin yang dimulyakan Allah SWT.

Antum sekalian yang bibirnya mengucapkan kalimah Asyhhadualla Ilaha Illallah wa Asyhadu anna Muhammadarrasulullah dan hatinya menyakini bahwa tidak ada yang bisa menyedihkan atau membahagiakan kita kecuali atas izin Allah. Sungguh sangat menyedihkan jika hatinya masih belum merasakan manisnya rasa cinta sekaligus takut pada Allah SWT.

Pada mimbar Jumat kali ini mari kita bertadabbur, bagaimana agar hati kita dipenuhi rasa cinta kepada Allah sekaligus rasa takut kepada Allah SWT. Dan kita merasakan nikmat wajah yang berseri karena hati kita senantiasa berbunga oleh segala yang kita hadapi.

Hadirin rahimakumullah.

Apa yang harus kita lakukan agar rasa cinta dan takut itu hadir di hati kita? Dalam hal ini, Syekh Said Ramadhan Al Buthi mengajarkan kepada kita lewat perkataan yang ringkas:

إذا تذكرت فضل الله عليك فاض قلبك حبا لله سبحانه وتعالى، وإذا تذكرت موقفك بين يديه، وأنت مقبل عليها ما في بالك ريب ليمتلئ فؤادك خشية من الله تعالى

Jika kita mengingat bahwa Allah memberikan karunia dan nikmat-Nya kepada kita, baik kita minta ataupun tanpa kita pinta, maka pasti hati kita dipenuhi cinta kepada-Nya. Dan jika kita merasa apakah kita pantas mendapatkan itu semua, sedangkan yang paling tau keadaan kita tak lain adalah diri kita sendiri. Betapa banyak dosa yang telah kita lakukan, dan setiap yang kita lakukan harus kita pertanggungjawabkan di akhirat nanti. Sudah pasti tanpa adanya keraguan, hati kita diliputi rasa takut kepada Allah SWT.

Dan perjalanan spiritual manusia harus ditempuh dengan “dua kaki” yaitu perasaan cinta dan takut kepada Allah. Jika hati cinta kepada Allah tanpa disertai rasa takut, maka manusia tidak akan sampai. Dan jika hanya dipenuhi rasa takut tapi tidak ada cinta di hatinya, maka dia akan berhenti di jurang keputusasaan.

Hadirin, saudaraku seiman.

Tadi pagi setelah Allah membangunkan kita dari kematian yang sementara, Allah masih memberi kita kesempatan untuk hidup, masih memperkenankan kita untuk menghirup udara hari ini, masih memberikan kita kaki yang bisa melangkah, tangan yang bisa menyuap mulut kita, tulang punggung yang bisa menjadikan kita duduk di meja-meja kerja kita. Sehingga dengannya duduk kita bisa tegak,  memberikan mulut yang dengannya kita berbicara dan mengunyah makanan, hingga makanan tersebut masuk ke dalam lambung yang masih bisa mencerna makanan dengan baik.

Padahal Allah tidak butuh pada kita, ada tidak adanya kita di dunia ini tidak berpengaruh pada Allah sama sekali. Beberapa orang yang ketika bangun kehilangan daya untuk duduk dengan tegak karena kolestrolnya melebihi kapasitas tubuhnya, sehingga tersumbat pembuluh darahnya, dan berakibat ia terkena stroke. Bahkan banyak di antara saudara-saudara kita se-Islam yang Allah tutup matanya untuk selama-lamanya. Tapi karena Allah sayang kepada kita, di waktu yang mustajab ini Allah masih memberikan kita kesempatan untuk berkumpul di masjid ini, mendengarkan suara takbir kembali dan insyaallah akan menyelesaikan rangkaian ibadah salat Jum’at hari ini.

Jika juragan atau bos kita memberikan kita reward dan hadiah adalah hal yang wajar karena mereka butuh pada kinerja kita, di mana mereka mendapatkan manfaat akan kerja keras kita. Tapi saat ini dzat yang Maha Esa itu memberikan segalanya kepada kita tanpa berharap imbalan dari kita.

Masih perlukan lagi alasan kita untuk tidak mencintai-Nya?

Anak balita yang merasa bahwa ibunya tidak sayang kepadanya, mungkin masih bisa kita maklumi. Karena anak kecil akalnya belum bisa menalar dengan benar. Padahal tidak ada ibu yang tidak sayang kepada darah dagingnya sendiri. Akan tetapi kita yang sudah dewasa yang sudah bisa berfikir dengan jernih dan benar, jika masih tidak mampu merasakan sayangnya Allah kepada hamba-Nya, sehingga hati kita tidak cinta kepada-Nya. Mungkin ada yang salah dalam pikiran dan hati kita.

Hadirin rahimakumullah.

Jika rasa cinta itu sudah ada di hati kita, saatnya kita tahu diri. Apakah nikmat itu pantas diberikan kepada kita, sedangkan dari tadi pagi, kemarin, seminggu bahkan setahun yang lalu, hari-hari kita dipenuhi maksiat kepada-Nya. Padahal maksiat yang kita lakukan akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah nanti.

Hadirin, mari saya mengajak  antum semua untuk sejenak memejamkan mata. Kita ingat kembali, tadi malam sebelum kita tidur, lampu kamar kita sudah mati, kamar kita gelap. Saat itu sudah tidak ada suara karena semuanya sudah tidur. Seandainya saat itu Allah mengutus malaikat maut-Nya bertamu ke kamar kita, dan rasa dingin itu menjalar mulai dari ujung kaki. Karena dalam suatu riwayat, nyawa kita akan dicabut perlahan dari ujung kaki. Dan rasa dingin itu menjalar ke atas sampai kita tidak bisa merasakan lagi tangan kita, badan kita sudah tidak mau bergerak sesuai dengan keinginan kita, mulut kita mau meminta tolong kepada yang ada d isamping kita tapi lidah kita kelu, dan rasa sakit saat ajal itu datang tidak bisa kita ucapkan dengan mulut kita.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an surat AL-Qaaf ayat 19 yang berbunyi:

وجاء سكرة  الموت بالحق ذالك ما كنت منه تحيد

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.” (QS. Al Qaaf:19)

Saat nyawa kita sudah terangkat dan kita melihat tubuh kita terbujur lemas seperti halnya yang kita lihat saat kita takziyah kepada amwatul muslimin. Lalu, janazah itu diangkat, dimandikan dan dibawa oleh saudara-saudara muslimin menggunakan keranda.

Ingatkah saat kita letakkan jenazah saudara kita di liang lahat? Wajah yang matanya terpejam saat kita timbun liang lahat yang telah kita gali, saat itu jenazah seorang diri, uang yang dikumpulkan tidak bisa digunakan, tanah luas yang pernah dibeli tidak dibutuhkan, jabatan tinggi yang pernah diemban tidak bermanfaat. Selain itu, dia juga harus mempertanggung jawabkan setiap perbuatan semasa hidupnya seorang diri. Jika kelakuaknnya baik, alhamdulillah dia menemukan kenikmatan. Akan tetapi jika sebaliknya, kurang menderita apalagi jika siksa kubur itu harus dia tanggung sendirian tanpa ada yang bisa menolongnya. Kurang pedih apa menjalani masa susah beratus-ratus tahun tanpa bisa sekedar membagi cerita. Dan kitalah yang paling tau tentang dosa yang telah kita lakukan, dosa yang tidak mungkin kita ceritakan bahkan kepada keluarga terdekat kita. Yang mungkin dihati kita yakin bahwa pasti kita akan mempertanggungjawabkan dosa itu.

Masih perlukah alasan kita tidak takut kepada Allah?

Hadirin jamaah salat Jum’at yang dirahmati Allah SWT.

Saat takut itu sudah mandarah daging dalam hidup kita, maka kita akan senantiasa menjaga agar kita tidak kembali terperosok ke dalam lembah dosa. Dan saat kita mengingat akan segala nikmat dan betapa sayangnya Allah kepada kita, maka akan bertambahlah semangat ibadah kita kepada-Nya.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah II

الحمد لله حمدا كثيرا كما أمر، وأشهد أن لا اله اله إلا الله وحده لا شريك له إرغاما لمن جحد به وكفر، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الخلائق والبشر. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم المحشر. أما بعد

فيا أيها الحاضرون أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون، وافعلوا الخيرات واجتنبوا عن السيئات

واعلموا أن الله أمركم بأمر بدأ فيه بنفسه وثنّا بملائكته المسبّحة بقدسه، فقال الله تعالى في كتابه الكريم أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم، إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما، اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين وعلى التابعين وتابعي التابعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين برحمتك يا أرحم الراحمين

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات ويا قاضى الحاجات

اللهمّ ادْفعْ عنّا اْلبلاء والوباء والزّلازل والمحن وسوء الفتنة والمحن ما ظهر منها وما بطن عن بلدنا اندونيسيَّا خآصّة وبلدان المسلمين وسائر البلدان عامة يا رب العالمين. اللهم أصلح لنا ديننا الذي هوعصمة أمرنا وأصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا وأصلح لنا آخرتنا التي إليها معادنا، اللهم اجعل الحياة زيادة لنا في كل خير واجعل الموت راحة لنا من كل شر

اللهم أصلح أئمتنا وولاة أمورنا، وآمنّا في أوطاننا ودورنا وبلّغنا مما يرضيك آمالَنا واختم بالباقيات الصالحات أعمالنا، اللهم احفَظ بلادَنا إندونيسيا من كل سوء ومكروه، وأدم علينا الأمن والاستقرار، وجنبنا جميعا كل ما يؤدي إلى تباعد القلوب وتباغُضها، اللهم اجمع كلمتنا على الحق، واطفئ مشاعل الفتنة، وسد مسارب الفوضى، واجعلنا صفا واحدا على كل من أراد الشر لبلادنا يا أرحم الراحمين

Ya Allah, Ya Tuhan kami. Berilah kami nikmat pemimpin yang dekat dengan-Mu, yang engkau ridai dan mereka sayang kepada kami.

Sudilah kiranya Tuan memudahkan kami menggapai apa yang kami cita-citakan.

Ya Allah, jadikanlah kami manusia-manusia yang senantiasa berbakti kepada orang tua kami.

Ya Allah, persatukan tekad kami untuk berjalan di atas kebenaran. Padamkan bara api kebencian. Tutuplah segala sumber petaka.

Dan matikanlah kami dalam keadaan tersenyum bersiap menghadapmu, dan engkau ridai kepada kami Ya Rabbi.

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب، ربنا أتنا فى الدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار

عباد الله إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذى القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر يعذكم لعلكم تذكرون فاذكروا الله يذكركم واشكروا على نعمه يشكركم ولذكر الله أكبر

Kolumnis: Ibnu Mansyur Afandi

Editor: Winda Khoerun Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *