KH. Muhammad Yusuf Hasyim Sang Serdadu Sejati

KH. Muhammad Yusuf Hasyim Sang Serdadu Sejati

Seorang ulama yang tak terkenal hanya sekedar ulama, melainkan seorang pejuang yang gigih dalam berbagai perjuangan kemerdekaan. Baik perjuangan melawan komunisme juga pernah terlibat dalam kegiatan politik yaitu sebagai anggota DPR RI. 

KH. Muhammad Yusuf Hasyim merupakan putra dari pasangan seorang ulama besar yang bernama KH. Hasyim Asy’ari dengan seorang istri yang bernama Nyai Nafiqah. Beliau lahir pada tanggal 3 Agustus 1929, lahir di tengah suasana santri yang khusuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an beserta lengkingan suara adzan. Lebih tepatnya yaitu di Tebuireng, Jombang. 

Sapaan akrab Pak “Ud”, sebab panggilan kesayangan dari ayah beliau KH Hasyim Asy’ari. Panggilan tersebut ada atau muncul ketika beliau masih kecil, belum lancar berbicara sehingga memanggil nama sendiri dengan sebutan Usud bukan Usuf atau Yusuf. Putra seorang kiai biasanya dipanggil dengan sebutan Gus, sama halnya dengan KH. Muhammad Yusuf Hasyim ini yang biasa dipanggil Gus Ud. Namun beranjak dewasa beliau lebih akrab atau lebih seringnya dipanggil Pak Ud. Kalau melihat dari ayahandanya yakni KH. Hasyim Asy’ari beliau mempunyai silsilah dari jalur ayah ini yang bersambung hingga Joko Tingkir, yang kemudian lalu dikenal dengan Sultan Hadiwijaya yang berasal dari kerajaan Demak. Sedangkan silsilah dari pihak ibu, itu bertemu 23 pada satu titik yaitu Sultan Brawijaya V yang menjadi salah satu raja Kerajaan Majapahit.

Masa kecil beliau dihabiskan di Tebuireng. Beliau belajar membaca Al-Qur’an langsung dari ayahandanya KH. Hasyim Asy’ari. Setiap saat melakukan perjalanan, Kiai Hasyim sering meminta beliau untuk mengulangi hafalan ayat-ayat Al-Qur’an, baik ketika menaiki mobil, kereta api, atau naik delman (dokar).

Sejak beliau menginjak usia 12 tahun, beliau mondok di Pesantren Al-Qur’an Sedayulawas, Gresik, yang mana pesantren tersebut dipimpin oleh Kiai Munawar. Lalu kemudian beliau pindah ke Pesantren Krapyak, Yogyakarta, dibawah asuhan Kiai Ali Maksum. Dan setelah dari Krapyak, beliau sempat menimba ilmu di pondok modern Gontor, Ponorogo.

Belajar sendiri atau otodidak merupakan style dari beliau di masa remajanya. Hal ini yang menyebabkan beliau tidak sempat mengenyam pendidikan formal, karena di masa dulu itu Krapyak dan Gontor tidak seformal seperti saat ini. Bahkan lantaran tuntunan situasi pada saat itu adalah masa-masa perang kemerdekaan. Beliau banyak terlibat dalam ketentaraan dari pada belajar di pesantren. Beliau amatlah cerdas, berkat kecerdasan yang beliau miliki, beliau mampu mengikuti pembelajaran dengan cepat. Yang mana pelajaran tersebut adalah pelajaran yang belum pernah beliau dapat, beliau mendapatkan tersebut dengan cara banyak bergaul dengan cendekiawan-cendekiawan serta sering membaca.

Di masa kecilnya beliau banyak sekali mengalami goncangan, karena pada masa kecilnya, Jepang melakukan pengawasan ketat di Pondok Pesantren Tebuireng. Hal tersebut tidaklah dipungkiri, karena keterlibatan ayahandanya dalam memusnahkan kekuasaan Jepang. Ketika itu pada tahun 1942 Jepang baru memasuki Indonesia dari kekuasaan Belanda yang telah menyerah kepada Jepang. Jepang membuat peraturan yang membuat para ulama jengkel, khususnya KH. Hasyim Asy’ari.

Pada bulan Maret tahun 1942 Indonesia berada dibawah kekuasaan Jepang. Jepang menghapus semua peraturan yang ditetapkan oleh Belanda pada masa sebelumnya. Jika Belanda bersikap mengekang atau menindas terhadap Islam, maka Jepang bersikap seolah bersahabat dengan Islam, tujuannya adalah tak lain agar umat Islam yang menjadi mayoritas di Indonesia menjadi pro-Jepang. Ini menjadi strategi untuk mendapat dukungan umat Islam. Sikap Jepang yang seolah-olah memberi kelonggaran kepada Islam bukan berarti golongan Islam selalu tunduk kepada Jepang. Banyak hal-hal yang dipraktekan Jepang berlawanan dengan prinsip-prinsip agama Islam. Dengan hal ini, menyebabkan sebagian tokoh-tokoh Islam menarik dari kerjasama dengan Jepang. Bahkan telah ada pemberontakan yang dipimpin golongan ulama seperti yang terjadi di Singaparna, Indramayu dan Aceh. Salah satunya adalah tindakan seikerei, yang mana seikerei adalah sikap membungkukan badan ke arah Tokyo setiap pukul 07.00 pagi. Hal itu merupakan kewajiban bagi setiap warga di wilayah kependudukan Jepang untuk menghormati Kaisar Hirohito, yang mana dia adalah penguasa tahta Jepang. Bukan hanya itu, warga juga diwajibkan untuk membangkitkan badan setiap berpapasan dengan tentara Dai Nippon. Nah ketika KH. Hasyim Asy’ari diperintah untuk melakukan hal tersebut, beliau dengan tegas menolak. Karena penolakan tersebut, menyebabkan KH. Hasyim Asy’ari dan kerabatnya ditahan dibawah ancaman Jepang. Namun pada saat penangkapan tersebut, putra bungsu KH. Hasyim Asy’ari  yakni KH. Muhammad Yusuf Hasyim luput dari penangkapan, namun beliau menyaksikan penangkapan ayahnya itu. 

KH. Muhammad Yusuf Hasyim memilih kabur menyelinap dari pengejaran tentara Jepang. Beliau memilih pergi meninggalkan Jombang, pergi menuju ke suatu tempat yang tidak terpikirkan akan kemana tujuan tersebut. Beliau menyelinap ke sawah-sawah dan kebun-kebun hingga akhirnya ketika keadaan sudah aman menurut beliau, barulah beliau menuju ke jalan raya hingga beliau sampai ke stasiun kereta api. Barulah disana beliau menumpang kereta yang mana pada saat itu kereta tersebut akan menuju ke Solo, sesampainya di Solo beliau melanjutkan ke Jogja, kemudian ke Pekalongan hingga akhirnya sampai di Cirebon. Namun semua itu berlangsung selama dua tahun, dan beliau menjalaninya hanya seorang diri tanpa adanya teman disamping beliau. Dari perjalanan yang bisa dibilang cukup begitu lama itu mampu membuat KH. Muhammad Yusuf Hasyim menjadi sosok yang mandiri dan pemberani. Namun apa yang dihasilkan selama dua tahun tersebut tidaklah ada yang mengetahuinya karena tidak adanya sumber pendukung yang kuat.

Pengembaraan yang berlangsung selama dua tahun tersebut membawa perubahan tersendiri bagi beliau KH. Muhammad Yusuf Hasyim. Beliau mampu mempersiapkan mental untuk menghadapi masa-masa berat dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI. Sikap tersebut tercermin saat beliau kembali ke Jombang, yang mana pada saat itu ayahanda beliau telah dibebaskan dari penjara Jepang. Namun disana beliau merasa berat untuk tinggal dan menetap lama di Jombang, setahun setelah Indonesia merdeka beliau memilih untuk mendaftar menjadi anggota laskar Hizbullah, yang mana pada saat itu beliau berusia 16 tahun.

Kemudian pada tanggal 24 November 1951 di Madiun. Beliau menikah dengan seorang wanita yang bernama Siti Bariyah. Pertemuan beliau dengan istrinya tersebut pada saat selesai berjuang dalam penumpasan PKI. Saat itu KH. Muhammad Yusuf Hasyim beserta pasukannya turun gunung dan bermarkas di daerah pojok Jombang, yakni lebih tepatnya di kediaman kakaknya KH. Abdul Karim. Kediaman kakak beliau inilah yang menjadi tempat berkunjung dan beristirahatnya para pasukan tentara. Pasukan tersebut dipimpin oleh KH. Hambali yang menjabat sebagai kapten. Pada suatu ketika KH. Hambali sakit, lalu beliau dijenguk adiknya yang bernama Siti Badriyah (seorang perempuan asal Madiun yang bersekolah di SMA Surakarta). 

Pada saat Siti Bariyah menjenguk kakaknya tersebut, kedatangannya disambut oleh KH. Abdul Karim dan ibu Abdul Karim, KH. Muhammad Yusuf Hasyim pun adik sang pemilik rumah ikut menyambutnya. Pada saat itu Siti Bariyah masih dibilang kecil, namun mudah akrab dengan istri KH. Abdul Karim, sesama perempuan mereka memahami satu sama lain sebagai wanita. Kunjungan Siti Bariyah ke Markas pojok tidak hanya terjadi sekali itu saja. KH. Muhammad Yusuf Hasyim yang saat itu juga masih tergolong muda, akhirnya mendekati Siti Bariyah. Hingga keduanya melangsungkan pernikahan. Pernikahan KH. Muhammad Yusuf Hasyim dengan Siti Bariyah dikaruniai 5 orang anak, yakni: Muthia Farida, M. Riza Yusuf, Nurul Hayati, M. Irfan Yusuf, Nurul Aini. 

Selain sebagai anggota Hizbullah KH. Muhammad Yusuf Hasyim juga berperan dalam bidang lainnya, yakni sebagai politisi dan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Beliau memulai kariernya di dunia politik semenjak beliau lebih memilih pensiun, meski posisinya pada saat itu masih menjabat sebagai Letnan satu. Beliau tercatat pernah menjadi anggota banser, bahkan juga pernah menjadi komandan organisasi para militer milik NU. Pada tahun 1967-1977 beliau tercatat pernah menjadi anggota parlemen DPR GR hingga DPR RI. Beliau merupakan salah satu kader partai NU, yang mana beliau pernah mendirikan partai yang diberi nama PKU walaupun tidak berhasil memenangkan pemilu pada tahun 1999. 

Keempat putra beliau mengatakan bahwa sang ayah telah merasakan masa kehidupan yang keras sejak masih kecil. Pengalaman yang beliau lalui memanglah cukup keras, sejak beliau berusia 6 tahun sudah ditinggal ibunya wafat dan pada usia 15 beliau telah mengikuti perang. Jadi tak heran jika beliau terlahir menjadi orang yang tak kenal takut. 

Kemudian beliau juga berperan penting dalam mengasuh pondok pesantren Tebuireng. Karena pada tahun 1965 sebelum peristiwa G30s/PKI, pengasuh pondok pesantren Tebuireng berpulang ke rahmatullah, yang mana pada saat itu pengasuhnya adalah KH. Kholiq Hasyim. Setelah meninggalnya KH. Kholiq Hasyim, KH. Muhammad Yusuf Hasyim meneruskan perjuangan beliau di pondok pesantren Tebuireng. Saat beliau menjadi pengasuh pondok pesantren Tebuireng, beliau masih menjabat sebagai anggota fraksi DPR RI fraksi PPP. 

Pada masa kepemimpinan KH Muhammad Yusuf Hasyim pondok pesantren Tebuireng mengalami beberapa kemajuan, diantaranya ialah membuka Universitas Hasyim Asy’ari (1967), mendirikan Madrasah Huffadz Al-qur’an/MQ (1971), mendirikan SMP dan SMA (1975). Pada tahun 1974 KH. Muhammad Yusuf Hasyim mendirikan perpustakaan yang sekarang dikenal dengan perpustakaan Wahid Hasyim. Perpustakaan tersebut berada di gedung KH. Muhammad Yusuf Hasyim.

Namun pada masa kepemimpinan beliau, ada beberapa pihak yang menyatakan bahwa saat itu mengalami kemunduran, dikarenakan banyaknya santri yang keluar dari pesantren. Mereka menganggap bahwa pesantren tersebut tidak ada pengasuhnya. Namun pada dasarnya, setiap pesantren pastilah mengalami pasang surut begitu juga Tebuireng. Meski demikian hal itu bisa diatasi oleh beliau, karena meskipun beliau menjabat sebagai DPR beliau masih sering mengunjungi Tebuireng. Dan ketika beliau tidak di Tebuireng, beliau menyerahkan kepengurusan pondok kepada KH. Syansuri Badawi di bidang kepondokan dan adanya bagian-bagian tiap bidang Universitas serta di bidang madrasah.

Setelah 41 tahun beliau mengasuh pondok pesantren Tebuireng, akhirnya pada tanggal 13 April 2006 KH. Muhammad Yusuf Hasyim menyerahkan jabatannya kepada keponakannya, KH. Salahudin Wahid (Gus Sholah). Pada saat itu beliau berusia sudah mencapai 77 tahun. Beliau KH. Muhammad Yusuf Hasyim menjadi Kiai tertua dalam memimpin pondok pesantren Tebuireng. Setelah menyerahkan jabatannya beliau pindah ke kediamannya sendiri, yakni dari ndalem kasepuhan atau yang dulu ditempati sebagai rumah KH. Hasyim Asy’ari ke rumah cukir tepatnya di selatan Tebuireng.

Pada tahun 2006,  kesehatan KH. Muhammad Yusuf Hasyim sudah menurun hingga pada tanggal 30 Desember 2006 beliau jatuh dari kamar mandi kemudian dirujuk ke RSUD Jombang dan dirawat selama tiga hari. Kesehatan yang semakin menurun membuat beliau di rujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Lalu kemudian pada tanggal 11 Januari 2007 beliau menjalani operasi kecil untuk mengeluarkan lendir dari tenggorokan yang terluka akibat terlalu sering muntah. Namun ternyata virus lendir tersebut telah menjalar ke paru-paru. 14 Januari 2007 KH. Muhammad Yusuf Hasyim meninggal dunia, yang mana pada saat itu beliau sedang dirawat di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Kemudian pemakaman beliau dilakukan pada tanggal 15 Januari 2007 di Pondok Pesantren Tebuireng.

Referensi :

Badri,  2007. Pergeseran Pondok Pesantren Salafiyah Di Indonesia, (Jakarta: Publishing Lektur Agama)

Fadeli, 2007. Antologi NU Jilid 1 (Surabaya: Kalista).

Heru Soekadri, 2006. Kiai Haji Hasyim Asy’ari: riwayat hidup dan pengabdiannya, (University of California: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional 1985). 

Hidayat, Halwan Yusuf, 2007. Sang Pejuang Sejati : KH. M. Yusuf Hasyim di Mata Sahabat Dan Santri, (Universitas Michigan: Pustaka Ikapete).

Notosusanto, Nugroho dan Marwati D.P, 1993.  Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI (Jakarta: Balai Pustaka) 

Yasin, A. Mubarok dan Fathurrahman Karyadi, 2011. Profil Pesantren Tebuireng, (Jombang: Pustaka Tebuireng)

Kontributor: Farthin Nur Hafida, Semester VIII

Leave a Reply