KH. Hasyim Asy’ari, Sang Pendiri Nahdlatul Ulama

KH. Hasyim Asy’ari, Sang Pendiri Nahdlatul Ulama

Ma’had Aly – Sudah sangat tidak asing lagi tokoh yang satu ini terdengar di telinga kita. Sosok yang sangat populer dalam ketokohanya dalam pendidikan Islam di nusantara ini. Siapakah beliau? Beliau adalah KH. Hasyim Asy’ari, juga dikenal sebagai tokoh utama dalam berdirinya ormas besar yang ada di Indonesia yaitu NU (Nahdlatul Ulama). Beliau juga dikenal sebagai kiai yang sangat multi talenta. Beliau tidak hanya pandai dalam ilmu agama saja, namun juga sering terjun ke dalam dunia politik. Hal ini dapat diambil dari pemahaman bahwa sebagian dari sejarah kehidupan KH. Hasyim Asy’ari dihabiskan juga untuk merebut kedaulatan kebangsaan Indonesia dari hegemoni penjajahan kolonial Jepang dan Belanda.

Dikutip dari buku yang berjudul Intelektualisme Pesantren yang ditulis oleh Mushoffa dkk., KH. Hasyim Asy’ari juga merupakan tokoh yang piawai dalam pergerakan dan pemikiran kependidikan Nusantara. Sebagaimana dapat dilihat bahwa KH. Hasyim Asy’ari merupakan salah satu tokoh awal yang mendirikan pendidikan dengan sistem kepesantrenan, yang berada ditanah Jawa.  Keterlibatan beliau dalam pendidikan dapat dilihat juga dari karyanya yang cukup fenomenal yaitu Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim fi maYahtaj ilaih al-Muta’allim Ahwal Ta’allum wa ma Yataqaff ‘alaih al-Mu’allim fi maqamat Ta’limih.

Setelah kita mengenal berbagai jasa beliau dalam kiprahnya di bumi nusantara ini, seakan kita tidak pantas bila kita tidak mengenal siapa belau lebih dalam, tentang siapa belau yakni nama lengkap dan keturunannya dan bagaimana perjalan belau dalam menuntut ilmu. KH. Hasyim Asy’ari memiliki nama lengkap Muhammad Hasyim Asy’ari ibn ‘Abd al-Wahid ibn ‘Abd al-Halim yang memiliki gelar Pangeran Bona ibn ‘Abd al-Rahman yang dikenal masyarakat sebagai Jaka Tingkir Sultan Hadiwijoyo ibn ‘Abd Allah ibn ‘Abd al-‘Aziz ibn ‘Abd al-Fatih ibn Maulana Ishaq dari Raden ‘Ain al-Yaqin yand disebut dengan sunan Giri. Beliau lahir disebuah desa didaerah Jombang, Jawa Timur, Pada Hari Selasa Kliwon pada tanggal 24 Dzul Qoi’dah 1287 H. Bertepatan pada tanggal 14 Pebruari 1871. KH. Hasyim Asy’ari wafat sekitar jam 03:45 Dinihari pada tanggal 25 Juli 1947 bertepatan pada 7 Romadhon pada tahun 1366 dalam usia 79 tahun.

Dalam pejalanan hidupnya, beliau mendapatkan pendidikan langsung dari ayahandanya, terutama pendidikan dalam membaca al-Quran. Tidak hanya membacanya saja beliau juga diajari Ilmu-ilmu al-Quran dan bidang-bidang ilmu agama lainya. Setelah belajar dengan ayahandanya dalam dasar ilmu agama, kemudian ia mulai menjelajah mencari ilmu di berbagai pesantren, terutama di Tanah Jawa, yang meliputi Shona, Siwalan Buduran, Langitan Tuban, Demangan Bangkalan, dan Siduarjo. Setelah sekian lama beliau menimba ilmu di Siduarjo beliau merasa terkesan dengan pembelajaran yang ia dapat disana dan ingin terus menimba ilmu disitu, di Sidoarjo ia berguru pada seorang kiai yang bernama KH. Ya’kub yang merupakan pengasuh pesantren tersebut. Lama kelamaan KH. Ya’kub mulai merasakan kebaikan dan ketulusan yang KH. Hasyim miliki dalam kesehariannya di pesantren. Hingga KH. Ya’kub menjodohkan KH. Hasyim Asy’ari kepada putrinya yang bernama Khodijah. Genap pada usia 21 tahun yaitu pada tahun 1892, KH. Hasyim Asy’ari melaksanakan pernikahan dengan putri kiainya.

Aceng Abdul Aziz menuliskan dalam bukunya yang berjudul Islam Ahlusunnah Waljama’ah bahwa tidak berselang lama setelah menikah KH. Hasyim Asy’ari bersama istrinya yang tercinta menunaikan ibadah haji. Sepulangnya beliau dari tanah suci Mekkah mertuanya menganjurkan kepada KH. Hasyim untuk menuntut ilmu ditanah suci. Ini kemungkinan disebabkan karena tradisi orang dulu, seorang Ulama belum dikatakan mempuni ilmunya kalu belum menuntut ilmu di tanah Mekkah selama bertahun-tahun. Di Mekkah KH. Hasyim mempelajari banyak disiplin ilmu agama, diantaranya ialah ilmu fiqih Syafi’yah dan ilmu hadits, terutama kitab shahih Bukhori dan Muslim.

Diperjuangan beliau menuntut ilmu di Mekkah selama kurang lebih 7 bulan, datanglah berita duka yaitu istri beliau meninggal dunia pada saat melahirkan anaknya yang pertama sehingga bayinya pun ikut meninggal dunia. Walaupun dicoba dengan cobaan yang berat ini beliau tidak merasa putus semangat apalagi putus asa dalam menuntut ilmu.

Hasyim Asy’ari semasa tinggal di Mekkah ia berguru kepada Syeikh Ahmad Amin al-Athar, Sayyid Sultan ibn Hasyim, Sayyid Ahmad ibn Hasan al-Atthar, Syeikh Sayyid Yamani, Sayyid Alawi Ibn Ahmad Asqqaf, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid ‘Abdallah al-Zawawi, Syeik Shaleh Bafadhal, dan Syekh Sultan Hasyim Dagastani.

Beliau tinggal di Mekkah selama 7 tahun. Pada tahun 1900 M/1314 H. KH. Hasyim Asy’ri pulang kembali ke kampung halamannya. Di tempatnya ia membuka sebuah pengajian keagamaan. Dalam waktu yang relatif singkat menjadi terkenal di tanah Jawa pada masa itu.

Bagi KH. Hasyim Asy’ari, bersemangat mengemban ilmu tidak ada batasnya. Ia selalu merasa tidak puas dengan semua yang ia capai pada saat itu Hal ini mendorong beliau untuk menuntut ilmu berpindah-pindah dari tempat satu ketempat lain. Akhirnya,  ia datang ke sebuah tempat yang mana di dalamnya penuh tantangan dan cobaan, konon daerah itu disebut dengan daerah Ghitam. Tepat pada tanggal 26 Rabi’ Awwal 120 H bertepatan pada 6 Februari 1906 M, KH. Hasyim Asy’ari mendirikan sebuah pesantren di daerah itu, yaitu daerah Tebuireng, awalnya seperti biasa setiap ajaran Islam yang datang di tempat ini tidak selalu diterima dengan baik akan tetapai oleh karena kegigihan, ketekunan, kebaikan, dan keikhlasan beliaud alam menyosialisasikan ilmu pengetahuan dan pendekatanya kepada masyarakat yang ramah dan baik, pada beberpa tahun kemudian pesantren yang ia dirikan lama kelamaan menjadi ramai dan terkenal.

Bicara tentang KH. Hasyim sebagai sosok pendiri Nahdlatul Ulama, beliau dikenal sebagai pilar utama dalam organisasi ini, beliau adalah sumber legitimasi dalam berdirinya organisasi sekaligus Rais Akbar, dalam pendirian organisasi ini beliau tidak hanya sendiri yaitu ada kiai Wahab sebagai inspirator, penggerak dan fasilitor pendirian organisasi ini. Berarti ada dua pilar utama dalam organisasi ini yaitu KH. Hasyim Asy’ari dan kiai Wahab, dengan adanya dua pilar ini menjadikan kokohnya organisasi ini ditambah lagi bergabungnya kiai-kiai ternama yang bertemu dengan Kiai Wahab di Kertopaten, Surabaya, pada 31 Januari 1926 dan bersepakat mendirikan Jamiyyah yang dinamakan dengan Nahdlatul Ulama (NU). Para kiai  yang dimaksud adalah KH. Hasyim Asy’ari dan kiai Bisri Sansuri (1886-1980) dari Jombang, Kiai Ridlwan Abdullah (1884-1962) dari Semarang, Kiai Asnawi (1861-1959) dari Kudus, Kiai Ma’sum 1870-1972) dari Lasem, Kiai Nawawi dari Pasuruan, Kiai Nahrowi dari Malang, Kiai Alwi Abdul Aziz dari Surabaya, dan lain-lain.

Dalam aktivitas beliau mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama (NU), dengan ulama-ulama besar yang telah disebutkan di atas, organisasi yang baru didirikan ini memiliki tujuan:

Fashal 2. Adapoen maksoed perkoempoelan ini jaitu: “memegang dengan tegoeh pada salah satoe dara empat Imam madzhab jaitoe Imam Muhammad As-Sjafi’i, imam Maliki bin Anas Imam Aboe Hanifah An-noe’man, atau Imam Ahamad bin Hambal, dan mengerdjakan apa sadja jang mendjadikan kemaslahatan Agama Islam.”

Sebagai intelektual KH. Hasyim Asy’ari telah menyumbangkan banyak hal yang berharga bagi pengembangan peradaban, diantaranya adalah sejumlah literatur yang berhasil ia tulis. Adapun karya-karya yang belia tulisnya yang cukup terkenal di antaranya yaitu :

  1. Adab al-‘Alim wa al-Muta’alim fi ma Yahtaj ilaih al-Muta’alim fi Ahwal ta’allum wa ma Yatawaqaf ‘alaih al-Muta’allim fi Maqamat Ta’limah.
  2. Ziyadat Ta’liqat, Radda Fiha Manzhumat al-Syekh ‘Abd Allah D. Yasin al-Fasurani Allati Bihujubiha ‘Ala Ahl al-Jam’iyyah Nahdlat ‘Ulama.
  3. Al-Tanbihat al-Wajibat Liama Yashna’ al-Maulid al-Munkarot.
  4. Al-Risalat al-Jami’at, Sharh Fiha Ahwal al-Mauta Wa Asyarath al Sa’at Ma’bayan Mafhum al-Sunnah wa al-Bid’ah.
  5. Al-Nur al-Mubin fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin. Bain Fihi Ma’na al-Mahabbah li Rasul Allah ma wa Yata’allaq biha Man Ittiba’iyah wa Ihya al-Sunnatih, dan lain sebagainya.

Oleh Munir Akbar, Semester IV

Leave a Reply