Islam di Semenanjung Pulau Sisilia

Islam di Semenanjung Pulau Sisilia

Sisilia merupakan pulau terbesar di laut Tengah dan padat penduduk, luasnya mencapai 9.831 mil atau 25.462 km. Jarak antara Messina dan Sisilia ke ujung Selatan daratan Italia kurang lebih 2 mil  atau 3 km. Sedangkan antara Sisilia bagian Barat dan Tunisia berjarak 90 mil atau 145 km. Sepanjang sejarah klasik dan pertengahan, pulau Sisilia tersebut menjadi daerah incaran bangsa besar yang berkuasa, sehingga pulau ini pernah dikuasai oleh Yunani, Romawi, Byzantium, Islam, hingga akhirnya jatuh ke genggaman penguasa Kristen Normandia. Lalu bangsa Arab menaklukkan pulau Sisilia pada abad ke-9 M dan menguasai pulau tersebut selama kurang lebih 200 tahun. Mereka membangun sebuah peradaban yang cukup cemerlang dan dapat dianggap sebagai anak dari peradaban Arab Afrika Utara, yang kala itu tengah berada di puncak kejayaannya.

Awal ekspansi pasukan Islam ke Sisilia dimulai pada tahun 32 H/652 M, dan serangan itu dimulai ketika bangsa Arab telah memiliki armada laut yang tangguh sehingga mampu menandingi tentara perang Byzantium. Serangan ini dilakukan saat Mu’awiyah bin Abu Sufyan, salah seorang Gubernur Syiria pada penghujung kekuasaan Ustman bin Affan mengirim armada laut di bawah pimpinan Mu’awiyah bin Khudayj, armada berhasil memasuki Siracusa (sebuah kota yang terletak di timur Sisilia), namun gagal menembus pertahanan Kaisar Constantin II yang pasukannya terkenal tangguh.

Mu’awiyah mengalami kegagalan atas pasukan pertamanya, namun ia tetap gigih untuk mengirimkan pasukannya kembali ke Sisilia pada tahun 49 H/669 M. Saat itu Mu’awiyah telah menduduki tampuk kepemimpinan Dinasti Umayah, sedangkan Mu’awiyah bin Khudayj diangkat sebagai gubernur Mesir. Penyerbuan yang dilancarkan dari Alexandria dipimpin oleh Abdullah bin Qays, kemudian orang-orang Islam berhasil mendarat di Sisilia, akan tetapi penyerbuan yang kedua ini tetap gagal menaklukkan Sisilia. Penaklukan Sisilia sepanjang sejarah Islam sendiri merupakan penaklukan yang sangat sulit.

Dengan gagalnya penaklukkan yang kedua, panglima Qays mendapatkan keuntungan yaitu berhasil menjarah pantai Sisilia dan kembali ke Damaskus dengan membawa harta rampasan berupa patung-patung emas dan perak yang bertabur mutiara. Keinginan Khalifah Mu’awiyah untuk menguasai wilayah ini lebih diwarnai dengan mendapatkan harta rampasan daripada motif keagamaan. Hal ini dapat dipahami bahwa banyak bangsa besar dari semenanjung laut Eropa memperebutkan pulau Sisilia ini, disebabkan karena pulau Sisilia kaya, subur dan begitu strategis.

Banyak penguasa Bani Umayyah yang mengirimkan armada lautnya ke Sisilia, bahkan dari daerah Afrika Utara untuk meneruskan rintisan para pendahulu mereka. Namun mereka belum juga berhasil untuk menaklukkan pulau Sisilia tersebut. Bahkan pada tahun 704 M, salah satu dari tiga penakluk Spanyol dan Gubernur Afrika Utara yaitu Musa bin Nusair tiga kali mengadakan serangan ke Sisilia di bawah kepemimpinan putranya, Abdullah bin Musa. Penyerangan terus berlanjut pada tahun 727 M, dipimpin oleh panglima Bisr bin Sofwan. Tahun 729 M dipimpin oleh Mustanir bin Harits. Tahun 730 M, dipimpin oeh Abdul Malik bin Qatan. Tahun 740 M dipimpin Habib bin Nai, pahlawan penakluk Afrika Utara. Bahkan sekalipun Bani Umayyah masuk dalam fase kehancuran penyerangan tersebut tetap berlanjut yaitu tahun 749 M, sedangkan Bani Umayyah jatuh ke tangan Bani Abbasyiyah tahun 750 M.

Keberhasilan umat Islam dalam menaklukan Sisilia berhasil ditangani oleh Bani Aghlab pada tahun 827 M, dibawah pimpinan panglima perang Asad Ibn al-Furat atas perintah Ziyadatullah I dengan mengirimkan armada yang berkekuatan 70 kapal, 10.000 personil dan 700 ekor kuda. Kemenangan ini sangat penting setelah umat Islam melakukan penyerangan berkali-kali namun selalu gagal.

Dan pemerintahan Islam yang pertama kali menguasai Sisilia ialah Dinasti Aghlab. Perlu kita ketahui mengenai Dinasti Aghlab ini, sebuah dinasti kecil di barat Baghdad yang didirikan oleh Ibrahim bin Aghlab tahun 184 H/800 M atas restu khalifah Khalifah Bani Abbasiyah masa itu, Harun ar-Rasyid. Dinasti Aghlab berpusat di Ifriqiyah, Tunisia, Afrika Utara. Kemudian Ibrahim bin Aghlab diberi hadiah oleh khalifah karena jasanya dalam berdirinya Dinasti Abbasiyah dan berdirinya Dinasti Aghlab ini dimaksudkan untuk membentengi Baghdad  dari serangan Dinasti Idrisi.

Berkat kemakmurannya Dinasti Aghlab ini dikenal sebagai dinasti dengan armada laut terkuat, sehingga mampu melakukan ekspansi ke berbagai daerah Eropa seperti pantai Italia, Prancis, Corsica dan Sardinia. Dapat dikatakan prestasi yang paling berpengaruh dari Dinasti Aghlab ini adalah ekspansinya ke berbagai wilayah, termasuk Pulau Sisilia.

Banyak kemajuan yang dicapai setelah takluknya Sisilia ke genggaman Dinasti Aghlab, baik dari aspek perekonomian, pertanian maupun ilmu pengetahuan. Sebab majunya aspek ekonomi ini didukung dengan tempat strategis, segar, dan subur di sepanjang daratan dan pantai Timur hingga Catania di Barat.

Kemudian membangun sistem hidrolik (teknologi yang memanfaatkan zat cair) yang didatangkan dari Persia, sementara sistem siphon (pengatur pasang surut pada sistem aquaponik) dari Romawi yang lebih dahulu tetap dipertahankan. Kemudian setelah terbentuknya sistem-sistem itu, mereka menanam berbagai tanaman diantaranya: kapas, rami, jeruk dan segala jenis tumbuhan lainnya yang tumbuh subur di Sisilia sehingga diekspor ke luar. Orang-orang Eropa dan Sisilia mengenal tanaman tebu yang dapat dijadikan gula melalui orang-orang Arab tersebut. Bahkan orang-orang Arab pula yang mengajarkan cara menanam tebu dan menggiling tebu.

Dari segi ilmu pengetahuan, seketika saat kaum muslimin menduduki Sisilia, ilmu pengetahuan, agama dan bahasa mereka tersebar pesat. Panglima Asad bin al-Furat sendiri ialah orang yang alim dari madzhab Maliki yang masyhur. Ketika panglima ini menyerang Sisilia, ia membawa para ilmuwan di berbagai bidang yang mencapai 900 orang yang berkendara kuda dan 10.000 orang lainnya berjalan kaki.

Sejak berkembangnya Islam di Sisilia, banyak ulama Islam yang datang guna mengajarkan agama, bahasa dan syair. Muhammad bin Khurasan as-Siqili dikenal sebagai ahli nahwu, ia berasal dari maula Bani Aghlab dan merantau di Mesir lalu belajar nahwu kepada Abi Ja’far an-Nuhas, kemudian kembali ke Sisilia guna mengajarkan nahwu yang juga sebagai ahli syair yang kita kenal, Ibnu Hamdis as-Siqili.

Tokoh-tokoh lainnya yang menonjol adalah al-Idrisi seorang ahli geografi yang terkenal, kemudian Ibnu al-Qatta salah seorang imam dalam bidang al-adab, lughah, nahwu dan ‘arud juga ia mengarang sebuah kitab yang berjudul ad-Daurah al-Khatirah dan al-Mukhtar min Syu’ara’I al-Jazirah.

 

Referensi

Buchori, Dindin Saefuddin. 2009. Sejarah Politik Islam. Jakarta: Pustaka Intermasa.

Fu’adi Imam. 2012. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Depok Sleman Yogyakarta: Teras

 

Oleh : Ahmad Rifa’i Fadlillah, Semester VI

This Post Has 4 Comments

  1. Antonia Thum

    I discovered your blog site on google and check a few of your early posts. Continue to keep up the very good operate. I just additional up your RSS feed to my MSN News Reader. Seeking forward to reading more from you later on!?

  2. SAMSUDIN

    Artikel yang sangat bagus …
    Ulasan informasi yang disampaikan sangat bermanfaat …
    Terimakasih informasinya min …
    Ditunggu artikel selanjutnya …
    Salam kenal …

Leave a Reply