Siwak, Sunah Rasul yang Kian Diabaikan

Siwak, Sunah Rasul yang Kian Diabaikan

Ma’had Aly – Tak banyak orang masa kini mengerti istilah siwak. Pasalnya, mereka sudah tak lagi menggunakan siwak sebagai alat pembersih mulut, melainkan beralih menggunakan sikat gigi/toothbrush yang disertakan dengan pasta gigi/toothpaste. Jika menyelisik keterangan dari literatur kitab turats, siwak sendiri berasal dari bahasa Arab yang mengandung dua pengertian, yaitu الدلك وآلته yang berarti menggosok dan alat yang digunakan untuk menggosok. Maksudnya, siwak bisa bermakna sebagai pekerjaan menggosok gigi dan area sekitarnya untuk menghilangkan perubahan yang ada padanya (seperti bau mulut, kotoran yang menguning, ataupun rasa nyeri) dengan menggunakan sesuatu yang kasar disertai niat tertentu, bisa diartikan pula sebagai alat yang digunakan untuk pekerjaan tersebut, entah itu berupa kayu, kain, sikat gigi dan lain sebagainya. Alhasil, ketika diserap ke dalam bahasa Indonesia, kata siwak lebih diartikan sebagai alatnya, sedangkan pekerjaannya diberi imbuhan ber- menjadi bersiwak.

Dalam paper berjudul Miswak, (Chewing Stick): A Cultural and Scientific Heritage oleh Khalid Almas, disebutkan bahwa siwak/miswak telah digunakan oleh orang Babilonia sejak kurang lebih 7000 tahun silam. Orang Arab kuno pra-Islam juga memiliki kebiasaan bersiwak guna memutihkan gigi. Mereka menyebutnya dengan siwak, miswak, atau arak. Adapun orang Jepang menyebut siwak dengan koyoji. Sementara orang Tanzania menamakannya dengan miswak, Pakistan dan India menyebutnya datun, dan Ethiopia menyebutnya mefaka. Dengan perbedaan penyebutan siwak tersebut, alat bersiwak yang digunakan di setiap komunitas juga berbeda. Orang Romawi misalnya, menggunakan damar wangi untuk menggosok gigi sekaligus sebagai tusuk gigi. Orang Timur Tengah menggunakan kayu arak yang memiliki nama latin salvadora persica. Sementara Afrika Barat, menggunakan kayu pohon limun dan pohon jeruk. Tak kalah, orang Amerika berkulit hitam dalam sejarahnya juga bersiwak dengan akar tanaman Senna. Dengan demikian, hal ini menandakan bahwa sebelum datangnya Islam, miswak/siwak sudah eksis digunakan oleh umat manusia zaman dulu sebagai alat pembersih mulut. Namun, nilai kesunahan bersiwak baru ada dalam syariat Islam pasca diutusnya Nabi Muhammad SAW

Dalam Islam, siwak menjadi kultur keagamaan yang tentunya memiliki nilai ibadah sebagai sunah Baginda Rasulullah SAW. Banyak sekali hadis yang meredaksi tentang siwak, namun yang paling masyhur menjadi landasan kesunahan bersiwak ialah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Sahihnya,

 حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يُوْسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنِ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ أَوْ عَلَى النَّاسِ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلَاةٍ   

Abdullah ibn Yusuf bercerita padaku, dia berkata, “Malik bercerita padaku dari Abu Zinad dari al A’raj, dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seandainya aku tidak memberatkan umatku atau manusia, maka pasti akan ku perintahkan mereka untuk bersiwak di setiap salat.”

Redaksi matan lain menyebutkan bahwa setiap kali Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah SAW, ia selalu mewasiatkan untuk bersiwak sehingga Rasulullah SAW khawatir bahwa siwak itu diwajibkan, lalu bersabdalah beliau dengan kalimat لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ sampai akhir. ‘Ala kulli hal, anjuran bersiwak dalam hadis tersebut menujukkan perhatian Nabi SAW akan kebersihan dan kesehatan umatnya. Allah SWT sendiri mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri sebagaimana dalam firman-Nya surat al Baqarah ayat 222,

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan yang mensucikan diri.

Atas dasar inilah siwak dihukumi sunah dan sangat dianjurkan bagi orang muslim untuk mengamalkannya, terutama ketika akan melakukan pekerjaan yang bernilai ibadah seperti berwudu, membaca Alquran, salat, belajar ilmu agama, dan lain sebagainya. Rasulullah SAW sendiri kerap menggunakan siwak di sebagian banyak waktunya. Hingga manakala ajal menjemput, beliau masih menyempatkan diri untuk bersiwak. Diceritakan dalam sebuah riwayat bahwasanya di detik-detik terakhir Rasulullah SAW wafat, tubuh beliau berada di pangkuan Sayyidah Aisyah RA Ketika Abdurrahman Ibn Abu Bakar RA masuk sambil memegang siwak, Rasulullah saw. menoleh ke arahnya dan Sayyidah Aisyah RA yang mengetahui hal itu langsung menawarkan kepada Rasulullah SAW supaya ia memintakan siwak tersebut kepada saudaranya itu. Beliau pun mengiyakan dengan isyarat kepala karena saking cintanya terhadap siwak. Setelah diserahkan, Sayyidah Aisyah RA menggosokkan siwak tersebut ke dalam mulut beliau. Karena dirasa terlalu kasar, Sayyidah Aisyah RA lalu memelankan gosokannya. Usai bersiwak, Rasulullah SAW mencelupkan kedua tangannya ke dalam bejana berisi air yang ada di dekat beliau saat itu, lalu diusapkannya ke wajah sambil bersabda, “Tiada Tuhan selain Allah, sesungguhnya kematian itu ada sekaratnya.” Demikianlah Rasulullah SAW amat mencintai siwak dan melanggengkannya hingga ajal menjemput.

Kecintaan terhadap siwak juga diteladani oleh putri Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah Az Zahra. Dalam suatu Riwayat diceritakan bahwa suatu ketika Sayyidina Ali RA pernah merasa cemburu ketika melihat Sayyidah Fatimah RA kerap kali bersiwak, kemudian mengucapkan dua bait syair sebagai berikut.

حَظِيْتَ يَا عُوْدَ الْأَرَاكِ بِثَغْرِهَا # مَا خِفْتَ يَا عُوْدَ الْأَرَاكِ أَرَاكَا

لَوْ كُنْتَ مِنْ أَهْلِ الْقِتَالِ قَتَلْتُكَ # مَا فَازَ مِنِّيْ يَا سِوَاكُ سِوَاكَا

Wahai kayu arak, kau telah beruntung mendapatkan mulutnya (Fatimah RA). Tidakkah kau takut akan aku yang menatapmu?

Andai kau adalah seorang dari laskar perang, pasti aku telah membunuhmu. Wahai kayu siwak, tidak pernah ada yang selamat dariku selainmu.

Demikianlah Rasulullah SAW dan putri beliau mencontohkan perilaku bersiwak kepada umat Islam guna menjaga kebersihan sekaligus mengamalkan dan melanggengkan kesunahan. Ulama zaman dulu juga kerap mengamalkan sunah bersiwak di sebagian banyak waktu mereka, terutama saat hendak mengajarkan ilmu agama. Barangkali yang demikian sekaligus memberikan contoh kepada muridnya supaya ditiru dan dijadikan kebiasaan baik saat hendak menerima ilmu.

Terkait manfaat bersiwak, jikalau ada pepatah mengatakan bersih pangkal sehat, maka tentu perilaku bersiwak yang mencerminkan kebersihan memiliki manfaat bagi kesehatan. Apalagi ketika diniatkan ittiba’ lisunnati rasul, maka manfaatnya tidak hanya untuk kebersihan dan kesehatan saja, melainkan ada manfaat syariat juga di dalamnya. Sebagaimana dalam hadis Nabi SAW,

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

Siwak itu mensucikan lisan dan menyenangkan Tuhan.

Hadis ini nampak menyebutkan dua manfaat umum bersiwak, yakni dari aspek kebersihan dan aspek syariat. Mensucikan lisan memiliki makna luas saat dikaitkan dengan kedokteran, di antaranya ialah membersihkan mulut dari kotoran yang menguning, memutihkan gigi, menguatkan gusi, meringankan nyeri gigi yang disebabkan bakteri yang mengendap di dalamnya, dan lain sebagainya. Adapun aspek syariat yang disebutkan dengan kalimat مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ dalam teks hadis di atas dapat dimaknai sebagai memperoleh pahala dari Allah SWT atas pengamalan firman-Nya dalam surat Al Baqarah ayat 222, memperoleh pahala kesunahan sebagaimana dalam hadis yang telah disebutkan sebelumnya, dan lain-lain. Selain itu, di dalam kitab berjudul Fawaid al Siwak al Syar’iyyah wa al Shihhiyyah menyebutkan manfaat lain dari bersiwak yang di antaranya ialah menguatkan dan melunakkan gusi, membersihkan tenggorokan dari dahak, memperlambat penuaan, memudahkan sakaratul maut, melipatgandakan pahala ibadah seperti salat dan membaca Alquran, meningkatkan kecerdasan dan kefasihan lisan, memperkuat hafalan, mempertajam penglihatan, meluruskan punggung, menyebabkan kaya dan luas, bahkan mengenyangkan perut orang yang lapar. Manfaat-manfaat tersebut rupanya tidak lepas dari komposisi kayu siwak itu sendiri yang kaya akan kandungan zat-zat yang sangat berguna bagi kesehatan tubuh. Kayu siwak yang dimaksud ialah kayu salvadora persica atau yang disebut orang Timur Tengah dengan kayu arak. Ia memiliki kandungan sulfur, bikarbonat, tanin, salvadora, vitamin C, fluorid yang biasa dipakai sebagai bahan pembuat pasta gigi, dan zat-zat mineral lainnya. 

Begitu banyak manfaat bersiwak yang bahkan telah teruji klinis. Namun, seiring perkembangan zaman dan teknologi, manusia semakin menemukan hal-hal baru yang lebih praktis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk alat pembersih mulut. Sehingga siwak yang sebenarnya lebih memiliki keunggulan ketimbang sikat gigi sudah jarang bahkan tidak lagi menjadi alat pembersih mulut yang lazim digunakan. Saat ini, agaknya siwak menjadi alat pembersih mulut yang kurang relevan dipakai karena digunakan tanpa ada tambahan seperti cairan atau pasta yang bisa menimbulkan sensasi kesegaran di mulut. Melihat makanan yang dikonsumsi manusia masa kini kian bermacam-macam dengan berbagai olahannya sehingga untuk membersihkan sisa-sisanya di dalam mulut pun membutuhkan bahan pembersih yang ekstra sebagaimana pasta gigi yang banyak digunakan sekarang. Dengan digantikannya peran siwak oleh sikat dan pasta gigi tersebut, masihkah nilai kesunahan siwak dapat diperoleh?

Apabila kembali menganalisa pengertian siwak di atas, bersiwak tidak harus menggunakan kayu siwak atau arak, boleh menggunakan benda lain yang sifatnya kasar. Dengan demikian, ketika zaman sudah berubah dan siwak dirasa tidak lagi relevan digunakan dan digantikan dengan sikat dan pasta gigi atau alat penggosok gigi lainnya, maka nilai kesunahan tetap ada selagi si pelaku berniat menggosok gigi untuk menjalankan kesunahan bersiwak. Sebaliknya, ketika hanya menggosok gigi untuk sekadar membersihkan dan menyegarkan gigi tanpa niat menjalankan kesunahan, maka ia tidak mendapat nilai kesunahan siwak tersebut. Hal ini berdasar kepada hadis Nabi SAW,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Segala perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan setiap seseorang itu mendapatkan sebagaimana yang ia niatkan.

Namun, dalam sebuah buku berjudul 354 Sunnah Nabi karya Dr. Raghib As Sirjani menyebutkan bahwa sikat gigi yang kini digunakan tidak dapat menggantikan posisi kesunahan bersiwak, lantaran dalam hal kebersihan mulut Nabi SAW tidak hanya menyebutkan esensi dari bersiwak saja sebagai pembersih mulut, melainkan juga menyebutkan alat pembersihnya, yaitu siwak. Dengan perbedaan kedua pendapat tersebut, alangkah baiknya kita mengambil jalan tengah dengan tetap menggosok gigi menggunakan sikat gigi dan pastanya yang menyegarkan, atau benda kasar lainnya yang sekiranya dapat menghilangkan atau paling tidak mengurangi kotoran bekas sisa-sisa makanan di sela-sela gigi dan sekitarnya, disertai niat bersiwak dan dilanjutkan bersiwak dengan kayu arak untuk mendapatkan keutamaan bersiwak. Karena di dalam kitab Fathul Mu’in disebutkan bahwa benda kasar untuk bersiwak bisa berupa kayu, kain dan sikat, namun yang paling utama ialah kayu. Kayu yang paling utama dipakai bersiwak ialah kayu yang memiliki bau harum, dan kayu berbau harum yang paling utama ialah kayu arak. Dengan begitu, kita memperoleh pahala kesunahan sekaligus merasakan kebersihan dan kesegaran mulut yang maksimal. Manfaat lainnya ialah kita dapat melestarikan sunah Rasulullah SAW Sungguh sangat disayangkan jika sunah Rasul yang amat ringan dikerjakan, memiliki banyak kemanfaatan, tapi kini kian diabaikan. Al Imam al Shan’ani sampai mengatakan, “…terdapat lebih 100 hadis tentang keutamaan siwak, namun betapa mengherankannya ada sebuah sunah yang disebutkan dalam hadis yang banyak tapi diabaikan oleh banyak orang…” Jika tidak umatnya sendiri yang melestarikan kesunahan itu, hendak siapa lagi? Barangkali berkah melestarikan sunah yang diabaikan, derajat kita akan dinaikkan dan diakui sebagai umat Rasulullah SAW yang kelak memperoleh syafaatnya di Hari Akhir kemudian.

Referensi

Ibrahim ibn Muhammad ibn Ahmad al Bajuri. 2016. Hasyiyah Al Bajuri Jilid I. Beirut: Daar El Minhaj

Almas, Khalid. 1999. Miswak, (Chewing Stick): A Cultural and Scientific Heritage. Saudi Dental Journal 1999/Vol. 11 Number 2; 80-88

Bukhari. Sahih Bukhari. Kitab al Jumu’ah bab al Siwak yaum al Jumu’ah No. 838

Al Mubarakfuri, Shafiyyurrahman. 2013. Al Rahiq Al Makhtum. Riyadh: Maktabah El Wadi

Muhammad ibn Alwi Al’idrus. Fawaid al Siwak al Syar’iyyah wa al Shihhiyyah

As Sirjani, Dr. Raghib. 2015. Ihya’ 354 Sunnah Nabawiyah Wasa’il wa Thuruq wa Amaliyah. Mesir: Aqlam

Syekh Zainuddin ibn Abdul Aziz al Malibari. Fathul Mu’in. Surabaya: Darul Jawahir

Iqbal al Sinjawy, Muhammad. 2010. Sunnah Nabi 24 Jam. Jakarta: Zad Media

Kontributor: Qoriatus Shufiyah, Semester IV

Leave a Reply