IBNU ATHA’ILLAH AS-SAKANDARI: THE LEGEND OF PRINCE SUFI

IBNU ATHA’ILLAH AS-SAKANDARI: THE LEGEND OF PRINCE SUFI

Alexandria atau Iskandariah merupakan salah satu Kota Ilmu di Mesir, di mana pada saat itu ilmu berkembang dengan pesat dan tarekat yang tersebar luas di daerah itu adalah tarekat Imam Abu Hasan As-Syadzili atau As-Syadzuli yang mana pada saat itu penyebarannya dilakukan oleh murid utama beliau, yaitu Ahmad bin Umar bin Muhammad al-Mursi al-Andalusi al-Anshari, tetapi populer dengan sebutan Abu al-Abbas al-Mursi dan wafat pada tahun 686 H/1288 M. 

Dari kota inilah lahir seorang anak muda yang sangat mahir dalam berbagai Fan (cabang) keilmuan yang mana dalam perjalanan hidupnya sangat anti dengan sufistik, akan tetapi kehidupannya berubah drastis setelah berguru dengan Abu al-Abbas al-Mursi dan bahkan setelah beliau wafat, pemuda ini mampu meneruskan dan mengharumkan Tarekat Syadzuliah. Siapa lagi kalau bukan Pangeran Sufi Ibnu Athaillah As-Sakandari Radhiyallahu Anhu. 

A. Sekilas Tentang Ibnu Atha’illah As-Sakandari 

Nama asli beliau ialah Taj Ad-Dien Abu al-Fadl Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Abdurrahman bin Abdullah bin Ahmad bin Isa bin al-Husain bin Atha’illah al-Juḍzami al-Maliki al-Iskandari atau As-Sakandari al-Qarafi as-Sufi Asy-Syaḍzili. Tidak ada keterangan konkret kapan beliau dilahirkan, akan tetapi menurut data yang populer beliau lahir di Iskandariyah, Mesir pada 648 H/1259 M, kisaran akhir abad ke-7 Hijriyah. Dan, wafat pada bulan Jumadil Akhir tahun 709 H/1309 M di Madrasah al-Manshuriyah, Kairo, Mesir. Beliau dimakamkan di zawiahnya yang terletak di kaki bukit al-Muqattam di Qarafah, Mesir. 

Ibnu Atha’illah As-Sakandari bermadzhab Maliki, kemudian penisbatan al-Judzami menunjukkan bahwa beliau merupakan keturunan kelompok Arab Judzam. Ssatu Kabilah Kahlan yang berujung pada Bani Ya’rib bin Qahthan yang lebih dikenal sebagai Arab Aribah. Kala itu di Mesir bermazhab resmi Ahlussunnah wal Jamaah, dalam masalah ushul mengikuti Asy’ari dan furu’ mengikuti paradigma 4 mazhab, akan tetapi masyarakat mayoritas bermazhab Maliki. Beliau dari kecil hidup di keluarga yang berilmu dan terkenal sangat gigih dalam menimba ilmu, bahkan kakek dari jalur ayahnya merupakan seorang ulama fiqih pada zamannya. 

Adapun guru-guru Ibnu Atha’illah As-Sakandari, yaitu Syekh Nasir al-Din ibn Munir di bidang fiqih, Syekh Shihab al-Din Abu Ma’ali atau Syekh al-Abraquhi di bidang ilmu hadis, Syekh al-Muhyi al-Mazuni di bidang nahwu dan tata bahasa Arab. Ia juga  belajar kepada Syekh al-Imam al-Syaraf al-Din al-Dimyati (613-705 H). Selain itu, beliau juga belajar Ushul Fiqih, Tauhid, Falsafah, dan Mantiq kepada Syekh Muhammad ibn Mahmud atau Shamsuddin al-Isbahaniy. 

Oleh karena itu, tidak heran jika beliau memiliki kedalaman ilmu yang sangat luar biasa dan dikisahkan bahwa Ibnu Atha’illah As-Sakandari sangat diharapkan menjadi seorang faqih oleh kakeknya, akan tetapi harapan itu menjadi kekecewaan ketika beliau menunjukkan minat pada tasawuf. Disebutkan juga bahwa kakek beliau menunjukkan ketidaksukaannya terhadap minat beliau, tetapi hal itu tidak menyurutkan tekad Ibnu Atha’illah As-Sakandari untuk belajar ilmu tasawuf bahkan dikemudian hari beliau menjadi salah satu tokoh penting dalam Tarekat Syadzuliah. 

B. Tiga Fase Perjalanan Hidup Beliau 

Pertama, pada fase sebelum 674 H. Fase di mana beliau belum bertemu dengan Syekh Abu al-Abbas al-Mursi, pada fase ini beliau belajar berbagai disiplin ilmu seperti Usul Fiqh, Fiqh, Tauhid, Tafsir, Hadis, Balaghah, Mantiq, dan lain-lain. Hingga beliau mampu menjadi tokoh sentral dalam mazhab Maliki dan sangat anti terhadap tasawuf, juga beliau banyak berdebat dengan murid-murid Syekh Abu al-Abbas al-Mursi. Dan, pada fase ini beliau sangat dipengaruhi pemikirian kakeknya yang berorientasi fiqih. 

Kedua, fase memasuki 674 H. Di mana beliau bertemu dengan Syekh Abu al-Abbas al-Mursi dan mengakui kebenaran tasawuf. Pada fase inilah yang menentukan  pengembangan keilmuan dan praktik keislaman beliau. Pertemuannya dengan al-Mursi diawali dari keengganannya pada kisah-kisah karamah al-Mursi yang diceritakan banyak orang, sehingga beliau pun mengkritiknya. Lalu beliau katakan, “Biarlah saya pergi kepadanya karena orang yang benar pasti ada tanda-tandanya.” Ketika beliau mendatangi al-Mursi, al-Mursi sedang menjelaskan kepada murid-muridnya mengenai jiwa manusia dan tahapan menuju Allah Swt. bahwa Islam terbagi menjadi tiga dimensi; Islam, Iman, dan Ihsan. 

Islam adalah dimensi ketaatan, kepatuhan, dan menjalankan syariat Tuhan. Iman adalah dimensi saat manusia menyadari hakikat syariat dari sisi kehambaan dirinya. Sedangkan, ihsan adalah dimensi saat manusia menyadari Tuhan dengan segenap kesadarannya di dalam hati. Mendengar penjelasan al-Mursi, beliau pun terenyuh dan menyadari bahwa al-Mursi adalah orang yang benar-benar mendalami dunia keislaman dan nur ketuhanan, sehingga beliau pun mulai mengikuti kajian-kajian yang diberikan Syekh Abu al-Abbas al-Mursi. Beliau berguru kepada al-Mursi kurang lebih selama 12 tahun sampai al-Mursi wafat. beliau juga berguru kepada Syekh Yaqut al-Arsyi yang juga merupakan murid dari al-Mursi. 

Ketiga, pada fase ini ditandai dengan pindahnya beliau dari kota kelahirannya, yaitu Alexandria ke Kairo. Fase ini merupakan kematangan spiritual-intelektual beliau, yaitu fase setelah wafat gurunya al-Mursi 686 H/1288 M. Beliau menjadi Mursyid Tarekat Syadzuliah menggantikan gurunya al-Mursi dan merumuskan dasar-dasarnya. Tugas ini beliau emban sambil mengajar di Universitas al-Azhar Kairo dan Madrasah al-Mashuriyah Kairo, Hay al-Shoghoh yang didirikan Sultan al-Mansur Sayf al-Din Qalawun (678-689 H) dalam lingkungan kesultanan. Dari didikan beliau lahir banyak tokoh di antaranya Imam Taqiy al-Din al-Subki (w. 756 H) penulis kitab abaqāt al-Syafi’iyyah al-Kubrā, Ahmad bin Idris al-Qarafi (w.684 H) penulis kitab Anwār al-Burūq fī Anwā’ al-Furūq dan al-Yawāqīt fī Ahkām al-Mawāqīt, dan Dawud bin Umar bin Ibrahim al-Syaḍzili al-Iskandari (w. 733 H) pengarang kitab al-Laṭīfah al-Mardliyyah Fīsyarduā al-Syāziliyyah dan Mukhtaar At-Talqīn

C. Karya-Karya Ibn Atha’illah As-Sakandari 

Syekh Ibn Atha’illah As-Sakandari merupakan figur ulama prolifik dengan menuliskan sejumlah karya tulis yang cukup mendalam bagi keilmuan dan praktik keislaman hingga kini. Menurut catatan para penulis biografi beliau, tak kurang dari 22 atau 24 karya tulis yang beliau hasilkan. Di antaranya : 

1. Al-Hikam Al-Athoiah 

Sebenarnya judul asli kitab ini hanya Al-Hikam adapun penisbatan al-Athoiah ini istilah yang dibuat oleh Syaikh al-Bouthi. Mungkin untuk membedakan dengan Al-Hikam-Al-Hikam lain, karena banyaknya kitab dengan judul yang sama baik era sebelum beliau atau sesudahnya, sebelum era beliau ada Al-Hikam Al-Ghoutsiah karya Abu Madyan al-Maghribi kemudian setelahnya ada banyak al-Hikam lainya seperti Al-Hikam Al-Hatimiah karya Ibnu Arabi dan Al-Hikam Al-Qudsiah karya Musthafa Bin Kamaluddin al-Bakri. 

Kitab ini merupakan magnum opus Ibn Atha’illah As-Sakandari yang mampu merepresentasikan kedalaman pemikiran dan praktik tasawuf melalui ratusan aforisme yang sangat indah. Total jumlah aforismenya mencapai 264 yang memuat tema-tema seperti pemahaman tauhid, akhlak, dan ma’rifatullah. Kedalaman kandungan Al-Hikam Al-Athoiah inilah yang mendorong Victor Danner menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Book of Wisdom (Classics of Western Spirituality) yang diterbitkan oleh Paulist Press tahun 1978. 

2. Laṭāif al-Minan fī Manāqib al-Syekh Abi al-Abbās al-Mursi wa Syaikhih Abi Hasan al-Syāili  

Kitab ini berisi biografi dua gurunya, yaitu Syekh Abu al-Hasan al-Syaḍzili dan Syekh Abu al-Abbas al-Mursi. Berisi kisah-kisah hikmah tentang kedua gurunya, ungkapan dan pemikiran tasawuf keduanya dan para ahli tasawuf lainnya, juga penafsiran al-Syaḍzili terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, Hadis, serta kesaksian terhadap kewalian al-Syaḍzili. Kitab ini juga dilengkapi dengan bacaan zikir-zikir Syekh Abu al-Hasan al-Syaḍzili, doa-doanya, dan diakhiri dengan pesan kepada murid-muridnya di Iskandariyah.  

 3. At-Tanwīr fī Isqā at-Tadbīr  

Kitab ini berisi tentang kebajikan dalam perspektif tasawuf, khususnya tentang tawakal. Menurut Muhammad Abdurrahman Asy-Syaghul dalam sambutannya pada kitab ini, cetakan al-Maktabah al-Azhariyah li at-Turats, bahwa kitab ini menjelaskan bagaimana seseorang menata sifat tawakal dengan menanggalkan at-tadbīr (perilaku angan-angan, banyak pikiran mengenai hasil akhir, dan terlalu menentukan hasil akhir karena susunan-susunan  perbuatan yang dia upayakan). 

4. Tāj al-Arūs wa Uns an-Nufūs   

Kitab ini juga berisikan kalam mutiara dengan berbagai tema yang disampaikan dengan bahasa sastra singkat. Menurut Abdurrahman Asy-Syaghul dalam sambutannya pada kitab ini yang juga diterbitkan oleh al-Maktabah al-Azhariyah li at-Turats bahwa kitab Tāj al-Arūs meski disampaikan dengan bahasa ringkas seperti juga karya Syekh Ibnu Atha’illah yang lain, tetapi jika diurai akan memberikan penjelasan yang sangat panjang. Oleh karena itu, sebuah ungkapan yang disampaikan oleh Syekh Ibnu Atha’illah merupakan hasil perenungan yang mendalam dalam dunia tasawuf. Maka, kitab ini juga menjelaskan penyakit-penyakit hati dan langkah untuk mengobatinya dengan secara seksama. 

5. Miftāh al-Falāh wa Misbāh al-Arwāh fī ikr Allah al-Karīm al-Fattāh   

Kitab ini membahas tentang zikir, dalil keutamaan zikir dalam Al-Qur’an dan Hadis, prinsip-prinsip dalam berzikir, keutamaan berzikir secara berjemaah, etika dalam berzikir, faedah berzikir, prinsip dalam memilih zikir, dan zikir-zikir dalam waktu-waktu tertentu. Selain itu, dalam kitab ini juga dijelaskan mengenai pembahasan zikir-zikir tertentu. 

6. Al-Qawl al-Mujarrad fīal-Ism al-Mufrad  

Ini adalah sebuah kitab yang ditulis mengenai nama dan sifat Allah Swt. Pembahasan di dalamnya dibagi menjadi dua. Pertama,  membahas nama dan sifat Allah Swt. pembagiannya dan dalil-dalilnya. Kedua, pembahasan mengenai nama الله dalam bahasa Arab dan zikir-zikir yang berkaitan dengannya, serta fadilah ketika istiqamah membacanya. 

7. Unwān at-Taufīq fī Adāb at-arīq   

Kitab ini merupakan karya komentar atas syair (qaṣīdah) yang ditulis oleh Syekh Syuaib bin Husain al-Anshari yang dikenal dengan Abi Madyan al-Ghauts (520 – 594 H). Karya ini menjelaskan tentang etika bertasawuf, fokus pada introspeksi diri, dan langkah-langkahnya serta bagaimana bersosial dengan orang-orang saleh. 

Dan, masih banyak karya-beliau selain di atas, Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari juga menulis beberapa risalah, seperti risalah tentang penafsiran surah Al-An’am ayat 54 : 

وَإِذَا جَآءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِئَايٰتِنَا فَقُلْ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ ۖ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلٰى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۖ أَنَّهُۥ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوٓءًۢا بِجَهٰلَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنۢ بَعْدِهِۦ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُۥ غَفُورٌ رَّحِيمٌ  

Risalah ini diterbitkan oleh Penerbit Muassasah Dar as-Sya’b. Juga ada risalah yang ditulis sebagai pesan dan wasiat kepada murid-muridnya. Wallahualam. 

Kontributor: Iren Dwi Pebriani, Semester V

Leave a Reply