Daulah Fatimiyah: Mengenal Sejarah Kerajaan Syi’ah

Daulah Fatimiyah: Mengenal Sejarah Kerajaan Syi’ah

Di jelaskan oleh Nuraini H. A. Manan dalam bukunya yang berjudul Dinasti Fatimiyah di Mesir, bahwasanya Dinasti Fatimiyah adalah sebuah kerajaan yang berideologi syiah, lebih tepatnya syiah ismailiyah. Syiah ismailiyah adalah sekte syiah yang meyakini bahwa Ismal bin Jafar beliau adalah imam ke tujuh, adapun mayoritas syiah (syiah itsna asyriyah) meyakini bahwa Musa bin Jafar-lah imam ke-tujuh setelah Jafar Ash- Shadiq. 

Pada masa Dinasti Abbasiyah, kita dapat melihat bahwasannya pada masa pemerintahannya banyak mengalami masa kejayaan dan gemilang, baik dari bidang eksternal dan internalnya, dimana kekuasaan sepenuhnya dalam kendali dan dimonitoring langsung oleh para Khalifah. Setelah itu, masa demi masa waktu demi waktu seiring berjalan dengan berbagai  konflik baik eksternal maupun internal menyebabkan grafik kekuatannya semakin menurun,  

Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh salah seorang filsuf berasal dari Jerman yaitu Oswald Spengler bahwasannya gerak sejarah mempunyai empat tahapan yaitu: pertumbuhan, perkembangan, kejayaan dan keruntuhan. 

Disamping itu ada salah satu dinasti yang sudah mulai berdiri yaitu Dinasti Fatimiyah, yang dimana dinasti tersebut didirikan oleh kaum Syi’ah dari sekte Ismailiah. Pada abad 9 M seiring lemahnya pemerintahan Dinasti Abbasiyah dengan banyaknya jumlah pimpinan yang dimana mereka memiliki kekuatan militer di beberapa wilayah tertentu. Dalam hal ini Dinasti Fatimiyah berada di posisi yang independen, yang artinya bahwa kekuasaan Dinasti Abbasiyah dikala itu dalam bidang politik dan militernya cenderung sangat lemah.

Dan hal ini dimanfaatkan oleh golongan Syi’ah, yaitu dari kelompok Ismailiah. dan orang-orang Syi’ah ini telah berhasil merebut pengaruh di beberapa daerah, seperti Kuffah, Iraq, Persia dan Bahrain. Dalam waktu tertentu, mereka orang-orang Syi’ah Ismailiah mendapatkan kekuasaan, terutama di Bahrain. Akan tetapi, gerakan ini sebagaimana gerakan-gerakan lainnya yang selalu menjadi sasaran kebencian dan kemudian menghilang, mungkin berpindah ke wilayah lain.

Ajaran-ajaran Syi’ah ini dalam kenyataanya pada waktu itu dapat dijadikan inspirasi bagi para pengikutnya dengan dikoordinir oleh orang-orang Ismailiyah. Mereka dapat berhasil membangun suatu gerakan rahasia yang pada awalnya hanya merupakan keberhasilan para pendukung Bani Ismail untuk memberikan perlindungan bagi imam-imam mereka di Salamiah, Syiria. Kemudian ketika gerakan rahasia ini dilaksanakan oleh Abu Ubaidillah Al-Mahdi, (generasi keempat setelah Ismail) memegang kendali pimpinannya, pada saat itulah gerakan ini jauh lebih aktif. Dan gerakan propaganda ini yang dilaksanakan dibawah kepemimpinan Abu Ubaidillah Al-Mahdi dalam kenyataan ini telah mendapatkan suatu dukungan yang begitu luas.

Pada saat wilayah Yaman telah dikuasai oleh gerakan ini, maka gerakan ini menjadi semakin kuat. Bahkan ibukota Yaman yaitu Sana’ah telah berhasil mereka kuasai pula. Dan pada saat itu terdapat propagandis yang terkenal diantara mereka diantaranya yaitu Ali Bin Fadl Al-Yamani dan Ibnu Hawasyab Al-Kufi.

Sebagaimana daerah Yaman yang banyak pengikut Syi’ahnya, yang sangat strategis dan jauh pula dari jangkauan tangan penguasa Dinasti Abbasiyah. Karena sebab itulah wilayah Yaman dapat pula dijadikan sebagai basis penting perjuangan gerakan Syi’ah ini disamping wilayah Salamiyah.

Karena semakin kuatnya gerakan ini, sehingga mengirimkan para propagandisnya yang begitu kuat dan ampuh ke berbagai wilayah-wilayah lain seperti halnya Afrika Utara, Belahan Timur Arabia dan juga India. Dengan begitu, pengaruh gerakan ini diharapkan semakin meluas ke wilayah yang lebih besar. 

Dijelaskan oleh Prof. Dr. Imam Fu’adi, M.Ag dalam karyanya Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Bahwasannya Abu Ubaidillah al-Mahdi menjadi pimpinan sebagai propagandis di wilayah Afrika Utara, terutama pada daerah bagian Barat, ia mengutus Da’i yaitu Abu Abdullah Asy-Sy’I. Usahanya tersebut berhasil dengan baik dan ia mampu menarik perhatian dan mendapatkan dukungan dari suku-suku Barbar dan terutama dari suku Khutamah. Bahkan ia juga telah meminimalisir potensi wilayah tersebut untuk pemberontakan umum dan merebut kekuasan dari tangan penguasa bani Aghlab yang mana pada saat itu berbasis di wilayah Afrika Utara, Penguasa Bani Aghlab, yang bernama Ziadattullah dapat mereka usir dan kemudian mereka dapat merebut daerah Raqqadan dan kemudian daerah Qairawan, dan daerah itu adalah kota-kota terpenting di wilayah tersebut.

Kesuksesan Al-Mahdi sebagai propogandis telah menjadikan dirinya dipercayai sebagai imam dan menggantikan ayahnya. Dan pada akhirnya al-Mahdi diminta untuk ke Tunisia. Mengapa ia ke Tunisia? Guna untuk dinobatkan sebagai khalifah dari golongan orang-orang Syi’ah, dan peristiwa penobatan al-Mahdi terjadi pada tahun 909 M. Maka dengan demikian secara resmi dan sah bahwasannya Dinasti Fatimiyah telah didirikan, yang beribukota di Qairawan. Maka pada waktu itu pula terdapat dua Khalifah didalam tubuh umat islam.

Kemudian Dinasti Fatimiyah ini berpindah tempat ke Kairo, Mesir dan pada saat itu dipimpin oleh Khalifah al-Muiz Lidinillah. Dan terutama sekali Dinasti Fatimiyah dapat merebut kekuasaan Ikhsidiah dibawah pimpinan seorang panglima yang bernama Jauhar as-Siqili. Peristiwa ini terjadi pada tahun 969 M. Maka dengan demikian, pusat kekuasaan pemerintahan Dinasti Fatimiyah semakin dekat dengan wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah. 

Dijelaskan oleh Prof. Dr. Dindin Saefuddin Buchari dalam karyanya Sejarah Politik Islam. Bahwasannya, mengapa dinasti ini dinamakan dengan Fatimiyah? Nama dinasti ini diambil dari nama putri Nabi Muhammad SAW, yaitu Fatimah az-Zahra. Pendirinya bernama Ubaidillah al-Mahdi. Ia mengaku berasal dari keturunan Ali bin Abi Thalib dan istrinya Fatimah binti Muhammad SAW. 

Dikatakan oleh Ahmad al-Usairy dalam karyanya Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam hingga Abad XX. Bahwasannya banyak dari kalangan para sejarawan berbeda pendapat tentang nasab mereka, ada yang mengatakan bahwa mereka menisbatkan dirinya pada Ismail bin Ja’far ash-Shadiq. Oleh karena itu, mereka disebut juga dengan Ismailiyah. Dan ada pula yang menyebutkan bahwasannya mereka menisbatkan dirinya pada salah seorang lelaki yang berasal dari Persia yang bernama Abdullah bin Maymun al-Qaddah al-Ahwazi (seorang penganut madzhab dualisme) yang mengatakan bahwasannya tuhan itu ada dua, tuhan nur dan tuhan kegelapan. Maka dari itu, kita belum mengetahui mana yang benar, bahkan para sejarawan yang begitu pakar dalam hal tersebut masih berpendapat simpang siur.

Dikatakan oleh Prof. Dr Didin Saefuddin Buchori dalam karyanya Sejarah Politik Islam. Bahwasannya pada periode Mesir ini, Dinasti Fatimiyah telah mencapai puncaknya terutama pada masa kepemimpinan al-Muiz, al-Aziz, dan al-Hakim. Dan puncaknya pada khalifah al-Aziz, baik dari segi perekonomian sektor perdagangan, industri, dan pertanian telah dikembangkan sesuai teknologi pada waktu itu. 

Dibawah kekuasan dinasti Fatimiyah, di Mesir dan Kairo mengalami kemajuan di bidang ekonomi dan budaya, yang menyaingi Baghdad dan dimulainya hubungan perdagangan dengan dunia asing (non islam), termasuk juga dengan India dan negeri-negeri kawasan Mediterania yang mayoritas penduduknya beragama Kristen.  

Dikatakan oleh Thohir Ajid dalam karyanya, perkembanan peradaban di kawasan Dunia Islam, pada tahun 914 mereka bergerak kearah timur dan behasil menaklukan Alexanderia, menguasai Syiria, Malta, Sardinia, Cosrica, Pulau Betrik dan Pulau lainya. Kemudian pada tahun 920 M ia mendirikan kota baru di Pantai Tunisia yang kemudian di beri nama al Mahdi wafat pada 934 M. 

Dinasti Fatimiyah Mesir berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga Palestina dan Syiria dan penjagaan atas tempat-tempat suci di Hijaz pun dikuasai oleh mereka. Dibidang kebudayaan Dinasti Fatimiyah telah mengalami kemajuan yang pesat, setelah didirikannya Masjid Jami’ al-Azhar, yang kedudukannya berfungsi sebagai pusat pengkajian dan pengembangan ilmu pengetahuan Islam. Seiring dengan berjalannya waktu, masjid ini berubah menjadi Universitas yang dimanfaatkan oleh berbagai golongan, baik dari Syi’ah maupun orang-orang Sunni, dan Universitas ini dinamakan al-Azhar yang sampai detik ini juga masih tetap eksis dan jaya. Disamping itu, ada pula lembaga lain yang lahir pada masa dinasti Fatimiyah. Nama lembaga ini adalah Darul Hikmah, lembaga ini merupakan sebuah perpustakaan terkenal yang didirikan oleh khalifah al-Hakim sekitar tahun 1004 M/395 H. Dan pada dinasti ini, banyak pendidikan dan pengetahuan segala bidang ilmu yang berkembang diantaranya adalah matematika, astronomi, fisika, optika, kedokteran, dan sebagainya. Berkembangnya ilmu pengetahuan itu juga diikuti dengan munculnya beberapa ulama-ulama dari berbagai golongan, dan seiring berkembangnya ilmu pengetahuan ini berkembang pula dari berbagai bidang-bidang lain seperti halnya seni arsitektur, seni sastra, seni musik dan sebagainya.

Sebagaimana yang terjadi dibeberapa kekuasaan lain, dengan demikian juga terjadi pada Dinasti Fatimiyah ini, setelah Dinasti Fatimiyah ini mengalami kemajuan-kemajuan di berbagai daerah dan di segala bidang, kemudian tibalah waktu kemunduran fasenya dinasti ini, para Sejarawan menyimpulkan kemunduran Dinasti Fatimiyah ini disebabkan oleh berbagai faktor.

Dari faktor-faktor lemahnya dinasti ini yaitu diangkatnya seorang Khalifah yang relatif masih muda dan ada pula kelemahan itu terjadi sebab Khalifah terlena dengan kemewahan istana serta melakukan sikap-sikap yang sewenang-wenang dan cenderung amoral, yang dapat menyebabkan masyarakat tidak suka terhadap Dinasti Fatimiyah lebih khususnya kepada khalifahnya tersebut, karena faktor usia Khalifah relatif masih muda terkadang juga muncul sikap sewenang-wenang, seperti halnya yang dilakukan oleh Khalifah al-Hakim, ia terkenal sebagai khalifah yang keras hawa nafsunya, sikap kesewenangan khalifah al-Hakim dapat ditunjukkan dengan kebenciannya kepada orang-orang Mesir sendiri, ia bertindak sewenang-wenangnya dan merendahkan mereka, harta dan nyawa mereka juga dirampas. al-Hakim memberi tempat bagi orang-orang asing dan orang-orang yang tidak jelas moralnya untuk mengurusi masalah-masalah pemerintahan Dinasti Fatimiyah. Dan hal ini mempunyai dampak buruk yang dapat mengakibatkan keamanan pemerintahan, menurunnya ketentraman di masyarakat, dan timbulnya sikap-sikap yang amoral.

Dan faktor selanjutnya yang dapat membuat lemah Dinasti Fatimiyah ini yaitu perebutan kekuasaan ditingkat istana, sebagai akibat dari diangkatnya Khalifah yang relatif muda mengakibatkan peranan wazir menjadi sangat penting dan kompetitif, sehingga perebutan kekuasaan antar wazir tak terhindarkan lagi. Dan hal ini terutama terjadi diantara para wazir yang sangat ambisius terhadap jabatan dan mereka ingin mendapatkan pengaruh di istana, dan terlebih lagi kondisi dinasti tersebut, melemah dan diantara para wazir saling berlomba-lomba untuk menjatuhkan para wazir lainnya.

Dan faktor melemahnya dinasti ini yang lainnya yaitu konflik dibagian militer yang dimana pada masa Khalifah al-Aziz merekrut orang-orang Turki dan Negro untuk menjadi bagian militer Dinasti Fatimiyah ini, dan rekruitmen ini menimbulkan kemelut didalam tubuh militer dan antara mereka (orang-orang Turki dan Negro dengan Suku Barbar) terus menerus terjadi perselisihan yang dapat melemahkan kekuasaan dinasti ini. 

Setelah kekuasaan dinasti ini berjalan selama dua setengah abad, kemudian dinasti ini mengalami kehancuran. Dan kehancuran dinasti ini terjadi pada masa Khalifah al-Adhid, yang disebabkan karena perbuatannya setelah membunuh ayahnya, Ibnu Ruzik. Dia merupakan seorang wazir pada masa Khalifah al-Faiz. Namun, jabatan wazir tersebut dapat direbut kembali oleh al-Adhid. Tak lama kemudian, al-Adhid dapat disingkirkan oleh Sawar. Tindakan Sawar ini mengundang reaksi negatif dari pihak lain yang mengincar kedudukan tersebut. Akhirnya, Sawar pun dijatuhkan oleh Dirgam yang bersatu dengan kekuatan rakyat. Kemudian, Dirgam diangkat menjadi wazir, sedangkan Sawar sendiri melarikan diri ke daerah Syria pada tahun 557 H. 

Perbuatan demi perbuatan, kekuasaan demi kekuasaan, semua hal itu membawa pada kelemahan dan ketidakstabilan pemerintahan Dinasti Fatimiyah, yang akhirnya semua hal itu mengantarkan pada kehancuran Dinasti Fatimiyah itu sendiri. 

Referensi:  

Fu’adi, Imam. 2012. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Yogyakarta: Teras

Buchori, Didin Saefuddin. 2017. Sejarah Politik Islam. Jakarta: Pustaka Intermasa  

Al-Usairy, Ahmad. 2008. Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam hingga Abad XX. Akbar Media Eka Sarana  

Ajid, Thohir. 2004. Perkembanan Peradaban di Kawasan Dunia Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

A. Manan Nuraini H.  Dinasti fatimiyah Di Mesir (909-1172)

Kontributor: Eko Dewan Prastyo, Semester II 

Leave a Reply