Uncategorized

Bahayanya Durhaka Kepada Orang Tua dalam Kitab Birrul Walidain

MAHADALYJAKARTA.COM – Ma’had Aly Jakarta kembali gelar Daurah Ilmiah bersama Syekh Malik Khalid Al-Judaidah. Dalam kegiatan tersebut, beliau menerangkan kandungan kitab Birru Al-Walidaini, karangan Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ibrahim bin Ismail bin Ibrahim al-Bukhari, atau yang kita kenal dengan Imam Bukhari. Kitab ini berisi hadis-hadis tentang keutamaan berbakti kepada orang tua, Selasa, (14/02/2023).

Ibnu Mas’ud bertanya kepada Rasulullah Saw “Wahai Rasulullah Saw, amalan apa yang paling disukai Allah Swt?”. Rasulullah Saw pun menjawab, “Salat pada waktunya”. Kemudian “Apalagi ya Rasulullah Saw?” “Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.” “Kemudian apalagi Rasulullah Saw? “Yaitu berjihad di jalan Allah Swt”. Jelas Syekh kelahiran Beirut itu.

“Keutamaan berbakti kepada orang tua itu sama dengan berjiihad di jalan Allah Swt.” Tutur Syekh yang berdomisili di Libanon itu.

Melanjutkan materinya, suatu ketika ada seorang sahabat yang meminta izin kepada Rasulullah Saw agar ikut berperang. Namun Rasulullah Saw melarangnya, dikarenakan usianya yang masih muda. Rasulullah Saw menyuruhnya pulang dan berbakti kepada orang tuanya.

“Hal ini menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua memiliki keutamaan yang sangat besar.” Ungkap Ketua Dewan Ulama Libanon itu.

Dari Abi Ja’far, bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata, “Rasulullah Saw bersabda: ada tiga do’a mustajab (pasti diterima), tanpa ada keraguan lagi yaitu: Do’a orang yang teraniaya, doa musafir (orang yang bepergian jauh), dan do’a orang tua kepada anaknya.

Di dalam kitab ini juga disebutkan bahwa siapa yang ingin dipanjangkan umurnya, ditambah rezekinya, maka hendaklah ia berbakti kepada orang tuanya.

Suatu ketika Uais Al-Qharni, seorang tabi’in asal Yaman, berniat pergi ke Madinah untuk bertemu dengan Nabi Muhammad Saw. Sesampainya di Madinah, keinginannya pun kandas, karena Nabi Saw tidak ada di sana. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali pulang, karena ibunya sedang sakit. Selain hal ini, Uais juga rela menggendong ibunya dari Yaman ke Mekkah, hanya untuk memenuhi keinginan ibunya berhaji. Rasa sayangnya telah membuat ia lebih mengutamakan ibunya, dibanding keinginannya sendiri. Karena itu Uais menyandang predikat Tabi’in paling mulia di masanya dan menjadi pemuda yang namanya masyhur di langit. Jelas Syekh Malik.

Berbakti kepada kedua orang tua tetap wajib hukumnya meskipun berbeda keyakinan. Sebagaimana yang dilakukan oleh Sa’ad bin Abi Waqqosh. Ia rela tidak makan selama tiga hari hanya karena ibunya menyuruh untuk keluar dari agama Islam.

“Karena itu berbaktilah kepada orang tua, sekalipun mereka bukan Muslim. Selagi mereka tidak menyuruh untuk bermaksiat kepada Allah Swt.” Ungkap pengarang kitab al-Jawabul Mubin itu.

Tidak cukup dengan berbakti kepada orang tua saja, tapi kita harus menghormati saudara-saudara, keluarganya dan sahabatnya. Tegas Syekh Muhibbuddin dengan bahasa arabnya yang santun.

Setelah menjelaskan tentang keutamaaan Birru Al-Walidain. Kitab ini juga menyebutkan beberapa hadits tentang bahaya durhaka kepada orang tua, di antaranya:

Hadis dari Abdurrahman bin Abi Bakrah dari ayahnya bahwa Rasulullah Saw bersabda : Maukah kalian aku ceritakan dosa besar yang paling besar, yaitu tiga perkara? Sahabat pun menjawab, iya Rasulullah Saw. Rasulullah Saw pun berkata: Menyekutukan Allah Swt, dan durhaka kepada orang tua.

“Orang yang durhaka kepada orang tua akan Allah Swt percepat azabnya mulai di dunia sampai nanti di akhirat.”

Acara khataman kitab Birru Al-Walidain ini dihadiri oleh seluruh Mahasantri Ma’had Aly Sai’idusshiddiqiyah Jakarta, para ustadz, ustadzah dan beberapa alumni yang pernah belajar kepada Syekh Malik Khalid Judaidah di Libanon. Selain khataman kitab, seluruh pendengar mendapatkan ijazah sanad muttasil, kepada imam Bukhari langsung dari beliau.

Pewarta: Diana Fera, Semester III

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *