7 Cara Mengatasi Kelelahan Mental Ala Islam
MAHADALYJAKARTA.COM – Kelelahan mental, guys, itu bukan cuma urusan “capek” saja. Hal tersebut bisa menjadi masalah serius yang dapat merasuki kehidupan seseorang dengan berbagai cara.
Beberapa penyebab utama kelelahan mental melibatkan tekanan berlebihan yang datang dari berbagai sumber, termasuk stres yang tak kunjung berakhir, kecemasan yang meresap, dan konflik hubungan yang sulit. Kurang tidur atau tidur yang tidak berkualitas juga dapat merusak kesehatan mental. Ketidakseimbangan dalam menjaga kehidupan pribadi (kurang berolah raga/pola hidup dan makan tidak sehat), pekerjaan, dan interaksi sosial juga dapat menjadi pemicu kelelahan.
Terlalu banyak berpikir tentang masalah atau peristiwa yang belum terjadi juga bisa menguras energi mental. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi dan mengatasi penyebab kelelahan mental ini untuk menjaga kesejahteraan psikologis yang optimal.
Kelelahan mental ini cenderung meningkat seiring berjalannya waktu. Untuk itu, segera kenali apa saja tanda, penyebab, dan cara mengatasi lelah mental.
Tanda-tanda kelelahan mental
Seseorang dengan kelelahan mental mungkin tidak akan langsung menyadari kondisinya, sebab gejalanya akan dirasakan secara bertahap.
Maka dari itu, sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan, penting untuk mengetahui apa saja gejala kelelahan mental sejak dini. Berikut ini penjelasannya.
1. Gejala fisik
Seseorang yang mengalami lelah mental biasanya menunjukkan gejala fisik berupa penyakit atau perubahan pola hidup yang lebih buruk, di antaranya:
- merasa selalu lelah dan terkuras sepanjang waktu,
- kekebalan tubuh turun dan lebih sering sakit,
- sakit kepala dan nyeri otot, serta
- perubahan nafsu makan dan kebiasaan tidur.
2. Gejala emosional
Gejala emosional orang yang capek mental mencakup perubahan emosi dan reaksi tubuh. Kondisi ini biasanya juga diiringi dengan tindakan spontan sesuai perasaan Anda saat itu.
Tanda-tanda emosional yang dialami oleh orang yang lelah mental meliputi:
- perasaan gagal dan adanya keraguan pada diri sendiri,
- merasa tidak berdaya dan kalah,
- kehilangan motivasi,
- merasa selalu sendiri,
- pandangan semakin negatif,
- lebih cepat marah,
- merasa putus asa,
- rasa cemas berlebihan, dan
- menurunnya kepuasan terhadap banyak hal.
3. Gejala perilaku
Tanda seseorang mengalami lelah mental dapat dilihat dari pola tingkah laku yang ditunjukkannya. Biasanya, sikap ini sudah menjadi suatu kebiasaan sehingga tidak terlalu sulit untuk mengenalinya, seperti:
- lari dari tanggung jawab,
- cenderung mengisolasi diri dari orang lain,
- membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri,
- melampiaskan rasa kesal pada orang lain, serta.
- suka melewatkan pekerjaan.
Baca juga
Teladani Kiai Hasan Maolani Kuningan, Mahasantri Peneliti Harus Kuat Mental di Lapangan
Dalam Islam, keseimbangan dan kesejahteraan mental sangat dihargai. Mengatasi kelelahan mental menurut pandangan Islam adalah sebuah perjalanan yang penuh hikmah.
Syekh Ahmad Zaruq menjelaskan Matan Al-Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah yang meminta kita untuk melepaskan kecemasan yang berlebihan, over thinking, dan beban pikiran yang berat dari diri kita. Syekh Ahmad Zaruq menjelaskan penyebab yang membebani pikiran sehingga mengganggu kesehatan mental.
Adapun anjuran Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari yang dijelaskan Syekh Zaruq untuk menurunkan sejenak beban pikiran dan kecemasan itu dari diri kita adalah sebagai berikut:
أرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ فما قامَ بهِ غيرُكَ عنْكَ لا تَقُم بهِ لنفسِكَ
Artinya, “Istirahatkan dirimu dari berpikir keras planning/perencanaan karena apa yang dilakukan oleh selainmu jangan lagi kaupikirkan,” (Ibnu Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam).
Menurut Syekh Ahmad Zaruq, penyebutan “pelepasan untuk istirahat” menandai adanya beban pikiran dan beban kejiwaan yang meletihkan. Beban pikiran dan kejiwaan tersebut menuntut pelepasan dan peristirahatan.
افاد ذكره للإراحة وجود التعب فيما تطلب الاستراحة منه وهو التدبير
Artinya, “Penyebutan ‘pelepasan’ menandai adanya beban keletihan yang menuntut istirahat dari sesuatu, yaitu tadbir.”
Tadbir sendiri adalah kecemasan berlebihan atau harapan meluap-luap atas segala sesuatu secara pasti di masa depan, tanpa disertai kepasrahan kepada Allah. Tadbir ini yang meracuni pikiran, merusak jiwa, dan mengganggu kesehatan mental.
Tadbir sebagai perencanaan/planning kehidupan merupakan kewenangan Allah. Karena itu, tadbir itu sendiri harus dipulangkan kepada ahlinya, yaitu Allah. Dengan mengembalikan kepada ahlinya, beban pikiran kita dapat terkurangi.
Adapun ketenangan dan kedamaian pikiran terdapat pada keridhaan dan keyakinan kepada Allah bahwa Allah yang memiliki putusan dan Allah telah telah mengatur hal-hal yang dicemaskan dan diharapkan tersebut.
Pikiran dan jiwa manusia memiliki keterbatasan yang mempengaruhi kesehatan mental. Manusia tidak dapat menanggung tekanan batin dan beban pikiran yang berlebihan. Pikiran dan jiwa manusia hanya dapat menerima beban pikiran yang wajar dan proporsional.
Kalau kesehatan mental terganggu, seseorang dapat mengalami depresi, stres, putus asa, gelisah, khawatir, cemas, dan juga berbuat kalap atau bertindak untuk mengakhiri hidup. Bahkan tidak sedikit orang mengalami gejala-gejala psikosomatik, sebuah penyakit yang berasal dari emosi yang tidak stabil dan gangguan kesehatan mental.
Over thinking dan kecemasan dapat menjauhkan seseorang dari rahmat Allah karena ia berjalan sendiri dalam mengatasi masalahnya tanpa bantuan Allah. Ia berjalan sendiri mengatasi masalahnya dalam kebuntuan.
Al-qur’an sebagai mukjizat sepanjang masa telah memberikan terapinya antara lain:
- Mengikuti petunjuk ajaran Allah dan Rasul-Nya
قُلْنَا ٱهْبِطُوا۟ مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّى هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَاىَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran (“khauf”) atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati (“huzn”)”. (QS Al Baqarah: 38).
Tetap beraktivitas adalah bagian penting dari menjalani kehidupan yang seimbang dan produktif. Islam mendorong umatnya untuk tidak menarik diri dari dunia, tetapi juga tidak terjebak dalam kesibukan tanpa henti, beraktifitas yang sesuai dengan petunjuk Allah SWT. Diantara petunjuk-Nya yaitu kita dilarang menjatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan (QS Al Baqarah: 195).
- Istiqamah teguh pendirian dalam bertauhid kepada Allah SWT
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, Kemudian mereka tetap istiqamah. Maka tidak ada kekhawatiran (khaufun) terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita (yahzanun).” (QS Al Ahqaf 13)
Pengakuan dan keyakinan bahwa hanya Allah-lah yang memelihara kita dan hanya Allah-lah yang menjaga kita, akan memberi ketenangan dalam kehidupan kita, tidak akan takut (khaufun) tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang dan tidak kwatir (yahzanun) atas apa yang telah terjadi dengan musibah ini, karena Allah SWT tetap memelihara dan menjaga kita.
- Optimistik
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran: 139)
Sikap mental yang lemah dalam menghadapi musibah ini akan berakibat pada sikap mental yang serba khawatir dan sedih. Maka jauhkanlah sikap-sikap seperti itu sehingga kita menjadi manusia unggul di hadapan Allah SWT.
- Senantiasa merasa bersama Allah SWT
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ
“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS At Taubah: 40)
Jika kita dalam keadaan depresi, serba khawatir atau takut, maka usahakanlah menyugesti diri bahwasanya Allah beserta kita dan semua yang ada di dunia ini ada dalam pengawasan dan pengaturan Allah SWT.
Jikalau yakin kepada Allah, kemudian sang hamba tertimpa masalah/musibah, maka ia mengatakan حَسْبِيَ الله.
Jangan ragu dengan kuasa Allah, khawatir dengan nasibnya.
Katakan pula لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّٰهِ ٱلْعَلِيِّ ٱلْعَظِيمِ, maka selesai semua masalah dalam hatinya, dalam dirinya.
Selanjutnya, bagaimana kita keep the fact, belajar untuk menjaga keimanan dan keyakinan kepada Allah SWT.
Sehingga jika sudah terjadi merasa ma’iyyah (kebersamaan dengan Allah SWT) penyakit atau musibah apapun akan dihadapi dengan tenang dan kepasrahan kepada Allah, sambil berikhtiar yang optimal, karena kepasrahan dan ikhtiar keduanya diperintah Allah SWT.
- Bersyukur atas nikmat Allah SWT
وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ ۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ
Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS Fațir: 34)
Betapa banyak karunia dan nikmat yang Allah berikan kepada kita selama ini, nikmat udara yang bisa kita peroleh secara gratis, nikmat bisa bernafas dan kenikmatan-kenikmatan lainnya. Jangan sampai musibah yang sedang dihadapi ini menghapuskan kenikmatan yang selama ini Allah berikan. Maka sikap yang selalu bersyukur atas nikmat yang Allah SWT berikan akan menghilangkan kesedihan dan kekhawatiran yang menghantui diri kita.
- Memperbanyak doa
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS An-Naml: 62)
Dalam hadis sahih disebutkan bahwa doa itu senjata bagi orang yang beriman. Rasulullah telah mengajarkan kita berdoa agar dihilangkan rasa khawatir dan kesedihan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
“(Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari rasa sedih dan gelisah, aku berlindung pada-Mu dari sifat lemah dan malas, dan aku berlindung pada-Mu dari sikap pengecut dan bakhil, dan aku berlindung pada-Mu dari cengkaman hutang dan penindasan orang)”
- Senantiasa istighfar dan beramal saleh
وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ
“Dan Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS Taha: 82)
Menjaga pola hidup dan pola makan yang sehat adalah bentuk beramal saleh terhadap diri sendiri. Dalam Islam, tubuh dianggap sebagai amanah dari Allah yang harus dijaga dengan baik. Dengan merawat tubuh kita, kita menjalankan tanggung jawab moral terhadap diri sendiri dan menjaga anugerah kesehatan yang telah diberikan Allah.
Pola hidup sehat termasuk berolahraga secara teratur, tidur yang cukup, dan menghindari kebiasaan yang merugikan seperti merokok maupun minum alkohol. Sedangkan pola makan yang sehat, yang mencakup makanan yang bergizi dan seimbang, juga mendukung tubuh kita agar tetap kuat dan sehat.
Kelelahan mental memang bisa membuat kita merasa terbatas dalam energi dan semangat, tetapi hal ini tidak berarti kreativitas kita harus mati. Sebaliknya, ada berbagai cara kreatif yang bisa kita lakukan untuk meremajakan pikiran dan menjaga inspirasi tetap menyala. Salah satunya adalah dengan melibatkan diri dalam seni, entah itu melukis, menulis, atau aktivitas-aktivitas lain yang dapat menjadi saluran ekspresi luar biasa untuk mengatasi tekanan dan menyegarkan pikiran.
Di samping itu, berkarya dan beramal saleh itu hendaklah disertai dengan istighfar (permohonan ampunan), karena boleh jadi musibah yang dihadapi ini adalah akibat dari dosa yang kita kerjakan. Di samping itu dengan beristighfar kita akan dapat jaminan dari Rasulullah SAW. Dalam suatu hadīś yang diriwayatkan Ahmad dari Ibnu Abbās
“Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” Amin.
Tulisan ini disandur dari hellosehat, dan uin-suka.ac.id/id, dan https://islam.nu.or.id
Editor : A. Ratna P.