Cegah Pendistorsian Sejarah, Ma’had Aly Adakan Kuliah Filsafat Sejarah

Cegah Pendistorsian Sejarah, Ma’had Aly Adakan Kuliah Filsafat Sejarah

Ma’had Aly – Apa itu filsafat sejarah? Apa relevansinya dengan kebenaran sejarah? Dan apa sajakah benefit mempelajarinya?

Sejarah adalah pengetahuan tentang masa lampau yang dihasilkan oleh penelitian dan dapat dibuktikan kebenarannya. Filsafat, secara bahasa diambil dari bahasa Yunani yang bermakna “pecinta atau pencari kebijaksanaan atau kebenaran’’.

Allah swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

لقد كان في قصصهم عبرة لاولى الالباب

Sesungguhnya dalam kisah-kisah mereka (Nabi-nabi dan rasul) terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal (sehat).’’ (QS. Yusuf: 111)

Filsafat diartikan sebagai ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio. Filsafat memiliki hubungan dengan upaya menemukan kebenaran tentang hakikat sesuatu yang ada melalui optimalisasi penggunaan kemampuan akal. Kebenaran yang dihasilkan oleh pemikiran filsafat adalah jawaban dalam bentuk gagasan atau ide.

Filsafat atau filosofi berasal dari bahasa Yunani (philosophia), yakni philein (mencintai) atau philia (persahabatan, atau tertarik kepada …) dan sophos (kebijaksanaan, keterampilan, pengalaman praktis, dan intelegensi). Kata yang hampir sama dengan philien atau philia dan sophos tersebut juga dijumpai dalam bahasa Latin, yaitu : philos (teman atau sahabat) dan sophia (kebijaksanaan).

Filsafat atau filosofi bermakna mencari kebenaran (al-bahts ‘an al-haqiqah). Jika seseorang berpikir hingga akar permasalahan, maka sesungguhnya ia tengah berfilsafat. Alat yang digunakan tak lain ialah akal, yang dengannya manusia dapat menentukan kebenaran dan mencapai kesepakatan.

Jika seseorang dalam merasakan sesuatu itu diserahkan pada panca indra, maka jawabannya dapat berbeda-beda tergantung indra mana yang digunakan, pun indra manusia memiliki perbedaan dalam merasakan sesuatu. Namun jika rasa tersebut dibicarakan dengan perspektif akal, maka akan ditemukan inti kesamaannya, yang jelas tidak berpatokan pada panca indra manusia (red-tidak terpaku pada apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan diraba).

Seseorang mengatakan suatu keindahan jika diserahkan pada ranah panca indra, maka yang dihasilkan bisa jadi suatu pemandangan yang indah, atau perempuan yang cantik, lukisan yang menarik dan sebagainya. Keindahan berdasarkan akal mencakup semua itu yang inti kesamaannya ialah sesuatu yang mengagumkan, indah dan membuat manusia terpesona.

Sedangkan sejarah (history) ialah apa yang telah berlalu, ia adalah bagian dari cara manusia membaca keadaan dan mengamati suatu kondisi. Sejarah adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari segala peristiwa, kejadian yang terjadi pada masa lampau dalam kehidupan umat manusia. Ilmu sejarah akan senantiasa menjadi ilmu yang sangat menarik untuk dikaji. Lebih dari itu, Allah swt. mencontohkan pentingnya sejarah, dengan menyajikan 2/3 dari Al-Qur’an dalam bentuk kisah-kisah, agar kita sebagai “ummatan wasathan” dapat mengambil ibrah dari apa yang telah terjadi di masa lampau, dan untuk dijadikan pedoman dalam menjalankan kehidupan.

Dengan ini, penting bagi kita mempelajari situasi yang ada sehingga tidak tersesat akibat teori yang tidak layak untuk dikritisi seperti teori barat yang mengatakan adanya “dark ages’’ atau zaman kegelapan yaitu zaman antara runtuhnya Kekaisaran Romawi dan Renaisans. Seperti itulah pemaparan singkat menurut Dr. Nasrullah Jasam, MA dalam mengisi mata kuliah Filsafat Sejarah dalam kitab Muqaddimah Ibnu Khaldun di Ma’had Aly Jakarta, Sabtu (14/09).

Dari dua makna di atas, kita mengerti bahwa Filsafat Sejarah adalah ilmu yang mempelajari tentang pencarian kebenaran sejarah di masa lampau, yang bertujuan untuk menolak pendistorsian (red-pemutarbalikan fakta atau penyimpangan) dalam sejarah. Namun upaya pendistorsian sejarah, khususnya sejarah Islam terus menerus dilakukan untuk memadamkan dan mendekadensikan mental penerusnya.
Salah satu mahasantri bertanya mengenai perbedaan antara sejarah filsafat dan filsafat sejarah, dan beliau jelaskan secara singkat bahwa sejarah filsafat hanya mencakup kapan filsafat muncul, yakni filsafat lahir sejak adanya manusia di bumi. Mengapa filsafat lahir di Yunani? Sebab penilaian terhadap baik dan buruk atau salah dan benar murni menggunakan akal rasio manusia, bukan berdasarkan nilai suatu agama atau keyakinan tertentu. Sedangkan filsafat sejarah cakupannya lebih luas. Ia memandang sejarah dari segi filsafat, di dalamnya antara lain menelusuri hakikat kebenaran akan suatu peristiwa sejarah.

Pertanyaan lain muncul mengenai “kegilaan” yang dialami beberapa penyelam ilmu filsafat, apakah benar jika seseorang belum sesuai tingkatannya belajar filsafat akan mengalami kegilaan itu? Beliau menimpali dengan tegas bahwa, memang fitrahnya manusia berfilsafat sesuai dengan tingkatannya, namun tidak dibenarkan dalam berfilsafat untuk belajar hanya setengah-setengah (red-tidak memahami dan menyelami hakikat ilmu filsafat dan menuntaskan dalam mempelajari ilmu filsafat), karena hal itu akan menyesatkannya. Beliau sebutkan 3 prinsip filsafat yang mengatakan bahwa ilmu filsafat tidak bisa disandingkan dengan ilmu agama. Pertama, tiada keadaan yang muncul dari ketiadaan. Hal itu menegaskan bahwa filsafat mengharuskan setiap keadaan memerlukan rentetan bentuk wujud dari awalnya. Sedangkan dari sisi agama, ada beberapa materi yang diciptakan berawal dari sebuah ketiadaan menjadi jelas wujud adanya (min al-‘adam ila al-wujud). Kedua, menurut filsafat bahwa orang yang tidak memiliki sesuatu maka ia tidak dapat memberi. Ketiga, berdasarkan filsafat bahwa materi itu tidak punah namun hanya mengalami perubahan. Sedangkan dalam agama, semua materi pada akhirnya akan hilang (hancur) kecuali Allah swt., Sang Pencipta.

Melihat fenomena seperti ini, mahasantri Ma’had Aly Sa’iidusshiddiqiyyah Jakarta terus berupaya untuk mempelajari sejarah peradaban Islam secara real khususnya di Indonesia, salah satunya adalah dengan mempelajari filsafat sejarah dengan dibimbing oleh Dr. Nasrullah Jasam Lc, MA.

Tanpa filsafat sejarah, upaya distorsi yang mereka lakukan tidak diketahui, namun dengan ilmu filsafat sejarah kita dapat menyangkalnya. Karena filsafat menggunakan ketajaman akal yang mana semua kadar akal manusia adalah sama. (Lyda/Ridho)

Leave a Reply