10 Muharram di Tengah Pekikan Suara Merdeka

10 Muharram di Tengah Pekikan Suara Merdeka

Ma’had Aly –  Muharram kali ini sangat berbeda dengan tahun kemarin, karena tahun ini bertepatan dengan pasca peringatan kemerdekaan Indonesia. Suara pekikan “merdeka” pun terdengar di mana-mana. Bagi suatu bangsa, kemerdekaan ialah meraih hak kendali penuh atas seluruh wilayah bagian negaranya. Sementara, untuk seseorang bisa diartikan sebagai hak untuk mengendalikan dirinya sendiri tanpa gangguan dari orang lain. Tahun ini merupakan ulang tahun yang ke- 76 Republik Indonesia.

Pada acara peringatan 10 Muharram di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Ustadz Endang memaparkan, “Bahwa kemerdekaan merupakan hasil emas dari perjuangan para pahlawan. Kata MERDEKA sendiri mengandung makna yang dalam. MERDEKA terdiri dari tiga kata, MER yang artinya merah putih berkibar di atas tanah ibu pertiwi, DE yang artinya demi bangsa aku rela mengorbankan jiwa dan raga, KA yang artinya karena itu jangan pernah mundur meskipun musuh menghadang di depan mata.” Beliau juga memberi pesan kepada para santri bahwa jangan pernah gentar dengan musuh, sebagaimana Nabi Muhammad saat dikejar-kejar oleh Kaum Quraisy dan bersembunyi di Gua Tsur. Beliau berpesan kepada sahabat Abu Bakar, “Jangan gemetar, sesungguhnya Allah bersama kita.”

Bulan Muharram ini sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah. Banyak peristiwa dan keutamaan yang terkandung di dalamnya. Pada bulan ini, terdapat hari istimewa yang bisa dijadikan ladang amal kebaikan oleh umat Islam di seluruh dunia, yakni bertepatan dengan 10 Muharram, atau juga dikenal dengan hari raya atau Lebaran Anak Yatim.

Ustadz Endang Badarrahman selaku penceramah mengatakan, “Kita boleh merenung atas kepergian orang yang dicintai, tapi hakikatnya orang yatim itu bukan orang yang ditinggal ayah dan ibu, tetapi orang yatim adalah orang yang tidak punya ilmu dan adab.”

Beliau menegaskan bahwa seorang santri tidak boleh lengah dalam menuntut ilmu, dia harus berani melawan kebodohannya sendiri. Seorang santri tidak boleh melangkahkan kakinya ke belakang, karena bagaimanapun rintangannya dia harus tetap maju. Seorang santri ketika keluar dari pesantren, maka dia akan menjadi emas atau berlian yang sangat berharga di masyarakat, serta menjadi tolak ukur atau timbangan bagi seorang guru atas keberhasilannya mendidik santri.

Bulan Muharam menjadi salah satu bulan yang dihormati karena pada bulan ini terdapat banyak keutamaan yang menjadi ladang pahala, seperti berpuasa, bersedekah, memuliakan anak-anak yatim dan kaum dhuafa dengan cara menyisihkan harta yang akan diberikan kepada mereka, bahkan perbuatan sepele seperti mengusap kepala anak yatim yang saleh akan menjadi pahala baginya. Rasulullah saw bersabda:

مَنْ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً

“Barang siapa yang mengusap kepala anak yatim (menyantuni/menyayangi) pada hari Asyura (10 Muharram), maka Allah akan angkat derajatnya sebanyak rambut anak yatim tersebut yang terusap oleh tangannya.” (Hadits ke 212 dari kitab Tanbih al-Ghafilin).

Amalan saleh selain mengusap dan jika tidak mampu menyantuni dengan materi, maka umat Islam dapat bersedekah kepada anak yatim dengan doa. Berdoa untuk anak yatim agar memiliki kehidupan yang baik dan menjadi anak saleh. Menyantuni anak yatim merupakan ibadah yang tidak boleh dikhususkan pada waktu-waktu tertentu saja, akan tetapi itu adalah pekerjaan sepanjang masa yang tidak dapat diidentikan dengan waktu tertentu. Banyak masyarakat Muslim Indonesia yang merayakan dan melestarikan tradisi lebaran anak yatim tepat pada tanggal 10 Muharram. Meskipun perayaaan ini ada yang menentang, tapi ini suatu amal yang bijak untuk sesama manusia. Di satu sisi, amalan ini terdapat hikmah yang begitu besar. Selain membantu, amalan ini  juga sebagai bentuk sosial kepada mereka yang membutuhkan.

Momentum kemerdekaan yang bertepatan dengan bulan Muharram, setidaknya menjadikan pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Mengingat perjuangan para syuhada’ dan peristiwa-peristiwa penting pada bulan Muharram menjadi acuan untuk berbenah dan menumbuhkan rasa belas kasih dan semangat mempertahankan kemerdekaan. Bulan yang suci ini menjadi awal untuk menuju kehidupan yang lebih baik.

“Jadilah engkau seperti dua tangan yang saling membantu dan saling memberi, tapi jangan menjadi seperti dua telinga seumur-umur tidak pernah ketemu dan tidak pernah peduli satu sama lain”. Kata Ustadz Endang.

Perayaan-perayaanseperti ini sesungguhnya dapat merekatkan persatuan dan kesatuan umat khususnya bagi seluruh santri Pondok Pesantren Asshiddiqiyah baik yang sudah keluar maupun yang masih dilingkup pesantren agar tetap saling membantu dan memberi serta peduli dengan yang lainnya.

Di akhir tausiahnya, Ustadz Endang berpesan kepada seluruh hadirin, “Sebagai generasi penerus, semoga al-faqir masih menjadi generasi penerus bangsa ini. Jangan pernah tertipu oleh duniamu, jangan pernah tertipu oleh syahwatmu, jangan pernah tertipu oleh orang-orang yang menghancurkan derajatmu. Karena sesungguhnya derajat umat, derajat pemuda ada dalam iman dan takwa.”

والله حياة الفتى والله بالعلم والتقى

“Demi Allah para pemuda akan hidup kalau ilmunya kuat, kalau takwanya kuat.”

Kontributor : Umi Fadhilah & Robiihul Imam F., Semester V

Leave a Reply