Hudzaifah bin al-Yaman: Intelijen Pribadi Rasulullah ﷺ
Rasulullah Saw adalah sosok yang dijadikan teladan bagi seluruh umat Islam. Di samping itu, ada sahabat-sahabat beliau yang ikut memperjuangkan dakwah Islam. Mereka banyak yang menekuni bidang-bidang tertentu. Seperti Zaid bin Tsabit yang diangkat menjadi penulis wahyu dan surat-surat Rasulullah Saw semasa hidup dan berjasa dalam kodifikasi Al-Quran. Ada juga yang berperan sebagai duta Islam pertama seperti Mushab bin Umair yang bertugas menyampaikan dakwah pada orang Anshar di Madinah.
Kemudian ada sahabat Nabi Saw yang berperan dalam bidang peperangan. Seperti Salman al-Farisi yang ahli dalam strategi peperangan. Ia mengusulkan kaum muslimin menggali parit (Khandaq) sebagai pertahanan pertempuran di sepanjang perbatasan kota Madinah.
Dari sahabat-sahabat Nabi yang telah disebutkan, ada satu orang dari kalangan sahabat yang perannya sedikit diketahui oleh banyak orang. Sahabat tersebut diberi tugas paling berat oleh Nabi Saw dalam bidang peperangan ia bernama Hudzaifah bin al-Yaman.
Hudzaifah bin al-Yaman dijuluki oleh sahabat lain dengan nama Abu Abdillah. Penggunaan nama al-Yaman memiliki asal-usul dalam 3 versi.
Versi Pertama, penggunaan kata “al-Yaman” adalah untuk menghormati nasab atau keturunannya. Hal ini menyatakan bahwa Hudzaifah adalah sahabat yang berdarah Yaman. Maka, Ia dipanggil dengan nama Hudzaifah bin al-Yaman. Versi kedua, karena kakeknya yang bernama Jabir diberi sebutan al-Yaman. Versi ketiga, Kata “al-Yaman” dinisbatkan kepada ayah Hudzaifah yang bernama Husail. Husail bersekutu dengan keluarga Bani Abdul Asyhal yang secara genealogis, mereka berasal dari Yaman. Dari situlah Husail bersumpah setia kepada mereka dalam kesukuan dan kekeluargaan sehingga mendapat julukan al-Yaman. Pendapat yang paling masyhur adalah pendapat yang ketiga.
Dari berbagai sumber yang ada, masih belum diketahui pada tahun berapa kelahiran Hudzaifah bin al-Yaman ini. Namun, dikatakan bahwa Hudzaifah lahir sebelum terjadinya peristiwa hijrah.
Pada tahun 622 M, setelah Nabi Muhammad Saw di utus menjadi Rasul Saw. Keluarga Husail menemui Nabi Muhammad ﷺ dengan maksud untuk berbaiat dan berjanji setia memeluk Islam. Dengan begitu Hudzaifah bin al-Yaman lahir dan dibesarkan di lingkungan yang penuh dengan ajaran Islam. Walaupun sebelumnya belum pernah melihat Nabi. ﷺ Ia mengenal Nabi Muhammad ﷺ adalah sosok yang membawa kebenaran dan kebaikan-kebaikan. Ia juga selalu mencari tahu tentang ciri-ciri Nabi Muhammad Saw. Hal itu membuat Hudzaifah ingin bertemu Rasulullah Saw.
Singkat cerita, berangkatlah Hudzaifah ke Mekah untuk berjumpa dengan Rasulullah Saw. Ketika ia berjumpa dengan beliau, Ia langsung bertanya, “Apakah saya ini termasuk kaum Muhajirin atau Anshar, Ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, ”Jika engkau berkenan, engkau dapat bergabung dengan kaum Muhajirin. Jika kau mau bergabung dengan kaum Anshar, silahkan saja. Pilihlah sesukamu!”. Maka Ia menjawab, “Saya termasuk suku Anshar, Ya Rasulullah!”.
Pada bulan Syawal 3 H, terjadi sebuah peperangan yang terjadi di daerah Pegunungan Uhud. Hudzaifah dan ayahnya Husail al-Yaman ikut serta dalam perang tersebut. Namun Nabi ﷺ menempatkan Husail dan Tsabit bin Waqsyin di tenda kaum perempuan dan anak-anak karena mereka berdua telah lanjut usia. Sehingga tidak dilibatkan ke medan pertempuran. Saat perang bergejolak, Husail tidak tahan dan ingin ikut berperang. Ia kemudian mengajak Tsabit bin Waqsyin sambil mengambil pedangnya.
Di tengah peperangan yang sengit, Husail al-Yaman dan Tsabit bin Waqsyin gugur. Tsabit bin Waqsyin wafat terkena tebasan pedang orang-orang musyrik, sedangkan Husail al-Yaman wafat tertimpa pedang kaum Muslimin yang mengira Ia adalah orang musyrikin.
Seusai peperangan, Nabi ﷺ hendak memberikan diyat (Sejumlah uang yang diberikan kepada keluarga korban) kepada Hudzaifah atas nama ayahnya. Namun Hudzaifah menolak dan berkata, “Ayahku memang mencari kesyahidan dan sekarang Ia telah mendapatkannya. Ya Allah Swt, Sesungguhnya aku menyedekahkan hak diyat-nya kepada orang-orang islam.”
Problem yang dialami Nabi ﷺ Ketika dakwah di kota Madinah bukan saja berasal dari luar Madinah seperti konflik dengan kaum kafir Quraisy dan sekutu-sekutunya, Namun keberadaan kaum munafik dan orang-orang yang memang ingkar terhadap keberadaan Nabi ﷺ. Karena sebab itulah Nabi ﷺ memberitahu Hudzaifah tentang nama-nama kaum munafik yang perlu diberi pengawasan ketat pergerakannya. Sehingga di tangan Hudzaifah terdapat daftar hitam nama-nama orang munafik dan orang yang memusuhi Islam. Sejak itu, Hudzaifah diberi gelar Shahibu Sirr ar-Rasulullah, Intelijen pribadi Rasulullah ﷺ
Hudzaifah juga memiliki kebiasaan unik yang membuatnya agak berbeda dengan sahabat-sahabat Nabi yang lain. Yang biasanya, sahabat lain bertanya tentang kebaikan, Hudzaifah malah bertanya tentang keburukan kepada Nabi ﷺ Hal ini pun Ia ceritakan sendiri, seperti yang apa yang ditulis oleh Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyar al-A’lam an-Nubala’, Ia berkata :
كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اَللهِ صَلَّى اَللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي.
“Dulu, orang-orang bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang kebaikan, Sementara aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena aku khawatir tertimpa olehnya.”
Dalam kitab tersebut juga menunjukkan fakta bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah memberikan kesaksian bahwa Hudzaifah adalah orang yang menjadi pemegang rahasia Rasulullah Saw dengan berkata, “Ia (Hudzaifah) mengetahui data tentang orang-orang munafik di sekitar Rasul, dan andai kalian bertanya kepadanya tentang konspirasi-konspirasi yang mereka rencanakan, niscaya Ia mengetahuinya juga.”
Dalam sebuah kesempatan, Nabi Saw memakai keahlian Hudzaifah. Ketika keadaan genting dan amat berbahaya, Nabi Saw menugaskan Hudzaifah sebuah misi yang tidak ada satu pun para sahabat menyanggupinya. Karena tugas tersebut membutuhkan kecerdasan serta pemahaman yang tinggi. Hal itu terjadi pada perang Khandaq, perang besar kaum Muslimin melawan kaum Kafir Quraisy yang bersekutu dengan kaum Yahudi Bani Nadhir Madinah. Perang ini sangat menguji psikologis kaum Muslimin karena kondisi yang begitu rumit.
Diceritakan bahwa pada malam sebelum perang, Nabi Saw memberi perintah kepada Hudzaifah untuk menyusup ke jantung kekuatan musuh. Nabi Saw bersabda kepada Hudzaifah:
يَا حُذَيْفَةُ اِذْهَبْ فَادْخُلْ فِيْ الْقَوْمِ. فَانْظُرْ مَاذَا يَفْعَلُوْنَ وَلاَ تُحَدِّثَنَّ شَيْئاً حَتَّي تَأتِيْنَا.
Abu Sufyan, pimpinan pasukan kafir Quraisy juga sudah mencurigai bahwa ada musuh yang telah menyusup di antara mereka. Karena itu, saat mereka berkumpul Abu Sufyan menegaskan agar masing-masing dari mereka melihat orang yang ada di samping mereka? Di tengah kondisi yang begitu rumit, Hudzaifah masih bisa lolos dari pantauan mereka.
Setelah itu, Hudzaifah Kembali kepada Rasulullah Saw yang sedang shalat di atas kain selimut bergaris milik salah satu Istrinya. Setelah sholatnya selesai beliau mempersilahkan Hudzaifah masuk kedalam rumahnya. Kemudian Hudzaifah memberi informasi yang Ia dapat dari penyusupan tadi. Berkat informasi yang didapat, perang ini berjalan dengan lancar dan kemenangan ada di pihak kaum muslimin.
Di masa pemerintahan Sayyidina Umar bin Khattab Ra., Hudzaifah bin al-Yaman diangkat menjadi penguasa Mada’in. Saat pengangkatannya, Hudzaifah diberi pesan oleh Sayyidina Umar di hadapan masyarakat Mada”in. Selama Ia menjabat pun, Sayyidina Umar banyak memberikannya pesan. Di antara pesan yang diberikan ada pesan khusus yang mana isi pesan itu mengingatkan Hudzaifah agar selalu bertakwa kepada Allah Swt.
Hudzaifah bin al-Yaman memegang jabatan cukup lama hingga pada suatu saat Sayyidina Umar bin Khattab Ra memberi pesan kepada Hudzaifah untuk segera menemuinya. Saat Sayyidina Umar tahu kabar kedatangan Hudzaifah al-Yaman, Ia kemudian bersembunyi di sebuah tempat yang tidak bisa dilihat oleh Hudzaifah. Karena Sayyidina Umar ingin melihat penampilan Hudzaifah yang sesungguhnya.
Sayyidina Umar pun melihat Hudzaifah masih berpenampilan seperti ketika ia utus. Hudzaifah berpenampilan sederhana dan jauh dari kata mewah seperti apa yang diwasiatkan oleh Sayyidina Umar kepada semua Gubernur yang ia pilih. Seketika Sayyidina Umar keluar dari persembunyiannya dan memeluk Hudzaifah seraya berkata, ”Engkau saudaraku, dan saya adalah saudaramu.”
Pernah juga, Sayyidina Umar bertanya kepada Hudzaifah, apakah ia termasuk golongan orang-orang munafik yang diketahui oleh Hudzaifah.
“Apakah namaku ada didalam data orang-orang munafik yang di sampaikan Nabi Saw. kepadamu, Wahai Hudzaifah ?” tanya Sayyidina Umar dengan rasa penasarannya.
Dengan tegasnya Hudzaifah menjawab, “Tidak. Ketahuilah, Aku tidak akan memberitahukan informasi ini kepada siapa pun.”
Kemudian Sayyidina Umar bertanya, ”apakah ada diantara pejabat-pejabatku di beberapa wilayah yang termasuk orang munafik?”
“Ya, ada satu,” jawab Hudzaifah bin al-Yaman tanpa menyebutkan namanya.
Karena pengetahuannya akan keberadaan orang-orang munafik itu kemudian menyebabkan Sayyidina Umar hanya bersedia menshalati jenazah bila Hudzaifah ikut menshalatkannya juga.
Sepanjang hidupnya, Hudzaifah tetap memegang rahasianya sebagai intelijen Nabi Saw. Hingga Hudzaifah menghembuskan nafas terakhirnya di tahun 36 H di kota Mada’in pada saat pemerintahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib
Hudzaifah bin al-Yaman menutup hayatnya dengan sebuah doa pamungkasnya, yang kurang lebih sebagai berikut.
“Ya Allah. Sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku lebih suka fakir dari pada kaya, aku lebih suka sederhana dari pada mewah, dan aku lebih suka mati dari pada hidup.”
Referensi:
Rizem Aizid. The Great Sahaba. Yoqyakarta : Laksana. 2018.
Fahasbu, Ahmad Husain. Dan Arsy pun Berguncang!: Sirah Unik Sahabat-sahabat Kanjeng Nabi ﷺ . Yogyakarta: DIVA Press. 2022.
Al-Basya, DR. Abdurrahman Ra’fat. Sirah 65 Sahabat Rasulullah ﷺ: Kisah Kehidupan dan Perjuangan 65 Sahabat Rasulullah Piihan. Jakarta: Darul Adab al-Islami. 2016.
Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri. Sirah Nabawiyah: Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad ﷺ Dari Kelahiran Hingga Detik-Detik Terakhir. Terj. Hanif Yahya, Lc, et. Al. Jakarta:Darul Haq. 2022.
Muhammad Yusuf bin Abdurahman. Tarbyatush Shahabah: Rahasia dan Motivasi Sukese Mendidik Anak seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Dan Ali. Yogyakarta: DIVA Press. 2017
Kontributor: Ahmad Zamzami Yakfi B. A, Semester III
Editor: Dalimah NH