Sultan Trenggono dan Minimnya Peradaban Masyarakat Jawa

Ma’had Aly – Raja Demak yang ketiga adalah Sultan Trenggono (1521-1546 M) beliau merupakan putra dari Raden Fatah dan Dewi Murtasimah (Asyiqah), memiliki dua kakak yaitu Pati Unus dan Raden Kikin. Beliau menjadi raja dalam usia 38 tahun, bergelar Sultan Syah Alam Akbar III. Setelah wafatnya Pati Unus pada tahun 1521 M, beliau diangkat menjadi sultan dan memperluas wilayah kekuasaan di Nusantara dari barat sampai timur bersamaan dengan menyebarkan agama Islam. Berawal darinya lah penaklukan wilayah berjalan begitu cepat dan luas. Hampir seluruh wilayah Jawa telah beliau taklukkan, kecuali Pasuruan dan Blambangan, karena saat beliau ingin menaklukkan Pasuruan dan Blambangan beliau sudah gugur.

Ketika menaklukan wilayah bagian barat seperti, Cirebon, Banten, Sunda Kelapa, ia dibantu oleh seorang Panglima yang bernama Fatahillah atau Fadlullah Khan (1490-1552 M). Beliau berasal dari Pasai, karena Fatahillah orang yang cerdas dalam strategi perang maupun keilmuan, Sultan Trenggono begitu menyukai Fatahillah sehingga menikahkannya dengan Nyai Ratu Pambayun (istri dari Pangeran Jayakelana yang ditinggal mati dan merupakan putra dari Sunan Gunung Jati), memercayakannya untuk menaklukkan wilayah bagian barat. Di wilayah bagian Timur yang beliau taklukkan itu wilayah Kediri, Tuban, Madiun, Blora, Lamongan, Wonosobo, Blitar. Hampir wilayah bagian timur beliau taklukkan kecuali Pasuruan dan Blambangan.

Syahidnya Sultan Trenggono ialah saat tengah bermusyawarah dengan pimpinan dan komandan perang tentang strategi perang melawan Pasuruan dan Blambangan.  Sultan Trenggono sangat menyukai daun sirih, beliau ingin meminta daun sirih kepada seorang pelayan kecil berumur sekitar 13 tahun yang sedang serius juga mendengarkan musyawarah itu sehingga ketika beliau memanggil anak itu, anak itu tidak mendengarnya. Beliau melanjutkan musyawarah dan mulutnya itu terasa kering menyebabkan musyawarah itu kurang enak, beliau memanggil anak kecil itu hingga ketiga kalinya, beliau itu meminta bantuan dengan orang yang dekat dengan anak kecil itu untuk memanggilkannya agar menghampiri beliau. Setelah anak kecil itu mendengar bahwa Sultan Trenggono itu menginginkan daun sirih, anak kecil itu langsung menghampiri beliau dan memberikan daun sirih yang bertempatkan emas. Beliau pun mengambil 3 lembar daun dan mengunyahnya. Setelah itu Sultan Trenggono menyentuh kepala anak kecil tadi tanpa menunjukkan rasa marah kepada anak itu sambil berkata “Ada apa denganmu wahai anak kecil, apakah telingamu tuli?” setelah itu melanjutkan kembali musyawarah strategi perangnya.

Menurut Mendez Pinto di dalam buku Kerajaan Islam Demak Api Revolusi Islam Di Tanah Jawa (1518-1549 M), “Orang-orang jawa itu sangat terkenal sebagai orang yang paling keras kepala di muka bumi. Mereka memiliki sifat licik dan sikap curiga yang ekstrem. Dalam pandangan orang-orang Jawa, bentuk hinaan yang paling merendahkan dan memalukan, adalah memegang kepala.” Akhirnya terjadilah salah paham karena beliau menyentuh kepala anak kecil ini, ia mengira beliau telah melakukan suatu hinaan yang sangat besar. Padahal  ketika ada orang dewasa memegang kepala anak kecil itu menandakan kasih sayangnya kepada anak itu, dan beliau juga saat memegang kepala anak kecil tak sedikit pun menunjukkan rasa marahnya.  Namun tampaknya peradaban masyarakat Jawa ini sangat melekat sehingga terjadilah salah kesalahpahaman. Setelah Sultan Trenggono memegang kepala anak kecil yang kebetulan berasal dari keluarga terhormat itu, sang anakpun berani dan langsung berdiri dan berkata kepada beliau, “Apa maksud Sultan Trenggono memegang kepala saya?” Seketika itu Sultan Trenggono merasa martabatnya jatuh di hadapan anak kecil dikarenakan masalah sepele. Merasa terhinakan oleh Sultan Trenggono, anak kecil itu mengambil belati kecil dari pinggangnya dan menusukkan belatinya ke dada sebelah kiri Sultan Trenggono. Sultan Trenggono langsung jatuh dan berkata “Ya Allah, anak ini membunuhku.”  Kejadian ini sangat membuat terkejut semua yang hadir dalam musyawarah penyusunan strategi perang untuk menaklukkan Pasuruan dan Blambangan, mereka langsung menolong Sultan Trenggono dengan berbagai cara namun beliau tidak tertolong, karena belati kecil itu langsung mengenai jantungnya, dan beliau wafat dua jam setelah penusukan itu. Akhirnya anak tadi diinterogasi karena diduga melakukan pembunuhan yang direncanakan, anak kecil itu tetap bersikukuh tidak melakukan rencana pembunuhan, kejadian itu murni terjadi karena Sultan Trenggono memegang kepalanya yang ia pikir telah menghinakannya. Namun tetap saja keluarga besar anak kecil itu dihukum mati karena diduga telah melakukan pembunuhan terhadap Sultan Trenggono. Hukuman itu terjadi sebab sudah diselidiki secara detail.

Sultan Trenggono dimakamkan di komplek makam Masjid Agung Demak, di sebelah selatan Sultan Demak I. Pada dasarnya orang Jawa tidak keras kepala, akan tetapi mereka bersikap begitu untuk menjaga kehormatannya, dengan selalu waspada terhadap orang lain agar selalu terjaga kehormatanya. Dahulu, hal seperti itu orang-orang Jawa (Kerajaan Syiwa-Budha) sangat menjaga suatu kehormatan dan hingga kini hal tersebut tetap terjaga dalam masyarakat Jawa. Tetapi secara umum masyarakat Jawa dikatakan sebagai orang-orang yang lemah lembut, jika ada yang keras kepala, sebab manusia mempunyai sifat yang berbeda-beda.  Banyak peradaban (adat budaya) Jawa yang masih melekat sampai sekarang dan di tiap daerah Jawa pun adatnya berbeda-beda, sesuai dengan latar belakang daerah tersebut sehingga muncullah berbagai macam adat budaya.

 

 

 

REFERENSI

Abdullah Rachmad. 2017. Kerajaan Islam Demak Api Revolusi Islam di Tanah Jawa (1518-1549). Solo: Al-Wafi.

Akash Hamid dan Aby Azizy. Tt. Babad Tanah Jawa, Mojopahit, Demak, dan Pajang. Cipta Adi Grafika.

M. Purwadi. 2012. Babad Demak: Sejarah Perkembangan Islam di Tanah Jawa. Yogyakarta: Pustaka Utama.

____________. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa: Sejarah Kehidupan Kraton dan Perkembangannya di Jawa. Yogyakarta: Media Abadi.

Purnomo. 2013. Tanaman Kultural dalam Perspektif Adat Jawa. Malang: Universitas Brawijaya Press.

 

Oleh: Halimatus Sa’diyah, Semester IV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *