Sosok Wanita Teladan; Maryam binti Imran

Sosok Wanita Teladan; Maryam binti Imran

Ma’had Aly – “Cukuplah bagimu empat wanita di antara wanita seluruh alam (yang mencapai tingkat kesempurnaan untuk dijadikan teladan): Maryam binti Imran, Asiah istri Fir’aun, Khadijah binti Khuwailid, dan Fatimah binti Muhammad saw.” (HR. Tirmidzi)

Dalam hadits ini dijelaskan empat wanita yang cukup sempurna untuk dijadikan teladan. Mereka merupakan wanita-wanita yang mulia dan suci pada masanya. Salah satunya Maryam binti Imran.

Maryam binti Imran bin Basyam bin Amun bin Maisya bin Hazkia bin Ahrik bin Mautsam bin Amshia bin Yawisy bin Ahrihu bin Yazim bin Yahfasyath bin Eisya bin Iyan bin Raj’an bin Daud as. Imran, ayahnya Maryam merupakan seorang lelaki (ilmuwan) yang agung di antara para pemuka Bani Israil, termasuk orang yang taat menjalankan sholat Bani Israil pada masanya. Ibunya seorang wanita ahli ibadah pula, bernama Hanah binti Faqud bin Qabil.

Saat Hanah binti Faqud bin Qabil, istrinya Imran mengandung, ia bernadzar akan menjadikan apa yang ada dalam perutnya itu menjadi seorang hamba yang mengabdi kepada tuhannya, sebagai pelayan di Baitul Maqdis. Akan tetapi ketika melahirkan, ia melahirkan seorang anak perempuan, padahal ia menginginkan atau mengharapkan anak laki-laki untuk membantu atau menjadi pelayan di Baitul Maqdis tersebut.

Kemudian ia ‘menghadap’ Allah dan berkata, “Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan, padahal Allah lebih tahu apa yang di lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan dan Aku memberinya nama Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) syetan yang terkutuk”. Allah mengabulkan do’anya. Kelahiran anaknya diterima dengan penerimaan yang baik, kemudian dibesarkannya dengan pertumbuhan yang baik pula.

Setelah ibunya Maryam melahirkan, Maryam diselubungi kain lalu dibawa ke mesjid dan diserahkan kepada para ahli ibadah yang bermukim disana. Para ahli ibadah tersebut berebut ingin mengasuhnya, sehingga diadakan undian.

Undian dilakukan dengan cara setiap orang melemparkan pena ke sungai, pena yang hanyut melawan aruslah yang akan menjadi pemenangnya. Pada saat itu Nabi Zakaria as. yang memenangkan undian tersebut, pena Nabi Zakaria as. yang hanyut melawan arus, sedangkan pena-pena lainnya hanya mengikuti arus. Selain itu istri Nabi Zakaria as. merupakan bibi dari Maryam.

Di bawah asuhan nabi Zakariya as. Maryam tumbuh menjadi orang yang taat beribadah, jauh dari  perbuatan yang tidak baik, dan jauh dari segala perbuatan yang mengajak pada kehinaan, terlindungi dengan pertolongan Allah, terjaga dengan  penjagaan Allah. Seperti yang tecantum dalam surah At-Tahrim ayat 12, “Dan ingatlah Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka kami tiupkan ke dakam rahimnya ruh (ciptaan) kami, dan dia membenarkan kalimat Rabnya, dan kitab-kitabnya, dan dia termasuk orang-orang yang taat.”

Pada saat berada di bawah asuhan Nabi Zakariya, Maryam dibuatkan mihrab, tempat yang khusus untuknya, tempat yang dijadikannya untuk beribadah kepada tuhannya. Ketika Maryam telah sampai usia dewasa ditemukan suatu waktu dalam keadaan berkhalwat sendirian, ia tidak dijaga kecuali oleh malaikat Jibril yang diutus Allah kepadanya datang dalam rupa seorang pemuda. Maka ia merasa ketakutan dan menyangka bahwa pemuda itu akan berbuat buruk kepadanya. Setelah itu, ia mohon perlindungan karena ia mensifati pemuda tersebut dengan orang yang tidak bertaqwa.

Seraya berkata dengan keadaan cemas, “Sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Allah yang maha Pengasih darimu, jika kamu seorang yang bertaqwa dan aku berlindung kepada-Nya dari apa-apa yang tidak diinginkan.”

Pemuda itu memberitahu Maryam bahwa ia adalah seorang utusan Allah untuk menganugerahi Maryam seorang anak laki-laki yang suci dari dosa. Maryam merasa kaget atas kabar seperti itu, bagaimana bisa beliau akan mempunyai seorang anak sedangkan tak pernah ada seorang manusia pun yang menyentuhnya. Malaikat menjelaskan kepada Maryam bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ketika Allah memutuskan sesuatu, hanya mengatakan, “Jadilah,” maka jadi apa yang dikehendakinya.  Maryam kemudian merasa tenang. Ia kembali berserah diri kepada Allah dan keputusan-Nya, meski ia tahu hal tersebut akan menjadi ujian yang paling berat bagi dirinya. Maka pemuda ditiupkan ruh ke dalam saku bajunya Maryam seketika itu juga Maryam langsung hamil.

Semakin lama tanda-tanda kehamilam Maryam semakin terlihat, orang yang pertama menyadarai kehamilan Maryam adalah Yusuf bin Ya’kub, sepupunya (bukan Nabi Yusuf as.). Ia kaget karena yang ia ketahui Maryam adalah wanita yang taat beragama, suci, dan ahli ibadah. Akan tetapi kenyataan yang ia lihat Maryam hamil tanpa memiliki suami.

Masyarakat akhirnya mengetahui kehamilan Maryam tersebut kemudian menjadi bahan pembicaran mereka sehingga menyebar di Kalangan Bani Israil. Saat berita hamilnya Maryam menyebar di kalangan Bani Israil, banyak masyarakat yang menanyakan siapakah ayah bayi dalam kandungannya, bahkan sebagian kalangan Zindiq (orang-orang yang tidak berpegang teguh pada agama) menuduh Maryam telah berbuat nista. Begitu pun orang-orang Yahudi yang menganggap Maryam berzina. Akhirnya Maryam mengasingkan diri ke tempat yang jauh disertai dengan kesabarannya yang begitu besar hingga melahirkan Isa as.

Itulah Maryam, sosok wanita yang sempurna, yang harus dijadikan teladan dalam kehidupan setiap orang. Taat kepada tuhannya, menjaga kehormatan dan memiliki kesabaran yang besar.

Referensi :

  1. Al Qur’an dan Terjemahnya.
  2. Ahmad Al Usairy, Sejarah Islam, Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX Terj. Samson Rahman, Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2003.
  3. An Najari, Abdul Wahab. Qashasul Anbiya. Mesir: Maktabah Taufiqiyah.
  4. Ibnu Katsir. Qashasul Anbiya. Terj.Umar Mujtahid. Kisah Para Nabi, Jakarta Timur: Ummul Quro, 2013.
  5. Arkam Ridha, The 4 Greatest Woman in Islamic History, Solo: Pustaka Arafah, 2003.

Oleh: Iin Zainan Ahdiana. Semester V

Leave a Reply