Nyai Masriyah Amva : Ulama Perempuan Karismatik Pejuang Feminisme

Nyai Masriyah Amva : Ulama Perempuan Karismatik Pejuang Feminisme

Sudah menjadi keharusan seorang laki-laki hendaknya menjadi pemimpin, baik dalam ruang lingkup pemerintahan, social di masyarakat bahkan dalam ruang lingkup keluargapun sudah menjadi kewajiban memimpin isteri dan anaknya. Berbeda halnya dengan perempuan, semua yang disandarkan kepada laki-laki, perempuan tidak bisa menduduki posisinya. Anggapan perempuan bahwasannya ia hanya berktutik pada “Sumur, dapur dan kasur” memang sudah melekat pada pemikiran mereka. Doktrin-doktrin yang masuk tidak lain dari adanya kebiasaan-kebiasaan pada saat itu yang mendiskriminasikan perempuan. Berbeda halnya pada zaman sekarang, pemikiran tersebut sudah mulai memudar dengan munculnya tokoh-tokoh perempuan pejuang feminisme yang memperjuangkan hak-hak perempuan agar setara dengan laki-laki.

Mengenai pandangan fiqih sendiri, seorang perempuan tidak layak menjadi pemimpin. Karena pada saat itu, fikih yang digunakan masih berkiblat pada kondisi masyarakat di Arab. Dimana perempuan arab pada saat itu dibatasi pergerakannya, berkomunikasi sedikit dengan lawan jenispun sangat dilarang. Sehingga mengira perempuan itu tidak layak dijadikan pemimpin karena tidak memenuhi kriteria pemimpin yakni ia yang mampu bergerak bebas, lues dan luas. Berbeda halnya dengan kondisi sekarang, perempuan bisa bergerak bebas, bahkan menjadi pemimpin sekalipun. Tidak jarang sekarang para perempuan bisa menyaingi intelektual laki-laki. Namun disamping itu, perempuan diharapkan tidak keluar dari syari’at sebagaimana perempuan semestinya.

Berbicara mengenai penuntutan hak-hak perempuan, Nyai Masriyah Amva merupakan tokoh yang memperjuangkan feminisme. Seperti yang kita ketahui bahwasannya feminisme adalah pergerakan wanita yang menjunjung hak-hak peremuan. Salah  satunya Nyai Haji Masriyah Amva atau lebih dikenal dengan sebutan Nyi Imas ia dilahirkan di Babakan, Ciwaringin, Cirebon pada 13 Oktober 1961. Beliau memperoleh pendidikan pertama dari orang tuanya. Ibunya, Almarhum Hj. Fariatul Aini yang sehari-hari berkiprah kepada masyarakat untuk mengamalkan ilmunya. Sedangkan ayahnya, Almarhum KH. Amrin Khanan adalah sosok ulama yang dikenal istiqomah dalam mengamalkan ilmu kepada para santri. 

Perjuangannya dimulai setelah ia menikah dengan KH. Muhammad yang bersama-sama mendirikan sebuah pesantren yang diberi nama Pesantren Kebon Jambu Al Islami. Tantangan dimulai kembali saat suaminya meninggal pada tahun 2007, semua tanggungan pesantren dialihkan kepada Nyi Imas sebagai pimpinan utama Pesantren Kebon Jambu. Semakin bertambahnya usia pesantren semakin banyaknya pula santri yang masuk, sekitar 1300 santri sepenuhnya dibawah tanggung jawab Nyi Imas. Pergolakan disetiap lininya pasti ada, seperti banyak orang yang tidak percaya kepada Nyi Imas dalam memimpin pesantren kebon jambu karena beliau seorang perempuan. Tak hanya itu karena beliau banyak melakukan terobosan baru, tidak mudah untuk merealisasikannya karena banyak segelintir orang yang tidak setuju. Dengan berpegang teguh untuk mewujudkan keinginan orang tuanya agar menjadi seorang ulama perempuan yang bermanfaat, Nyi Imas justru tidak mundur untuk tetap dalam tempatnya mengembangkan pesantrennya itu. 

Dibebankan pada tanggung jawab yang besar, Nyi Imas dihadapkan kembali pada santri-santrinya yang memilih keluar karena tidak mempercayai Nyi Imas bisa memimpin pesantrennya. Cemoohan dari masyarakat bahkan ulama besar sekalipun kerap kali terdengar. Bahkan Nyi Imas pernah di hadapkan pada laki-laki yang melakukan mansplaining padanya, padahal saat itu ia sudah menjadi seorang pemimpin dan juga tidak kalah berilmu. Tidak hanya itu,cemoohan kembali terdengar  pada telinga Nyi Imas, dikatakan seseorang bahwa ia tidak pantas sama sekali untuk memimpin dalam artian “Nol besar”, semua yang telah berkembang bukan karena Nyi Imas melainkan para santri laki-laki dan alumni yang masih solid pada saat itu.  Cemoohan tersebut ia jadikan pembelajaran dan lebih semangat untuk mengawal pesantrennya agar lebih baik kedepannya dengan tetap berteguh dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT agar selalu diberikan kekuatan.

Adapun pemikiran Nyi Imas tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan. Baik laki-laki ataupun perempuan adalah sama-sama makhluk Allah SWT, yang membedakan adalah jenis kelaminnya, meski tenaga berbeda namun memiliki kekuatan yang sama. Ini senada dengan konsep feminisme Neng Dara Afiyah, bahwa perbedaan lai-laki dan perempuan hanya terletak pada perbedaan biologis dan kapasitas produksi masing-masing.

Dengan berbekal persfektif seperti itu, Nyi Imas memberanikan diri untuk tampil didepan para santri. Meski Nyi imas pada saat itu sedikit gugup, karena hukum adat yang berlaku pada saat itu, perempuan dikategorikan sebagai makhluk yang lemah dan tidak pandai dalam memimpin. Persfektif seperti itu sudah tumbuh dan melekat pada warga sekitar bahkan para santrinya sendiri. Dalam pidatonya yang pertama kali, Nyi Imas meberikan motivasi kepada seluruh santri agar bersama-sama untuk bangkit kembali sepeninggal suaminya. Tidak hanya itu, Nyi imas juga menyampaikan kepada santri putri untuk lebih maju dan menghapus pemikiran-pemikiran yang sempit mengenai perspektif tentang perempuan yang sudah kuno. Dengan bermodalkan keyakinan kuat serta mengajarkan kepada santri putri untuk bisa mandiri tanpa harus bergantung pada laki-laki. 

Perjuangan Nyi Imas pun tidak lepas dari rasa kecewa, khawatir dan berlingan air mata. Semuanya selalu ia pasrahkan kepada Allah SWT. Tak hanya itu rasa yang dialaminya tersebut, ia ekspresikan menjadi sebuah tulisan puisi yang bernuansa feminisme sufistik mendalam. Bagaimana ia pada saat itu sangat mengalami keterpurukan dan ketidakberdayaan yang mengharuskan untuk pasrah atas skenario Allah SWT. Hal ini tersurat dalam puisinya berikut ini: 

“Aku tak berdaya”

Pasrah

Semua yang kau berikan untukku

Adalah kebaikan dan keindahan

Maafkan bila air mata ini masih mengalir

Bukan karena aku meronta

Namun aku hanyalah manusia biasa

Melalui puisi itulah Nyi Imas menuangkan segala keluh kesahnya. Tidak larut dalam hal itu Nyi Imas selalu memikirkan bagaimana kelangsungan pesantrennya ditengah-tengah globalisasi disegala bidang. Nyi Imas memiliki pandangan bahwa pendidikan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang salaf mengajarkan kitab-kitab klasik sebagai ciri khasnya harus memberikan pendidikan, wawasan tentang dunia luar dengan berbagai cara untuk membekali santri-santrinya agar ketika keluar dari pesantren ia siap terjun ke masyarakat luas bukan hanya lingkungan dimana tempat ia tinggal tetapi juga agar siap berkiprah diluar lingkungannya (Nasional bahkan Internasional) seperti yang dikatakannya bahwa ciri khas pondok pesantren sebagai pondok salaf tidak akan pernah berubah dalam hal pengajarannya akan tetapi kita imbangi dengan ilmu-ilmu umum agar kelak santri tidak hanya pintar di ilmu agama saja tetapi juga berwawasan dan berpengetahuan agar tidak hanya menjadi kiai kampung tetapi menjadi kiai yang mempunyai wawasan dunia luar yang luas. 

Selain itu, mengenai pandangan Nyi Imas tentang bagaimana menyikapi hal-hal yang terjadi dilingkungan social seperti sekarang ini, dimana banyak golongan yang cenderung fanatik dengan suatu golongan yang pada akhirnya saling menghakimi satu sama lain tanpa mencari dasar dari segala tindakan dan perbuatan tanpa mencari tau alasannya jangan sampai termakan oleh isu-isu dan doktrin yang menyesatkan. Tidak boleh fanatik pada suatu golongan karena itu akan membawa kita pada fanatisme berlebihan yang membuat kita tidak bisa berfikir panjang dalam melakukan sesuatu dan mempersempit geraknya. Jangan pernah menghakimi seseorang sebelum tahu latar belakangnya contoh sifat sombong seseorang mungkin itu akibat perlakuan orang disekelililngnya di masa lalu yang selalu menindasnya dan untuk menghindari penindasan terjadi lagi maka dia bersifat sombong memamerkan apa yang ia miliki saat ini. Sebagai antisipasi terjadinya penindasan lagi. Segala sesuatu yang terjadi sekarang adalah dampak perlakuan masa lalu lihatlah seorang dimasa sekarang adalah dampak perlakuan orang lain dimasa lalunya. Jangan pernah menghakimi orang tanpa melihat latar belakangnya dan selalu berhati-hati dengan doktrin yang terjadi seperti sekarang ini. 

Sebagai seorang ulama perempuan yang teguh pada interpretasi ajaran islam yang berkesetaraan gender, Nyi Imas bukanlah sosok yang suka memaparkan banyak teori. Ia lebih banyak mencontohkan dalam perbuatan sehari-sehari atau lewat obrolan santai bersama santri dan guru. Sehingga sekarang kiprah yang telah Nyi Imas salurkan terhadap pesantren mengalami kemajuan. Ia membangun dari mulai pendidikan fomal sampai tingkat perguruan tinggi yang sudah eksis sampai sekarang. Berkat kegigihan sebagai pejuang feminisme, kini Nyi Imas mempunyai kepercayaan yang tinggi dalam menjalankan sebagai seorang pemimpin perempuan yang dapat dipercaya oleh para santri serta msyarakat umum.

“Kemandirian sangat diperlukan dalam hidup, kemandirian adalah hanya bersandar kepada Allah Swt, tidak kepada yang lain.” (Masriyah Amva),

Referensi :

Alfiyatun Munawwaroh, Gaya Kepemimpinan Nyai Hajah Masriyah Amva di Pondok Pesantren kebon Jambu Al- Islami, Volume 1No 02 September 2019. Jurnal Pendidikan dan Sejarah.

Isthiqonita, Profil Singkat  Nyai Hj Masriyah Amva, Salah Salah Satu Perempuan yang Masuk Jajaran Pengurus A’wan PBNU. https://jabar.nu.or.id/profil-singkat-nyai-haji-masriyah-amva-salah-satu-ulama-perempuan-CPSGw diakses pada 16 November 2022 pukul 21.00

Nur Efendy, Islamic Education Leadership, Yogyakarta: Kalimedia, 2015

Masriyah Amva, Meraih Hidup Luar Biasa, Jakarta: Kompas Media Nusantara 2011Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, Jakarta : Rajawali Pers, 2014

Kontributor: Rinanada Salsabila, Semester V

Leave a Reply