Keadaan Dunia sebelum Lahirnya Rasulullah saw

Keadaan Dunia sebelum Lahirnya Rasulullah saw

Ma’had Aly – Dzu Nuwas pergi ke Najran dengan membawa pasukannya dan mengajak mereka masuk agama Yahudi, saking rakyatnya harus menuruti keinginannya. Dzu Nuwas memberi pilihan antara masuk agama Kristen atau dibunuh. Namun rakyat Najran lebih memilih untuk dibunuh. Akhirnya Dzu Nuwas membuat parit untuk rakyat Najran yang tidak mau beriman kepadanya, lalu membakar mereka dalam parit tersebut, membunuh mereka dengan pedang, dan mencincang-cincang mereka. Jumlah orang Najran yang Dzu Nuwas bunuh sekitar 20.000 jiwa. Hingga Allah swt. menurunkan ayat tentang Dzu Nuwas dan pasukannya dalam surat Al-Buruj: 4-8

قُتِلَ أَصْحَابُ الْاخدود النار ذات الوقوداذهم عليها قعود وهم علي ما يفعلون بالمؤمنين شهود وما نقموا منهم الا انيؤمنوا بالله العزيز الحميدز

“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. Yang berapi (dinyalakan dengan) kau bakar. Ketika mereka duduk di sekitarnya. Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin tersebut melainkan karena orang-orang mukmin tersebut beriman kepada Allah swt. yang maha perkasa lagi maha terpuji.” (Q.S Al-Buruj: 4-8).

Dzu Tsa’labah berhasil melarikan diri dari pembunuhan masal Dzu Nuwas, lalu dia menuju Raja Romawi untuk meminta bantuannya. Sayangnya Romawi jauh dari Najran, akhirnya Kaisar Romawi menyuruh Dzu Tsa’labah untuk pergi ke Raja Habasyah untuk meminta bantuannya karena Habasyah dekat dengan Najran. Akhirnya Raja Habasyah membantu Dzu Tsa’labah dengan 7000 tentara yang dipimpin oleh Aryath. Dengan kehebatan pasukan Habasyah akhirnya mereka mampu mengalahkan pasukan Dzu Nuwas, Dzu Nuwas dan pasukannya terpukul mundur, lalu ia mengarahkan pasukannya ke laut berjalan terus sampai akhirnya tenggelam. Itulah akhir dari kehidupan Dzu Nuwas dan penguasaan Aryath terhadap Yaman.

Setelah sekian lama Aryath menguasai Yaman datanglah Abrahah al-Habsyi yang merebut kekuasaan Yaman, akibatnya rakyat Habasyah di Yaman terpecah, satu kubu mendukung Aryath dan satu kubu mendukung Abrahah. Aryath pun terbunuh hingga akhirnya Abrahah membayar diat (uang darah) atas kematian Aryath. Ketika An-Najasyi mendengar kejadian itu, ia marah besar hingga An-Najasyi bersumpah bahwa ia tidak akan meninggalkan Abrahah hingga ia menginjak wilayah kekuasaannya dan memotong ubun-ubunnya. Mendengar sumpah itu, Abrahah mencukur rambutnya dan mengisi kantong kulit dengan tanah Yaman, kemudian mengirimnya kepada An-Najasyi. Ia menulis surat kepadanya, “Paduka raja, sesungguhnya Aryath adalah budakmu. Kami berbeda pendapat dalam memahami perintahmu, semuanya tetap patuh padamu. Namun aku lebih kuat mengurusi persoalan orang-orang Habasyah di Yaman, lebih mantap dan lebih bijak dari Aryath. Sungguh aku telah mencukur semua rambutku ketika aku mendengar sumpah paduka raja dan mengirimkan kantong kulit yang berisi tanah Yaman kepadamu agar paduka raja meletakannya di bawah telapak kakinya, agar demikian sumpahnya tidak berlaku lagi bagiku.”

Dengan datangnya surat tersebut, Raja Najasyi merestui Abrahah dan menyuruh Abrahah untuk tetap di Yaman sebelum Raja Najasyi memerintahnya pergi. Selain itu Abrahah juga membangun gereja yang sangat megah untuk persembahan pada Raja Najasyi, yang di sisi lain juga bertujuan untuk menyaingi Ka’bah agar orang-orang pindah berhaji ke gereja tersebut. 

Al-Kinani warga sekitar Baitullah di Mekkah, dia membuang hajat di gereja yang dibuat oleh Abrahah. Mendengar kabar tersebut di gerejanya, Abrahah murka dan bersumpah akan menghancurkan Ka’bah. Ia memerintahkan pasukannya dan berangkat ke Baitullah dengan membawa pasukan gajah. Sesampainya di Mekkah, Abrahah melakukan pertemuan dengan Abdul Muthalib selaku pemimpin Mekkah waktu itu. Sebagaimana ucapan Ibnu Ishaq, dalam pertemuan itu Abrahah menjelaskan kepada Abdul Muthalib bahwa tujuan dia datang tidak untuk menghancurkan kota Mekkah, melainkan hanya untuk menghancurkan Ka’bah. Lalu kakek Rasulullah saw. menjawab dengan tenangnya, “Keperluanku ialah hendaknya raja Abrahah mengembalikan 200 ekor unta yang telah dirampasnya dariku. Sesungguhnya aku adalah pemilik unta, rumah (Ka’bah) tersebut mempunyai pemilik yang akan melindunginya.” Abdul Muthalib sama sekali tidak menyinggung tujuan Abrahah untuk menyerang Ka’bah yang telah ribuan tahun menjadi monumen agama nenek moyangnya. Mendengar jawaban dari Abdul Muthallib, Abrahah sontak tersinggung dan segera menyudahi pertemuan tersebut dan langsung mempersiapkan penyerangan Ka’bah.

Setelah melakukan pertemuan dengan Abrahah, Abdul Muthallib kembali ke Mekkah dan mengungsikan seluruh penduduk Mekkah untuk keluar kota dan berlindung di puncak gunung, dan syi’b (jalan di antara dua gunung) agar tidak terkena dampak dari serangan pasukan Abrahah. Setelah itu Abdul Muthallib memegang rantai pintu Ka’bah sembari berdo’a memohon pertolongan-Nya atas Abrahah dan pasukannya.

Keesokan harinya, Abrahah dan pasukan bergajah bersiap untuk memasuki Mekkah. Ia tidak merubah keputusannya untuk menghancurkan Ka’bah. Ketika sampai di perbatasan Mekkah, gajah yang dinaiki Abrahah malah duduk dan tidak mau memasuki wilayah Mekkah, namun ketika gajah tersebut dihadapkan ke arah Yaman dan Syam ia berdiri. Kemudian Allah swt. mengirimkan burung ababil kepada pasukan gajah sambil membawa tiga batu dan melemparnya ke pasukan gajah. Hingga akhirnya pasukan gajah tidak bisa menghindar dan mereka pun tewas seketika. Sepeninggal Abrahah, Yaman dipimpin oleh anaknya yaitu Yaksum bin Abrahah.

Orang-orang Yaman mendapat musibah yang berkepanjangan. Maka, Saif bin Dzu Yazin Al-Himyari pergi ke Kaisar Romawi, namun Kaisar Romawi tidak menanggapi keluhan Saif. Lalu Saif pergi pada Kisra Persia dan menceritakan segala keluh kesahnya padanya. Kisra merasa Yaman jauh dari negaranya dan Yaman tidak memiliki banyak kekayaan, akhirnya Kisra memberikan uang sebesar 10.000 dirham dan pakaian yang bagus. Kemudian Saif memberikan hadiah tersebut pada seseorang, mendengar hal tersebut Kisra menduga bahwa Saif benar-benar memiliki persoalan yang penting. 

Kisra  Persia mengutus seseorang kepada Saif untuk menanyakan tentang hadiah yang ia beri, Saif berkata “Apa yang harus saya lakukan dengan hadiah-hadiah itu? Gunung-gunung di negeriku semua adalah emas dan perak.” Saif merayu Kisra agar tertarik dengan gunung-gunung tersebut. Tanpa berpikir panjang, Kisra membantu Saif dengan mengirim 800 narapidana yang dipimpin oleh Wahriz. Ketika pasukan Wahriz dan Habasyah berlangsung, anak Wahriz terbunuh, hal ini membuat Wahriz semakin geram dan semakin yakin bahwa dia harus mengalahkan Habasyah. Karena kuatnya keinginan Wahriz hingga dia mampu mengalahkan Habasyah dan mengusir mereka dari Yaman.

Habasyah menguasai Yaman selama 72 tahun, mulai dari kepemimpinan Aryath, Abrahah, Yaksum bin Abrahah, kemudian Masruq bin Abahah. Tidak sampai di situ, Yaman dikuasai oleh orang asing, Yaman berlanjut dikuasai oleh Persia, yang pertama yaitu Wahriz kemudian anaknya Al-Mazruban bin Wahriz, setelah Mazruban meninggal kepemimpinan diganti oleh At-Tainujan bin Al-Mazruban, kemudian dilanjutkan oleh anaknya, kemudian Kisra memecatnya dan digantikan oleh Badzan menjadi gubernur di Yaman sampai lahirnya Rasulullah saw.

Referensi

Hisyam, Ibnu. 2018. Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1. Terj. Fadhli Bahri. Jakarta: PT Darul Falah

Al Mubarakfuri, Syafiyyurrahman. 2001. Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang agung Muhammad saw. Dari Kelahiran Hingga Detik-Detik Terakhir. Terj. Hanif Yahya. Jakarta: Darul Haq

Al Mubarakfuri, Syafiyyurrahman. 2001. Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang agung Muhammad saw. Dari Kelahiran Hingga Detik-Detik Terakhir. Terj. Kathur Suhardi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar

Hisyam, Ibnu. 2018. Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam. Terj. Samson Rahman. Jakarta: Akbarmedia

Al-Buthy, Muhammad Sa’id Ramadhan. 1977. Fikhus Sirah: Dirasat Manhajiah ‘Ilmiyah Li Siratil-Musthafa ‘Alaihish-Shalatu Was-Salam. Terj. Aunur Rafiq Shaleh Tamhid. Jakarta: Robbani Press

Kontributor: Dalimah Nur Hanipah, Semester V

Leave a Reply